Kisah Terjadinya Kalidaqda

Oleh M. Arifin Zaidin /  Firman Hamsi   

Pemahaman unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sastra kalindaqda masyarakat Mandar, belumlah cukup dan untuk mengetahui dan memahami kalindaqda secara sempuma, tentu saja peminatnya ada baiknya mengetahui latar belakang atau kisah terjadinya kalindaqda ini sebagai salah satu sastra daerah Mandar; demikian ceritanya. Daerah Mandar dikenal sebagai daerah pintu bahana binanga (Tujuh kerajaan di muara sungai) dan pitu ulunna salu (tujuh kerajaan di hulu sungai). Daerah Mandar itu sebenarnya merupakan gabungan pintu bahana binanga (tujuh kerajaan di muara sungai), meliputi beberapa kerajaan yang terdiri dari kerajaan Balanipa, Binuang, Banggae, Pamboang, Sendana, Tampalang, Mamuju, sedang pitu ulunna salu (tujuhkerajaan di hulu sungai; terdiri dari kerajaan Rante bulahan, Aralle, Massawa, mambi, Bambangan dan Matangnga serta Tabulahan.

Pada suatu ketika dari undangan ”Tomepayung” raja kedua dari kerajaan Balanipa, maka diadakanlah suatu musyarawah dari kedua kerajaan ini, yaitu tujuh kerajaan dimuara sungai dan tujuh kerajaan di hulu sungai, dikenal dengan “muktamar Lujo” yang menghasilkan perajanian “SIPAQ MANDAR”, yang berarti saling memperkuat, saling memperkokoh atau mempererat persatuan dan kesatuan dan kesatuan diantara sesama anggotanya, sesuai dengan pengertian kata Mandar yang berarti kuat. Perjanjian sipaq Mandar ini, antara lain berbunyi ”Ulu Salu mate di galung, Binanga mate di paerappeanna uwai”. Kerajaan di hulu sungai bersiap-siap mengawasi ikan hiu yang mendekat ke pantai. Kerajaan di hulu sungai mengawasi kemungkinan invasi musuh dari arah gunung dan kerajaan di muara sungai akan mengawasi kemungkinan invasi yang datang dari arah lautan. Muktamar Luyo dipimpin oleh Tomepayung sebagai wakil dari kerajaan Pitu Bahana binanga (tujuh kerajaan di muara sungai) dan nenek Tomampu Aliso Londo Dabata sebagai wakili dari kerajaan di hulu sungai.

Daerah Mandar inilah tempat berjadinya kalindaqda. Menurut pengertian harafiahnya, kalindaqda berarti mengungkapkan, mencurahkan isi hatinya. Pengertian ini bukanlah sesuatu yang sempurna, tetapi merupakan simbol atau pikiran dan perasaan di dalam hati yang diungkapkan kepada seseorang di dalam situasi apapun yang meliputi segala aspek manusia atau masyarakat dengan pilihan kata, susunan kalimat, irama yang indah yang dapat menggugah perasaan. Isinya berupa nasehat, rasa keagunan kepada Tuhan, rasa keberanian, cinta , benci dan lain sebaga-iriya

Pada mulanya kalindaqda hanyalah merupakan suatu pengungkapan ataupun curahan pikiran dan perasaan cinta seorang jejaka atau pemuda kepada seorang gadis yang dicintainya. Ungkapan pikiran dan perasaan tersebut dilakukan secara berbalas-balasan serta sindir menyindir diantara mereka. Pada masa dahulu, urnumnya masyarakat Mandar, tenitama dikalangan pemuda yang ingin

mengenal seseorang gadis yang mereka cintai tidak secara terangterangan. Ia melahirkan atau mencurahkan perasaan cintanya yang tersirat dalam lubuk hatinya melalui kalindaqda.

Pemakaian kalindaqda tidak hanya terbatas dikalangan remaja, saja, tetapi bahkan sudah berlaku umum bagi seluruh lapisan masyarakat, misalnya anak-anak, orang tua dan sebagainya. Tema yang diungkapkan dalam tiap bait berkisar pada soal keagamaan, nasehat dan cinta. Mari kita camkan isi nasehat yang diungkapkan lewat kalindaqda sebagai berikut:

Kalindaqda pepetudu (Nasehat)

Ayappui tongan-tongan

Pettulei tammangingi

Dao palanre

Pappettuleang saraq

Artinya:

Ketahuilah yang sebenarnya

Tanyai yang tak kesal

Janganlah Anda kiranya bosan

Menanyakan ilmu,

(FH.1980:35).

Jelaslah bagi kita bahwa Kalindaqda pada mulanya diangkat bagai pelahiran perasaan cinta seorang pemuda kepada seorang gadis yang dicintainya. Kalindaqda dalam perkembangannya, ditampilkan pada waktu upacara-upacara adat yang telah menjadi kebiasaan masyarakat Mandar yang diadakan

setiap tahun bertepatan dengan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Upacara adat seperti ini, antara lain pengkhataman qur`an yang dimeriahkan oleh gadis-gadis ayu yang telah tamat mengaji. Mereka diarak keliling kota dengan menunggangi kuda yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kuda

tersebut khusus dididik dengan gerak-gerik yang seirama dengan alunan suara dari pemuda-pemudi

lewat sayir kalindaqda.

Perkembangan selanjutnya, kalidaqda tidak hanya ditampilkan pada setiap seorang pemuda ingin mencurahkan perasaan cintanya kepada seorang gadis dan juga dalam upacara-upacara adat, tetapi juga pada setiap penobatan seseorang raja untuk menduduki singgasana kerajaan di Mandar pada  masa silam.

Berkisar pada alur terjadinya kalindaqda seperti diuraikan diatas, maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa kalindaqda pada mulanya bersumber dari pengungkapan perkembangan selanjutnya dijadikan sebagai alat untuk mengungkapkan kegembiraan dalam upacara adat seperti  yang dikemukakan diatas. Jelaslah kepada kita bahwa kalindaqda adalah salah satu bentuk sastra daerah Mandar yang berbentuk pantun.

Kalindaqda menurut penuturannya atau maksudnya, macam kalindaqda yaitu kalindaqda nanaeke (anak-anak) yang berisikan sifat kalindaqda randu-randu paqmai (berduka cita). Misalnya:

Bere-bere udaq todi

Napadiang kindou

Dianga pole

Napelei maq lao

Artinya:

Malang sungguh nasib diriku

Kehadiranku di dunia ini

Ketika aku datang

lbu pun telah tiada

Selanjutnya kalindaqda Mario padmai (gembira) misalnya:

Polemang mieq di bulan

Mattule di bintoeng

Ia balinna

Kaweng maroaq manini.

Artinya:

Telah datang aku dari bulan

Bertanya pada bintang

Apa katanya

Kawin ramai juga engkau kelak.

Kalindaqda berikut adalah kalindaqda Tau Lolo (Orang Muda) dengan klasifikasi kalindaqda paqdagang (nasib) dan kalindaqda naemuane (pemuda). Coba Inta nikmati contoh kalindaqda  paqdagang dibawah ini:

Batang rappedang iyau

Di banuanna tau

Polei lembang

Napalaiang homa

Artinya:

Diriku semisal tangkai kayu yang

terdampar

Singgah dinegeri orang

Bila ombak datang melanda

Akupun ikut terhanyut pergi.

Selain kalindaqda Tau Lolo, dulang muda) dikenal pula kalindaqda tomawuweng (orang tua) yang berisikan kalindaqda masaalah (afama), kalindaqda pepetudu. Mari kita telaah arti kalindaqda agama, dibawah ini:

Pannassai syahamu

Mesa Allah taala

Sure matappana

Artinya:

Allah itu Tuhan yang Esa

Nabi Muhammad

Rasul yang setia

Syahadat dituu tia

Pannana asallangan

Ingganna situngguang

Artinya:

Syahadat itulah dia

Akar tunggang ke Islaman

Dialah pangkal bertolak

Sumber segala kebenaran.

Dengan pemahaman unsur intrinsik, ekstrinsik dan latar belakang terjadinya kalindaqda serta kalindaqda menurut penuturannya dan maksudnya, tentunya akan lebih memperkaya pengetahuan

dan intuisi kita tentang kalindaqda itu sendiri dan dengan sendirinya pula akan memperkaya batin kita tentang berbagai gerak kehidupan yang tersirat dan tersurat dalam kalindaqda susastra daerah Mandar.

Sumber: Harian PEDOMAN RAKYAT Minggu, 5 Desember 1993, halaman 10

Satu Tanggapan to “Kisah Terjadinya Kalidaqda”

  1. dasar kami dari culture dan culture adalah dasar kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: