Kesenian Kita

Oleh Bahar Merdhu

Sorotan-sorotan tajam banyak dilemparkan pada pelembagaan dan pengorganisasian dengan segala sistim olah bangunannya. Bahkan menjurus pada orang perorangan yang dianggap tak becus dan perpesional mengurusi lembaga. Lebih celaka lagi, fungsi dan profesi kerja orang perorangan tertentu dikait-kait-kan pada kerja seni yang katanya memiliki l nilai sakral. Ekor-ekornya, membuat para pengkarya seni menjadi bingung dan menyeret orang diluar ruang ikut bingung dan membingungkan.

Akhirnya kita terlepas dan kehirilangan jejak untuk meml perkarakan bangunan kreativitas irian kualitas karya seni. Kita hanya seperti sedang menyaksikan seorang pemburu di tengah hutan yang mencari rusa dan segala hewan liar. Ketika sang pemburu itu kebingungan mencari sasaran, ia justru membabat habis segala fauna yang seharusnya dapat melindungi segala flora.

Ketika kesenian dipertunjukkan. Baik itu teater, tari, musik dan i segala kesenian lainnya, kita justru tak dapat merasakan adanya ketegangamketegangan artistik yang disebabkan oleh kritisnya para pengkritik atau penelaah seni. Tak kita rasakan bagaimana itu pengartistikan, perlampuan, pengaktoran atau ide atau gagasan dibahas habis. Kalau itu ada, itu tak lebih dari sikap tenggang dan

ketegangan rasa. Hubungan pertemanan atau permusuhan yang sangat pribadi yang jentrungnya, jika tidak memuji habis-habisan sang sutradara untuk membunger bungakan hatinya, maka menghabisi habis-habisan demi kepuasan sikap sinis dan dendamnya. Subyektif sekali.

Kawakan kita Drs.Asia Ramli Prapanca, sang penyair yang juga seorang sutradara, ketika berbi-cara pada acara malam silaturrahmi bersama jaj aran orang-orang yang menurutnya `orang-orang  diatas’

yakni Pemda Sulsel, yang kala itu dihadiri Asisten Bidang Kesejahteraan Sosial serta Karo Bina Sosial, di Pondok Datu Museng, membantai habis-habisan oknum-oknum yang pandai mengatasnamakan komunitas untuk kepentingan pribadinya. Balikan dengan lantang ia sampaikan, kalau orang-orang macam itu adalah ‘penipu dan pembohong’. Mereka yang dimaksudkan kawan kita ini adalah orang-orang yang datang dengan brutal dan frontal atas nama aspirasi. Menuntut hak dengan jalan berunjuk rasa.

Apa yang disampaikan kawan kita itu tentu sangatlah berala-san. Karena sesuatu yang terkesan sampai kepadanya adalah kenaifan. Naif dalam arti menjadi brutal dan frontal atas dasar rasa apar. Satu model pelembagaan ang mengatasnamakan komunitas dimana komunitas itu seolah tengah menangis dengan mencucurkan airmata. Padahal pada sudubsudut ruang yang sesungguhnya, Ram bersama orang-orangnya tengah sibuk dan estate mencari gagasan-gagasan baru. Ide-ide baru agar mereka menemukan syurganya sendiri.

Dari apa yang dioemaskan kawan kita itu. Kita mungkin sepakat mengatakan bahwa kita bukan tidak membutuhkan pelembagaan. Tetapi pelembagaan ma-cam apa dan model apa. Pelembagaan yang

tentunya mampu menawarkan dan mengkomunikasikan suatu karya. Bukan menawarkan dan mengkomunikasikan luka-luka kecil dari pertengkaran kecil. Kemudian dari perkara kecil itu seakan memberi gambaran tengah terjadi badai. Sehingga itu menjadi situasi empuk untuk ditawarkan atas dasar kelembagaan. Lalu masing-masing orang sibuk mengurusi dan memperkarakan lembaga, dan lupa pada kreativitas dan kualitas karya seni itu sendiri. Ahirnya membuat situasi kisruh dan ranculu. Kekisruhan yang tak disadari sampai-sampai menyeret dan mengangkutpautken saudara Husain Abdullah yang sesungguhnya tengah asik dan sibuk dengan kamera RCTI~nya (baca Surat Pembaca di Pedoman Rakyat). Kek\isruhan yang kemudian menyeret nyeret orang diluar ruang untuk turut ambil bagian. Celakanya, orangorang diluar ruang itu hanya mencoba memahami sesuatu yang dewasa dengan sikap tidak dewasanya. Atau dengan kata lain tidak dewasa untuk memahami sesuatu yang dewasa.

Seseorang yang entah siapa pernah datang dan bercerita kepada saya. Ia bercerita banyak hal tentang konsep dan metode penjualan (pemasaran) kesenian dengan contoh-contoh kasus produk«produk seni yang ia saksikan katanya di luar Sulawesi Selatan. Jakarta, Bali, Jogia dan banyak lagi di daerah lain. Saya diam dan membiarkannya terus berceramah. Ketika ia kehabisan bahan untuk membahas segala yang andal yang ia banggakan, pikirannya menjurus untuk mene-laah bentuk pertunjukan di Sulawesi Selatan. Celakanya, apa yang ada di sini hanya menjadi bahan cemooh & celaan baginya. la kemudian mena-sehati saya dan berceramah banyak.’Mulai dari konsep garapan pertunjukan sampai teknik-teknik penjualan produk seni. Dia katakan selišxmfusnya begini, seharusnya begit . Dan jangan begitu, dan jangan begini. Panjang dan cerewet sekali. Hanya sayang, ketika saya mencoba menelaah dan mencoba mèijxahami siapa dia, saya merasa kasihan dan prihatin sekali. Karena cara pandang dan analisa yang ia sampaikan sangat sepihak sekali. Hanya pada Jogia, Jakarta atau sebutlah itu Jawa. Pada sisi lain ia tidak mencoba memahami lebih jauh bagaimana di sini di Sulawesi Selatan. Bagaimana latar belakang budayanya. Bagaimana obsesi dan emosinya. Bagaimana religi dan perkembangan pendidikan dan sebagainya. Bahkan jika ingin lebih jauh melihatnya, bagai-mana kekerasan, fisik dan badik terkadang ikut pula bermain di relung-relung estetika.

Tapi itu tak saya sampaikan kepadanya. Saya hanya berpendapat, bahwa tipe orang-orang seperti itu banyak di sini. Orang-orang yang berada diluar sangkar yang seakan-akan lebih memahami penderitaan seekor burung terkurung dalam sangkar.

Seniman-seniman muda Fort Rettterdam yang melebelkan komunitasnya dengan nama Sanggar Bersama sga pemah merintis dan melakukan gebrakan dengan membuat acara pentas setiap minggu

malam. Materi-materi pentas yang disajikan ada Pembacaan puisi, teater, tari dan sebagainya. Meski

dalam bentuk yang sederhana, komunitas ini cukup merasa puas -karena melaksanakan kegiatan dengan ketiak dan keringatnya  Berapa grup (organisasi kesenian) dengan sukarela berpartisipasi tidak hanya sekadar menyiapkan materi. Tetapi siap pula menerima giliran untuk menjadi penyandang dana untuk satu kegiatan. Katakanlah semacam arisan. Yang saya dapat catat kelompok tersebut di antaranya, Sanggar Merah Putih Makassar, Rombongan Sandiwara Petta Puang, Teater Pilar, Lembaga Kesenian Batara Gowa, teater Kita, Sanggar Citra IAIN, Studio One, Teater Tiga Makassar, Seniman-seniman dari Unhas, MTM, Komunitas Bflu Hitam, Teamr Tenri Bali, Teater Bintang Selatan dsb. serta beberapa seniman yang secara orang perorangan juga turut berpartisipasi.

Kegiatan ini menarik dan banyak mendapat respon dari banyak kalangan, terutama para seniman muda dan pemula yang mencoba mengespresikan karya-karyanya. Balikan tidak sampai disitu berapa kalangan yang sedikit punya dana mencoba menawarkan diri untuk bekerjasama melakukan acara. Yang dapat saya catat katakanlah bapak Moein.MG yang berhasil mendapatkan penghargaan nasional sebagai penegak Pers Pancasila. Hal lain yang mungkin juga tak dapat kita lupakan adalah rasa terima kasih kita pada anak-anak Liga Film Unhas yang dengan suka hati dan kerelaannya mau mengajak Bung Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno untuk berdiskusi tentang film dan teater. Juga bapak Frizc dari Yayasan Citra. Dan masih banyak lagi yang lain dengan kegiatan yang lain. Terahir adalah orang-orangnya LSM. Dan tidak hanya sampai disitu. Anak-anak LSM yang tertarik dengan model dan

gaya acara itu menjanjikan kembali untuk membuat satu kegiatan. Tetapi apa yang terjadi. Itu menjadi sinyal material. Kehadiran anak-anak LSM tidak termanfaatkan sebagai sumbu kreativitas untuk menciptakan fail bagi komunitas sanggar bersama saja. Ia terseret keluar ruang menciptakan serial baru. Lalu hilang dan tenggelam di telan malam. Lalu si didi kembali pada nasibnya. Si Bahar kembali pada nasibnya, si Amir kembali pada nasibnya, si Is mengomel, si Firman diam saja. Hasymi entah mau kemana, si Aco dan Sukma bingung, si Ismet marah. Kita bingung. Sementara si aktor perusuh tengah asik dengan mimpi-mimpinya. Ahirnya kita mungkin hanya dapat mencatat. Bahwa dunia kita adalah dunia tanpa pintu. Seorang tukang sapu atau seekor nyamuk sekali pun dapat lolos dan masuk dengan begitu mudahnya, untuk kemudian menjelma menjadi seekor lalat. Dan kita selanjutnya hanya dapat tercengang ketika mahluk jelmaan itu berubah menjadi seekor harimau dan mencakari dindingdinding.

Tidak lama lagi, sebuah lembaga kesenian yang bernama Dewan Kesenian Sulawesi Selatan DKSS akan berkiprah. Kita mensyukuri keberadaannya tentunya. Hanya saja kita tentunya berharaf pula,

ketika lembaga itu berkiprah, kita tidak lagi harus-harus membuangmembuang energi untuk mempermasalahkannya. Insya Allah.

Makassar, 27 Mei 1997

Bahar Merdhu, Pimpinan Rombongan Sandiwara Petta Puang, adalah seorang penggiat Sanggar Bersamasaja yang kini tengah merintis berdirinya SANGGAR BATU-BATA.

Sumber tulisan : Harian PEDOMAN RAKYAT Minggu, 1 Juni 1997, halaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: