Situs Kesenian, Berteater ke Depan

Oleh Ancha Ardjae Lalilo

Fenomena gerak rotasi dunia kreativitas, di mana dinamisasi ide bergelut antara waktu kesepakatan nyata dengan ruang imaji. Antara kesunyian yang menjadi wadah pengembaraan memfiu atau berasal pada lingkar pemetaan realitas. Setidaknya, hadir dalam diri sastrawan dan seniman menjadi

garis penghubung tidak samar dan terputusputus dengan masyarakat. Tergambarkah garis penghubung itu pada pokok realitas dunia kesenian kita di Sulawesi Selatan pada umumnya dan di Makassar pada khususnya.

Ada bayang-bayang kengerian terasa bagi saya (penikmat dan pelaku seni) sebagai salah seorang generasi kemarin yang belum ada apa-apanya (Kalimat yang pemah kami dengar dari seorang yang telah menganggap dirinya seniman dan berpengalaman). Kengerian tersebut seperti kabut menyiangi pagi dan membuat kita meniti seperti seorang buta mengayunkan tongkat. Perdebatan kualitas muncul sebagai “Dewa” meng-Aku kan diri kelompok, generasi, nama mendekati pengakuan seperti anak kecil mengamini mainannya, hanya dialah yang memiliki mainan semewah itu. Kreativitas yang bergolak dan muncul di luar takaran tersebut lebih cenderung direduksi ke pinggir karena dianggap tidak memiliki bentuk dan konsep memungkinkan berkualitas. Siapa sangka Festival Teater yang dilaksanakan oleh BKKNI beberapa waktu lalu oleh sebagian masyarakat, (mudah-mudahan tidak sebagian besar masyarakat) dianggap “lolucon pengakuan diri” menoreh keadaan sejarah yang membuat hati merasa “kasihan dan menyedihkan” atas keadaan tersebut. Sehingga muncul pameo yang mengatakan begini : Untuk apa kita ke sana (Festival Teater) itu kan untuk konsumsi mereka sendiri, tidak ada perubahan, itu-itu terus. Pameo tersebut ternyata jauh lebih dirasuki obsesi ke arahan lebih kompetitif, beragam, berinovasi, dan berdinamisasi dibanding rujukan kualitas yang belum tentu juga memiliki bentuk, konsep, ciri, dan kematangan. Pameo tersebut justru menghendaki tercipta masyarakat seni yang dikenal oleh publik tanpa “kecurigaan pembatas” yang dapat menyempitkan perkembangan kesenian (teater) itu sendiri.

Persoalan akhirnya banyak yang muncul dari dulu ke permukaan. Salah satunya, apakah benar sekarang ini kita di Makassar pada khususnya memiliki seniman, yang “bersenggama” dengan masyarakat ataukah hanya memiliki kelompok kesenian dalam sebuah pementasan secara sembunyi sembunyi dengan dasar kesenangan dan pemenuhan sebuah harga kepentingan? Kita bertanya begitu lugu, tapi bukan berarti tidak mengetahui kong-kali-kong perkembangan kesenian kita. Penombatan kelompok, komunitas, grup, sanggar terkadang seperti musim jagung yang siap panen. Meskipun dalam sebuah lahan yang sama, tapi pada akhirnya hasil yang ditunggu tidak memperlihatkan apa-apa. I-lingga suatu waktu pemah ada kalimat “Kami seniman dari mana” begitu asingnya kita dalam lingkungan yang sama tapi bukan berarti kalimat itu tidak beralasan.

Satu hal yang cukup menarik. Mana aktor yang bicara dari sebuah pambfelt bertuliskan, “Saatnya Aktor Bicara. Apakah ini hanyalah slogan untuk menjadikan sebuah kalimat “membodohi zaman” yang tengah bergulir mendekatkan dan merekatkan keberagaman”. Begitu sempitnya mang lingkup mesti dibaca dan diartikan, ketika yang dimaksud saatnya aktor bicara hanya termaksuydkan pada aktor-aktor di bawah sebuah cahaya lilin menerangi sebagian kecil bumi kreativitas. Ataukah sekarang justru masyarakat saatnya bicara dan aktornya setelah sekian menit di atas panggung pulangke rumah dan tidur? Ada sebuah kekuatan provokatif yang dilontarkan oleh Asia Ramli Prapanca ketika terjadi kasak-kusuk Musyawarah Daerah DKSS di Auditorium RRI cukup berkesan dan mempunyai kekuatan gerak, dengan suara lantang mengatakan : Mana Karyamu! Justru kalimat ini lebih cocok di desain pada xibuan pamflet lalu disebarkan pada setiap nurani seniman, sehingga ada rasa “malu” ketika masyarakat memanggil kita seniman. Terlebih lagi bagi komunitas seni yang lahir dengan “Sing-Sala-Bin  “.

Sesungguhnya sumbangsih pemikiran yang diungkapkan Halim HD melahirkan tolok ukur pewawacanaan bahwa faktor teater jangan dijadikan ukuran kualitas dan secara internal menyarankan agar problematik teater atau kesenian pada umumnya di Makassar dapat dipecahkan. Baik menyangkut problematik individu-individu, maupun lembaga kesenian. Tolok ukur pewacanaan tersebut hendaknya dicermati sebagai cermin kebenaran maslaah yang terjadi, oleh seniman individu maupun kelompok, grup, sangat dan terlebih lagi lembaga seperti DKSS, DKM, dan BICKNI. Entah nantinya pencennatan yang muncul akan melahirkan bentuk lebih tapi justru lebih mampu membuka tabir “Perselingkuhan” dalam peta kesenian dari ragam teka-teki membingungkan.

Namun sebuah siklus akan terbekukan ruang dan waktu dari problem yang ada. Jikalau lembaga seperti DKSS meng-“onani” – kan diri terhadap peng-aniayaan kreativitas, karena visi dan misinya hanya mem-beo pada kesenangan memikirkan diri sendiri. Begitu pula Dewan Kesenian Makassar jikalau hanya mengakomodir sepetak lapangan takrow dalam li.ngkungan.nya sendiri, tentu di luar lingkungan permainan sebatas berwenang sebagai penonton dan nantinya terhakimi pada situs kesadaran, bahwa Dewan Kesenian Makassar (DKM) hanya sebentuk sanggar, milik beberapa orang saja. BKKNI pun setidaknya melakukan study kelayakan jikalau memang memandang perlu memahami kesenian itu untuk siapa? karena kesannya cukup rawan. Jangan sampai BKKNI tak lebih dari pimpinan proyek terhadap sanggar-sanggar yang ada di Makassar, hal tersebut rnenyempitkan lahirnya solusi masalah dan masyarakat beranggapan, orientasi BKKNI seperti kelurahan.

Dalam subtansi kerja kesenian.’Sadar atau tidak sadar, masyarakat pemilik hak utama penentuan proses ke arah kematangan dari apa yang dilakukan oleh seniman dan sejenisnya. Instrumennstrumen memetakan kualitas dan tidak berkualitas, baik dan buruk, layak atau tidak layak semata~mata mengerdilkan daur pengawasan dan pewawasan khasanah kreativitas. Karena tak ada “Dewa” dalam kerja ke senian serta prosesnya yang harus disembah dan dielukan. Semua terikat pada sumbu yang sama, Mana Karyamu bukan dengan kalimat “Kami  masih ingusan”.

* Penulis adalah Ketua Umum UKM Seni Budaya UMI, Sanggar Kabut Makassar serta anggota LK-SESAMA, Komunitas Mahasiswa Sastra Indonesia UMI Makassar.

Sumber Tuliasan : Harian PEDOMAN RAKYAT Minggu, 7 Januari 2001, halaman 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: