Moh. Ramto Ottoluwa

Moh. Ramto Ottoluwa, bernama asli Mohammad Ramli Ottoluwa, lahir pada 16 Mei 1935 di Gorontalo. Menmurut catatan Biografinya pada buku Lima Puluh Seniman Sulawesi Selatan dan Karyanya, enyebut kritikus seni budaya Sulawesi Selatan, tidak lengkap tanpa menyebut nama Ramto. Lengkapnya

Masa kecilnya Ramto dihabiskan di Gorontalo sebelum pindah ke Poso, Sulawesi Tengah. Masa Pendidikan dasarnya dilewati pada Frobel Burger School, Gorontalo. Kemudian lanjut ke Toko-betsu Foetsoe Oe Gakka Poso dan kemudian Algemene Lager School . Setelah tamat masuk ke Middelbare School yang kemudian jadi SMP di Poso, tapi iatamat di Makassar tahun 1952/1953 dengan menyandang ijazah negara. Tamat SMA ia kemudian lanjut ke Fakultas Ekonomi Unhas pada tahun 1957 tapi drop out. Masa kemahasiswaannya di teruskan di IKIP Negeri Makassar ( kini UNM) dan lulus menjadi sarjana muda lengkap jurusan Fakultas Seni Sastra tahun 1963/1964.

Kemudian padatahuh 1950-an Ramto pindah ke Makassar. Di tanah Bugis Makassar ini, ia menjadi Bugis Makassar yang paham budaya tersebut. Pilihan hidupnya sebagai kritikus seni dan pemikir budaya ditekuninya sejak tahun 1954. Disamping itu, ia tercatat sebagai anggota senior Persatuan Wartawan Indonesia cabang Makassar. Dalam organisasi wartawan ini, ia sempat mengikuti Kursus Latihan Wartawan (KLW) PWI Makassar dan tingkat Nasional. Selain itu ia mengikuti penataran P4 dan Orpadnas dan lainnya.

Dalam organisasi kesenian ia tercatat sebagai anggota Macassarche Kunst Kring ( lingkaran seni Makassar ) yang dipimpin oleh Ny DR Dirksen. la diterima dalam perkumpulan tersebut, juga ditunjang kemampuannya karena memang fasih berbahasa Belanda dan Inggris. Sebagai orang yang gemar membaca, Ramto sejak awal sudah aktif sebagai anggota STlCUSA ( Sticting Culturele Semenwerking) yang dipimpin oleh Nyonya Hall. Kemudian masuk TIFA dan BMKN yang dipimpin oleh J.E Tatengkeng dan Hamzah Daeng Mangemba. Saat inilah Ramto banyak membaca buku-buku kesenian dan kritik seni. Ketika Sticusa bubar ia mendaftar pada perpustakaan Benyamin Franklin.

Pada tahun 1958, Ramto pernah mengikuti Pekan Kesenian Mahasiswa di Yogyakarta. Ketika itu ia dipercayakan sebagai Humas. Sepulang dari Yogya dan Bandung ia bergabung dengan seniman Kota Besar Makassar-KBM yang menjadi lawan dari Lembaga Kesenian Rakyat-LEKRA- seniman underbow PKI.

Bersama teman-temannya; Prof Mr Mohammad Syah, J.E Tatengkeng dan Mr PH Tan, M Basir (alm), Arsal Alhabsyi (alm) Rahman Arge, Indra Chandra (alm), Mustafa Djalle dan lainnya, ia ikut mendirikan Akademi Seni Drama/Teater dan Seni Lukis/Rupa-ASDl±di Makassar. Pada masa itu ia banyak terlibat pada pementasan teater dan menjadi sutradaragluga melakukan Pameran Seni Rupa serta Mode Show. Bersama Harus Rasyid Jibe, Andi Hisbuldin Patunru dan Arsal Alhabsyi, Ramto pernah mengadakan Seminar Teater Indonesia Timur. Setelah pecahnya G-30-S, ia ikut mendirikan KASBl, kemudian jadi Dewan Kesenian Makassar tahun 1969. Ketika itu DKM dipimpin oleh Hamzah Daeng Mangemba, ia menjabat sekretaris.

Karya-karya tulisnya berupa; puisi, esai, kritik seni dan novel pendek (novelet). Aliran keseniannya adalah modern yang berangkat dari kesenian tradisional dan lainnya – teater baru. Karya sastra yang pernah dikritiknya antara lain; Pulau karya Aspar, Olenka karya Budi Darma dan Puisi-puisi Sutarji Calzoum Bachri. Puisi-puisinya yang pernah terbit berjudul Puisi Musim Panas Berbekal pengetahuannya yang luas dalam bidang kritik seni beberapa kali Ramto ditugasi sebagai Juri Lomba Seni Musik dan bahkan Juri Bintang Radio dan Televisi -BRTV oleh RRI/TVRI Makassar.

Berbagai piagam penghargaan telah diterimanya antara lain dari Kodam XIV Hasanuddin tahun 1974 dan 1982. Piagam pertemuan Sastrawan Nusantara lV; Piagam Penghargaan BKKNI Sulawesi Selatan dan lainnya. Tahun 2002, Mohammad Ramli Ottoluwa memperoleh penghargaan Celebes Award dari

Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan di Panggung terbuka Monumen Mandala. Menjalani masa-masa senjanya, Ramto banyak menemani Rahman Arge untuk berdiskusi seni budaya atau menghadiri acara-acara seminar, penunjukan seni dan peluncuran buku. Ia tetap dan mengkritisi karya-karya seni, utamanya sastra yang dijumpainya entah sampai kapan. (Sumber: Lima Puluh Seniman Sulawesi Selatan dan Karyanya).

KARYA-KARYANYA YANG TERDOKUMENTASI PADA LAMAN INI ANTARA LAIN :

Esei

  • Dilema Mati Bagi Orang Makassar Bagian Terpenting untuk Sinrilli
  • Festival & Senimar Internasional La Galigo (esei)
  • H. Udhin Palisuri Penyair Istana Populer (Esei, Pedoman Rakyat Minggu, 28 Juli 2002)
  • Kebudayaan-Indonesia (esei)
  • Mengenal Dekat Michael Augustin (esei)
  • Perkembangan Kesenian dan Seniman Sulsel (esei)
  • Sastra Kita Di Sulawesi Selatan
  • Puisi-Puisi Indah dari Tanah Belanda (I)
  • Puisi-Puisi Indah dari Tanah Belanda (II)
  • Sains Kebudayaan Sulsel, Wacana yang macet ? (esei)
  • Puisi-Puisi Eksekutif Sulsel Bergema Kenangkan Proklamasi
  • Saya Kenal Combat-General Andi Mattalatta
  • M. Anis Kaba, Penyair “Nyanyian Alam”
  • Steve Liem (Teguh Karya): Tokoh besar Dunia Teater dan Perfilman Indonesia
  • Temu Budaya: Kita Sudah Sampai di mana ? Kualitas Manusia !
  • Makassar harus Cepat Berbenah Diri Era Globalisasi Menarik !
  • Nonton Film “Jangan Reguk Cintaku”
  • Meninjau Kembali Sutardji Calzoum Bachri, Penyair Religius ? (I)
  • Meninjau Kembali Sutardji Calzoum Bachri, Penyair Religius ? (II)
  • Ny. Andi Nurhani Sapada, Perintis Tario Sulawesi, Tokoh Nasional
  • I Sangkilang Papan penyanggah Ikat Kemudi
  • Pameran Tunggal Ali Walangadi Memukau di Sosieteit de Harmonie
  • Awan Hitam di Teluk Persia
  • Aksara Lontara dan Surek Galigo
  • Massenrempulu Karya Bung Udhin Palisuri
  • Sebuah Pertemuan: Seniman-Bicara, Siswa-Bertanya
  • Pendokumentasian Sastra Indonesia di Makassar
  • Pembahasan Buku Karya H.Verdy Rahman Baso: Datu Museng dan Maipa Deapati
  • Aduhai, Kapan Puisi Modern Indonesia Makassar ?

Memoar

  • Berangkat Lagi Penyair, Cerpenis Hamid Jabbar: Walaupun Indonesia Menangis, Mari Kita Menyanyi… (memoar)
  • In Memoriam: Prof Dr. Umar Kayam, Seniman Budayawan Besar Indonesia (memoir)
  • Inmemoriam: Drs.Hanoch Luhukay: Budayawan, Pendidik Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: