Representasi Cerpen Mini dalam Pembelajaran Sastra di Sekolah

Oleh M. Arifin Zaidin

KUMPULAN Cerpen Mini Yin Hua karya 50 cerpenis keturunan Tionghoa yang dialihbahasakan  Wilson Tjandinegara, selain memperkaya khasanah sastra Indonesia, jugajasanya layak dicatat dalam  sejarah sastra Indonesia. Dengan demikian, tidak berlebihan jika Taufik Ismail menjuluki  penerjemahan dan pengamat sastra Cina sebagai karya sastra tiga jurus : pejuang hubungan  antarbudaya, penerjemah sastra timbal-balik (Indonesia-Mandarin) dan juga sebagai penyair  (Ahmadun, 1999).

50 Cerpenis keturunan Tionghoa yang terhimpun dalam buku cerpen mini Yin Hua tersebut, oleh  Wilson Tjandinegara memilih dengan cermat judul-judul cerpen yang relevan, dan dengan bahasa  sederhana, serta isinya mudah dicerna. Ke-50 cerita pendek mini keturunan Tionghoa miliki jumlah  halaman per cerpen terdiri atas : 13 (26 %) judul dengan panjang antara satu sampai satu setengah  halaman, 31 (62 %)judul dengan panjang antara dua sampai dua setengah halaman, dan 6 (12  %)judul dengan panjang antara tiga sampai tiga setengah halaman.

Tampilanjumlah halaman per judul cerita yang relatif pendek ketimbang dengan cerpen-cerpen yang ditulis oleh penyair Indonesia memiliki daya gugah tersendiri (lan menyiratkan makna bahwa efisiensi waktu dan bisnis harus sejalan sehingga kemanfaatan sastra sebagai sesuatu yang  menyenangkan dapat dirasakan sebagai suatu kebutuhan kehidupan.

Jika realitas cerpen yang pendek ini dikaitkan dengan alokasi waktu yang tersedia di sekolah terutama di sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah umum, substansinya memillih  representasi yang signifikan karena kreasi pembelajarannya dapat diaplikasikan sesuai dengan tujuan k.husus pembelajaran yang diinginkan guru tanpa harus berpacu dengan waktu.

Materi pembelajaran sastra di sekolah bersifat fleksibel. Artinya, materi pembelajaran sastra tidak  hanya bersumber dari buku paket melainkan dapat bersumber dari sumber lain misalnya dari surat  kabar, majalah, dan buku sastra, baik buku puisi dan prosa. Hal ini terpulang kepada kemampuan  guru dalam memilih materi dari berbagai sumber yang diinginkan.

Buku cerpen mini Yinhua misalnya dapat dijadikan alternatif pilihan materi, selain cerpen-cerpennya  pendek, juga memuat berbagai masalah kehidupa keseharian yang terjadi dalam kehidupan  masyarakat. Untuk kita nikmati bersama cerpen pendek satu halaman terdiri atas sembilan paragraf  dan dua puluh dua baris. Cerpen tersebut beijudul “Pengorbanan”, karya Guang Yue berikut ini.

Ia terbaring di atas- ranjang pasien. Kemungkinan ketika seb,elum di operasi, obat bius yang disuntikkan agak kurang, sehingga kini bagian lukanya masih sayup-sayup terasa sakit. Dalam situasi  di mana pasien lebih banyak daripada paramedis, kecerobohan semacam ini masih bisa ditolerir.

Ia masih ingat, semalam, ketika dalam kegaduhan menghalau para mahasiswa demonstran, helmnya  terjatuh. Ketika ia hendak memungutnya, sebuah batu mengenai kepalanya …

Ketika siuman, tiba-tiba istrinya menangis sambil menyandarkan diri di dadanya. Yang ia rasakan  adalah curahan perasaan kasih dari istrinya. Oleh sebab itu, dengan telapak tangan yang kasar dan  tebal namun tanpa tenaga, ia ‘membelai rambut istrinya, agar istrinya pun merasakan cinta kasih darinya.

Jain besuk sudah hampir berlalu, istrinya belumjuga muncul. Anaknya pun tidak datang. Ia merasa heran dan cemas.

Tiba-tiba di pintu kamar seseorang menyelinap …….. tetangganya.

“Tahukah keluarga saya …… “dengan tergesagesa ia bertanya.

“Istrimu tidak bisa datang …” dengan berat hati temngganya berkata ; “Ia niemakahikan anakmu …..  “

“Mengapa anakku ?” ia meronjatapitak kuat bangun. Anaknya seorang mahasiswa.

“Semalam ia tertembak di Senayan ….. “

“Ah ! aku tidak menembaknya …. “ ia meraung. Suaranya seperti sebilah pisau tajam, menusuk setiap orang yang mendengar raungannya. (halaman 97).

Cerpen Mini Yin Hua di atas merupakan salah satu sumber materi pembelajaran sastra di sekolah yang dapat memicu dan memacu kreativitas guru guna menciptakan moclel-model pembelaiaran yang lebih variatif. Komponen guru merupakan salah satu indikator yang menentukan keberhasilan pembelajaran (Zaidin, 2000).

Peluang guru untuk memodel pembelajaran tidak terlepas dari materi yang dipilihnya. Jika materi yang dipilih adalah cerpen mini yang pendek yang oleh Ahmadun menyebutnya five minuts fiction akan lebih ekonomis andaikata cerpen tersebut difotocopy dan sudah tentu akan memenuhi aspek keterampilan berbahasa siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran sastra disekolah bukanlah sesuatu yang rumit dan tergantung pada sejauh mana kesiapan dan penguasaan baik materi maupun metode guru yang dimiliki. Seorang guru yang efektif adalah guru yang menguasai materi dan rancangan instruksional/pembelajaran (Udin, 1997 dalam Houston dkk, 1988).

Ilustrasi di atas dapat dijadikan perbandingan yang rasional dalam pembelajaran sastra di sekolah.  Dengan demikian, buku cerpen mini yinhua perlu dimiliki oleh para guru bahasa dan Sastra Indonesia  di sekolah baik SLTP maupun SMU untuk kajian-kajian materi selanjutnya.

Makassar, 31 Maret 20001

Drs.M.Arifin Zaidin,M.Pd., dosen Universitas Terbuka, dan pemerhati sastra Yin Hua, tinggal di Kota Makassar.

Sumber: Harian PEDOMAN RAKYAT, Minggu 29 April 2001, halaman 9

Satu Tanggapan to “Representasi Cerpen Mini dalam Pembelajaran Sastra di Sekolah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: