Boneka Berpayung Hitam

Cerpen Rahim Kallo

Nina mencoba berkonsentrasi membaca buku yang sejak tadi dipegangnya. Sejak tadi ia membolak-balik halaman demi halaman tapi tak satupun yang masuk dalam pikirannya. Cuma satu dalam khayalnya kini, kapan kesepian ini akan berakhir. Kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan kantor, membuat mereka jarang meluangkan waktu buat Nina. “Kenapa kedua orang tua saya lebih mencintai pekerjaannya dibanding memberi perhatian kepadaku?” Nina membatin dan kemurungan menggantung di wajahnya.

Jam berdentang sepuluh kali, pertanda malam mulai larut. Nina baru saja akan memejamkan matanya di kursi sofa, saat terdengar derak sepatu. Suara langkah itu begitu dikenalnya. Nina pun buru~buru memperbaiki letak duduknya dan memegang buku seakan-akan ia tengah belajar.

Pintu terkuak. Ayahnya tersenyum kepada Nina. Ibunya pun melempar senyum yang sama sambil menenteng bungkusan yang berisi boneka Panda. Nina membalas senyuman mereka.

“Selamat malam Ayah, Ibu.” sapa Nina basa-basi.

“Selamat malam Nina,” sambut Ayahnya, Lalu mendekati Nina, “Kamu belum tidur, Nak.”

Nina hanya menatap ayahnya sembari menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu, Ayah ke dalam dulu. Belajar yang rajin ya?”

Nina hanya mengangguk perlahan, tanpa kedengaran suaranya. Melihat ayah berlalu, ibu pun ingin menyusulnya, tapi kemudian berhenti dan menyodorkan bingkisan dari tangannya. “Nina, Ini boneka Panda untukmu. Pasti kamu menyukainya,” kata ibunya sambil memperhatikan anaknya meraih boneka itu.

Setelah Nina mengambilnya, ibunya masuk ke kamar dan meninggalkan Nina sendiri di ruang tamu. Nina hanya bisa bercakap dengan perasaannya tanpa bisa memprotes sikap orang tuanya.

***

Udara siang itu sangat getahnya. Nina baru saja pulang dari sekolah. Kebetulan Ani turut pula mampir ke rumah Nina. Ruang tamu terlihat begitu sepi. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar Nina. Ani begitu bersemangat demi melihat Playstation dan memainkan game favoritnya, Simcity2. Nina hanya duduk di samping Ani tanpa berkata apa-apa.

“Kenapa Nin, kamu sakit ya?”

“Ah…tidal<, saya cuma capek, soalnya semalam saya telat tidur.”

“Makanya kalau belajar jangan terlalu lama, resikonya ya ngantuk.”

Sejenak Nina terdiam, rasanya ingin mengutarakan persoalannya pada Ani tapi akhirnya ia urungkan. Nina tahu sifat Ani, tidak bisa menyimpan rahasia orang lain. Bahkan teman-temannya di sekolah menjuluki Ani sebagai “Ember Bocor”.

“Nin, wajahmu koq mendung begitu sih?” desak Ani kemudian kembali konsentrasi memencet tombol stick playstationnya.

“Saya sudah bilang tidak ada apa-apa,” jawab Nina. Ani hanya bisa mengangkat kedua bahunya saja. Melihat Nina kembali terdiam, Ani bertanya lagi, “Nin, kamu sudah kerjakan PR-mu kan? Lihat dong.”

“Nggak boleh gitu, Ani, kamu harus kerjakan sendiri.”

“Huu, dasar pelitl” ujar Ani dengan ekspresinya yang cuek. la lalu kembali seperti tadi, larut dengan Playstation-nya.

“Ani dengar ya, kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, kekayaan orang tua bukan jadi tumpuan harapan kita. Kita ini harus menjadi orang pintar dan berguna supaya terhormat. ”

Nina sebenarnya sudah seringkali memperingatkan Ani dengan kalimat seperti ini. Soalnya, Ani memang angkuh, judes, sombong, dan selalu mengandalkan pangkat dan jabatan orang tuanya saja.

“Nggak usah berkhotbah deh, Nin, kamu sendiri bercermin dong.”

Lagi-lagi Nina hanya terdiam. la seolah tersinggung dengan ucapan Ani barusan. Tapi ia mencoba memahami kalimatnya. Nina menarik nafas panjang, menarik perasaamperasaannya juga masalah keluarganya dalam hati. Ani berbalik dan memandangi Nina.

“Maaf …. maaf ya, Nin, mungkin aku terlalu lancang, aku nggak bermaksud menyinggung kamu.” kata Ani sambil mendekati Nina yang tertunduk lesu.

“Nggak apa-apa koq,” balas Nina cepat. Sebenarnya ia ingin memaki Ani tapi ia tak tega melakukannya. Bagaimanapun, Ani adalah temannya juga. Nina akhirnya berusaha bangkit dan berpura-pura mengatakan kepada Ani bahwa ia juga tidak kenapa hari ini dia betul-betul sedih. la mengatakan kesedihannya tidak ada hubungannya dengan sindiran Ani tadi. Ani merasa lega dengan penjelasan Nina.

“Nin, jadi ya kita ke supermaket sore nanti,” ajak Ani sambil meraih tas sekolahnya.

“Lagi malas An, kamu saja ya,” jawab Nina pelan.

“Kamu selalu begitu deh…bilang saja nggak mau jalan dengan aku. Iya kan?”

Nina menggelengkan kepalanya. “An, saya ada janji sebentar sore.”

“Pokoknya kamu akhir-akhir ini sudah banyak berubah, Nin.”

“Terserah kamu bilang apa,” jawab Nina sedikit kesal..

Dengan kesal Ani berdiri dan mohon pamit. Nina mengantarnya di bibir pintu tanpa berkata apa-apa. Ani berjalan saja tanpa menengok ke belakang memberi isyarat kepergiannya.

Nina menutup pintu. Perlahan-lahan ia bersandar pada pintu itu sembari merenungi nasibnya yang terus dilanda kesepian.

***

Matahari belum tidur di peraduannya. Beberapa orang sedang bermain di depan rumah Pak Syamsuddin. Pak Syam, demikian ia dipanggil, sehari-harinya bekerja sebagai binatu atau orang yang bekerja sebagai tukang cuci sekaligus menyeterika pakaian, dengan demikian Pak Syam akan memperoleh imbalan uang atas jasanya itu.

Rumah Pak Syam sangat sederhana tetapi ia terlihat selalu berbahagia tinggal bersama kedua keponakannya, Niar dan Andri. Kedua ponakannya ini bahkan telah ia jadikan anak angkat. Sampai saat ini Pak syam memang belum berpikir untuk hidup berumah tangga. Ia masih senang hidup sendiri sembari membesarkan kedua keponakannya itu. Bagaimanapun, mereka membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Karena Niar dan Andri telah lama ditinggal mati kedua orang tuanya, praktis Pak Syam menjadi satu-satunya keluarga terdekat yang bertanggung jawab akan kelangsungan masa depan mereka berdua.

Andri masih bermain bersama teman-temannya. Ada yang memainkan boneka, ada juga yang asyik membaca komik. Pokoknya beragam tingkah ternan»teman Andri. Sore itu semuanya bergembira ria. Di tengah suasana keceriaan itu, tiba-tiba si Rakol –teman Andri yang paling gempal-membuka pembicaraan. Komik di tangannya telah habis ia lahap. Ia kemudian berdiri dari bale-bale tempatnya semula duduk dan mendekati Lia yang tengah asyik memainkan boneka bersama Ridwan.

“Semalam bagus ya film layar tancapnya?” kata Rakol sambil meraih boneka dari tangan Lia.

Mendengar ucapan itu, Lia menimpali Rakol, “Menurutku sih bagus.”

“]agoannya berhasil mengalahkan si jahat,” sambung Ridwan tak mau ketinggalan.

“Yang jahat selalu kalah,” kata Lia melanjutkan. Lalu Ridwan menjawab lagi, “Yang salah harus menerima hukuman.”

“Masa sih yang salah harus selalu dihukum. Bagaimana kalau ia minta maaf dan mengakui

kesalahannya?”

Andri yang sejak tadi diam-diam saja, akhirnya,turut bicara se-telah mendengar dialog-dialog temannya itu, “Ya, kita seharusnya selalu bisa memaafkan orang lain.”

Mendengar tutur kata Andri tadi, Lia, Ridwan dan Rakol tak berkata-kata lagi. Semuanya hanya menatap Andri. Sementara Andri hanya memancarkan senyum penuh kebanggaan melihat sikap teman-temannya saling beradu pendapat.

Tidak lama kemudian, pintu gamacca terkuak, delapan pasang mata mengalihkan pandangannya ke arah itu. Niar dan Nina muncul. Nampak teman-teman Andri tak satu pun berucap. Melihat suasana itu Nina mengulur senyum cepat-cepat, takut nanti dikira ia tak ingin bersahabat dengan mereka. Padahal tanpa sepengetahuan Nina, mereka itu takjub melihatnya kecantikan dan pakaiannya yang bagus.

Niar tampak buru-buru lalu mendekati Andri sambil menentang bungkusan di tangannya. “Andri, disuruh paman membawa ini,” sembari menyodorkan sebuah bungkusan. “Bungkusan itu pakaian milik Pak Saleh, diantar sekarang ya, sekalian ambil pakaiannya yang mau dicuci besok. “

“Kalau kamu mau kemana?” kata Andri menanyakan kepergian Niar.

“Mau menemani Nina beli buku, sekalian membeli kado.” Setelah berucap begitu, Niar dan Nina meninggalkan Andri dan kawan-kawannya.

Setelah Niar da Nina pergi, lagi-lagi Rakol yang kelihatan suka ceplas-ceplos bertutur lagi pada kawan~kawannya. “Hebat ya kalau orang kaya.”

Lia langsung menimpali ucapan Rakol tadi, “Terang hebat, mau beli itu ada, mau kemana-mana, bisa. Kalau kita ya pasti jalan kaki,” diiringi gelak tawa dari Rakol.

Rasa kagum dalam dada Ridwan belum lenyap demi melihat Nina, ia masih tertegun meskipun Niar dan Nina telah lama berlalu, “Tapi Nina lain ya, orangnya baik, tidak sombong. Mana ada orang seperti dia mau bergaul dengan kita.”

Lia, dengan sikap judesnya, mencoba membanding~bandingkan, “Beda dengan keluarga di ujung lorong sana. Anaknya sombong, suka memaki-maki setiap anak yang lewat di depan rumahnya.”

“Betul kata l.ia, aku pernah dicacinya. Sudah bersalah, eh malah dia yang balik memarahi. Padahal dia yang menabrak saya dari belakang, sehingga dia terjatuh dari sepedanya,” sambung Rakol. Keringat di wajahnya mengucur deras, soalnya ia mengurai pengalamannya tadi seperti sedang bermain sandiwara.

Mendengar ucapan Rakol tadi, Ridwan merasa panas, seakan darahnya mendidih, “Kalau saya yang dikasih begitu, saya beri pelajaran dia, biar dia tahu rasa.”

Dengan sikap bijaksana, kembali Andri menenangkan hati kawan-kawannya, “Sudah, sudah, tidak baik membicarakan keburukan orang. Tadi kita sudah bilang, paling tidak kita bisa memaafkan.”

Di langit, cahaya kilat sesekali menerangi bumi. Sepertinya hujan akan turun malam ini. Andri menatap langit yang perlahan berwarna kelam. Tersadar ia akan pesan Niar tadi, Andri lalu mencoba mengajak temannya untuk menemaninya, “Oh ya, ada yang mau menemani aku membawa pakaian Pak Saleh? Mumpung hujan belum turun, ayo.”

* * *

Adzan magrib baru saja selesai dikumandangkan ketika Nina tiba di rumahnya. Rambutnya sedikit basah akibat terguyur hujan. Wajahnya berseri~seri, seakan tak ada lagi yang dipikirkan.

Nina memasuki teras dengan langkah gontai. Membuka pintu tanpa harus mengetuk. Betapa terkejutnya ia ketika memandang di ruang tamu ayah dan ibunya sudah duduk santai. Nina heran, tidak biasanya orang tuanya pulang secepat ini. Ia mengerutkan dahinya sembari menghela nafas, tak lama kemudian Nina mengulur senyum sambil berucap, “Tumben… Ayah cepat pulang hari ini”.

Lalu ingin melangkah masuk ke kamarnya, tapi dicegat oleh Pak Leman, Ayah Nina.

“Jangan masuk dulu. Ayah mau tanya dari mana saja kamu. Pulang sehabis magrib”.

Nina tiba-tiba heran ayahnya menegur seperti itu. Tidak biasanya, celoteh Nina dalam hati.

“Dari rumah teman, Ayah”, jawab Nina spontan.

“Pasti kamu dengan si Niar lagi, kan?” bentak ayahnya..

“Sudah ayah bilang, jangan bergaul dengan anak kampung itu. Apa kamu sudah tidak punya teman yang layak. Kan masih ada Ani, Nina. Dia itu anak pengusaha, sederajat dengan kamu,” tegas Pak Leman mengingatkan.

Nina tidak tinggal diam mendengar ucapan Ayahnya. la berusaha meyakinkan, “Tapi Niar lain Ayah. Anaknya baik, sopan lagian bisa diajak belajar bersama, pergi jalan atau apa saja”. Pak Leman dengan muka sedikit memerah berdiri dan tempatnya duduk, lalu berjalan menghampiri Nina yang berdiri di dekat bufet antilmya.

“Mau ditaruh dimana muka Ayah, kalau ada orang yang melihat kamu, keluar masuk lorong tempat tinggal Niar. Mana tempat-nya jorok, pokoknya Ayah tidak senang”.

Nina hanya diam terpaku tanpa berani menatap mata ayahnya. Melihat Nina sudah terpojok dengan penegasan Pak Leman, Ibunya iba melihat anaknya. Bagaimanapun ia mengerti perasaan Nina, sama dengan perasaannya mendengar ucapan suaminya.

“Ya sudahlah pak, biarkan saja. Tidak baik mengekang anak seperti itu,” ucap Ibu Leman berusaha meredam kemarahan.

“Kalau tidak dinasihati, anak ini tambah bandel, bu.”

“Ya…mau diapa lagi, kalau Nina senang bersahabat dengan Niar. Ingat, Pak, dia anak semata wayang kita, buah hati kita.”

“]ustru karena dia anak kita satu~satunya, Bu, sehingga kita harus perhatikan seperti itu,Vbu,” bantah Pak Leman pada istrinya.

“Tapi tidak berarti, kita harus sampai mengatur pergaulan mereka Pak, tapi kita cukup mengawasinya”.

Pak Leman terdiam sejenak, ta-pi emosinya masih meluap-luap dan mengalihkan kemarahannya itu kepada istrinya.

“Lho kenapa sampai Ibu yang ngotot,” kata Pak Leman lalu memandang kembali Nina yang masih tetap diam seperti patung. “Nina dengar, pokoknya Ayah melarang kamu bersahabat dengan Niar. Terkecuali dengan Ani, Ririn, ayah tidak melarang, dan kamu bebas pergi kemana saja,” ucap Pak Leman dengan gamblang, lalu masuk ke dalam kamarnya.

Nina hanya terisak dengan tangisnya. Larangan ayahnya tadi ia rasakan seperti halilintar menggemuruh, seakan memekikkan gendang telinga. Tatapan Nina kosong hampa, hatinya menyimpan duka. Ibu Leman tak dapat berbuat apa-apa. Nina lalu berlari dan mendekap ibunya erat-erat.

“Bu, Ayah kok tega melarang Nina bersahabat dengan Niar. Padahal mereka orang baik-baik, Bu. Selama Nina bersama Niar, banyak hal yang saya peroleh. Paman Sam juga baik sekali, Bu. Kami sering dinasehati. Apa salah dia, Bu?” Sejenak Nina terdiam kemudian mengusap air matanya yang membasahi kedua pipinya.

Ibu Leman pun larut dalam kesedihan. Ia membelai-belai rambut anaknya. Ia tahu persis watak suaminya yang terkenal keras. Nina berusaha bangkit dengan perasaan yang tak tertahankan, lalu berucap, “Selama ini, Ayah dan Ibu sibuk dengan pekerjaan dan urusan. Ayah dan Ibu tidak pernah mau tahu betapa kesepiannya Nina di rumah. Lagi pula Nina bosan pergi terus bersama Ani atau Rina. Mereka terlalu membanggakan jabatan ayahnya.”

Ia tak bermaksud menyinggung perasaan ibunya, tapi dengan terpaksa harus ia ungkapkan. Beban pikiran yang selama ini memberati otaknya ia rasakan terhapus seketika. Tetapi sedikitpun Ibu Leman tidak tersinggung akan ucapan anaknya itu. Malah ia semakin sedih dan berusaha menenangkan Nina, “Saya mengerti, anakku. Nanti Ibu akan beritahu Ayah duduk persoalannya.”

Penjelasan ibunya itu membuat Nina tersenyum kepada Ibunya, “Terimakasih, Bu,” ucap Nina.

***

Sore itu tampak terang. Tidak seperti hari-hari lalu, hujan selalu saja menyirami bumi. Rumah Paman Sam kedatangan Dewi penolong. Betapa tidak ia bingung untuk mengongkosi Andri. Namun kehadiran Nina merupakan obat yang teramat mujarab dalam keluarga Paman Syam.

Paman Syam menatap penuh haru kepada Nina yang duduk dekat Andri.

“Wah, paman harus bilang apa,” kata Paman Syam terbata-bata.

“Selagi saya mampu untuk menolong, mengapa saya tidak lakukan.”

Mendengar tutur kata Nina tadi, Andri memalingkan mukanya seakan ada sesuatu yang ingin diucapkan.

“Terimakasih ya, Nina.”

Niar tidak tinggal diam seolah ia kesal akan peristiwa itu. “Kami orang tidak mampu, mengapa orang begitu tega melakukannya. Setelah menabrak Andri, bukannya berhenti untuk menolong, malah tancap gas, sehingga beginilah akhirnya, kami pula yang harus menanggung biaya pengobatan Andri,” ucap Niar mengurai peristiwa yang menimpa keluarganya. `

Andri menyambung uraian Niar sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. “Padahal waktu itu, saya dan teman-teman membawa pakaian Pak Saleh.,Saya berjalan di tepi jalan, tahu-tahu sebuah mobil sedan dari arah utara melaju dengan cepatnya, hampir kami dilumat habis. Untung kami bisa menghindar cepat, kalau tidak, bisa …”

Andri tak dapat melanjutkan lagi kata-katanya. Di balik itu, Nina yang sedari tadi mendengar merasa penasaran akan ucapan-ucapan yang didengarnya.

“Tunggu dulu,” kata Nina penasaran, lalu melanjutkan, kamu katakan tadi mobil sedan.

“Tahu tidak ciri-ciri mobil itu?”

Hanya desah nafas terdengar dari hidung Andri yang sedikit tersumbat akibat flu, “Rasa-rasanya saya juga pernah melihatnya. Tapi dimana ya?” tanya Andri pada dirinya sendiri.

Niar mendesak Andri, “Dimana kau melihatnya, Andri, dimana?”

Paman Syam mendekati Andri sambil mengelus-elus rambut Andri, “Coba diingat-ingat, Nak, siapa tahu kita bisa mengusutnya. Biar kita orang kecil begini, tapi kita masih punya sikap. Maksud paman, masih punya harga diri. Ya… setidak-tidaknya pengendara mobil itu mau meminta maaf. Coba kulihat lukamu?”

Nina membenarkan ucapan Paman Syam. La kelihatan serius sekali dan kembali mendesak Andri dengan pertanyaannya, “Andri apakah mobil itu berwarna biru tua?”

“I…lya, aku ingat, biru tua. Aku juga ingat, di belakang kacanya ada gambar boneka berpayung hitam.”

Nina tampak gembira mendengar penjelasan Andri. Ia tersenyum -seolah ia baru saja mendapatkan undian berhadiah.

“Kenapa kamu tersenyum, Nina?” tanya Andri keheranan. Ani tidak menjawab pertanyaan Andri. Paman juga ikut-ikutan bingung melihat tingkah Nina.

“Tidak salah lagi,” kata Nina, “Pasti dia pelakunyal”

Niar penasaran dengan ucapan Nina “Nampaknya pelakunya kau kenal ya, Nini”

“Niar, ini baru dugaan, tapi kalau memang mobilnya seperti yang digambarkan Andri, rasanya’ aku kenal,” Nina berhenti sejenak, kemudian membatin sendiri, “VI/aktu itu ia begitu bersemangat ingin mengajakku ke mall, tapi saya menolak. Mungkin ia tahu kalau saya akan kemari, lalu bermaksud menyusul. Kemudianu” Nina lalu bertanya pada Niar, “Ingat tidak, waktu acara ulang tahunnya Ririn, dia tidak datangkan?”

Niar berusaha mengingat, “maksudmu, Ani?”

“Tepat sekali! Kalau begitu besok kita ke rumahnya,” ajak Nina.

Tiba-tiba Paman Syam nyeletuk “Lebih baik dilapor saja ke polisi?”

“]angan dulu, Paman, kita tidak boleh bertindak tanpa bukti-bukti,” bantah Nina.

“Apalagi persoalan ini, masih dugaan,” sambung Niar. Dengan wajah pasrah, Paman Syam menuruti apa yang dikatakan Nina dan Niar.

Nina tersadar bahwa ia telah larut perundingan tadi. Dilihatnya arloji di tangannya, bersamaan dengan itu adzan maghrib berkumandang di radio.

“Sudah magrib, lebih baik sekarang kita ke apotik dulu, supaya Andri bisa meminum obatnya sebelum tidur,” kata Nina.

“Setelah beli obat, Paman maukan menemani saya pulang, soalnya …, ” suara Nina tersendat.

“Takut nanti dimarahi sama ayahmu, begitu kan?” sambung Paman Syam. “Paman mengerti, Nak, kalau sampaiayahmu memarahi kamu, biar Paman yang jelaskan. Nak Nina sudah berbuat baik kepada keluarga kami.”

Nina mulai tersenyum, setidaknya Paman Sain bisa jadi penolongnya jika ayahnya nanti menanyakan kemana kepergiannya hari ini. Nina lalu pamitan dengan Niar dan Andri. Sebelum sampai di muka pintu, Niar berucap sambil tertawa, “Terima kasih Nina, hati-hati di jalan nanti diserempet kendaraan, wah bisa tambah gawat.” Nina ikut tertawa, “Tidak bakalan, soalnya ada Paman Syam yang melindungi.”

***

Pak Leman sejak tadi gelisah menunggu anaknya pulang. Sementara Ibu Leman duduk tenang-tenang saja. Tak ada kerisauan yang mengganjal pikirannya. Karena ia sudah tahu, kalau Nina pasti ke rumah Niar.

Sembari menunggu kedatangan Nina, Pak Leman menumpahkan kemarahannya pada istrinya. “Sudah saya bilang, bu, jangan terlalu memanjakan anak. Tapi Ibu selalu memberikan kebijaksanaan pada Nina. Nah sekarang dia sudah seenaknya. Bagaimana kalau ada apa-apa di jalan?”

“Pa, anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu, masa kita. dulu. Mereka bisa beradaptasi, sudah tahu apa yang akan dilakukan atau tidak. Masa pulang begini saja, Bapak ngotot kayak kemasukan setan.”

Wajah Pak Leman semakin merah mendengar ucapan istrinya, “Ibu sudah mulai ikut-ikutan ya sama Nina. Kamu ini kurang bisa menghargai suamil” kata Pak Leman dengan nada tinggi.

“Kenapa Bapak berkata begitu,” Ibu Leman balik tersinggung akan pernyataan suaminya, “Sampai sekarang saya masih menghargai Bapak sebagai suamiku dan ayah dari anak kita.” Ibu Leman sedikit sadar ketika mengucapkan kata-kata tadi, jangan-jangan sang suami bisa lebih tersinggung. Setelah emosinya sedikit bisa dikendalikan, ia mendekati suaminya.

“Maksud saya, mengapa kita harus bersikap seperti itu pada Nina. Kalau dia mau bersahabat dengan Niar atau siapa saja, mengapa kita harus melarangnya?”

“Tapi dengan caramu itu, Bu, Nina bisa seenaknya berbuat. Karena mungkin ia menganggap bahwa kita pasti bisa memakluminya.”

Ibu Leman menarik nafas panjang, tampak wajah dulunya hampir tidak ada waktu untuk bersamanya, karena Bapak sibuk dengan urusan kantor, sedang saya sibuk mengurusi istri-istri karyawanmu.” Air mata Ibu Leman berderai di pipinya.

Sambil terisak Ibu Leman meneruskan kalimatnya, “Saya bisa merasakan perasaan anakku, kapan lagi kita membahagiakannya.”

Tampaknya Pak Leman luluh hatinya mendengar ucapan istrinya. Tiba-tiba terdengar ada ketukan. Ibu Leman beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.

Pintu terkuak, ternyata Ani yang muncul dengan wajah murung.

“Selamat malam, Om, Tante,” kata Ani.

Setelah memperbaiki posisi duduknya, Ani bertanya, “Oh iya, boleh saya bertemu dengan Nina?”

“]ustru itulah, Nak Ani, Om dan Tante bingung. Sedari tadi Nina keluar tapi sampai sekarang belum pulang. Mungkin Nak Ani tahu kemana perginya?”

Ibu Leman senyum-senyum saja mendengar pertanyaan demi pertanyaan, “Paling-paling ke rumah Niat.”

“Niar lagi, Niar lagi. ]angan sebut-sebut nama itu lagi,” potong Pak Leman.

“Ke rumah Niar, Tante?” kata Ani terbata.

“Mungkin,” jawab Ibu Leman. Dengan jawaban itu, Ani makin kikuk, ragu akan ucapan Ibu Leman tadi. “Kenapa sampai Nak Ani gugup seperti itu. Ada persoalan dengan Niar?”

Ani makin gugup, “Iya…eeh tidak, Tante.” Lalu Ani diam sejenak sembari ingin berterus terang apa yang terjadi, tapi rasanya susah, “sebenarnya saya paling tidak suka bergaul dengan Niar, soalnya…,” Ani tengah menyusun kalimat kebohongan.

Dengan tegas Pak Leman memotong, “Apa saya bilang, Bul” Suara Pak Letnan menggema di sudut-sudut ruang, melebihi suara ketukan di pintu.

“Assalamu alaikum…,” kata Paman Syam pada Ibu Leman yang menyambutnya dengan senyum di muka pintu. Paman Syam dan Nina masuk dengan perasaan Was-was.

“Maaf Pa, Bu, Nina terlambat pulang. Soalnya kami mampir tadi ke apotik,” papar Paman Syam dengan sungkan sekali, karena melihat Pak Lemari menyambutnya dengan tatapan sinis, seakan harimau siap menerkam demi melihat mangsanya.

“Anda siapa?” tanya Pak Leman dengan angkuh.  Paman Syam semakin sungkan diperlakukan itu, kemudian menyodorkan tangannya ke Pak Leman, tapi ditampik begitu saja.

“Nama saya Syamsuddin, Pamannya Niar,” jawab Paman Syam.

“Kebetulan sekali saya bertemu dengan saudara. Saya hanya mau katakan pada saudara. supaya anda menasehati keponakan saudara, Niar, jangan bergaul lagi dengan Nina,” dengan tegas ucapan Pak Leman.

Istrinya tak senang ucapan suaminya barusan, buru-buru melihat suaminya dengan tatapan nanar, “Pa, kenapa berkata begitu pada Pak Syam?” Pak Leman pun tidak bisa menatap istrinya yang mulai ikut garang akan tingkahnya. Kemudian melirik kepada Pak Syam yang sudah kelihatan gugup, lalu Ibu Leman senyum,” Maaf ya Pak, suami saya terlalu kalap.”

“Saya mengerti, Bu. justru kamilah yang harus meminta maaf, karena kami mengganggu ketentraman keluarga Ibu” Pak Syam terhenti sejenak sambil mempermainkan jari-jarinya, “kedatangan saya kemari, mau mengucapkan terima kasih atas kebaikan anak Ibu”.

Ibu Leman seakan tak mengerti apa yang dimaksud Pak Syam, “Maksud Pak Syam, saya iidak mengert.”

Dengan terpaksa Nina berucap, “Begini, Bu. Andri keponakan Paman Syam disambar mobil sedan, mengakibatkan ia terluka. Nah kebetulan saya ke rumah Paman Syam, dan membawanya ke rumah sakit dan membelikannya obat.”

Emosi Pak Leman seakan meledak kembali, “Rupanya kamu sudah berlagak pahlawan, ya?”

“Bukankah sudah seharusnya, Ayah? Apa salahnya kita membantu orang yang memang patut untuk kita tolong. Apalagi kita mampu melakukannyn,” bantah Nina tanpa ragufragu lagi.

“Apa katamu?” kata Pak Leman dengan emosi ynng meluap~luap dan hampir saja tangannya menempel di wajah Nina, tapi Ibu Leman berteriak histeris, “Pa…pa, sadarlah…Kamu tega memukul anakmu sendiri. Dia tidak bersalah apa-apa. Kalau Bapak mau melakukan itu, lebih baik Bapak menempeleng ibu, asalkan jangan Nina,” sambil menangis.

Melihat keadaan itu, Ani sudah tak tahan menahan beban yang selama ini ditutupinya dengan ki-bohongan.

“Oom …. Tante, Paman Syam, bukan Nina yang bersalah tapi Aku. Sayalah penyebabnya, menyuruh Pak Bahar sopir saya untuk ngebut, sehingga Andri jadi korban.” Ani terhenti sejenak, lulu wajahnya diangkat sedikit sehingga menatap satu demi satu orang di hadapannya, tanpa ragu-ragu lagi ia mengungkapkannya, “Saya meminta maaf, Oom, Tante, Paman Syam, Nina. Semua biaya pengobatan Andri nanti saya yang tanggung.”

Pak Leman hanya diam terpaku menyaksikan suasana barusan. “Iya… saya juga menyadari.

Maafkan saya Pak Syam,” Pak Leman menyodorkan tangannya tangannya ke Pak Syam. Pak Syam gembiran karena sebelumnya tangannya ditampik mentah-mentah oleh Pak Leman.

“Ternyata Ayah punya anak yang boleh dibanggakan. Sekarang ayah bebaskan kamu ber-gaul dengan siapa saja, asal orang-orang baik,” kata Pak Leman sembari memeluk anaknya rapat-rapat penuh kebanggaan di dadanya.

Sejak hari itulah, rumah yang dulunya sepi, kini berubah dengan tawa dan canda. Akhirnya

apa yang selama ini Nina impikan, terwujud.***

Sumber: Kumpulan Cerpen “Kunci Ke Tiga” Rahim Kallo, Penerbit Nalacipta Litera, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: