Seorang Penulis dan Komputer Tuanya

cerpen dul abdul rahman

Larut malam. Lam bergegas memulai tulisannya. Ia harus menyelesaikannya ini malam. Besok ia harus kirim ke redaktur budaya di sebuah koran harian yang memesan tulisannya.

Tadi sore Lam harus menemani isterinya berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue buat jualan esok hari. Isteri Lam memang berusaha meringankan beban suaminya dengan berjualan penganan di depan rumah. Apalagi rumah mereka berhadapan dengan sekolah dasar sehingga anak-anak sekolah selalu menyerbu jualannya selepas pulang sekolah atau istirahat.

Tadi petang, Lam harus mengawasi dan menemani putranya belajar matematika. Ia berharap kelak anaknya bisa kuliah di fakultas kedokteran, bukan di fakultas sastra seperti dirinya. Ia tidak tertarik mengarahkan anaknya jadi penulis. Sebenarnya Lam sangat mencintai profesinya, tetapi ia tak bisa menutup mata pendapat masyarakat tentang profesinya tersebut. Bahkan mertuanya dulu pernah mencapnya pengangguran. Lam ingat, ia geragapan menjawab pertanyaan calon mertuanya dulu tentang kantornya.

“S…saya tak punya kantor, Pak.”

“Lha, katanya sudah bekerja.”

“I…iya Pak, tapi…”

“Maksudnya kantornya digusur?”

“Memang sejak dulu tak punya kantor Pak.”

“Aneh!”

“Saya seorang penulis Pak.” Lam cepat menyebut jenis profesinya. Takut kalau calon mertuanya menyebutnya orang aneh. Padahal ia sangat mencintai anak gadisnya.

“Penulis?”

“Ya, saya seorang penulis Pak.”

Lam terus meyakinkan. Sementara calon mertuanya mengernyitkan alis seolah penulis bukan bagian dari profesi yang ia pahami. Ia memang seorang kepala desa yang selalu mengurusi KTP buat warganya. Selama ia menangani KTP, belum pernah ia melihat profesi seseorang tertulis penulis. Biasanya adalah dokter, polisi, PNS, wiraswasta, petani, atau yang lainnya.

“Nak! Kalau profesi penulis itu tertulis apa di KTP, soalnya pada draft biodata KTP tidak ada penulis.”

Lam kian geragapan. Ia membatin tidak karuan. Ia ragu, calon mertuanya memang tidak tahu menahu soal penulis. Atau calon mertuanya sengaja mau menjebaknya bahwa ia benar-benar pengangguran. Lalu menolaknya jadi mantu.

Lam tersenyum-senyum mengingat pengalamannya waktu melamar dulu. Untungnya, tempo itu ia bisa meyakinkan calon mertuanya bahwa meskipun ia cuma seorang penulis tapi ia yakin mampu menafkahi isteri dan anak-anaknya kelak.

Lam bergegas menyalakan komputernya. Tapi ia harus menunggu bermenit-menit. Mungkin komputer miliknya sudah mulai kelelahan. Ia sepertinya tak sanggup lagi mengikuti jejak-jejak pikiran Lam yang tidak dibatasi oleh makhluk yang bernama pentium.

“Yah! Apakah Lapundarek* jadi menikah dengan putri raja?”

Lam terperanjat. Kaget. Ternyata putranya belum jua tidur. Padahal tadi ia berhenti bercerita karena menyangka putranya sudah tidur. Sudah menjadi kebiasaan Lam mendongeng sebagai pengantar tidur anak-anaknya.

“Lapundarek menikah dengan siapa, Yah? Yang bungsu, yang tua, atau yang tengah.”

“Yang bungsu, Sayang.”

Lam segera melayani pertanyaan putranya. Ia memang selalu ingin tahu setiap cerita yang diutarakan ayahnya. Lam bahagia. Lam senang. Dengan bercerita, ia mencoba meningkatkan keingintahuan serta cara merespons anak-anaknya. Biasanya Lam membuat cerita bersambung laiknya sinetron di teve.

“Horeee! Lapundarek menikah dengan yang paling cantik.”

“Bukan hanya itu, tapi baik pula budinya.”

“Beruntung sekali Lapundarek ya, Yah?”

“Lapundarek kan orang tabah dan sabar.”

“Tapi Yah, masa putri raja yang cantik mau sama Lapundarek. Lapundarek kan jelek dan bau.”

“Hush! Tak boleh menghina.”

“Maaf, saya lupa. Lanjutkan ceritanya Yah!”

“Tidurlah sayang, besok malam ayah lanjutkan ya.”

“Tapi ayah harus janji.”

“Ayah berjanji, Sayang.”

Lam kembali menatap komputernya. Malam ini ia akan menulis tentang seorang penulis yang hidupnya pas-pasan. Meskipun demikian, sang penulis tersebut tetap setia pada profesinya. Mungkin Lam mencoba melukis dirinya lewat tulisan itu. Entah.

Lam terus memilih dan memilah kata yang tepat. Lalu merangkainya menjadi kalimat yang mendayu-dayu. Salah satu kelebihan Lam memang adalah penggunaan diksi yang benar-benar bisa mengharubirukan perasaan pembaca. Bahkan tidak sah rasanya membaca tulisan Lam tanpa ditemani sapu tangan penyeka airmata. Begitulah pengakuan salah seorang fans Lam.

“Istirahat dululah Bang!”

Kali ini suara isterinya yang lembut membuyarkan pikiran Lam. Tapi tidak masalah. Lam sangat mencintai isterinya. Bahkan sebentuk perhatian, pun pengabdian dari isterinya adalah sebuah inspirasi Lam untuk terus menulis.

Lam memang sangat beruntung. Ia bisa mempersunting anak kepala desa di kampungnya yang baik budi bahasanya, cantik pula. Mata bening isterinya, serta wajah yang ayu, senyum yang menawan selaksa sketsa Siti Nurhaliza, penyanyi dari negeri seberang yang memang menjadi idola Lam

“Tidak capeklah, Sayang.”

“Abang harus jaga kesehatan.”

“Abang sehat-sehat selalu, Sayang.”

“Tapi jangan terlalu memforsir diri Bang.”

Lam bangkit. Ia mengecup kening isterinya sebagai tanda sayang. Pun ia tak lupa mencium anak-anaknya yang sudah pulas terbawa cerita Lapundarek yang sangat mereka suka. Lam berharap, semoga orang-orang yang sangat ia cintai dan kasihi bisa istirahat dengan tenang. Pun ia tidak mendapat gangguan lagi supaya tulisannya bisa selesai ini malam. Honor tulisannya kali ini buat beli replika cincin pernikahan buat isterinya menjelang ulang tahun pernikahan yang kesepuluh.

Isteri Lam memang terpaksa menjual cincin pernikahan sebagai modal usaha jual-jualan. Sebenarnya isteri Lam tak pernah menuntut suaminya menggantinya, cuma Lam selalu ingin membuat isterinya bahagia.

Lam duduk kembali. Ia melanjutkan tulisannya. Di luar, angin malam berhembus pelan menyanyikan lagu alam. Malam merilis lirik buat Lam seirama dengan ayunan pulpennya.

Lam tersenyum-senyum. Tokoh utama dalam cerpennya ia beri nama Lampe. Lampe sebenarnya adalah nama bapaknya. Lampe dalam bahasa Bugis berarti panjang. Kakek Lam dulu memberi nama Lampe pada anaknya supaya panjang umur, panjang angan-angan(tinggi cita-cita), atau panjang rezeki(banyak rezeki). Selanjutnya ayah Lam memberi nama anaknya Lampugu. Meski nama Lampugu terkesan Bugis, tapi sesungguhnya meng-Indonesia, Lampugu berarti lampu penerang di gelap gulita. Itulah nama lengkap Lam. Dan begitulah orang-orang tua dulu memberi nama. Selalu terselip doa dibalik nama.

Sebenarnya yang membuat Lam tersenyum-senyum, karena yang ia maksudkan Lampe adalah diri Lam sendiri. Lam penulis. Begitulah nama Lampe versi Lam. Lam memang selalu mengangkat tema-tema berkenaan dengan dirinya sehingga banyak pembaca mencap dirinya sebagai penulis soliloquist.

Lam berhenti sejenak. Ada virus bergambar tengkorak mendadak mengangkangi tulisannya. Ia cepat memprogram program anti virus yang ia beli tadi. Klik. Gambar tengkorak menghilang seketika. Namun perasaan deg-degan Lam belum hilang. Ia takut datanya hilang.

Lam kembali melanjutkan tulisannya. Kali ini ia agak berhati-hati, tapi sedikit tergesa-gesa. Ia ingin secepatnya menyudahi tulisannya. Ia memang mengantuk dan lelah karena seharian menemani isteri dan anak-anaknya. Lam menutup cerita dengan kejutan-kejutan sekaligus menyedihkan.

Larut malam. Akhirnya, setelah dua jam lamanya Lam mengutak-atik kalimat menjadi paragraph-paragraf, tulisnnya selesai jua. Meski Lam belum memberi judul, tapi ia yakin tulisannya kali ini benar-benar membuat pembaca terharu atas kegigihan dan ketabahan seorang penulis yang sangat mencintai profesinya, seluruh honor tulisannya buat isteri dan ank-anaknya yang ia sangat cintai. Dari cinta untuk cinta. Begitulah Lam mengangkat tema cerita kali ini.

Tapi mendadak Lam cemas. Virus tengkorak kembali mengangkangi tulisannya. Lalu. Klik. komputer Lam mati seketika. Lam mendadak lemas. Karena ia tahu datanya ini kali tidak terselamatkan. Komputer tua miliknya tidak bisa lagi mengamankan data-data bila mati seketika.

Lam beranjak. Ia masuk kamar. Mengecup kening isteri dan anak-anaknya. Lalu tidur di sampingnya. Besok ia akan mengetik ulang lagi cerpennya. Ada senyum mengembang di wajahnya. Karena ia sudah menemukan judul yang cocok buat cerpennya. Seorang penulis dan komputer tuanya.

Makassar-Jakarta, Juli 2007

Catatan;

Lapundarek     : Cerita rakyat Sulawesi Selatan

Sumber :  Harian Fajar, Minggu 9 Desember 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: