Mawar Pucat

Puisi Ronny Rondonuwu

engkau benih kurus yang tercampak

oleh kehidupan…diinjak oleh sejarah

engkau mawar pucat…!

tumbuh di antara batu-batuan

berakar di tanah kering gersang

hidupmu tandus, masa depanmu pupus

siallah engkau, hai mawar pucat…

yang terasing dan tersendiri

di taman kehidupan dan sejarah ini

dalam taman yang hiruk-pikuk…dan sepi…

membahana…dan senyap…

engkau tetap sunyi sepi

sendiri…terasing selamanya

 

engkau tumbuh ditindih batu-batuan

berakar di kegersangan taman

kehidupan dan sejarah

siraman air kehidupan

tidak menyentuh daunmu

tidak merayapi akar-akarmu…

untuk engkau berkembang

menyebar wewangimu

 

engkau sial…dan mungkin terkutuk

hai mawar pucat

engkau mungkin benih baik

tapi tidak berinduk untuk menyiramimu

dengan kasih sayang dan mengajarimu

untuk bisa tumbuh baik dan benar

engkau dilepas terlalu bebas

dalam taman kehidupan dan sejarah

yang terlalu kejam walau terhadap benih baik

dalam tamannya yang gersang

dan menghimpit, menyesakkan…

taman, di mana mawar busuk, onak-duri

dapat tumbuh dengan subur

 

ach,…hidupmu sudah terlalu larut

untuk tumbuh di tempat yang tepat

engkau sudah terlalu kasip

untuk menyadari…mimpi-mimpimu

 

masalahmu, hai mawar pucat…mimpi-mimpimu

masalahmu, hai mawar pucat

mempertahankan baumu dengan kelayuan

kesayuan kesendirian dan kepucatanmu yang

kuyu

masalahmu, hai ,awar pucat

engkay berlomba dengan awal dari akhirmu

 

masalahmu, hai mawar pucat, nafas-nafas

mu yang terakhir hanyalah untuk mendapatkan

waktu dan kesempatan

bagimu agar benih-benihmu

mendapat suatu tempat

untuk bisa tumbuh dengan benar, baik dan patut

sepertitik tetes merupakan

nasibmu…rejekimu

untuk bekal kelanjutan

engkay dan benih-benihmu dalam taman ini

dan kelayuan, kesayuan

kesendirian dan kepucatanmu

engkau masih bergelut

dengan mimpi-mimpimu…

 

tetapi, mujurlah engkau, hai mawar

dan benih-benihmu

dibayangi oleh mawar merah segar

cemerlang harum mewangi semerbak meresap…

mujurlah engkau masih mendapatkan

kilatan cahaya cemerlangnya

mendapatkan percikan air kehidupannya

mendapatkan naungan kebesarannya

sehingga engkau diselamatkan

dari mati kering-kerontang

terhempas bersama benih-benihmu…

hai mawar sial, pucat, sayu, layu sepi sendiri

 

engkau telah kuyu, tanpa peranan, tanpa makna, tanpa

arti dan tanpa wangi dalam taman kehidupan dan

sejarah ini !

jangan untuk bisa memekar

dengan baumu sendiri

untuk mempertahankan kelopak

sayu, layu dan pucatmu itu saja

akar-akarmu harus menerobos kegersangan…

tubuhmu harus menguak batu-batuan

yang menindihmu…

 

kegersangan, batu-batuan kehidupan

dan sejarah bukan milikmu sendiri

tetapi engkau hendak bertahan

dengan baumu, dengan…mimpimu…!

engkau berada di antara mawar-mawar lainnya

yang cemerlang atau layu

yang terinjak dan tercampak

atau yang tumbuh mekar berkembang

mewangi atau membusuk….!

masih ribuan mawar lainnya yang senasib

maupun tidak sesial engkau

yang oleh pemilik taman ini

diberikan matahari kehidupan

dan air kenikmatan

 

tetapi ada yang tumbuh berkembang

di sudut-sudut yang menyolok

di tempat-tempat yang subur gemuk

yang merengut sinar dan melahap air kehidupan

secara serakah…

 

banyak mawar, engkau tahu

yang berkembang semarak

bagai flamboyan subur gendut

tetapi…berbau bangkai !

 

wahai mawar sial,

syukurlah engkau tahu

bahwa pemilik taman kehidupan dan sejarah ini

tahu apa yang akan terjadi

sampai mke ujung-ujung akar

setiap mawar di tamannya…

 

tetapi, engkau tetap bermimpi, ingin tumbuh cepat

dengan cara dan tujuan yang benar

di tempat yang salah…

siallah engkau, yang layu, sayu, terasing

sunyi sepi sendiri yang bergumul

dengan sepercik air dan sinar redupmu sehari-hari

yang tidak mampu menguak batu-batuan

yang menghimpitmu

ya kehidupanmu

ya sejarahmu

ya tempatmu tumbuh…

engkau bergelut, bergumul agar baumu sempat tercium

agar batang segarmu sempat terintip…

 

tetapi, mujur dan bersyukurlah engkau

karena engkau tahu, pemilik taman tahu

bahwa masih ada taman lain

bagi sesuatu kehidupan tanpa sejarah…

taman, bagi akar-akar yang mereguk

kecemerlangannya dan kenikmatannya

dari kenistaan…

taman, bagi akar-akar yang sehar, benar

segar cemerlang mewangi

dan bagi yang kering keropos dan mati tanpa bau

pasti ada taman, bagi mawar yang

mempersiapkan tem,pat yang lebih baik bagi

benih-benihnya

dan bagi mawar-mawar sial, layu, pucat lainnya

suatu taman yang bebas hama dan kenistaan

di antara mawar cemerlang mewangi

dan busuk membangkai

hai mawar pucat, sayu, layu dan kuyu

engkau masih mempunyai wangimu sendiri

dan, hanya pemilik taman dan engkau yang tahu

yang lain belum sempat tahu

mungkin tidak pernah akan tahu, atau tidak perlu tahu

bahwa setiap mawar telah

ditentukan pemilik taman…

 

mempunyai baunya sendiri-sendiri!

dan…mempunyai tempatnya masing-masing

di………akhirat !!!

 

Jakarta, 13 Juni 1980 (24.00)

 

(sumber: Ronny Rondonuwu : Mawar Pucar- Jakarta: Reso Communication, 2006)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: