Prosa Kecil Buat Guruku

Puisi Mahrus Andis

Kita tebarkan kerinduan antara lekuk-liku perjalanan

Hari ini pun terasa ada sepenggal duka

Menggores di langit angan-angan

Ketika kita menghitung jari-jari waktu

Dan balon-balon kecil berhamburan dari jantungmu :

“Berangkatlah, anakku

Berangkatlah dengan perkasa menuju bukit

Tepiskan segala kabut. Redamkan semua takut

Karena hikmah pengembaraan adalah tasik yang bening

Alangkah setia menunggumu

Di laut pengabdian. Di pantai kemanusiaan

Lihatlah, anakku

Matahari tak pernah letih menyodorkan sinarnya

Bulan dan bintang menawarkan perdamaian

Tuhan yang maha bijak melebarkan sayap dan pikiranmu

Iqra’ bismirabbik !

Bacalah otakmu dan pandanglah ayat-ayat Ilahi

Kayuh perahumu, anakku

Pacu terus ke dasar lautan ilmu

Pasang kemudi syahadat. Laailaha Illahhah

Kibarkan layar Fii Sabilillah

Getarkan temali doa

Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilal Lahdi”

Terima kasih, guruku

Jiwamu adalah nafas kehidupan

Kami kenangkan semua itu

Seperti juga kami kenangkan setumpuk teori

Mengganyang di batok kepalamu

Desah parau suaramu menggema di ruang-ruang kelas

Peluhmu mengalir dari jantung

Menetes-netes di papan tulis

Dan kamipun mengangguk-angguk

Lantaran capek dan ngantuk

Maafkan kami, guru

Tak tuntas terjawab jerih-payah pengabdianmu

Dan kebandelan kami. Kebandelan kami, guruku

Hanyalah nuansa perjalanan anak tualang

Hari ini kita bentangkan kembali jari-jari kenangan

Ketika engkau berkisah tentang hari-hari berkabut;

“Tengoklah dunia nyata di sekitarmu,

Anak-anak gembala mendengkur di punggung kerbau

Para remaja melepaskan letih di sudut-sudut kota

Mereka rindukan pendidikan tapi biaya tak pernah mengizinkan

Mereka punya modal yang cukup tapi sukma tak rindu pendidikan

Dunia mereka tersaput gumpalan kabut

Masa depan mereka adalah sunyi yang ngeri

Mereka adalah saudara-saudaramu

Nasibnya pahit. Matanya buram

Dan engkau, anakku

Jangan sia-siakan mendaki dari lembah ke bukit

Karena usia dan kesempatan

Tak akan pernah bersahabat dengan kelalaian

Meskipun air matamu tercurah di perut bunda

Tangismu cumalah duka bumi

Penyesalan yang berkepanjangan”

Terima kasih, guruku

Nafasmu adalah suluh pengembaraan

Kami kenangkan semua itu

Seperti juga hari ini ketiuka engkau melepaskan kami dengan senyum

Matapu pijar memancarkan harapan yang kental

Menyulut api dalam dada

Mengantarkan kami ke depan pintu gerbang kemerdekaan

Samudra ilmu yang maha dalam

Iqra’ bismirabbik

Terbaca sudah

Cahaya rimba raya belantara-Mu

Bulukumba, 1989

Sumber: Antologi Puisi “Bulukumbaku Gelombang Bersinar”, Dewan Kesenian Bulukumba, 2001)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: