Balon Gas

Cerpen Taufik A.AS.P

Bangun tidur selama lima tahun di fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Dulhamid kembali menelan pil manis yang kedua kalinya setelah pil kemenangan saat terjaring sebagai mahasiswa di universitas termegah itu. Beratus-ratus pasang mata mentiliknya keras, rektomya memberikan selamat dengan bertenggernya toga strata satu di kepala. Memproklamirkan doktorandus di depan nama Dulhamid.

Wajah pucat Dulhamid di hari kemenangannya itu. Tubuhnya menggigil seperti terserang malaria. Badannya tergoncang gempa bumi saat rektor menggenggam tangannya, aliran darahnya berhenti berdetak oleh jantung yang stop tiba-tiba. Untung pingsan dia tak jadi, ambang kesadaran yang dimilikinya tak semaput oleh malaria aneh yang menyerangnya tiba-tiba.

Karena tradisi lama, sanak keluarga yang jumlahnya berjubel menjadi turis domestik seputar kampus. Dulhamid tersulap menjadi pramuwisata kagetan. Sembari mencari rnoment-moment yang cantik buat nampang di depan kamera. Telunjuk Dulhamid tak henti-hentinya bergerak dibumbui dengan cerocos tentang kemegahan fisik kampusnya itu.

Usai acara ngampus dengan keluarga, Dulhamid kembali ke ternpat kost. Acara kembali berlanjut. Teman-teman sejawat pada berdatanggn; Santap  siap bersama segenap kerabat dan karib. Sambil berbincang ke sana ke mari penuh kegembiraan dan kemenangan.

”Betul-betul bingung lu. Mid, Mid, Mid…Hamid. ”

Hamid lagi-lagi tersentak kaget. Kali ini dia pikun sebelum waktunya. Tumpukan buku setinggi anak

usia lima tahun itulah yang diplototinya. Padahal suara datangnya dari buku babon skripsinya.

Karena jengkel, Dulhamid meninggalkan kursi .

***

Sepekan kemudian setelah penobatannya sebagai sarjana. Dulhamid terlempar ke alam tuna activity, jauh dari hal-hal yang menyenangkan. Sekaligus mendaftarkan dirinya sebagai sarjana yang beberapa ribu lalu-lalang membawa tanda tanya besar.

“Beeenarr  Benar sekali”

Dengan pasti dia membenarkan kebingungannya. “Inilah malaria yang menyerangku di hari wisuda.

Tak perlu aku ke dokter cukup dengan menikmatinya sampai aku sekarat dan otakku terpancing untuk berfungsi” sambil geleng-geleng kepala lagi.

“Hamid, penyesalanku itu. “

Suara keras menyentak dari balik tumpukan buku setinggi anak usia lima tahun. Membuai Dulhamid, celingak-celinguk sambil menatap satu-satu buku babon untuk skripsinya. Tempatnya memang istimewa di bawah kolong ranjang.

Perkiraannya suara datang dari situ. Tapi buku yang tak lebih dari jumlah jari-jari seekor ayam itu diam saja.

Yang memang sudah panas diduduki. Dia berdiri berkacak pinggang seolah menantang suara-suara

itu. Giginya gemertuk lalu lantang setengah berteriak. ”He suara-suara. Dengarkan, aku ini doktorandus Dulhamid. Sekali lagi doktorandus Dulhamid. “

Dulhamid nanar menatap sekelilingnya. “Oe suara-suara ! Kau ngomong apa dengan doktorandus Dulhamid”, lagi-lagi Dulhamid menantang suara itu.

“Dulhamid kau bingung dan bodoh. “

Mata Dulhamid mendelik, terbakar api amarah. Tinjunya dikepalkan sambil diayun-ayunkan. “Busyet… sialan.  Aku ini doktorandus, doktoran dus, doktorandus, dok-to-ran-dus, dok —– to—ran—dussss”.

Sampai terkulai jatuh diamuk kemarahan, Dulhamid terjatuh ke lantai. Bersamaan dengan itu tumpukan buku-bukunya bergetar mengepung dan menyerang. Ada beberapa buku tertampar di pipinya, menghantam kepala, menonjok perutnya. Sementara yang lain beterbangan di sekelilingnya. Sambil bernyanyi koor.

”Jangan ciptakan menara gading. Jangan ciptakan menara gading. Jangan ciptakan menara gading. Kesombongan– kesombongan — kesombongan —- kesombongan. Berbuatlah, berbuatlaaah. Ber — buat — laaaaah.”

Dulhamid kebisingan amat sangat. Peluhnya bercucuran lebih deras dari kencing kuda jantan dewasa. Otaknya bergerak tak karuan seperti action Charlie Chaplin dalam film-film jenakanya. Sampai entah apalagi model si Dulhamid bertarung dengan ketakpastiannya.

***

Sampai pintu kost Dulhamid digedor seseorang. Storing-storing yang menyerangnya tiba-tiba musnah. Seorang anak yang masih cilik betul, masuk membawa dua buah balon gas.

“Kak Mid main balonan yuk.”

Sahabat cilik Dulhamid yang tinggal di seberang kostnya mengajak main. Tapi Dulhamid diam saja. Menatap kedua balon berwarna merah itu.

”Balon itu berisi gas yang mudah terbakar. Kalau diterbangkan terlalu tinggi panas dan meledak akibat matahari. Tapi kalau dimain-mainkan di bawah saja, ah tidak enak kayak balon biasa. Padahal balon istimewa bisa dimainkan di udara. Berani balon gas itu tidak boleh sok melambung tinggi nanti meledak sendiri. Cukup melambung dengan kadarnya. Pasti berguna sebagai barang yang menyenangkan. “

Dulhamid melamun saja. Sampai sobat kental ciliknya itu mendung hampir-hampir hujan. Tiba-tiba mata Dulhamid berbinar lalu meloncat memanggul anak usia empat tahun itu.

“Ayo kita main balon. Balonmu itu balon mu’jisat bagiku. ”

Keduanya berjalan sambil menari-nari dengan dua buah balon gas. Dulhamid tersenyum bebas, dia telah menemukan letak dan dirinya. Doktarandus Dulhamid sarjana sastra. Harus bebas dari daftar sarjana yang lalu lalang dengan tanda tanya yang gede.

Tamalanrea, Awal Ramadhan 1411 H

Sumber: Harian PEDOMAN RAKYAT, Minggu, 10 November 1991, halaman 10.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: