Teater Merah Putih 22 Tahun di Harmoni

Oleh Arief Gossin

Dari puluhan Grup Teater yang ada di Sulawesi Selatan, diantaranya tercatat Grup Teater “Merah  Putih”, tidak terasa usianya kini telah 22 . Malam Minggu yang baru lalu, (persis 6 hari setelah  malam Minggu baca puisi para penyair yang diakan Angkatan 90°an), memperingati ulang tahun hari lahirnya yang bertepatan dengan “Hari Kebangkitan Nasional” 20 Mei.

Maka mudahlah dimengerti mengapa Grup Teater tersebut memilih hari lahir bertepatan tanggal tersebut. Ada kaitan cinta mesra, heroik dan segi falsafah antara kedua judul “Merah Putih” dan “Kebangkitan Nasional” untuk bangsa dan negara kita, yang rasanya dibutuhkan setiap saat.

Acara dilaksanakan dengan kesederhanaan khas seniman yakni baca puisi mulai dari baca puisi yang heroik sampai kepada puisi cinta yang biasa, termasuk tidak lupa mengenangkan seorang teaterawan berbakat dan berpotensi  almarhum Hasan Mintaraga.

Bertindak sebagai pembawa acara penyair muda Aliem Prasasti, seorang yang cukup produktif dan bagus puisi-puisinya (yang biasa dimuat di surat kabar-surat kabar di Makassar, dan beberapa di “permanenkan” dalam buku kumpulan puisi “Moyangku Bugis”, “Ombak Makassar“ dan “Antologi Sastra Kepulauan”).

Mengawali acara tampil Yudhistira Sukatanya menguraikan tentang Grup “Merah Putih” yang didirikannya bersama beberapa teman pada tahun 1978 dan pernah menjadi ketuanya serta menampilkan beberapa drama maupun ikut Festifal Teater yang pernah dilangsungkan di Makassar, serta sukaduka dalam menangani Grup Teater tersebut agar dapat tetap tampil sewaktu-waktu. Yudhistira menjelaskan bahwa memang telah direncanakan Ultah hari kelahiran grup ini secara sederhana saja sesuai dengan kemampuan yang ada.Walaupun sederhana tapi ternyata acaranya tersebut cukup mendapat perhatian dari kalangan seniman, dan dia berterima kasih atas perhatian yang diberikan.

Tampil membacakan puisinya Rudhy Barsit yang berjudul : “Merah Putih Masih kah”. Dalam puisi tersebut antara lain dia mengemukakan pertanyaan apakah “Merah Putih” lambang persatuan kita masih kita perlukan ? yang kemudian diakhirinya dengan bait-bait bahwa memang bendera “merah Putih” kita masih kita butuhkan hari ini dan selamalamanya. Puisi yang lainnya berjudul : “Bisik” sebuah puisi yang “menyentil” secara bijaksana akan kebijaksanaan Presiden Gus Dur akhir-akhir ini. Puisi yang ketiga adalah puisi ciptaan Hasan Mintaraga almarhum yang berjudul “Payung Hitam” yang juga telah ”dipermanenkan” dalam buku “Ombak Makassar” halaman 97. Selesai Rudhy Barsit mendeklamasikan puisi tersebut, kemudian tampil Yudhistira Sukatanya bersama istrinya Dewi Ritanaya menyanyikan puisi “Payung Hitam ciptaan Hasan’Mintaraga tersebut, diiringin dengan petikan gitar Yudhistira sendiri. Ternyata puisi tersebut telah berulang kali dinyanyikan dengan nada dan irama yang permanen. Hasilnya memang bagus, sedih, sedu, melantunkan kenangan cinta, dan memukau. Untuk jelaskan kepada pembaca, sebaiknya saya kutip puisi tersebut :

Payung Hitam

Gerimis malam itu

Di depan fort rotterdam

Mendung di langit adalah musik duka

Melangkah dua anak manusia

Yang saling mencinta

Hatinya adalah gelombang laut biru

Di bawah payung hitam

Dalam kungkungan dingin malam

Mereka saling berpelukan

padajalan yang hening dan basah

Yudistira adalah seniman teater, pemain juga sutradara dan juga bisa menulis puisi, sedangkan Dewi yang sudah menjadi istrinya sekarang juga pemain teater. Mereka sejak dulu latihan teater sama-sama, Yudhis sutradara dan Dewi beserta pelaku pelaku lainnya. Habis pementasan mereka biasa terlihat omong sama-sama, pulang sama-sama, akhirnya mereka berdua sampai di pelaminan, menjadi suami-istri. Sampai kini mereka berdua tampak sangat berbahagia bersama beberapa orang anak yang sudah sekolah. Selesai pasangan suami istri tersebut mengalunkan lagu “Payung Hitam”,

kemudian tampil ber-turut-turut : Ram prapanca, Ali Samad, Bahar Merdhu, Ismed Sahupala, Aslan Abidin, Syahriar Tato, Muchaxy Wahyu Nurba, dan sayang sekali hanya seorang perempuan cewek

manis : Yuly. Pada umumnya pembaca puisi membawakan satu, dua atau tiga rangkai puisinya. Juga para pembaca puisi sudah dimuat puisi-puisinya di dalam buku “Antologi Sastra Kepulauan” dan “Ombak Makassar” yang diterbitkan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, dan “Moyangku Bugis” yang diterbitkan Lembaga Studi Sosial dan Agama Jakarta bekerjasama dengan Taman Budaya Sulsel serta Yayasan Pengembangan Sumberdaya Nasional Sulsel.

Puisi ciptaan Aslan Abidin tersebut memang sangat sendu, menyedihkan, kisah ironis, realis, yang mungkin telah terjadi di tengah masyarakat. Tentu saja mungkin pula ada yang berkata ; bila seorang anak inanusia terjebak, terjerumus, terpaksa ke dalam kehidupan yang tak pernah di cita-citakannya, siapakah yang menangung dosanya ?

Selain pembacaan puisi untuk meramaikan ultah hari kelahiran Grup Teater “Merah Putih”, ada pula yang menyumbangkan nyanyian, yakni Grup Muzik “Pakarena” Alat-alat mereka sederhana : sebuah biola, sebuah gendang, dan tiga gitar. Mereka mendendangkan lagu dengan irama yang pas, syair yang impressif dengan gembira.

Juga tampil di pentas. Grup “Muzik Jalanan” yang beranggotakan 3 orang masing-masing dengan gitar. Grup ini memang sengaja ditampilkan untuk memberikan penghargaan dan kesempatan kepada seniman muzik yang boleh dikatakan senantiasa hidup “terhempas dan terkandas” dalam kerasnya kehidupan sehari-hari. Sayangnya saya lupa mencatat nama-nama mereka, maaf.

Diluar kesiapan saya, saya diminta tampil ke panggung untuk memberikan kata sambutan. Adapun kata sambutan saya juga sederhana. Mengucapkan “Selamat merayakan ulang tahun hari lahir Grup Teater “Merah Putih” yang ke 22 semoga panjang umur, artinya tetap tampil dari tahun ke tahun. Walaupun tidak selalu tampil dengan pementasan teater, tapi dengan baca-baca puisi juga sudah baik. Kekreatifan memang tetap dibutuhkan dari manusia yang namannya seniman, yang disamping masih kuliah juga ada dosen, ada buruh dan karyawan disisi hidup sebagai kepala rumah tanga. Jadilah pencipta-pencipta puisi dan pembaca puisi yang baik disamping hidup secara baik membina rumah tangga . Binalah anak-anak kalian agar jagan sampai terjerumus ke dalam tindakan yang akan menghancurkan hidupnya. Kalau bisa didiklah mereka jadi seniman yang baik yang kreatif agar tetap

ada yang meneruskan langkah yang indah menuju cita-cita, sekalipun hannya idealisme.

Saya pikir yang akan datang ada baiknya pula kita membacakan puisi dalam bahasa Inggris (seperti yang dikemukakan Yudhistira kepada saya). Itu adalah pikiran yang kreatif, disamping membacakan dalam bahasa kita sendiri. Seorang seniman memang perlu belajar bahasa asing terutama bahasa Inggris. Belajar bahasa lainnya seperti Perancis, Jerman, Belanda dan lain-lain apa saja yang disuka masing-masing adalah tetap baik, karena kita sudah mendunia, sudah dipermulaan millenium. dimana buku-buku bahasa asing juga nanti hadir di toko-toko buku. Dan agar kita dapat membaca puisi, novel, roman dan lain-lain dalam bahasa tersebut. Akhirnya lebih banyak terpulang kepada generasi yang lebih muda yang lebih rajin dan lebih bersemangat. Kepada Grup Teater “Merah Putih” saya ucapkan : Selamat membina dan tampil lebih kreatif di tahun-tahun mendatang. Semoga tetap berumur panjang. Selamat dan sukses selalu. Acara ditutup dengan lawakan oleh Tend dan kawan-kawan. (Arief Gossin)

Sumber : Harian Pedoman Rakyat Minggu, 28 Mei 2000 halaman 9.

Satu Tanggapan to “Teater Merah Putih 22 Tahun di Harmoni”

  1. terimakasih atas nama orang tuah saya yang masih anda kenang(hasan mintaraga).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: