Ruang-Ruang Kreatif Kaum Terjajah (Tanggapan Terhadap Tulisan Ahyar Anwar, SS, M.Si)

Oleh Iqbal Parewangi

APAKAH ada pengarang di Sulawesi Selatan yang kepenyairannya berorientasi pada upaya memecahkan kebuntuan ekspresi puitik? Dan yang penting adalah adakah karg a puisi yang menawarkan kemewahan estetik melalui keunikan epiforanya? Begitulah Ahyar Anwar menutup tulisannya Tentang Pengarang dan Epifora Penyair yang dimuat harian ini sebulan lalu ( 17/2). menggugat lirih dunia kepenyairan Sulawesi Selatan.

Mengesankan,  namun terlalu lirih mungkin. Sebulan saya menunggu dan terbukti tidak ada yang merasa tergugah yang merasa perlu memunculkan interferensi wacana dan pemikiran terhadap gugatan itu, kecuali seorang penyair sekaligus guru dari Barru, Badaruddin Amir. Jika ternyata gugatan itu benar, bahkan jikapun itu salah, pertanyaan lalu menjadi naif : begitu tuli dan bisukah dunia kepenyairan Sulawesi Selatan saat ini? Bagaimana mungkin sebuah gugatan eksistensial yang membidik telak dibiarkan berlalu begitu saja, tanpa usikan. Atau. sudah demikian asyikkah kita berkclindang dan mengepompong dalam kemapanan semu sebuah dunia yang kebetulan oleh para penghuninya dianggap dunia kepenyairan?

Masih tersisa satu kemungkinan pertanyaan lain. Ataukah, gugatan itu tidak tepat sasaran, dimana penggugal bermaksud membidik elang yang terbang meliuk-liuk tangkas di angkasa sementara sesungguhnya yang ada hanyalah segerombolan punguk perindu bulan yang terpasung di rawa-rawa?

Jika yang terakhir ini benar, dan hemat saya memang demikian, itu berarti penggugat telah “sia-sia” mencoba mengembangkan wacana yang begitu empatik, setidaknya untuk sementara waktu ini. Artinya. kita masih perlu mengembangkan wacana justru dari tingkat yang lebih bersahaja. dari tingkat yang lebih primitif.

Yang Terjajah : Ruang Kreatif

Salah satu identitas kaum terjajah, sebagai efek dari inferiority complex, adalah : ruang-ruang kreatif mereka mudah terjajah, teij arah, terampas dan terbelokkan.

Sulawesi Selatan telah mengalami tiga episode penjajahan. Penjajahan Belanda lebih banyak pada dimensi ekonomi dan politik. Penjajahan Iepang terlalu singkat untiflc menegaskan dimensi-dimensi prioritasnya. Sementara “penjajahan” Mataram, yang dibingkai rapi dalam kalimat suci “atas nama Bangsa Indonesia”, merambah hampir selumh dimensi kehidupan bangsa ini. Dunia kepenyairan tidak terkecuali. Meski, dalam hal dunia kepenyairan ini, bagi saya sendiri tidaklah terlalu menarik membincangkan “penjajahan” Mataram di banding berbincang tentang keterbelakangan penumbuhan psikologis dunia kepeinyairan Sulawesi Selatan itu sendiri.

Betapapun, pada banyak kasus di banyak anak bangsa, penjajahan memunculkan kenyataan-kenyataan sosiologis yang jika dikuantisasi secara ekstrim menuju pada dua alur : kreativitas terbunuh, atau jusmi kreativitas membuncah. Di Yugoslavia, misalnya, keterjajahan justm melahirkan Vaclav I-Iavel. Di Indonesia, Khairil Anwar melesat dari tengah-tengah guyuran peluru penjajahan, Rendra mengorbit dari belantara Orde Baru yang represif. Di Sulawesi Selatan sendiri dikenal epos besar La Galigo yang, dalam hemat saya, justru lahir sebagai sebuah respon kreatif kolektif anak-anak manusia terhadap penjajahan “dunia atas” yang dengan segala hak-hak prerogatif dan primitifnya terhadap kekuasaan toh tetap merindukan dan membutuhkan suara-suara merdeka dari “dunia tengah”. Masih banyak fakta lain. Dan semua itu menunjukkan bahwa penjajahan sesungguhnya berpotensi membuncahkan kreativitas, selain berpotensi membunuhnya.

Yang menarik dan ironis untuk kasus dunia kepenyairan Sulawesi Selatan, ternyata bukan keduanya : keterjaj ahan tidak membunuh lqeativitas itu, pada saat yang sama juga tidak membuncahkannya. Hanya terombang-ambing di “dunia tengah” yang hablur, antara optimisme samar-samar dan pesimisme malu-malu.

Penyebabnya : karena yang terjajah adalah mang-ruang kreatif itu sendiri. Akibatnya, dunia kepenyairan Sulawesi Selatan mengalami apa yang didiskripsikan Ahyar sebagai : terpuruk dalam homogenitas, hanya merambah ruang-ruang sisa estetik, menjadi klien dari patron-patron penyair yang telah berhasil menanjakkan epifora-epiforanya secara gemilang, dan pada
puncaknya hanya melahirkan karya yang sangat berbau reduplikasi.

Sampai di sini Ahyar berhasil mengembangkan wacana kritis pada tingkatan akibat, dengan menyoal ,tiadanya keunikan epifora sebagai koridor invitasi penciptaan puisi di Sulawesi Selatan. Tapi ia, mungkin secara sadar, luput menelusuri lorong-lorong penyebab mengapa wacana itulayak dimekarkan. Di sini pulalah wacana kritis Anyar gagal memahami satu hal : bagaimana mungkin keunikan epifora itu diharapkan muncul dari ruang-ruang kreatif yang terjajah. Ini salah satu yang saya maksud mengembangkan wacana dari tingkat yang lebih primitif, bahwa : ruang-ruang kreatif dunia kepenyairan Sulawesi Selatan tampak begitu mudah terjajah, terjara.h, terampas dan terbelokkan.

Sebutlah satu contoh, Ram Asia Prapanca penyair Sulawesi Selatan yang kreatif, disegani dengan karakter puisi-pusi yang pemah sangat bertenaga. Perhatikan bagaimana ia dengan tuntas berteriak pada Penyair Karang, 1986. /Dengan berkendaraan gelombang/ Kupahat janji di tebing pulau/ Dengan kedua kelingking/ Engkau tempat pijakanku. Bahkan dalam cemaspun
ia masih bertenaga, pada Jiwa Mengembara, 1986. /Jiwaku cemas sempurna/ . ….. /Di laut selalu aku mengapung/ Di puncak selalu aku terjatuh/ Aku terkapar di rimba raya/ Simak juga pada I Sarampa, 1994. /Ia terbang bersama kuda/Menembus langit, menghalau petir/Memecahkan matahari/ …… // I Sarampa berhati bulan bermata tombak/Nafasnya angin suaranya guntur/ Belum perang, lawan sudah menjadi abu/

Pada seluruh penggalan-penggalan puisinya di atas Ram Prapanca menggurat penuh tenaga, dan sampai batas-batas tertentu menampilkan originalitas yang cukup kuat. Bukan kebetulan jika dalam periode itu hampir setiap baris dalam puisinya diawali huruf kapital, mengekspresikan vitalitas penyairnya. Bandingkan, misalnya, dengan puisi-puisi Ram Prapanca sesudah persentuhannya dengan ide-ide penciptaan puisi absurd Afrizal Malna. Pada tahun 1996 ia menulis Beredar Di Antara Tiang Listrik. /Hari ini kami kembali beredar di tengah kota/ sambil menghitungtiang listrik/ dan jendelajendelahotel yang tentutup// Setiap melihat kamu, ada pizza di situ,/ bertebaran di setiap bibir dan pipi/ Pada tahun yang sama lahir Saya Sudah
Mati Pada Saat Kamu Menari Di Dalam Kaca, 1996. /Saya tidak pernah lagi menonton televisi/ minum air jeruk dari kulkas/ menelpon teman-teman setiap mau berangkat kerja/ Satu pekerjaan baru blgi saya sekarang/ adalah menangis di antara sikat gigi/ odol, sabun, handuk,/kopi, rokok dan sepatu.

Puisi-puisi tersebut bukan hanya kekurangan tenaga dan darah, tapijuga kehilangan kecerdasannya dalam arena. Kita tidak menemukan ada Ram Prapanca disitu. Sangat berbeda dengan puisi-puisinya pa-da periode terdahulu. dimana “teriakan-teriakan mistis”-nya sendiri mampu mempersonifikasi diri sebagai Ram Prapanca Tampaknya, “persentuhan” dengan Afrizal Malna membawa malapetaka bagi ruang-mang kreatif Ram Prapanca. Bukan menghantar dia ke puncak-puncak baru pencapaian estetik, setidaknya secara interferensial. Persenruhan itu malah membawanya terseret meninggalkan mang-ruang lcreatifnya yang orisinal, yang pemah membanggakan sekaligus mencemburukan para penyair, khususnya di daerah.

Muhari Wahyu Nurba, seorang penyair, menyebut Ram Prapanca telah “mencampakkan mistitisme Bugis-Makassar yang sudah dinikahinya dan berusaha menggapai-gapai absurditas coca-colanya Afrizal. “Yang terjadi kemudian, bisa diduga, adalah kegamangan, adalah keterbelokan, adalah keterasingan. Ia pemah begitu kuat karena kemampuannya mendesak ruang, sementara Afrizal lebih membiarkan diri didesak oleh ruang. Dan setelah itu ia mencoba membiarkan diri didesak oleh ruang. ia justru kehilangan ruang sama sekali. Ruang-ruang kreatifnya sebagai penyair teij aj ah, terjarah, terampas dan terbelokkan.” Tentu saja, yang salah bukan Afrizal Malna.

Orang-orang yang Terlambat Mati

Identitas lain dari kaum terjajah, adalah: ruang-mang gerak mereka sempit, akibatnya hubungan antara pemangku status quo dan generasi penggantinya terjalin dalam sebuah alur “tatakrama queue”, sebuah antrian. Dan itu berlangsung dengan ketegangan tinggi.

Sebutan “orang-orang berbau tanah” saya gunakan pada tahun 1993, di sebuah acara temu budaya di Makassar, untuk menunjuk komunitas penyair yang sudah tua usia dan stagnan. Tahun 200l, dalain sebuah obrolan lepas dengan seorang sahabat, sebutan itu saya rilis ulang menjadi “orang-orang yang terlambat mati”.

Mengapa sebutan itu ada? Bukan karena penyair muda usia ingin melengserkan para penyair tua usia, tapi karena itu harus. Setidaknya karena dua alasan. Mereka hanya tinggal mengais-ngais jejak-jejak lampau mereka, “berkarya sekadar untuk menyuapi dan membentengi karya-karya lamanya,” tuding Ahyar, yang celakanya itu dilakukan dengan cara mengambil ruang eks

presi seluas-luasnya. Alasan lain, ini lebih penting, karena kehadiran mereka lebih sering menaungi cakrawala kreatif potensi-potensi penyair muda, melaburinya dengan polutan-polutan kemandekan. Lalu pada gilirannya menjadikan imajinasi kreatif kaum muda terbonsai.

‘Kebuntuan ekspresi puitik” mungkin sekali bukan hanya terjadi dalam dari individual para penyair. Tetapi ada dalam diri kolektif sebuah generasi kepenyairan Sulawesi Selatan yang sekarang ada. Artinya lebih parah dan lebih promitif dari yang diduga Ahyar, sesungguhnya dibutuhkan transformasi radikal dalam atmosfer dan bumi kepenyairan Sulawesi Selatan agar kebuntuan itu bisa dijebol. Atau yang lebih mungkin justru dibutuhkan peralihan generasi untuk bisa melihat tampilnya kembali generasi baru penyair yang lebih tercerahkan, yang tidak buntu. Ini tetap lebih mungkin, bahkan dengan resiko kemungkinan atmosfer itu akan senyap dan bumi itu akan mengerontang, sesaat.

Dengan metafora alan tumbuhan , terlalu sulit menyegarkan kembali pohon-pohon tua lapuk yang sudah bau tanah. Yang lebih mungkin menyadarkan mereka betapa tidak enak terus-menerus mempertahankan diri sebagai “orang-orang yang terlambat mati”, berusaha menyiangi tangkai-tangkainya yang meranggas kropos sembari mencaburi semak belukar di sekitarnya dan kemudian berharap akan tercipta ruang terbuka untuk jadi ladang persemaian tunas-tunas baru.

Bukan kebetulan agaknya, sebuah tabloid remaja dan pendidikan, G-News, pnh edisi kelimanya menerima dan harus menyeleksi 104 naskah puisi yang   oleh remaja dari berbagai pelosok di Sulawesi Selatan. Angka kuantitatrif itu memang tidak dengan sendirinya menjamin bakal lahir generasi baru yang lebih tercerahkan itu. Tapi bahwa genensi itu ada, sekarang ini, tidak bisa disangkal. Dan ternyata tidak sedikit diantara karya mereka itu menunjukkan kecerdasan puitik yang cukup menyentak. Tampaknya pada tunas-tunas baru seperti itulah terletak sebuah jawaban bagi lontaran Ahyar bahwa pertanyaannya “hanya dapat dijawab dengan karya”, sekaligus terletak sebuah harapan akan lahirnya “keunikan epifora“ dan “invitasi, estetika”.

Agaknya, pelengseran itu cukup mendesak. Mungkin dengan sebuah monumentasi, dengan penyematan sedikit tanda jasa, sedikit keikhlasan, dari sedikit basa-basi.

Penulis adalah alumni Fisika UGM, Direktur Pusat Kajian & Informasi Strategis (PuKlS)

Sumber: Harian FAJAR Minggu, 31 Maret 2002, halaman 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: