Festival Seni Melayu se Dunia di Johore

Oleh Roell Sanre

 

Salah satu pertunjukan tari di Johor Bahru (Bukan foto pada Festival Seni Melayu se Dunia)

Ribuan penonton memenuhi Stadion Negara kota Johore Bahru pada 20 Nopember 2000 ketika rombongan kami menghadiri malam Peraduan Akhir (final) Festival Zapin. Acara ini sudah saya impikan sejak menonton klip tayangan Zapin dalam acara Pertemuan Sastrawan di Hyatt Regency 17 Februari 1998 sewaktu berdialog dengan Menteri Besar Johor Dato H. Abd. Ghani Othman dan Wiwiek Sipala (Ketua DKJ). Sungguh bagai mimpi di Stadium itu menonton satu persatu grup siswa SD/SMP ber-Jeppeng.

Di antara yang dahsyat menonton tarnpilan gemulai dinamis siswa cilik yang temyata bermata sipit (Cina) mengayunkan kaki rentak langkah “Anak Ayam Patah” kaki menyambar berlingkar dan tangan

memegang lenso pada Langkah Siku Kluang disambung Langkah Mata Angin. Saya terharu sebab merasai kenanagan menikmati “Jeppeng“ di P. Kodingareng tahun 1975.

Saya cermati MB Dato Ghani mengenai perjuangan memunculkan Zapin dari serpihan yang tersebar tidak terurus baik. Perjuangan membikin kursus pelatih Zapin Johor 8 April 1996 di sebuah desa. Tujuh bulan jalan dicoba Pementasan Pertama, cikal bakal dimunculkannnya Festival Zapin Nusantara pada 5 Oktober 1998 yang juga mengundang dan Indonesia dan Singapore. Satu dari penari yang gemilang adalah istri MB yang lama jadi Dosen (Doktor) di University Malaya.

Wiwiek Sipala saya himbau mendukung rencana kami membuat Festival di KTI setelah merundingkan dengan koreografer DKJT (di Surabaya)serta rekan pengurus DK-NTB nelihat terhentinya Festival Zapin oleh DKJT sejak Tom lbnur tidak berada di Jakarta Dato Ghani jelas antusias mendukung dan menyuruh saya membicarakan hal itu dengan Ketua Yayasan Warusan. Pembicaraan baru saya tuntaskan pada 26 Agustus 1999 di Hotel Dinasty seusai membawa makalah di seminar yang diadakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Bagian Kesusatraan Tradisional karena di situ juga diadakan pentas Zapin mengisi Malam Promosi Wisata negeri Johor bersama Ketua (Lama) Yayasan Warisan.

Saya jelaskan tentang persebaran Zapin di pulau kecil di Madura Timur, di Pasuruan hingga Lamongan. Palu dengan Jepen yang tetap tumbuh begitu juga di Kabupaten Tanah Laut di Kalsel. Namun dengan nama Tari Dana Dana diaspora Melayu di Gorontalo masih menjadikan genre tari ini jadi andalan Sulawesi ` Utara. Rencana menggilir propinsi pelaksana disetujui. Bahkan sangat menggembirakan bahwa tim penari Yayasan Warisan siap hadir di Makssar untuk menunjukkan hasil kerja penggalian dokumentasi Zapin dari beberapa propinsi (Jambi, Sumbar, Riau, dan Medan).

Stadium di Johore semakin malam kian bergairah menunggu pengumuman juara Lomba Zapin pada Nopember 2000 Llu. Setelah juara kategori SMP, dan SMA diumumkan di sela gemuruh tepuk tangan supporter pemenang dan paling gemuruh lagi waktu diumumkan pemenang kelompok Mahasiswa dan kelompok Kan tor/ Kedinasan. Yangjuaraialah Balai Polis kota Johr (Poltabes) yang memang rata-rata penarinya berwajah peragawan. Hal itu khusus saya pujikan di telinga MB.Johor yangwakt itu memakai kursi roda mengelilingi tetamu dan pemenang di stadium.

Dewan juri (Pengadil) yang berbaris ke depan dipimpin Doktor Anis pakar dari Univ. Malaya yang sekarang berada di Sulsel berkeliling k Pangkerp, Pare-pare, Sidrap, Palopo, pulang lagi ke Sengkang dan Bone untuk memilih dua grup calon peserta Festival Seni Melayu se-dunia pada 4 Oktober 2001 di Johor. Acara ini telah diumumkan oleh Menteri Besar (MB) Dato Ghani pada 14 Maret 2001 di depan peserta Persidanan MABBIM/Mastera (Majelis Antar bangsa Brunei, Indonesia, Malaysia/Majelis Sastra Asia Tenggara di hotel Pan Pacific.

Di antara rombongan penyeleksi ke Sulsel, sahabat saya (sejak 1982) Prof Dr. Zaenal Abidin Borhan dari Univ. Malaya. Dari beliau saya men junal tebal “warisan Persuratan Johor” hasil kerjasama GAPENA dengan Yayasan Warisan. Melalui kedekatannya dengan MB sejak sama samajadi dosen di Univ. Malaya kami kerabat GAPENA semakin dekat dengan Johor. Jika propinsi lain yang dikunjungi tim ini menyeleksi hanya diundang satru grup maka Sulsel diberi dua tempat.

Hubungan darah tanah Bugis dari Johor sejak abad 16 sekaligus memiliki makna peradaban (ramaddun) terutama kaitan antara Kesultanan Johor yang dibangun oleh keturunan pahlawan lima bersaudara Daeng Marewa yang didatangkan ke semananjung untuk melawan penjajah Barat. Seorang intelektual- Zaenal Berhari dan Prof . Madya Abd.LatiffBakar yang lahir di Tanah Melaka mengakui bahwa tanah leluhurnya adalah Sulsel. Namun yang menjadi kerisauan saya adalah kian pupusnya sejumlah seni tradisi di Sulsel terutama yang secara populer dikenal sebagai genre seni Melayu.

Sekaitan dengan Festival sedunia bulan Oktober 2001 nanti kita tidak siap berkemas dengan cara otentik memahami pertumbuhan (dan kepupusan) beberapa ragam seni di pedesaan. Setelah wafatnya dua bersaudara Bajo di P.Kodingareng (Wak Lanti dan Angka) apakah seni gendang masih tersisa pada pelanjutriya. Teater tradisi Kondo Buleng dimana lagi. Nasib grup Pamasari di Takalar, Gowa, Pangkep, Barru dan sepanjang pesisir Selat Makassar, Sesungghnya banyak catatan kematian yang tersusun.

Penari sepuh seperti Mak Coppong (90) segenerasinya yang masih menari, lebih banyak diberi janji (Televisi, dll) dan hadiah tanah di Jambi dari Dr.Marzuki Usman. Maka kehadiran sosok pekerja Yayasan Warisan seperti Bapak Dzul Karnain Asamawi yang lama menjadi Atase Pendidikan Malaysia di Melboume kita sangat hargai. Di depan sekda Sulsel Drs. A.Tjoneng ia mengungkap penemuannya

melihat beberapa seni tradisi Sulsel bahwa amat banyak khazanah ilmu yang tersimpan dalam kesenian.

Penyatuan kaum dan daerah melalui Lomba Zapin di Johor dapat menjadi contoh suatu upaya kuat membangun kebudayaan dan jatidiri. Silaturahim sosial yang amat mengagumkan saya saksikan ketika istri MB.Johor turun di tengah ratusan peserta menari bersama (Zapin Lambak) seusai nama para Juara diumumkan. **

Sumber : Harian PEDOMAN RAKYAT, Minggu,  Desesember  2000.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: