Kuasa Politik dan Seni Pembebasan

Oleh Maulana Asfar Nurdin

Ketika  terjadi belenggu kekuasaan terhadap semua aspek kehidupan karena yang memerintah pada suatu negara adalah seorang diktator; maka mungkin hanya seni yang mampu menguak ke permukaan untuk melawan kediktatoran penguasa tersebut. Walau bentuknya hanya menggunakan simbol-simbol baik itu analogi-analogi dan makna kata-kata dalam puisi cerpen ataupun karikatur yang menyiratkan perlawanan.

Seni pembebasan.

Banyak revolusi sosial yang terjadi di dunia yang menggunakan seni terutama teater, karikatur
dan puisi untuk melakukan reaksi resistensi terhadap penguasa, karena segala aktifitas politik yang dilakukan oleh masyarakat akan diberangus oleh tirani kekuasaan, maka seni menjadi ruang yang lebih leluasa dan lugas untuk melakukan perlawanan. Seni kerakyatan yang digarap dan di sebarluaskan oleh tokoh-tokoh pergerakan dan seniman yang mengangkat isu-isu rakyat tertindas oleh tirani dengan pengungkapan yang memuat simbol-simbol perlawanan, akan membangkitkan semangat dan kobaran perlawanan masyarakat yang lebih besar dan massif untuk menentang penguasa diktator dengan menggunakan simbol-simbol perlawanan yang terdapat dalam seni, memang mula-mula hanya gerakan kultural berupa seni yaitu pementasan teater dan pembacaan puisi tetapi lambat laut gerakan kultural ini akan menggelembung menjadi gerakan politik yang luar biasa.

Banyak contoh-contoh kasus didunia ini dimana seni mampu menjadi wahana pembebasan rakyat dari ketertindasannya. Seni berupa teater dan puisi pada negara yang diktator biasanya lebih diberi ruang untuk hidup, sedangkan gerakan politik pasti ditumpas, untuk itulah banyak tokoh-tokoh politik dan budayawan kemudian menggunakan instrumen seni sebagai wadah untuk melakukan tindakan sensor terhadap seni yang dianggap berbahaya terhadap kekuasaan bahkan tak jarang juga melakukan penangkapan dan penculikan terhadap seniman-
seniman yang berani melawan rezim melalui karya-karyanya. Dan seni pada konteks itu adalah
seni pembebasan, seni yang bertujuan untuk menyentuh kesadaran rakyat untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap penguasa yang tiran, seni pembebasan adalah seni yang punya keberpihakan yang jelas pada masyarakat yang tertindas dan mampu menjadi pioner dalam membangkitkan semangat pemberontakan rakyat untuk melawan tirani.

Jika kita membaca biografi para pemenang Nobel Sastra, bentuk penghargaan tertinggi dunia pada seniman dan sastrawan, kita akan mendapati bahwa hampir semua pemenang Nobel itu pastilah seorang seniman atau sastrawan yang pernah melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas masyarakat, karya-karyanya lahir dari air mata dan ketertindasan masyarakatnya yang ia gali lalu ia kemas dalam bentuk sastra atau seni yang sarat muatan kritik yang tajam terhadap penguasa pada waktu itu, makanya hampir semua sastrawan besar penerimaan Nobel ini adalah orang yang pemah dipenjara oleh rezim yang berkuasa pada negaranya.

Seniman dan sastrawan besar yang konsisten dalam penciptaan seni dan sastra pembebasan adalah seorang yang ber-ideologi, bahkan mampu menciptakan ideologi baru yang dianut oleh
generasi sesudahnya untuk melakukan perlawanan terhadap penguasa-penguasa tiran dalam negaranya. Seni pembebasan yang lahir dari seorang seniman merdeka tak lain adalah perasaan, darah, airmata, dan emosi rakyat tertindas dan mampu dibingkai dalam karya berupa novel, teater, dan puisi yang ‘menggerakkan’ karena seni pembebasan punya ‘ruh zaman’ (zeist geet) yang berkobar-kobar.

Humanisme Universal Vs Sosialisme Realis.

Secara umum dalam literatur Marxis, dalam dunia seni atau sastra terjadi perdebatan yang sampai sekarang masih terus berlangsung, yaitu antara aliran seni humanisme universal dengan sosialisme realis. Perdebaten kedua aliran tersebut terletak pada esensi sebuah seni, dimana penganut aliran humanisme universal memahami seni sebagai bentuk karya manusia yang sifatnya tidak berpihak, seni hanyalah untuk seni itu sendiri, sehingga muatan ideologis dalam seni harus dihilangkan. Sedangkan penganut aliran sosialisme realis menilai bahwa sebenarnya seni bukan sekedar untuk seni, tetapi lebih sebagai bentuk karya kemanusiaan yang harus berpihak pada kemanusiaan itu sendiri, dengan jalan memasukkan unsur ideologis dalam seni. Dalam penganut sosialisme realis, seni adalah wadah dan alat perjuangan ideologis untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang menindas rakyat. Seni baru berarti jika mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk bangkit merebut haknya, bangkit bersatu melawan segala bentuk ketidakadilan yang terjadi didepan matanya, bangkit melawan tirani kekuasaan yang merenggut nilai-nilai kemanusiaan.

Seni pembebasan sangat besar terpenting dalam melakukan perubahan sosial pada suatu negara, seni menjadi bagian terpenting yang menjadi penggerak suatu revolusi sosial, termasuk pada bangsa Indonesia. Kita ingat bagaimana Chairil Anwar dengan ‘binatang jalan’, dan memang ia menjadi ikon puisi lndonesia yang menampilkan sosok seniman yang urakan dan hidup ‘bohemian’ dan tak terurus sampai akhir hayatnya. Puisi-puisinya mengandung ruh dan gerak yang berkobar dan mampu menggugah kesadaran kemanusiaan kita. Walau ia pernah difitnah sebagai seorang plagiat tetapi tetaplah puisi-puisinya adalah karya yang digali dari bangsa dan emosi terpendam masyarakatnya. Di deretan nama-nama lain sastrawan besar Indonesia yang menganut aliran seni pembebasan adalah Pramudia Ananta Toer, ia adalah sastrawan yang produktif dalam karya dan sangat berbobot, karya-karyanya, adalah seni yang berpihak pada kaum tertindas, kaum proletar, karyanya bukan seni borjuis yang menghamba pada kekuasaan, dan karena karyakarya sastranya Pramudia harus menjadi korban resim otoriter Soeharto, yang melarang karya-karyanya beredar di Indonesia, bahkan mesti memenjarakan sastrawan besar itu selama kurang lebih empat belas tahun, dan dikucilkan dari masyarakat. Diumurb yang hampir senja, Pramudia masih terus berkarya dan namanya kini banyak didesuskan sebagai nomitor penerima hadiah nobel. Disinilah ironisnya  bangsa kita, dimana orang cerdas berusaha disingkirkan sedangkan negara lain yang memberikan penghargaan dan apresiasi yang besar, ketika karya-karya menjadi bahan bacaan wajib bagi anak-anak sekolah.

Gramsci mungkin benar bahwa seni juga bermata ganda, dimana seni kadangkala menjadi alat yang efektif bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya dengan cara menggaet seniman-seniman pecundang yang mau `bersetubuh’ dengan kekuasaan. Disisi lain seni juga bisa menjadi seni pembebasan, seni yang berpihak pada rakyat yang tertindas oleh kekuasaan. Lalu sekarang pertanyaan yang mengganggu, apakah seniman-seniman Indonesia khususnya mampu menjadi seniman yang berpihak pada rakyat, seniman yang berani mengambil jarak dengan kekuasaan dan menjadi orang-orang yang berani hidup marjinal?

Penulis: Maulana Asfar Nurdin Direktur Nalar Institut Makassar

Sumber : Harian Pedoman Rakyat Minggu, 6 Maret 2004 halaman 14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: