Gerimis Ramadhan

Cerpen Muliyati Mastura

UMURKU baru masuk 16 tahun, awal Januari 1999. Aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku. Menurut cerita orang-orang, aku anak haram. Aku lahir dari hasil hubungan gelap.

Suami ibuku, kata orang-onang, tidak bertanggung jawab setelah menghamilinya di luar nikah, sehingga ia lari. Dan ibuku melahirkan tanpa ayah. Aku dipungut di rumah sakit dan sekarang tinggal bersama dengan seorang nenek yang bukan nenek dari darah daging ayah atau ibuku. la hanya kasihan sama saya. Saya diambilnya untuk menyelamatkan sekaligus menyambung hidupku, hingga kini.

Aku masih ingat, ketika masih usia sekitar 4 tahun, aku sering menanyakan ibu dan ayah. Tapi nenek menjawab, sedang merantau. Aku sendiri tidak tahu apa arti perantau. Nenek menjelaskan bahwa pergi ke negeri orang untuk mencari uang.

Ketika kutanyakan, mengapa mesti di negeri orang, nenek bilang supaya uang yang didapat lebih banyak. Lama aku menunggu kedatangan orang tua, tapi tidak pernah datang. Setiap aku bertanya, jawaban nenek itu-itu saja. Aku tidak habis pikir apakah nenek bohong atau memang keadaannya seperti itu. Kalau ada ibu-ibu yang datang ke rumah, selalu kusangka dia ibuku. Tetapi, ternyata ibu dari teman nenek dan hanya ingin membeli sayur

Ketika usiaku masuk 7 tahun, aku sudah mulai berpikir untuk mencari uang. Aku tidak tahu, mengapa motivasi untuk mencari uang begitu tinggi. Padahal, seharusnya aku sudah sekolah di bangku SD. Tapi, meskipun aku tidak meminta untuk sekolah aku selalu tahu diri bahwa nenek tidak mungkin dapat menyekolahkanku. Bila melihat kehidupannya, aku justru lebih merasa iba kepada nenek.

Aku tinggal di sebuah gubuk tanpa IMB. Gubuk itu berada di belakang komplek perumahan megah dan ruko. Tempat tersebut berupa tanah kosong yang di sekelilingnya banyak tanaman palawija. Nenek memanfaatkan kebun itu untuk menanam. Yang ditanam macam-macam. Ada kacang panjang, daun kacang, labu, tomat, lombok, terong, pepaya, dan kangkung. Hasilnya, sebagian dijual dan sebagian lagi dinikmati sendiri. Namun musim kemarau ini, tanah kering dan tanaman nenek layu karena air kurang. Yang bertahan hidup sisa kangkung, tomat, lombok, pepaya dan terong.

Sementara untuk mencari uang beras, aku bertarung hidup dengan menjajakan koran eceran dijalan-jalan. Kadang-kadang aku mendapat untung Rp 2500/hari. Kadang juga, kalau lagi malas dan tidak bersemangat Cuma dapat Rp 1000. Selesai  dagang koran, aku jalan kaki menuju gubuk nenek. Tiba di sana, nenek tidak ada. Aku langsung saja tidur di atas papan tanpa tikar, karena tubuh lelah sekali. Sementara perutku juga sudah lapar.

Dalam keadaan seperti itu, aku selalu membayangkan ibuku. Apakah ia cantik atau tidak. Aku selalu berandai-andai, bila saja ibu ada di sini bersamaku, tentu ada yang memasakkan, menyekolahkan, dan memanjakanku. Jadi, tidak perlu aku bersusah payah, membanting tulang untuk sesuap nasi.

Tanpa terasa pula, air mataku menitik hingga jatuh ke papan. Pakaianku yang begitu kumal kubuka. Kulap air mataku dengan baju yang kerahnya penuh daki. Tiba-tiba nenek datang. Kurasakan langkah kakinya yang lambat menaiki tangga. Aku pura-pura tidur dan mataku kukatup, kututup dengan baju kumal itu.

Aku mendengar nenek sedang sibuk hendak memasak. Aku terus saja tidur. Kurasakan pula kantongku diperiksa nenek. Mungkin ada yang kurang dalam masakannya sehingga ia harus membeli di warung. Tapi, nenek hanya mendapat uang recehan hingga jumlahnya Rp 1000. Uang itu dipakai beli ajinomoto dan minyak tanah, karena kayu untuk persediaan bahan bakar sudah habis. Setelah makanan sudah masak, nenek membangunkanku.

“Pipin, bangun. Makan ! Ayo bangun!” badanku digoyang-goyang nenek. Makanan sudah tersedia tepat di dekat kepalaku. Aku pergi cuci muka. Kulihat makanan yang disediakan nenek. Begitu nikmat. Cuma sayang, ikannya tidak ada. Hanya terong bakar yang diberikan lombok kecil dan garam disiram air sedikit.

“Nek, sudah lama ya kita tidak makan ikan,” kataku sambil makan dengan lahap.

“Ya, Nak. Sabar-sabar ya. Nanti nenek beli ikan,” ujar nenek menghibur.

“Tapi nenek dapat uang dari mana?” tanyaku. Nenek tidak bilang-bilang. la tetap saja mengunyah nasi dengan agak pelan tapi pasti.

“Nek, mulai besok. aku akan kerja keras lagi supaya kita bisa dapat makan ikan,” kataku bangga.

“Kerja apa?” kulihat mata nenek membelalak.

“Sabar saja, Nek. Yang jelas, kita akan dapat makan ikan.” kulihat nenek tertawa dan giginya yang sudah ompong dua di depan tampak.

****

SEPULANG menjual koran, Pipin ke Sentral. la minta bantuan kepada salah seorang penjual. Pipin menawarkan diri  agar barang yang dijual itu, bisa dijualnya ke sana-kemari.

lbu itu tidak yakin bahwa aku dapat membantunya. Tetapi aku tetap meyakinkan bahwa bisa mendapatkan uang banyak.

Maka mulailah aku menjual hanger dan kesetan. Lumayan, untungnya banyak.Tapi, dalam hari-hari tertentu, hanya dapat sedikit juga. Itu tergantung dari keagresifanku. Bila malam aku ke Pantai Losari menawarkan jasa untuk menyemir sepatu. Bila ada sepatu-sepatu yang ditanggalkan pemiliknya, aku pun menawarkan jasa untuk menyemimya. Kadang-kadang ada yang mau disemirkan, kadang juga hanya menertawaiku.

Bila ditertawai seperti itu, ingin rasanya aku menangis. Berlari dari keramaian orang-orang berduit. Tapi, aku yakin bahwa hidup ini adalah perjuangan. apalagi dengan melaksanakan salat, hatiku justru menjadi lebih tenang. Nenek memang  selalu mengajarkan kepadaku agar tetap melaksanakan salat.

Aku pulang dengan hati senang dan gembira. Kulihat nenek sedang memetik di kebun tapi aku langsung saja naik di rumah. Kuhitung keuntungan yang kuperoleh lalu kuteriaki nenek dari kejauhan.

“Nekl Nenek…Sini…Kita sudah bisa beli ikan.” Nenek balik dan tersenyum. la lalu buru-buru membawa sayuran ke rumah. “lni Nek. Kita sudah bisa beli ikan. Lumayan kan.”

“Tapi bagaimana dengan besok. Kan sudah mulai masuk puasa. Apa kamu masih bisa mencari uang?” tanya nenek.

Aku diam dan kembali sedih, mengingat ibu dan ayahku yang selalu kurindukan tapi tak pernah kutemui.

Aku meninggalkan nenek untuk salat isya. Dalam air wudhu itu, mengalir pula air mataku yang terus tumpah. Aku tak bisa menahan kesedihan, bila nenek mengatakan tentang kesanggupanku mencari uang. Sementara dalam hati kecilku selalu mengatakan bisa.

Namun. selalu pula, pada saat yang sama, kuteringat orang tuaku. Rasanya, aku betul-betul menjadi sebatang kara. Tetapi, aku selalu berusaha untuk tegar sambil berdoa agar Tuhan memberikanku rezeki.

Esoknya, saya tetap bekerja seperti biasa. Hingga kurasakan bahwa tubuhku semakin tinggi. Sudah dewasa. Ada perasaan dalam hati, risih untuk menjual-jual lagi.Tetapi, keadaan  terus memaksa untuk membantu nenek.

Aku buka puasa di mana saja. Kadang-kadang di masjid dekat Pantai Losari, kadang pula hanya minum  es Rp 100/gelas dan kue dengan harga yang sama. Kalau perutku belum tahan, singgah lagi makan  bakso. Yang penting, uang di kantongku tidak habis. Pergaulanku semakin meluas. Bahkan dengan  bapak-bapak dan anak muda dewasa.

waktu, seorang bapak menanyakan mengapa aku sampai menyemir sepatu. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan yang memalukan itu. Tapi, tampaknya, bapak itu amat bersahabat, bahkan nyaris memeluk tubuhku yang berbau keringat itu. Aku malu sendiri.

“Kamu cakep sekali, Dek. Tak pantas kamu bekerja seperti ini,” katanya memecah suasana pantai dengan desiran ombak.

“Tidak, Pak. Aku harus tetap bekerja. Aku harus membantu nenek. Kasian, dia sudah tua,” kataku menunduk.

Lalu bapak itu menanyakan orang tuaku. Tapi kujawab tidak punya.

“Tidak punya?” tanya apak itu lagi, dan aku mengangguk.

“Kau tampaknya sedih sekali, Dek. Maaf kalau kata- kata saya menyinggung,” ujarnya.

Aku menggeleng. Memang aku tidak tahan bila diingatkan dengan keberadaan orang tuaku yang sebenarnya. Terlebih, ketika aku disebut-sebut sebagai anak haram. Aku paling tidak suka dan ingin

menangis sejadi-jadinya.

“Pak,permisi,” kataku pamit kepada bapak itu.

“Sebentar, Dek. Nanti saya antar pulang,” ajaknya. Tapi aku tetap tidak mau dan bapak itu tetap  memaksaku untuk ikut di Honda civicnya. Tanganku ditarik dan alat-alat semirku diangkatnya sendiri. Aku jadi serba salah dan risih.

“Tidak perlu, Pak.. Terima kasih,” kataku. Tetapi bapak itu tetap ngotot untuk mengantarku hingga  ke gubuk bambu. la kuperkenalkan dengan nenek. Yang membuat aku heran, Bapakitu tidak risih duduk di  atas papan yang bolong-bolong dan banyak bekas arang serta getah pisang.

Aku duduk di samping kanan nenek sementara Bapak itu duduk bersila menghadap ke dalam dekat pintu. Hatiku terus bertanya, mengapa Bapak itu terlalu ramah. Apakah ia orang yang ditunjuk Tuhan untuk membantu kehidupan kami? Kuperhatikan wajah bapak itu yang agak mirip dengan wajahku. Gagah, sebagaimana orang mengatakan diriku gagah, persis bapak itu. Hidung, mulut dan alisnya. Aku selalu curi pandang, bukan omongannya yang kuperhatikan tapi wajahnya itu. 99,9 persen feelingku mengatakan bahwa dialah ayahku.

Setelah bincang-binçang selama setengah jam, bapak itu pamit sambil meletakkan empat lembar uang Rp 50.000. Aku terkejut melihatnya dan ia pun buru-buru permisi. Aku dan nenek tidak habis pikir, mengapa apak itu memberikan uang sebanyak  yang tak pernah diduga. Kami gembira dan ingin rasanya aku sekolah, namun sayang sudah terlambat. Seandainya aku sekolah, seharusnya sudah duduk di SLTA.

“Nek, kita bisa makan puas ya. Kita tidak perlu repot-repot lagi cari uang. Karena persediaan masih  banyak, kan Nek?”

“Ya…ya,” kata nenek.

****

DUA hari jelang lebaran, aku membawa nenek jalan-jalan untuk membeli baju persiapan lebaran. Juga, menemaninya membeli lauk-pauk. Kali pertama kulakukan sepanjang l6 tahun. Sungguh menjadi ketenangan tersendiri. Ini betul-betul berkah terselubung yang tiada terkira. Dan pada  malam lebaran, hujan gerimis. Aku tidur seperti biasa. Sementara nenek masih asyik dengan masakannya. Tiba-tiba pintu diketuk, suaranya mirip suara bapak yang pernah datang ke gubuk itu. Jantungku berdetak kencang dan hatiku tiba-tiba berbunga-bunga. Seakan-akan orang yang datang itu adalah yang selama ini kurindukan. Yang sebelumnya hanyaselalu hadir dalam mimpi.

Aku tergcsa-gesa membuka pintu. Kulihat kedu atangannya menenteng bungkusan.

“Ini hadiah lebaran untukmu, Dek,” ujar bapak itu ramah. “Dan ini uang untuk dipakai, ala kadarnya,” kata bapak itu lagi dengan tatapan syahdu.

Dalam keadaan masih mengantuk, aku nyaris tak percaya, mimpi apakah ini sehingga dapat rezeki di malam lebaran? Di hujan gerimis ini? Bapak itu tertunduk, seperti menelan air liurnya, seakan ingin menyembunyikan wajahnya. Kutatap dengan tatapan sendu, melihat satua persatu garis-garis wajahnya. La mirip denganku. Bila dugaan itu betul, mengapa Bapak itu tidak ingin mengatakan bahwa sayalah ayahmu dan mengapa pula aku tidak ingin mengatakan kepada Bapak itu, “Bapak mirip denganku. Apakah Bapak ayah saya?” Namun, Tidak ada sepata kata pun yang terlontar. Seakan-akan sama-sama menahan bicara. Ia tersenyum dan memegang pundakku.

“Saya pamit, Dek. Besok saya datang lagi,” katanya dengan suara yang nyaris tak kudengar.

“Tapi, Pak… Gerimis…”

“Ah… tidak apa-apa. Mari…Besok saya datang.

Aumber: Harian FAJAR Minggu, 10 Januari 1999, halaman 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: