Pakarena; Duta Indonesia di Pentas Dunia

Oleh DH (Dian Hendiyanto)

MAK COPPONG. Tari Pakkarena bukan sekedar karya seni masyarakat Sulsel. Pakarena adalah waktu, persahabatan, keterampilan, ketenangan, sifat, jiwa, ruang kehidupan, dan kekuatan.

SEPERTI apa tari Pakarena yang asli? Rasa-rasanya cukup sulit untuk menjawabnya. Lihat saja, dalam kegiatan Festival Seni Tra-disional Mangkasara yang dilak-sanakan di Baruga Komplek Ben-teng Somba Opu pada 29-30 Desember 20031a1u. Setidaknya ada 10 tari Pakarena yang ditam-pilkan penyaji. Semuanya berbeda.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan hasilkerjasama Dinas Ke-budayaan dan Pariwisata (Dis-budpar) Sulsel, Lembaga Kesenian Batara Gowa, Dewan K-senian Sulsel, dan Badan Koordinasi Kesenian Indonesia (BKKI) Sulsel, keempat Pakarena itu masing-masing, Pakarena Turiolo, Pakarena Iyolle’, Pakarena Ma’lino, Pakarena Samboritta, Pakarena Jangang Lealea, Pakarena Palloe, Pakarena Balla Bulo, Pakarena Pamingki, Pakarena Gantarang, dan Pakarena IKS (Anida).

Kendati memiliki sejumlah perbedaan, namun jika ditarik benang merah, masih memiliki pesamaan karakter. Yakni, gerak para penari yang lambat, diiringi hentakan musik yang cepat. Kondisi kontras itu setidaknya menjadi semacam ruh dalam tari Pakarena.

Sekadar menyebut contoh, tari Pakarena Turiolo yang dibawakan Ikatan Pakarena Tradisional Gowaraya (Ikare Kab. Gowa) sangat menyita perhatian. Bagaimana tidak, seluruh penarinya (lima orang) sudah berusia di atas 60 tahun. Gerakan-gerakan yang tampilkan lebih variatif dibandingkan dengan tari Pakarena versi lainnya.

Pakarena Turiolo mulai dipertunjukk an pada zaman penjajahan Jepang di tanah air, sekitar tahun 1942 di Bulutana, Distrik Parigi, Kerajaan Gowa. Pertunjukan tari ini diprakarsai Pemangku Adat 12 Karaeng Bulutana.

Secara umum, di tiap bait tarian ini melukiskan kisah seorang putra bangsawan yang ingin menyeberang ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. Tetapi jawaban orang Jawa, mengapa mesti ke Jawa, sedangkan tempat semua ilmu sebenarnya ada di Butta Gowa.

Yang menj adikan tarian ini hidup, diringi dengan alat-alat rnusik tradisional, seperti gendang. Apatah lagi, diriingi pula dengan lagu Dendang Ridendang  yang dinyanyikan Mak Basse. Menariknya, Mak Basse merangkap sebagai penari.

Tidak kalah menariknya adalah penampilan Coppong Dg Ranu atau yang lebih dikenal Mak Coppong dengan tari Pakarena Iyolle ‘ dari Kampili Kabupaten Gowa. Wanita yang usianya sudah renta, masih gemulai menarikan Pakarena Iyolle’. Lantaran kepiawaian Mak Coppong dalam menari, dia kerap mendapat undangan menari hingga ke luar Sulsel.

Lain lagi dengan Pakarena Samborita dari Sanggar Tabbing Suwalia, Kabupaten Takalar. Keempat penari, Maryam, Marsita, Maijiwati, dan Murkayati yang masih berusia muda, menari dengan variasi lebih minim dibandingkan para penari Pakarena Turi olo. Keempat penari ini lebih banyak berada di tempat dalam melakukan gerakan-gerakan tarian.

Justru yang tampak menonjol adalah penampilan para pemusiknya. Dengan mengusung alat musik berupa gendang, robana, pui-pui, gong, dan kato-kato, alunan musik terdengar dinamis. Malah satu-dua pemain musik yang sudah berusia tua, memperlihatkan gerakan atraktif. Menjadi sajian yang memikat.

Lembaga Seni Batara Gowa pun tidak ketinggalan mengekspresikan tari lewat Pakarena Mali’no. Dengan empat penari dan didukung empat pemusik plus seorang penyanyi, penampilan gadis-gadis belia terasa menghasilkan Pakarena yang lebih modem. Kendati demikian, tetap mengusung spirit, kesabaran, kekuatan, kecerdasan, dan kejujuran nurani.

Tidak hanya tarian Pakarena yang disajikan dalam acara tersebut, ada pula seni musik. Antara lain, Suling Denggong-denggong , Pakacaping dan Gambus, Biolla, Kesok-kesok, dan paraga. Diselingi pula dengan pembacaan puisi dan pabaca-baca .

***

Berdasarkan sejumlah literatur, tari Pakarena merupakan tarian adat dari kerajaan dahulu kala, selalu ditarikan oleh puteri bangsawan pada setiap peristiwa atau upacara-upacara penting dalam lingkungan istana sebagai pemujaan atas dewa-dewa.

Konon, tari Pakarena sudah ada jauh sebelum Agama Islam masuk ke Kerajaan Gowa. Para penari Pakarena memakai Baju Bodo, dengan iringan musik tradisional Tunrung Pakanjara bergelora bak ombak menggulung ke tepian pantai.

Sedangkan di Selayar, ada juga tari Pakarena diberi nama Pakarena Ballabulo. Tarian ini tumbuh pada permulaan abad XVIII di distrik Ballabuto yang sekarang dikenal dengan nama Desa Harapan Kecamatan Bon-tosikuyu. Tari ini merupakan tari penghormatan kepada tamu kerajaan.

Ke Pentas Dunia

Tari Pakarena tidak hanya berjaya di negeri sendiri. Seniman Sulsel, Basri B Sila dan Andi Ummu Tunru, pada 20 Oktober hingga 3 November 2002, diundang untuk mengolaborasikan Pakarena, dengan tari masa kini bergaya tekno yang diciptakan seniman Taiwan,”Reborn” di Taiwan.

Tari Pakarena berintikan “kekuatan” perempuan dalam kelenturan dan kelembutan tingkah laku yang penuh kearifan, tidak terpengaruh nilai luar. Tapi Pakarena sangat lentur dan dapat beradaptasi dengan nilat luar. Sedangkan “‘Ieborn” dengan konsep yang enerjik, cepat, dan ritmis namun juga mengutamakan kelenturan. Jadilah sebuah kolaborasi yang indah.

“Saya ha.nya sekadar perpanjangan tangan untilk memperkenalkan Pakarena,” ujar Andi Ummu Tunru ketika itu. Ia kemudian menyebut Mak Coppong, Mak Cida, Ibu Nurhani, dan Ida Yusuf Daeng Junne sebagai the best penari Pakarena yang dimiliki Sulsel.

Tampaknya Pakarena bukan lagi milik orang-orang etnis Makassar atau Sulsel. Pakarena sudah menjadi milik bangsa, sebagai duta Indonesia di duia Internasional. (dh)

Sumber: Harian FAJAR, Rabu 4 Januari 2004, halaman 20.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: