Catatan dari Festival Seni Pertunjukan Indonesia Tingkat Nasional, Jakarta 2001: Dilema Seni Pertunjukan Indonesia

Oleh Yudhistira Sukatanya

Sejak awal petunjuk teknis dan tata tertib pelaksanaan Festival Seni Pertunjukan Indonesia (FSPI) 2001 yang diedarkan panitia pelaksana sangat tidakjelas. Format atau apa batasan materi yang dimaksud dengan seni pertunjukan Indonesia tidak diuraikan dengan jelas. Dalam petunjuk teknis itu hanya dikatakan bahwa materi yang dimaksud adalah karya utuh dari suatu garapan yanig didalamnya mengandung unsur seni musik, tari dan teater. Untuk itu diharapkan bahwa karya garapan yang disajikan oleh grup unggulan daerah, masih memiliki ciri khas.

Ketidakjelasan tersebut mengakibatkan beragamnya model pertunjukan yang ditampilkan oleh masing-masing daerah. Ada yang dominan tari, dominan musik atau dominan teater. Dengan landasan pikiran pragmatis, maka seluruh sajian syah adanya tampilidi ajang ini.

Rahayu Supanggah. Salah seorang pengamat FSPI 2001 pun tidak gamblang memberi batasan. “Pokoknya yang dimaksud dengan Seni Pertunjukan Indonesia adalah apa yang selama ini telah kita kerjakan sehari-hari, apakah itu tari, musik atau teater”. Ungkapan ini lagi-lagi tidak mengandung ketegasan. Bagi Rahayu yang penting dalam karya yang tampil dapat terlihat potensi tradisi yang dipakai secara kreatif, artistik dan komunikatif didalam seni modern Indonesia”. Sayangnya peserta banyak yang terjebak pada tiga unsur ; tari, musik dan teater sebagaimana petunjuk pelaksanaan yangjadi acuan karya, padahal yang diperlukan hanya spiritnya ungkap Rahayu dalam sesi evaluasi usai pertunjukan hari ke empat.

Keterjeratan semacam itu menghinggapi hampir seluruh peserta. Tak heranjika tampilan peserta ada yang dominan masuk seperti terlihat pada sajian dari provinsi Maluku atau dominan tari dari sajian Daerah Istimewa Aceh, Irian Jaya, Kalimantan Timur, Bengkulu dan Nusa Tenggara Barat atau dominan teater seperti misalnya dari Lampung, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Uniknya lagi ada yang dengan yakin “hanya” memindahkan seni tradisi permainan lesung sebagaimana Sajian Jawa Tengah.

Sajian yang terlihat lebih pas sebagaimana penampilan Jawa Barat, Yogyakarta dan Sulawesi Selatan.

Ketiga penyaji ini, menampakkan olahan teknis dan filosofis yang ditunjang oleh persepsi cerdas berdasarkan pengalaman yang luas. Mereka mengadopsi pola seni pertunjukan rakyat yang longgar, dapat diimbuh dengan berbagai elemen seni pertunjukan seperti tari, musik dan teater. Ketiga tampil dengan cerita yang ringan dimengerti, set sederhana nan merakyat, serta peralatan pentas yang dibuat multi fungsi, efektif dan efisien.

Mencari Bentuk

Jika pada festival tahun-tahun sebelumnya yang diadnkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau Departemen Seni dan Budaya, cenderung memisahkan bidang-bidang kesenian seperti tari, musik dan teater, maka khusus untuk tahun ini berbeda. Ketiganya unsur seni itu diupayakan satu dalam paket pertunjukan yang diberi label seni pertunjukan. Suatu pencarian bentuk pada model Seni Pertunjukan Indonesia.

Batasan tentang Seni Pertunjukan Indonesia memang masih menjadi wacana yang membutuhkan forum. Perlu disepakati suatu bentuk dengan unsur-unsurnya yangjelas atau sama sekali tidak perlu disepakati penyeragaman pemahaman Seni Pertunjukan Indonesia.

Yang mungkin bisa diterima adalah bahwa materi/bahan dasar utama karya seni pertunjukan lndonesia, adalah ritual, legenda atau ceritera rakyat lama atau pun baru/Keknyaan budaya yang sangat potensial itu kemudian mesti dipoles dengan sentuhan kreatifitas baru dalam berbagai bentuk seni. Seni per unjukan perlu menyerap elemen –elemen tradisi yang sesuai dengan kebutuhan masa kini, setelah membaca kondisi lingkungan masing-masing.

Nilai-nilai tradisi yang diambil tidak saja dalam bentuk-bentuk, ritual dan upacara tapi juga d lam sastra dengan ungkapan bahasa lokalnya. Dalam peman atau bahasa inilah yang menjndji endala komunikasi dengan pen 1 in. Mursal Esten Budayawan yangjuga ditunjuk selaku pengamat FSPI 2001, mengingatkan pentingnya kesadaran para penggarap bahwa mereka akan bertemu dengan publik-publik baru. Publik baru ini berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang masing#masing. Mursal mengatakan bahwa “guna berkomunikasi dengan baru itu, diperlukan siasat

Publik atau kiat-kiat komunikasi, misalnya dengan narasi serta terjemahan untuk menjelaskan melalui kata-kata”. Untuk  mengekspresikan warna lokal  dengan bgahsa daerah dapat saja dilakukan  jika itu berupa mantra misalnya sebab yang dibutuhkan penonton hanya sebatas musikalnya saja, imbuh Mursal.

Kesu itan untuk berkomunikasi dengan publik baru nampak jelas pada garapan dari Irian Jaya yang

Sepenuhnya berbahasa daerah . “Menyaksikan ini kiita butuh sinopsis”. Timpal Jadug Ferianto dari Qya Etrika-Yogyakarta. Salah seorang pengamat FSPI “Bahasa lokal tidak tidak mengikat emosi penonton, ingat mereka tifak sedang tampil di depan publiknya, tetapi di Jakarta. Selera dan sikap penonton  di sini tidak sama: katanya serius.

Tapi keragaman penampilan sungguh sangat menggembirakan. Terlebih lagi dengan adanya keberanian menampilkan kritik yang nyaris tidak terpanggungkan oleh seniman dari daera semasa orde baru. Namun Jadug berpendapat bahwa “kritik tidak selamanya mesti diungkapkan dengan komedi atau banyolan sebab ujung -ujungnya bisa salah akibat tertimpal tawa penonton”.

Tentang pentingnya takaran diingatkan pula oleh Jadug “kebanyakan penggarap ingin menumpahkan semua potensinya, padahal perlu adanya fokus. Disinilah dibutuhkan kreatifitas”. Hal senada disampaikan Mursal “Penggarap harus mampu mengedit karyanya, sebab akan berhadapan dengan publik baru yang bermacam-macam”. Selain itu Mursal melihat pentingnya plot guna menakar dinamika pertunjukan agar jangan terlihat kelewat longgar.

Generasi Baru dan Wacana Tradisi Sebuah grup kesenian memang diharapkan mampu memenej organisasinya, oleh sebab itu perlu memanfaatkan kiat-kiat baru menejemen organisasi kesenian. Jika selama ini grup kesenian masih sebatas grup hobby dan sepenuhnya tergantung pada pesanan. Maka kebiasaan seperti itu harus sudah diubah. Misalnya dengan lebih aktif membuka peluang pasar.

Tak heran jika pada FSPI 2001, panitia mengharapkan grup yang tampil adalah grup unggulan daerah. Artinya grup tersebut sudah memiliki sejarah dan reputasi dalam menggarap seni pertunjukan. Namun kriteria itu, nampaknya cukup sulit terpenuhi. Sebab sudah bukan rahasia lagi jika grup-grup kesenian di Indonesia. utamanya yang berada di daerah, selama ini dikelola dengan menejemen apa adanya. Sangat jauh dari profesionalisme.

Sudah banyak contoh tentang ambruknya grup kesenian yang tidak abai pada menejemen organisasi. “Grup Ketoprak Sapta Mandala yang terbilang cukup bernama besar dengan bimbingan Kodam VII Diponegoro, ternyata harus bubar”. Ungkap Hargi Sundari salah seorang seniman ketoprak dari Yogyakarta. DI Yogyakarta banyak grup ketoprak, seperti gaya Mataram, ketoprak ongkek, ketoprak lesung atau ketoprak srundul, tapi ini telah lama mati. Tidak ada lagi seniman yang

memainkan jenis ketoprak ini akibat berbagai himpitan, utamanya tidak adanya regenerasi. Hal yang

sama dialami oleh seni pertunjukan teater rakyat Kondobuleng di wilayah urban Makassar. Regenerasi yang ada berjalan sangat lamban.

Generasi baru, disinyalir banyak yang enggan memakai elemen-elemen tradisi dalam karyanya. Bahkan cenderung untuk mendekonstruksi segala kemapanan itu dengan memanfaatkan berbagai filosofi dan teknologi baru guna menemukan bentuk seni pertunjukan baru yang kontemporer. Masalahnya apakah hal tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh pentingnya perkembangan tradisi atau sekedar menolak segala kemapanan tanpa konsep yang jelas. Jika memang ada pertunjukan yang berkeyakinan demikian apakah benar akan mampu menciptakan tradisi baru. Sebab tradisi yang hidup itu adalah tradisi yang terus berubah.

Ichwal regenerasi sempat pula diresahkan Nungki Kusumastuti-Pengamat FSPI 2001. Padahal dalam FSPI 2001 sudah muncul muka dan namanama baru, namun dari segi kualitas, mereka masih perlu banyak berbenah untuk dapat menyamai generasi pendahulunya. “Para penggarap harus mampu meningkatkan prestasi dengan menyeleksi bahan garapannya, utamanya jika terkait dengan kemampuan aktor atau penarinya. Sebab penari yang baik bukannya tidak ada, tetapi sangat terbatas adanya. Hal tersebut sering mengakibatkan tidak maksimalnya sebuah penampilan”. Keluh Nungki.

Nungki mencontohkan pada penampilan kontingen Nusa Tenggara Barat. Grup ini mempunyai gagasan yang kuat dan sangat baik, tetapi tidak sepenuhnya didukung oleh kemampuan penari, karena rumitnya. Apalagi kostum dan properly yang mereka pakai membuat terhambatnya gerak penari. Berbeda dengan penampilan $ulsel yang dinilainya menarik sebab menampilkan garapan sederhana sesuai dengan kemampuan penarinya. Enoch Atmadibrata – salah satu pengamat senior dalam FSPI ini, mengungkapkan keindahan pola lantai garapan Sulsel yang mengalir dengan lancar dan sangat imajinatif. Pola-pola pertunjukan itu mengingatkan pada tari pakarena, tari patu’du dan kepiawaian permainan kecapi pelaut Bugis. Pengelompukan peinain tidak sebagaimana biasa tapi dengan tatanan baru, terlebih dengan permainan kecapi yang dinilainya atraktif dimainkan dengan sangat kreatif dan penuh variasi. Tetapi Profl Made Bandem mengingatkan pentingnya memperhatikan karakter property.

Masa Depan Seni Pertunjukan Indonesia

Festival Seni Pertunjukan Indonesia (FSPI) yang diikuti oleh 26 provinsi dengan 600-an seniman se

Indonesia usai sudah Perhelatan akbar tersebut digelar oleh Direktorat Kesenian, Ditjen Nilai Budaya Seni dan Film bekerjasama dengan Departenien Kebudayaan dan Pariwisata berlangsung sejak tanggal 2 hingga 5 Oktober 2001 di Gedung Kesenian Jakarta.

Festival yang sudah disiapkan sejak Mei 2001 ini diakomodasikan oleh masing-masing daerah sesuai semangat otonomi daerah. Kriteriariya meliputi bentuk seni pertunjukan yang disesuaikan dengan seni tradisi masingqnasing. Selain itu karya yang dipentaskan oleh grup-grup unggulan daerah, dibatasi durasi 20 menit. “‘l`erseral1 apakah mereka ingin bentuk tari, musik atau teater atau penggabungan ketiganya” ujar Surya Yuga,Msi Kepala Direktorat Kesenian yang juga ketua panitia FSPI 2001, pada sambutan pembukaan.

Untuk memberi bobot pada festival, selain pertunjukan juga dilaksanakan workshop bagi penata artistik dan evaluasi kegiatan. Evaluasi disampaikan oleh para pengamat yang terdiri dari : Prof.Dr.R.M.Soedarsono, Drs. Saini KM, Enoc Atmadibrata, Prof. Dr.I Made Banden, Prof.Dr.Mursal Esten, Dr.Rahayu Supanggah, Jadug Ferianto, Dra.Wiwiek Sipala dan Dra.Nungki Kusumastuti. Selain itu ada pula nara sumber seperti Mbah Rujito, Sentot Sudliarto dan Soni Sumarsono.

Meski demikian masih sejumlah pertanyaan tersisa, diantaranya bagaimanakah format Seni Pertunjukan Indonesia dan masa depannya ? Berakhirnya FSPI 2001 dengan menuai sukses, tidak kemudian memupus keprihatinan masyarakat seni pertunjukan. Kegiatan yang telah memanfaatkan dana miliaran rupiah ini, dikhawatirkan hanya berlangsung sekali. Betapa tidak, dimasa mendatang setumpuk permasalahan sudah menunggu, misalnya apakah masih dapat tertera pada APBN atau pada Dana Alokasi Umum (DAU) tahun berikutnya. Pada tahun 2001 ini saja FSPI tidak dapat diikuti oleh seluruh provinsi, utamanya bagi provinsi baru karena tidak tersedianya dana.

Terlepas dari problema dana yang jelas diharapkan bahwa FSPI masih dapat berlangsung dimasa mendatang, setidaknya menjadi ajang pertemuan beragam kesenian daerah untuk saling mengenal, saling berkomunikasi, menggalang rasa persatuan dan kesatuan. Tidak semata dimaksudkan menjadi semacam komoditas yang sekedar disajikan pada wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

(Yudhistira Sukatanya)

Sumber : Harian Pedoman Rakyat Minggu, 28 Oktober 2001, halaman 9

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: