Mencari Identitas Budaya China yang Mengindonesia

Oleh Shaifuddin Bahrun

SETIAP manusia yang lahir, tak ada yang lebih dulu meminta untuk dilahirkan dari seorang rahim ibu dari suku bangsa tertentu. Tuhan menakdirkan dan menentukan sesacara mutlak kelahiran seseorang dalam suku bangsa yang dikehendaki-Nya. Kita pun hanya bisa pasrah dan menerima dilahirkan menjadi orang Bugis, orang Makassar, dan Orang China/Tionghoa. Atau kita tidak bisa meminta untuk dilahirkan sebagai seorang Papua, Batak, Jawa, dan Afrika. Kita takluk dalam takdir-Nya. Predikat suku bangsa yang melekat pada diri kita menjadi suatu taken for granted (sudah dari sononya).

Masalah identitas tidak banyak dipersoalkan dalam kelompok masyarakat yang homogen. Akan tetapi persoalannya muncul ketika seorang individu masuk ke lingkungan yang plural atau mejemuk, di mana dalam lingkungan tersebut terdapat sejumlah kelompok etnis dengan identitasnya masing-masing. Masalah yang dihadapi adalah karena merasa ada ancaman bahwa ia akan kehilangan identitas di dalam kemajemukan tersebut.

Adalah suatu kesalahan masa lalu negeri ini ketika suatu suku bangsa berusaha untuk dikaburkan identitasnya. Pada masa berkuasanya Orde Baru masyarakat kettuunan China/Tionghoa di Indonesia dikenai berbagai aturan yang berupaya mengaburkan identitas etnisnya. Pengaburan tersebut antara lain dengan mengganti nama-nama yang berbau etnis menjadi namanama yang menasional atau men’Jawa’. Juga tidak diperkenankannya mereka menggunakan atau berbahasa China, terutama dalam tulisan dan pengajarannya. Selain itu juga tidak diakuinya sistem kepercayaan Konghucu yang mayoritas dianut oleh orang Tionghoa. Bahkan dilarang melakukan upaeara keagamaan yang sifatnya terbuka.

Pembentukan kebudayaan nasional pada masa lalu adalah bertujuan untuk menciptakan kebudayaan tunggal di Indonesia. Kebudayaan etnis yang beragam akan menjadi kenangan dalam kebudayaan Indonesia yang menjadi kristalisasi kebudayaan Nusantara. Kehidupan multi-etnik dijadikan ancaman terhadap negara kesatuan, bahwa dalam kehidupan yang beragam, selalu terdapat sejumlah kepentingan yang menjadi potensi terjadinya konflik sosial. Hal ini dapat memicu berbagai konflik lainnya yang dapat menimbulkan perpecahan. Salah satu budaya bangsa yang telah mendapat tekanan dalam kurun waktu yang cukup lama adalah etnik China/Tionghoa. Namun demikian setelah tiga puluh tahun berlalu dan era refonnasi memberi angiii bani bagi masyarakat keturunan China. Pengakuan terhadap etnis ini sebagai suatu bagian dari kemultietnikan Indonesia kembali dihadiahkan sebagai bentuk perubahan cara pandang etnitas di negeri ini.

Etnis Cina/Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Etnis ini berkedudukan sama dengan etnis lainnya di Indonesia Dari sudut pandang keragaman budaya di Nusantara, etnis China menemukan wajahnya yang baru di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Meskipun “rumah pertama”nya adalah kebudayaan China (di negeri China) akan tetapi “rumah kedua“nya adalah wilayah-wilayah kebudayaan daerah di Indonesia di mana mereka berada. Sehingga dalam proses pembentukan identitas budaya China di Indonesia dia bergumul dengan kebudayaan setempat. Etnis Cina yang ada di Makassar dapat mengidentifikasikan dirinya dengan kebudayaan China dan kebudayaan Makassar yang setiap hari di”setubuhi”nya. Kemudian melahirkan identitas China-Mangkasaraq. Demikian pula tentunya dengan China yang ada di Jawa menjadi China-Jawa, di Jakarta ditemukan China-Jakarte atau China-Betawi, dan lain-lain.

Sekalipun mereka tetap sebagai etnis China, tetapi identitas kebudayaan mereka tidak lagi sama persis dengan identitas kebudayaan China yang ada di negara China. Demikian pula, orang China-Makassar tidak berperilaku yang sama persis dengan orzmij

Dalam perjalanan proses pembentukan identitas kebudayaan masyarakat China di Indonesia mengalami proses akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat. Kedua bentuk kebudayaan saling pengaruh mempengaruhi, saling membuka diri dan saling berterima. Kebudayaan setempat mendapat pengaruh dari kebudayaan China dan kebudayaan China dipengaruhi oleh kebudayaan setempat. Proses pembentukan identitas budaya ke depan, perlu diberi ruang gerak yang lebih bebas dan lebih terbuka. Segala larangan yang pçmah terjadi yang terkesan sangat diskriminatif perlu dihapuskan. Bentukbentuk penerimaan dengan pemaksaan untuk menggugurkan identitas kebudayaan China haruslah diubah. Dengan memberi peluang untuk mencari identitasnya sendiri di dalam keindonesiaan. Merupakan satu persoalan penting yang harus disadari oleh etnis China/Tionghoa adalah kembali mengenali rumah asal mereka dengan baik. Dua rumah kebudayaan yang telah melahirkan mereka yakni kebudayaan China/Tionghoa yang akar dan nilai-nilainya telah diletakkan oleh tokoh-tokoh spiritual (filosof) seperti Konghucu, Tao ataupun Lautze, dari para leluhur serta dewa-dewa dalam ajaran Budha.

Mempelajari falsafah dan ajaran nilai berkehidupan mereka akan membentuk kembali kepribadian sebagai suatu suku bangsa. Membentuk diri sebagai warga kebudayaan China/Tionghoa, tidak perlu merasa menjadi bagian dari sebuah wilayah administraif di negara China atau Tiongkok. Tetapi tetap menjadi bagian dari tanah tumpah darah Indonesia.

Pembentukan identitas tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Harus terjadi interaksi, pencarian, dialog; dengan berbagai sumber terutama interaksi dan dialog dengan masyarakat tempat ia hidup. Tidak mungkin dapat terlahir manusia China/Tionghoa-Makassar seperti Ho Eng Ji(pencipta, syair lagu-lagu Makassar), Ang Bang Tjiong (penyair Melayu,-Makassar) atau Liem Kheng Young (penulis Cerita Klasik China dalam bahasa Makassar dan  alam aksara lontaraq) jika tanpa interaksi dan dialog antar budaya yang berarti langsung  ecara intens. Segala sekat-sekat baik yang bersifat psikologis maupun berupa fisik  arus dengan berarti  dihilangkan. Kehidupan eksklusif dalam semua bidang kehidupan harus dicairkan secara  perlahan-lahan.

@ Penulis adalah pemerhati budaya China

Sumber: Harian PEDOMAN RAKYAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: