Membicarakan Antologi Puisi Guru “Cerita Kita Bersama” Editor Badaruddin Amir*)

Oleh Hendragunawan S. Tayf

(Sastrawan dan Dosen Fakultas Ekonomi Unhas)

(1)

 

Bagaimanakah kita dapat memaknai upaya bersama dari 17 guru, sebagian besarnya adalah guru bahasa Indonesia, yang mengumumkan karya-karya puisi mereka dalam antologi puisi “Cerita Kita Bersama” ? Ada dua perspektif yang dapat digunakan dalam perjalanan menelusuri dunia kreatif para pendidik kita ini. Pertama, persfektif edukasional; kedua, perspektif literer.

 

(2)

 

Perspektif pertama tak pelak kita gunakan katrena dua alas an: buku ini terbit sebagai salah satu luaran (output) dari program PRIMA Pendidikan, yang salah satu tujuannya adalah, sebagaimana yang dipaparkan Dr. Norimichi Toyomane (Ketua Tim Ahli JICA-PRIMA Pendidikan) dalam sambutannya, untuk memotivasi para guru agar dapat lebih kreatif dalam proses pengajaran dan pembelajaran dan juga untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi terlaksananya kedua proses tersebut. Selain itu, dan sekaligus menjadi kekhususan antologi ini, latar profesi para penyairnya membuat antologi ini memiliki nilai lebih dari sekedar karya kreatif.

 

Penyair Tri Astoto Kodarie, Hendragunawan S.Tayf, Muhary Wahyu Nurba, dan Badaruddin Amir saat peluncuran antologi puisi "Cerita Kita Bersama" (Foto: Iqbal)

Lebih dari satu dasawarsa lalu, dunia pendidikan kita (khususnya pendidikan bahasa dan sastra) menjadi sasaran sorotan dan keluhan para pengamat pendidikan dan kebudayaan, semisal Taufik Ismail. System pengajaran sastra yang mekanis,kandungan kurikulium yang sekedar memaksa siswa menjadi penghapal daftar terbitan dan synopsis, serta kualitas para pengajarnya (yang kemungkinan sama sekali tidak memiliki minat terhadap karya sastra itu sendiri), adalah tema-tema utama dari kritikan tersebut.

 

Beruntung para kritikus tadi tidak sekedar meluncurkan isu, tapi juga ikut aktif merancang dan mengimplementasikan tindak solutif; sejak akhir tahun 1990-an hingga paruh pertama tahun 2000-an misalnya, majalah Horison bekerjasana dengan sejumlah instansi terkait telah meluncurkan setidaknya dua program penting yaitu MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) untuk guru, dan SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya) untuk siswa. maka sejumlah nama-nama besar sastra yang sebelumnya mungkin hanya dikenal namanya melalui media cetak dan buku-buku sastra, turun ke sejumlah kota di Indonesia dan berdialog secara tatap muka dengan siswa-siswa sekolah dan juga para guru. Majalah Horison bahkan mendedikasikan rubrik Kaki Langit yang terbit tiap edisi untuk menyiarkan karya-karya para siswa beserta ulasannya yang dilakukan oleh sastrawan senior.

 

 

Tri Astoto Kodarie, Hendragunawan S.Tayf, Muhary Wahyu Nurba (Foto: Iqbal0

Kebangkitan “sastra abu-abu” telah terjadi pada saat itu, dengan para pelakunya yang juga masih berseragam abu-abu (bandingkan dengan fenomena penulis majalah remaja seperti Hai, Gadis, dan Anita Cemerlang). Terlebih lagi, reformasi politik ternyata juga berimbas pada dunia penerbitan kita: penerbit yang mapan menjadi lebih terbuka menerima buku-buku maupun penulis-penulis remaja; penerbit-penerbit independen bermunculan; bahkan hanya berbekal printer murahan, seorang dapat menjadio penulis buku-buku yang dicetak on-demand (“Anda pesan, kami cetak”); tidak ingin keluar ongkos cetak dan pasang harga, sastra on-line jawabnya.

 

Tetapi bagaimana dengan guru-guru mereka? Harus diakui, bahwa kita memperoleh, bahwa kita memperoleh pendidikan sastra lewat gaya pengajaran model lama, di mana hafalan tentang judul, penulis dan synopsis karya enjadi menu utamanya. Dalam iklim pengajaran tradisional itu, jangankan untuk menjadi penulis karya sastra, untuk sekedar membacanyapun minat kita begitu rendah.

 

 

Hendragunawan S.Tayf saat mempresentasikan makalahnya (Foto:Iqbal)

Dengan latar seperti yang telah diuraikan, kita patut menyambut gembira kehadiran buku kumpulan puisi ini. Para guru yang karyanya dimuat dalam antologi ini setidaknya telah memiliki legitimasi professional untuk menghajarkan sastra kepada paraa siswa: “Saya mengajar dan telah bmelakukannya !”. Selain itu buku ini juga dapat layak untuk dimasukkan sebagai bagian dari muatan lokal dalam pengajaran sastra. Daripada (hanya) mempelajari karya pengarang yang dating dari tempat atau masa yang jauh, bukankan lebih baik untuk mengapresiasi karya sastrawwan local kita sendiri, yang dekat di mata, dekat pula di hati ?

 

Bagi para siswa, tentu akan lebih mudah untuk mengapresiasikan karya-karya yang dihasilkan oleh penulis yang memiliki latar social cultural dan lingkungan fisikal yang sama dengan mereka. Kedekatan dan keakraban personal dengan symbol, majas, citraan dan asosiasi yang terdapat dalam sebuah puisi akan membuat karya itu jauh dari kesan asing dan angker dalam pandangan pembacanya.

 

(3)

 

Apakah puisi itu ? Siapakah penyair itu ? Dan, bagaimanakah puisi yang baik itu ?

 

Sebagian peserta sedang pengikuti ulasan pemakalah (Foto:Iqbal)

Kita dapat mengutip sejumlah definisi dan criteria dari sederet referensi sastra untuk menjawab ketiga pertanyaan fiundamental ini.

 

Tapi ada alternative yang “nakal” untuk ketiga soal tadi:

  • Puisi adalah segala karya yang dianggap puisi oleh penyairnya.
  • Penyair adalah setiap orang yang menulis puisi (ya, ini definisi sirkuler yang buruk !)
  • Puisi yang baik adalah puisi yang dapat dinikmati oleh orang lain, minimal oleh penyairnya sendiri sebagai pembaca pertama. Semakin banyak yang membaca suatu karya puisi dan bersepakat bahwa puisi itu dapat dinikmati, semakin baik pula puisi itu.

 

 

Ini jawaban yang sangat individualistic dan sekaligus (berpotensi) anarkis, tentu. Tetapi kita perlu mendamaikan Chairil Anwar, yang pernah memaklumatkan: “Yang bukan penyair tidak ambil bagian” dengan Badaruddin Amir (editor antologi ini) yang masygul karena klaim sepihak itu dapat memencilkan karya sastra (sebagai bahan ajar) dari para pengajarnya dan karya sastra (sebagai objek kreatif) dari para penikmatnya.

 

Sebagian peserta peluncuran buku "Cerita Kita Bersama" (Foto: Iqbal)

Dengan tiga definisi dasar tadi, Anwar dan Amir sama-sama benar; “Yang bukan penyair (memang) tidak (perlu) ambil bagian”; untungnya, siapa pun (juga) bisa menjadi penyair. Sebuah karya yang setelah ditulis ternyata membahagiakan penulisnya sebagai pembaca pertama, sehingga si penulis itu sendiri memutuskan untuk terus menyimpannya dengan rapih dan memberikan titimangsa kepadanya dan mungkin dengan tambahan vinyet dekoratif, tentunya sudah layak disebut puisi. Sekedar soal niat dan kesepakatan.

 

Selanjutnya, berapa baik suatu puisi dan berapa kuat seorang penyair, bergantung kepada persetujuan yang dapat diraih dari pembaca kedua, ketiga, keempat, kelima…, keseratus, …keseribu lima, dan seterusnya. Yang jelas: setiap karya layak dikhalayakkan untuk menguji kelayakannya. Dan khalayak terdekat adalah khalayak lokal kita.

 

(4)

 

Setiap pemilihan tematik yang berbeda ini mungkin membayangkan adanya target pembaca atau setidaknya karakteristik pembaca yang berbeda pula. Namun, apapun temanya, yang penting tekniknya (meminjam iklan minuman dingin).

 

 

Mengangkat tema-tema lokal (sosok historis ataupun mitologis, tradisi cultural tertentu, ataupun sekedar bentangan alam) pada dasarnya merupakan langkah tepat untuk meningkatkan proksimitas (kedekatan dan keakraban) suatu karya dengan pembacanya, seperti dalam sejumlah sajak Rusdi Yusuf, Muhammad Basir Rusly, dan Faisal Yunus sebagai berikut :

 

OH TANAH BERU

Tabe puang

Berpuluh kilometer aku datang Puang

melintasi Butta Marusu

menapak tanah Seribu Pulau

Aku datang bukan sebagai tamu

Aku datang sebagai anak hilang

setelah seabad Moyangku bersemayam dalam dekapmu

di pusara abadi Pahlawan Berru di Sumpang

Tabe Puang

Tanah Berru yang kupijak kini

bagaikan bayi tertidur

bagaikan anak kehilangan Bundanya

bagai ayam jantan yang tak berkokok

kemana kejayaan Kerajaan Berru

kemana kejayaan Kerajaan Tanete

kemana kejayaan Kerajaan Nepo

kemana…………….Puang

Puang

Kau diapit oleh tanah Seribu Pulau di selatan

Kota Bandar Madani di utara

Kota Kalong dan Songkok To Bone di timur

mereka bangun dari tidurnya

singsingkan lengan, membangun diri

tapi kita Puang

mau kemana kita Puang ……..

Tabe Puang

aku terbuai ditiup semilir angin

di bibir pantai Ujung Batu

melihat indahnya pantai Garongkong

keramahan To Bentong di Pujananting

kokohnya rumah adat Lapinceng

sejuknya udara pegunungan Kalompie

Tabe Puang

ayunan gelombang merayu perahu-perahu nelayan

mencari ikan di laut Sumpang Binangae

gerakan gemulai tangan petani

memanen padi bagai emas terhampar bak permadani

tak berujung di tanah Berru

tangan terampil menari mengukir batu di Tanete Riaja

tekunnya perajin batu di Mangkoso

sadarkah kita Puang

betapa kaya Tanah Berru

dengan mutu manikam yang melimpah

berkah Yang Kuasa

Sumpang Binangae Barru, 17 Mei 2005

(Oh Tanah Berru, Rusdi Yusuf)

 

 

ODE BAGI RETNA KENCANA COLLIQ PUJIE

Panggung sejarah pejuang Bugis tanah Berru

Menghantarkan kisah, membagi asa

cerita heroik perjuanganmu

di bumi Pancana nan elok permai

Retna Kencana Colliq PujiE Datogna La Pagellipue’

di wariskan dari pijar peradaban Arung Pancana Toa

Menggugah rasio, menguak karsa Colliq PujiE

Menulis sastra utuh La Galigo

Retna Kencana Colliq PujiE Arung Pancana Toa

Sepuluh tahun terasing,

terbelenggu jeruji  besi,

imbas ketidakadilan kolonial Belanda

Melahirkan kebencian,

dendam kesumat,

terpatri di ubun-ubun

menghentak!

bak palu raksasa ke bumi Pancana – Lamuru

Tekad bulat, niat suci

melepaskan diri dari rantai tirani feodalisme

Bersumpah demi tanahku

Tanah Ogi Berru nan indah

Bertahan di tanahku adalah harga mati untuknya!

Aksara “Bilang-Bilang” angka rahasia meneguhkan peradaban

Hingga sejarah bersaksi dan menorehkan tinta emas

Feodalisme tak lagi pantas di bumiku!

Colliq PujiE Arung Pancana Toa

Sembilan belas abad silam berlalu dari khadiranmu di bumi pancana

Sungguh edan dan tak adil, bila anak negeri era ini tak tahu menahu sejarahmu

heroikmu,  kecerdasanmu, keperkasaanmu, ataupun keunikanmu!

harusnya mereka simak dari referensi dan literatur sejarah pejuang Bugis tanah Berru

Tanpamu!

Sampan nelayan tak mungkin  tertata rapi di bibir pantai

Nelayan enggan berlabuh walau terhimpit ekonomi

Riak ombak tak leluasa bercanda

bermain bersama panorama dasar laut

Pohon bakau enggan berdiri gagah

laksana pasak hitam menancap kokoh tembus bumi

Dan kini !

Kemerdekaan telah kami nikmati dengan indah

Colliq PujiE

Perempuan cerdas, dan perkasa milik dunia

Harum namamu pantas bersanding bersama

Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Meutia

di deretan pejuang Pahlawan Nasional

Takkalasi, 2009

(ODE BAGI RETNA KENCANA COLLIQ PUJIE, Muhammad Basir Rusly)

 

 

SYAIR DALAM PELUKAN COLLIQ PUJIE

Pancana memeluk rohku

Romantis membelai lembut

Meninabobokan dalam nafas syair lontara

Hingga kuhanyut bersama sampan nelayan ke muara.

Menapak bumi Pancana

Roh leluhur mengusungku ke abad silam

Menyaksikan keperkesaan perempuan Bugis

Menantang peradaban yang mengungkung

Dan tirani akkarungeng yang memasung.

Lahir dari titisan darah biru

Tetapi sahaja dalam prilaku

Dijunjung dan disanjung

Namun tak pongah dalam memandang

Retna Kencana Colliq PujiE

Meski engkau dihujat karena fitnah yang mendera

Hingga murka sang ayah

Engkau tak goyah

dari tekad nan tulus

Menjalin syair di atas daun daun lontara !

Pancana, April 2009

(“Syair dalam Pelukan Colliq Pujie”, Paisal Yunus)

 

 

 

Sebagian memilih ekspresi personal (Hikmah Mukaddas, Sayyid Ruslan, Munirah Muchdini, seperti yang terbaca pada puisi berikut :

 

INGIN KULAFASKAN NAMAMU TANPA JEDA

Selalu ingin kulafaskan namamu tanpa jeda

Ketika hujan dalam sujudku membahana

Dan ketika ranting-ranting kerinduan menggigil

Dalam gulita yang takkan pernah mengecup pelita dengan mesra

Acapkali nyanyian kematian ini meluluhlantakkan tangisku

Saat tanganku melepuh oleh bayang-bayang yang selamanya membayang

Kini nafaspun tersaruk memahat nama tak lagi bertuan

Selalu ingin kulafaskan namamu tanpa jeda

Walau fatamorgana merantai

Dan kau takkan mungkin tiba

Dan kau takkan mungkin hadir

Barru Januari 2007

(“Ingin Kulafasklan namamu tanpa jeda”, Hikmah Mukaddas)

 

 

DI PELUPUK MALAM

Di pelupuk malam doa teruntai

Seiring desir angin berlalu di batas fajar

Dan gerimis tercurah ke bumi

Pada bulan Ramadhan di lembah Newi

Angin menyapa hati pun tersentak

Tak kala kasih senandungkan rindu

Bunga kuncup mekar di kalbu

Di selah keterjagaan malam tanggal dua satu

Bunga menari tertiup angin

Pohon kamboja diam bertafakkur

Sementara bulan tsabit tersenyum menyambut imsak

Wahai senandung rindu

Engkaukah yang membuat Musa lari dari istana Fir’aun

Lalu mengembara mencari cinta

Membela lautan dan berlari menuju kehidupan baru

Wahai senandung rindu

Engkaukah yang membuat Bilal menahan sesak di atas himpitan batu

Di atas terik zaman yang menyayat hati

 

(“Di Pelupuk Malam”, Sayyid Ruslan Abdullah)

 

 

 

AKU TIDAK SEDANG BERMIMPI

Jangan meratapi kehadiranku

Sebab aku telah mengenalmu

Dan terjebak dalam keangkuhan

Jiwa kita masih saja berputar

Dalam fana tersungkur getirnya

Kamu kepingan cahaya

Menyeretku membuka kembali tabir kesenyapan

Ketika engkau tiba-tiba hadir

Merengkuh kelam dalam derail tawa

Bahwa aku tidak sedang bermimpi

Bojo 4 Juni 2009

(“Aku Tidak sedang Bermimpi”, Munira Muchdini, SS)

Juga deskripsi latar professional (Syamsul,. Suraedah, Hikmah Saputri sebagaimana yang terbaca pada berikut ini :

 

 

KHOTBAH  DI  KELAS

Aku harap engkau

Beribu bisa  terpatri

Setiap kupancarkan setitik ilmu

Kudidik ututr dan laku

Lewat khotba di kelas

Kerling kelas damai kurindu

Aku harap engkau bisa

Berjalan berketentuan

Tutur  terpelihara

Dan keangkuhan hidup terpelihara

Tirulah mereka yang jadi

Benih kemalasan itu ada

Jangan  diberi obat

Asah hati dan pikir

Masa muda perlu ditata

Jangan   biarkan lonceng kebododhan bersahutan

Dan palu kegagalan diputuskan

Khotbah kedua dikelas

Teriring doa

Semoga  engkau bisa

 

(“Khotbah di kelas”, Syamsul)

 

 

 

SOSOK PENDIDIK

Dengan pakaian dinas sederhana

Ia berjalan mantap menenteng tas penuh buku-buku

Melangkah tanpa ragu menuju ke tempat tugas

Sebuah sekolah jauh di pelosok di desa

Sorot matanya penuh keagungan

Tatapannya penuh keteguhan

Tingkahnya amat bijak

Bicaranya penuh kearifan

Pundaknya tersangkut beban

Obor dalam gua kebodohan yang gelap

Lentera di gubuk rapuh

Embun penawar dahaga di padang luas

Berdiri agung di depan kelasku

Bibirnya manis sederhana

Sejuk mata memandangnya

“selamat pagi anak-anak”

Katanya sebelum memulai pelajaran

Ia bicara pelan penuh wibawa

Menjelaskan tiap baris pelajaran

Murid-murid memperhatikannya

Ia penabur ilmu di pesemaian

Tak pernah ingin ikut sebagai penuai

Hanya syukur tawaddu terucap dari bibirnya yang manis

Itulah sosok guruku yang selalu kukenang

 

(“Sosok Pendidik”, Suraidah)

 

 

ILMU DAN KEKUATANNYA

Dunia bias kujelajahi dengan pemikiran yang cemerlang

Terbang bagai burung elang di angkasa sebagai pemangsa

Siapa dating pasti diterjang

Siapa melawan pasti ditendang

Ha ha ha

Wahai kawan apakah engkau ingin seperti  itu

Terbang diapit kedua sayap sang pemangsa

Jauhlah engkau melangkah

Buanglah semua kepenatan dalam hati

Raih dan temukanlah jati diri yang hamper mati

Dengan ilmu kamu bisa menggenggam isi jagad dengan kepalan tanganmu

Dengan ilmu bumi akan menengadah dan patuh kepadamu

Dengan ilmu langit akan tunduk dan terpaku melihatmu

Dan dengan ilmu semuanya akan mudah buatmu

 

(“Ilmu dan Kekuatanjya”, Hikmah Saputri)

 

 

Selain itu narasi social (Awaluddin Syaddad, Juhri, Sudarmi dapat kita nikmati sebagai berikut :

 

MENGAPA?

Ukiran aturan terpahat indah

Seindah sentuahan manis pengukir

Ide-ide terselebung dalam benak dan karsa

mengalir bak air

Mengulas senyum syarat makna

Mengapa

Ukiran aturan itu dibakar

Bersama seluk belukar nista

Padahal kamu tahu

Itu bertentangan dengan hati nurani

Idealisme disemai

Dalam dasar hati

Mengapa

Idealisme terlumat waktu

Tangan lembutmu kian kasar

Terpenjara fatamorgana dunia

Tergagahi rayuan asmara

Aku pun tak tahu

Mengapa kapitalisme kamu semaikan

Bersama korupsi, kolusi, dan nepotisme

Padahal jeritan radar hati kian meraung

Hingga jeritan itu tak mampu lagi menjerit

Mengapa

Kapitalisme itu tak kau layukan

Padahal kamu tahu

Dapat leburkan anak bangsa

Boneka-boneka anarkis terus tercipta

Tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, hingga abad

Dari perselingkuhan di lembah aturan abu-abu

Mengapa

Anarkisme tak kau gugurkan

Padahal kamu tahu

Akan hancurkan mahligai cinta

Akupun tak tahu

Kamu berpijak di mana?

Mandalle, 6 Oktober 2007

(“Mengapa”, Awaluddin Syadad)

ZAMAN EDAN

Katanya bangsa ini merdeka………….?

Kata siapa…………?

Jangankan memegang intan pulpen pun sulit.

Hanya sabit dan cangkul tua yang lapuk

Menggali dan mengorek ubi-ubi hutan

Digubuk- gubuk petani renta, garam menumpuk

Tak ada lauk tak ada pupuk tak ada kasur empuk.

Gubuk tak berjendela.

Bangsa ini tanahnya subur………

Namun bukan berarti pupuk bisa ditimbun

Mengapa rakyat bangsa ini hanya sanggup makan bubur…..?

Petani, buruh menanam benih di tanah gembur

Hasil yang melimpah di lumbung-lumbung

Namun bukan untuk perut anak-anaknya

Mereka menuai untuk tuan tanah yang mempunyai istana.

Di trotoar gembel-gembel belum makan

Mereka hanya mampu mengusap pusar mereka.

Sudah tak ada yang perduli

Karena matinya impati pemimpin bangsa ini.

Kehidupan macam apa ini………..?

Zaman edan macam apa ini?

Di sekolah diajarkan tatakrama

Namun tauran antar pelajar menjadi tontonan

Rasa malu telah lenyap oleh nafsu.

Guru didemo………..

Guru dihina………

Guru dipenjara…..

Atas dasar perlindungan maka siswa seenaknya menggurui,

Melawan dan membangkang

Hebat yah……….

Mental macam apa yang akan kita wariskan bagi generasi ini…..?

Cengeng……., kerdil dan tak bertanggung jawab

Mental itulah warnai bangsa masa depan.

Mafia –mafia pradilan gentayangan

Kepastian hukum tak menentu

Pocong- pocong rakyat jelata berjingkrak-jingkrak mencari perlindungan & keadilan.

Kitab undang – undang dibuat dan dirubah sesuai keinginan penguasa.

Pasal-pasalnya mendukung kekuasan dan uang

Hakim disuap

Jaksa jaksa meng-embat

Polisi tak jelas……….

Wahai, Tuan – Tuan…………di manakah kamu letakkan Tuhan?

Kenapa engkau taburkan kebingungan.

Hukum yang amburadul.

Yang salah engkau biarkan tertawa

Yang benar mendekam di penjara.

O……… zaman edan macam apa ini ?

Ini bukan keluhan dan kritikan.

Karena tak ada bedanya kesengsaraan dan kebahagiaan

Hanya menunggu masa selanjutnya.

Mungkin kami hidup di zaman yang serba edan.

Tak ada pahlawan tak ada perjuangan.

Seharusnya anak bangsa ini bertopeng

Agar wajah-wajahnya tak terlihat oleh para pahlawannya

Hai Tuan – Tuan penguasa…………….

Kau dipilih bukan untuk dilayani tapi melayani

Bukan untuk menindas tapi mengayomi

Ini teriakan parau suara rakyat jelata

Yang hanya mampu menangis ditepian  kaca jendela.

Bone, 05 November 2009

(“Zaman Edan”, Juhri)

NYANYIAN JIWA RAKYAT KECIL

Eeeee………

Alunan itu menggetarkan jiwa

Menggeliatkan batin

Tapi raga setia dalam kebekuan

Hari ini kami mencoba mengenang kembali para pejuang kota kecil ini

Kota kecil yang selama ini telah mencatat berjuta sejarah kehidupan

Walau mereka terkadang hanyalah dianggap sebagai legenda nyayian jiwa.

Namun kami sebagai rakyat kecil senantiasa resah

Dan ketakutan semakin membalut

Kerena zona hidup yang semakin terpuruk

Dengan fatamorgana sosial yang tanpa aral

Kami rakyat kecil hanya mampu mengalunkan nyanyian jiwa

Hanya mampu memberontak dalam ketakberdayaan

Karena kami pun sudah merasa tak terlirik.

Wahai para atasan…..

Para pemimpin….

para pilihan rakyat

Janganlah terperangkap sunyi !

Tengoklah kebelakang kedalam sejarah perjuangan para pahlawan.

Liriklah rakyat kecil yang arungi samudra tak bertepi

Demi asa yang terus berlari

Jangan engkau biarkan mereka tenggelam

Dalam lumpur kecurangan

Tiram kedustaan

Ketika malam tiba engkau pulas ditilam emas

Dengan dayang sang bidadari

Berselimut kehangatan tubuh sepanjang malam

Namun di sana…

Bayi-bayi yang baru lahir menjerit melihat dunianya.

Orang-orang jompo menggigil di tepian jembatan.

Sungguh kontradiksi

Tanyalah mereka wahai pemimpinku…

Apa yang mereka inginkan ?

Eeeee……

Bone, 05 November 2009

(“Nyanyian Jiwa Rakyat Kecil”, Sudarmi)

Atau tema filosofis yang universal sebagaimana yang terbaca pada puisi Teratai Malam dan Badaruddin Amir :

 

PETI ITU PETI INI

Nasaruddin dalam sajadahnya

Dan dia memikirkan dunia ini

Ternyata dunia ini

Adalah sebuah peti

Peti itu peti ini

Tapi sebuah peti yang tertutup rapat

Dan kita manusia berada dalam peti itu

Dan kita terkurung di dalamnya

Dan kita tertawa di dalamnya

Dan kita menangis di dalamnya

Dan kita beranakpinak di dalamnya

Dan kita, mati di dalamnya

Lalu kita dibuatkan peti di dalam peti itu

Lalu kita menunggu di dalam peti itu

Dan sampai pada

Tak ada lagi yang membuat peti

Di dalam peti

Oktober 2009

(“Peti Itu, Peti Ini”, Teratai malam)

DIABOLIC PACT

maka jadilah

karena Tuhan mengisyaratkan jadilah

tapi aku yang lahir sebagai anak Jadah

dari serbuk api yang menanggung kesesatan abadi

telah berjanji akan melehkan semesta

jagadraya manusia jadi kristal-kristal bening

bertuba yang jatuh pada benua

tempat dulu adam dan istrinya siti hawa

terlontar ke dunia sehabis mendekati

pohon larangan

di sana adam beranak cucu

kugoda agar mereka hidup dengan rasa cemburu

memakan bumi ciptaan-Nya segumpal-segumpal

hingga mereka jadi kenyang sekenyangnya

lalu mereka pesta berbunuh-bunuhan

perang-perangan antara saudara

di padang-padang kerbala

sebagai habil dan kabil pada mulanya

yang satu mati yang lain pahlawan katanya

astaganaga !

demi api atau apa saja

yang adalah ciptaan-Nya jua

aku bersaksi sebagai mahluk durhaka

berasal dari jagad yang berbeda

membawa dendam dan luka lama

yang pertama

aku berteriak tanpa suara

ke segenap penjuru dunia

suaraku yang gaib ngembara ke mana-mana

dan terpantul di kaca bias hati manusia

–          di mihrab atau di mimbar para rahib dan ulama

sia-sia menerbangkan burung-burung cahaya

karena di hati tak tersedia sarang menerimanya

astaganaga !

seribu iblis telah menanti

jadi mahluk yang kejam kini

di matanya ada dendam

dan di hatinya luka lama mengeram

berkobar kembali beranak pinak

bercucu-cicit mencarimu

maka larilah ke sanggup anganmu

dan dia akan mengejarmu

aku patokkan target berantai

pada setiap hati anak cucumu

yang bersekutu denganku

yang lain akan kugoda memperkosa

dirinya

atau jabatannya

atau kekuasaannya

yang lain lagi kubisikkan agar

memperkosa saudaranya

atau ibu-ibunya

atau anak-anaknya sendiri

atau sekretarisnya yang seksi

hingga melahirkan mahluk asing lain

yang serupa tabiatku

sedang yang mengaku punya martabat

terpaksa kuwariskan tabiatku dengan kloning

seperti wilmut melahirkan dolly

setelah itu kubuat ia menderita depresi

mengidap virus HTLV-III atau AIDS

atau kesepian yang berkepanjangan

yang mengantarnya pada upacara bunuh diri

kubekali dendam dan luka lama

yang berkobar kembali

karena aku adalah api

dan yang lain lagi kugoda agar berselingkuh

dengan sopir-sopir pribadinya tanpa mengenal kelamin

dan derajat yang disandangnya

atau berzina dengan tetangganya yang muda-muda

astaganaga !

kubiarkan affair ini berjalan tanpa alur

agar tak terkendali bagi yang mencoba jadi sutradara

sehingga drama ini alot berlangsung sepanjang masa

sampai melahirkan beribu mahluk baru sebagai pelaku

yang sepi membawa dendam dan luka lama

yang pertama

seperti yang tercatat dalam buku harian-Nya

aku ini mahluk sombong dan durhaka

tugasku menggoda anakcucu adam yang lalai

hingga mereka durjana semua

kecuali yang berpegang pada tali

yang diulurkan kepadanya

setiap waktu

setiap menit

setiap detik

setiap tarikan nafas

setiap detakan jantung

dengan merjam-merjam zikir

yang memancarkan cahaya-Nya

tapi aku mahluk lain yang cemburu

sepi berkepanjangan menerpaku

tanpa angan-angan tanpa kemauan

tanpa ikhtiar tanpa apa kecuali api

api

api

api

api

hingga harus lahir kembali setiap saat

mengejawantah

tanpa kun-Nya lagi

astaganaga !

Barru 2001

(“Diabolic Pact”, Badaruddin Amir)

 

 

Ada keuntungan tersendiri dalam memilih tema pertama: karena berbicara tentang sesuatu yang dekat secara fisik dan emosional dengan diri penulis, kita akan lebih fasih dan terlibat pula dalam menuliskannya. Namun untuk tema-tema lainnya, dibutuhkan persyaratan teknik dan keterampilan penguasaan alat-alat puitik yang ekstra untuk menggarapnya. Contohnya dapat kita lihat pada sajak- Faisal Yunus: “Syair dalam Pelukan Coliq Pujie” yang terasa lebih menonjol kekuatan puitiknya dibandingkan dengan sajak-sajak yang ia tulis pada tahun 1996.

 

Secara teknis sajak-sajak Hikmah Mukaddas, Rusdi Yusuf dan Juhri telah menampakkan adanya konsistesi dan penguasaan teknik serta alat puitik yang lebih menonjol. Tetapi ini tidak berarti bahwa sajak-sajak lain tidak menjanjikan harapan perkembangan kreatif yang sama dari para penyairnya. Bagi setiap penyair, pertanyaan tentang sajak bagaimanakah yang akan terus ia lahirkan di masa mendatang, selalu lebih menantang dari pada pertanyaan tenang bagaimanakan sajak yang ia lahirkan sekarang.

 

Sebagai catatan tambahan terkait dengan aspek teknis, dapat saya tambahkan beberapa pengamatan umum yang kiranya p[erlu menjadi perhatian :

  1. Pemilihan teknik dan gaya penulisan dari para penyair nampaknya memiliki cirri tersendiri dari perkembangan sastra nasional terkini. Ini dapat mengindikasikan dua hal: bahwa para penulis local telah memilih dan memiliki warna tersendiri atau bahwa dinamika sastra kontenporer belum begitu cukup menerpa wilayah-wilayah tepi.
  2. Terdapat sejumlah kecendrungan penulisan seperti penggunaan kata-kata atau frasa abstrak (“idealism”, “talenta”, “fatamorgana social”, “interval kebimbangan”), pemakaian kata-kata atau frase beku (“asa”, “elok/indah ronamu”), dan ketaksaan kalimat (“bahtra simetris tak simetris”, “dan palu kegagalan diputuskan”, “kuatkanlah kekesalan yang membelenggu jiwa raga”) dan penggunaan tanda baca yang intensif (tanda kutip dan titik-titik). Kecendrungan-kecendrungan ini, ketika hadir secara berlebihan, tentunya dapat mengurangi keutuhan penikmatan sebuah sajak.

 

Namun, terlepas dari dua catatan teknis di atas, saya sepakat bahwa para penyair dalam antologi ini telah melahirkan karya yang layak kita sebut dan nikmati sebagai puisi…

 

Tulisan ini dipresentasikan penulisnya pada peluncuran huku Antologi Puisi “Cerita Kita Bersajma”, yang merupakan rangkaian kegiatan Prima Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan di Kabupaten Barru, dihadiri oleh tiga daerah Jeneponto, Wajo, dan Barru.

 

2 Tanggapan to “Membicarakan Antologi Puisi Guru “Cerita Kita Bersama” Editor Badaruddin Amir*)”

  1. mantap (Y)

  2. arya putra devangga Says:

    mantapp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: