MEMPERMAINKAN CERPEN

Maman S. MahayanaMaman S Mahayana

Cerpen atau apa pun pada hakikatnya sebuah permainan.Ia dapat diperlakukan dengan sangat serius, sehingga, kadang-kala, pembacanya harus selalu berkerut kening. Membaca cerpen-cerpen Afrizal Malna atau Danarto, misalnya, kita seperti berada dalam sergapan simbol-simbol atau kisah dunia jumpalitan yang membuat logika formal jadi berantakan. Tetapi, membaca cerpen-cerpen Putu Wijaya, terutama yang terhimpun dalam antologi cerpen Bom, suasananya lain lagi. Kita laksana tidak diberi peluang untuk berpikir. Segalanya serba cepat: bergerak dan berderap, berpacu dalam serangkaian teror, didera ketegangan yang dihadirkan lewat kalimat-kalimat pendek.Begitulah, para cerpenis itu sadar betul mempermainkan cerpennya. Dan selalu, kita akan merasakan sesuatu yang berbeda ketika kita berhdapan dengan cerpen dari pengarang lain, sebutlahlah misalnya, nama-nama: Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, atau Gus tf Sakai.

Banyak cara atau style seseorang dalam membangun kisahannya dalam cerpen. Meski begitu, ada hal yang sama yang dilakukan mereka, yaitu mengolah fakta sosial menjadi sebuah dunia rekaan yang hanya berlaku dalam cerpen itu. Biasanya, tema menjadi tidak penting lagi, lantaran yang hendak diangkatnya adalah kisahan yang disampaikan lewat semangatnya memperlakukan cerpen itu sebagai sesuatu yang serius atau main-main. Kekuatan kisahan menjadi begitu penting dalam membangun cerpen. Itulah yang saya maksudkan sebagai ‘mempermainkan’ cerpen. Seperti yang dapat kita simak pada cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti, misalnya, kesannya seperti main-main, tetapi tokh problem yang ditawarkannya adalah realitas sosial yang getir, ironis, dan menyakitkan.

KOVERAntologi cerpen karya Badaruddin Amir inipun, terkesan seperti main-main. Ia begitu lincah berkisah dari pokok persoalan yang satu, menclok ke persoalan lain. Kisahannya bisa bergentayangan ke mana-mana, sejauh dimaksudkan untuk memperkuat tema cerita. Maka, kita akan berhadapan dengan berbagai peristiwa yang kerap disepelekan atau diperlakukan sebagai sesuatu yang tak penting atau persoalan remeh-temeh, bahkan juga sesuatu yang absurd. Segalanyadisajikan begitu ringan, cair, lepas begitu saja, seolah-olah tanpa beban, tanpa pretensi. Tetapi, selepas itu, tiba-tiba kita seperti diajak melakukan perenungan. Ketika kita di sana–dalam cerpen itu—menjumpai adanya sesuatu yang paradoks, sinis, atau ironis, kita seakan-akan tidak dapat menghindarkan diri melakukan penyikapan atas problem yang diangkat dalam cerpen itu.Badaruddin Amir seperti sengaja bermain dengan cerpennya sendiri, dan sekaligus coba lepas dari sana dan mempermainkannya berdasarkan tuntutan tema cerita. Jadi, ia bias mengumbar pengetahuannya tentang sesuatu, meski kadang kala, dosisnya kelebihan.

***

Cerpen-cerpen yang terhimpun dalam antologi ini kelihatannya seperti lelucon, tetapi tokh di dalamnya ada semacam cemooh ketika masyarakat tak punya lagi daya kritis atau ketika keguyuban menjadi peristiwa yang tak masuk akal, irasional, nyeleneh, dan sibuk dengan segala tahayulismenya. Justru di sinilah antologi cerpen ini seperti sebuah gugatan yang disampaikan secara main-main.

Periksa saja cerpen yang ditempatkan di bagian awal, berjudul “Menghitung Batu-Batu yang lepas dari Aspal Jalanan.” Adakah seseorang sedemikian ‘gilanya’ sehingga iseng saja dia menghitung satu per satu bebatuan yang berserak di jalanan. Jika begitu, penyikapan kita (: pembaca) harus dilakukan dari perspektif yang lain. Cara pandang kegilaannya itu, harus dilihat dari sudut kegilaan yang lain, seperti dikatakan Pascal sebagaimana dikutip Michel Faucoult, “Manusia pastilah sedemikian gilanya, sehingga –kalaupun ia tidak gila—tetap dianggap gila dari sudut pandang kegilaan yang lain.” Nah, semangat si tokoh aku untuk menghitung bebatuan yang terlepas dari aspal jalanan mulai dari Tanru Tedong sampai Rumpiah adalah sebuah kegilaan yang sesungguhnya punya pesan terselubung. Ada semacam gerakan bola bilyard: sebuah ironi yang sasaran tembaknya kehebohan masyarakat kita belakangan ini tentang berbagai macam jenis batu.

Di balik pesan tersirat tentang kritik sosial atas fenomena sihir ragam batu mulia itu, ia mempermainkan cerpennya dalam tarik-menarik antara fakta dan fiksi. Maka si pencerita (aku) sengaja pula menyapa pembacanya untuk mendekatkan teks (cerpen) itu memasuki wilayah pembaca sebagai usaha menghancurkan keberjarakan posisi pengarang—teks—pembaca. Dengan cara itu, ia bisa leluasa menyambar apa saja sebagai sasaran kritiknya; tentang quickcount, illegal logging, mitos yang kerap diperlakukan sebagai fakta, jenis batu, dan entah apa lagi. Dan di akhir cerita, kita tahu bahwa jalan dari Tanru Tedong ke Rumpiah itu memang sudah rusak parah. Lalu, bagaimana kewajiban dan tanggung jawab pemerintah atas kondisi itu?

Pertanyaannya: mengapa untuk menyampaikan kritik tentang jalan rusak, si pencerita harus berkisah berputar-putar? Itulah cerpen. Lewat cerpen itu pengarang leluasa menyampaikan segala unek-uneknya dalam sebuah dunia fiksional.Itulah yang saya maksudkan, mempermainkan cerpen. Maka, siapa pun, dengan kemampuannya bercerita, dapat pula melakukan hal yang sama.Mengangkat hal yang musykil menjadi cerita yang menarik, dan kita tiba-tiba jadi ngeh, sadar, bahkan pengarang sesungguhnya hendak menyampaikan kritik sosial.

Mempermainkan cerpen sebagai bentuk olok-olok, tampak juga pada cerpen berjudul “Laki-laki yang tidak memakai batu cincin.” Meskipun terkesan hiperbolis dengan akhir cerita yang dapat kita duga, pengarang berhasil menjadikan fenomena sosial tentang kehebohan batu mulia menjadi sebuah lelucon, olok-olok, ironi. Bukankah fenomena yang seperti itubanyak terjadi di tengah masyarakat kita. Ingat saja kehebohan yang terjadi pada kasus bocah Ponari pemilik batu ajaib yang diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit; taklid pada ustad-ustad palsu yang dapat mengeluarkan paku, jarum, dan benda aneh lainnya dari dalam perut; atau keyakinan pada dukunlepus yang bisa menggandakan uang berlipat-lipat;harga fantastis dan tak tak masuk akal dari sebuah tanaman yang bernama gelombang cinta, dan berbagai peristiwa lain yang irasional dan absurd. Itulah fenomena bentuk kekonyolan masyarakat kita manakala realitas kehidupan, norma dan institusi sosial, lembaga hukum, bahkan juga pemerintah, sudah tidak dapat lagi dipercaya menegakkan kebenaran dan keadilan?

Himpitan dan tuntutan hidup yang berat yang tak dapat dihindarkan, menyebabkan masyarakat mencari bentuk kompensasi lain, yaitu melarikan diri dari realitas yang sesungguhnya. Tentu saja masyarakat sendiri punya hak memilih. Tetapi, hak itu kerap didasari oleh mitos yang diciptakan berdasarkan konon kabarnya, rumor, berita burung, atau desas-desus. Nah, cerpen “Laki-Lakiyang tidak memakai batu cincin” adalah peristiwa faktual yang absurd atau kisah absurd yang real terjadi di tengah masyarakat kita. Jadi, kembali, cerpen itu seperti merepresentasikan batas tipis fakta-fiksi yang dalam kenyataannya, kerap dipertukarkan tempatnya. Mitos yang fiksional diperlakukan sebagai fakta, dan peristiwa faktual dianggap sebagai fiksi. Dalam hal ini, cerpen itu seperti sengaja mengolok-olok masyarakat yang terlibat dalam penciptaan fenomena itu. Dunia absurd yang dianggap faktual, dan peristiwa faktual yang diperlakukan secara absurd.

Tentu saja Badaruddin Amir tidak terpaku pada dua teman itu. Ia mengangkat tema-tema lain yang tak kalah menariknya. Dua cerpen tentang kemiri (“Kemiri 1 dan 2”), misalnya, seperti mengingatkan kita tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupan keseharian kita, tetapi cenderung kita abaikan. Kedua cerpen itu mengungkapkandunia yang tampak eksotik, dan kita disuguhi informasi yang berharga tentang kultur di balik buah itu atau tentang tradisi masyarakat setempat. Dengan begitu, cerpen itu laksana kisah nun jauh di sana, tetapi sesungguhnya berada sangat dekat dalam kehidupan kita. Itulah cerpen. Dan Badaruddin Amir telah berhasil mengangkatnya sebagai sebuah pesan kuktural.

Cerpen lain yang berjudul “Sahabat Penting Kami dari Masa Kanak” menawarkan kisah lain lain. Seseorang yang datang dari Jakartadan mengaku sebagai sahabat tokoh aku, tiba-tiba bercerita tentang masa kecilnya di desa itu. Selepas itu, ia begitu royal membagi-bagikan uang kepada penduduk. Dari situ saja, kita sudah diberi sinyal, bahwa ada sesuatu yang tak beres. Dan ternyata benar. Lelaki kaya itu bermaksud mengikuti pilkada. Belakangan, ia ditangkap lantaran terlibat kasus korupsi.

Pesan itu dibungkus oleh kisah lain tentang terjadinya perubahan sosial yang berdampak pada mulai menjauhkan nilai-nilai tradisi. Dengan demikian, peranan tokoh itu sesungguhnya sengaja dihadirkan sebagai alat pengarang menyampaikan pesan kulturalnya. Pengarang sengaja bersembunyi di balik tokoh rekaannya, meski tokoh itu berperilaku brengsek sekalipun.

***

Banyak hal yang tak terduga diungkapkan dalam antologi cerpen ini. Dan saya menikmatinya sebagai sebuah penaroma kultural tentang sebuah masyarakat dari belahan dunia yang selama ini seperti tersembunyi. Dengan begitu, buku antologi ini laksana sebuah enskilopedia yang disajikan dalam bentuk cerpen yang kadang-kadang seperti lelucon, parodi, atau penyadaran betapa kita cenderung abai pada dunia di sekitar kita. Itulah salah satu kekuatan Badaruddin Amir menawarkan gagasannya!

Bojonggede, 2 April 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: