Orang Miskin Tidak Boleh Sekolah

Cerpen dul abdul rahman

 

kompeta077.blogspot.com

Kalau boleh memilih tentu saja Daeng Sampara tidak akan pernah memilih profesi sebagai tukang becak. Profesi yang identik dengan masyarakat kelas bawah, yang selalu bergelut dengan kemiskinan dan kebodohan. Pastilah Daeng Sampara ingin seperti Puang Tore, tetangganya yang PNS bekerja di sebuah instansi pemerintah. Tiap bulan terima gaji, meski kadang-kadang ia tidak masuk kantor, atau ia pergi telat plus pulang cepat. Buat Daeng Sampara, hidup bukanlah sebuah pilihan tapi suatu kenyataan yang harus ia lakoni.

Dengan napas terengah-engah, Daeng Sampara mengayuh becaknya. Peluh yang telah menganak sungai membasahi seluruh pori-porinya. Ia kelihatan sangat letih, namun sorot matanya yang tajam masih memancarkan semangat hidup yang membara. “Akh orang sepertiku memang teramat banyak di negeri ini, tapi mengapa orang-orang seperti Puang Tore juga semakin merajalela.” Daeng Sampara membatin.

Meski cuma berprofesi sebagai tukang becak, bukan berarti Daeng Sampara bodoh. Ia cuma lahir dari keluarga miskin. Sekali lagi buat Daeng Sampara ini bukan pilihan tetapi kenyataan yang harus ia lakoni. Karena keluarganya miskin, akhirnya ia tak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.

Sebenarnya Daeng Sampara pernah sekolah di SLTA tapi cuma sampai kelas dua, apalagi alasannya kalau bukan faktor biaya. Padahal otaknya termasuk cemerlang, sayang orang tuanya tak sanggup membiayai sekolahnya. Daeng Sampara pernah berandai-andai, seandainya ia hidup di negeri Jiran sana, pastilah ia bisa bersekolah setinggi-tingginya dengan biaya pemerintah.

Buat Daeng sampara hidup memang adalah sebuah kenyataan. Sebuah kenyataan bahwa ia harus hidup di negeri yang biaya pendidikannya sangat mahal, kekayaan negara yang sebenarnya cukup untuk mensubsidi biaya pendidikan tetapi telah dikorupsi secara berjamaah oleh abdi negaranya sendiri. BBM yang suku cadangnya mulai menipis di perut bumi dicuri dengan disedot lewat pipa-pipa bawah laut. Yang melakukannya pastilah bukan orang seperti Daeng Sampara. Tapi orang-orang yang minimal selevel dengan Puang Tore.

Dikalangan tukang becak, Daeng Sampara memang dikenal cerdas dan pintar bicara. Tak heran kalau ia diberi gelar Paccarita. Kalau ia bicara, maka rekan-rekannya pastilah mendengarkan dengan seksama. Ada yang manggut-manggut, ada juga yang terbengong-bengong. Analisanya juga cukup tajam, misalnya ketika dulu ia memprediksi bahwa SBY-Kalla akan memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden ternyata terbukti. Ia juga mengenal tokoh-tokoh, mulai dari tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno, Soe Hok Gie, sampai pada Amin Rais dan Megawati. Bahkan ia masih ingat pelajaran sosiologi di SLTA dulu tentang sorang sosiolog Barat pengamat masalah-masalah kemiskinan yaitu Herbert J.Gans.

Di benak Daeng Sampara, meski ia miskin dan tak bisa sekolah tinggi-tinggi bukan berarti bahwa ia harus berhenti belajar. Makanya ia selalu menyisihkan sedikit uangnya dari hasil keringatnya sebagai tukang becak untuk membeli buku-buku bekas di pinggir jalan.

Alhasil, karena pengetahuannya yang cukup luas, Daeng Sampara dipilih secara aklamasi oleh rekan-rekannya sebagai ketua Perkumpulan Tukang Becak(PTB). Tidak ada interupsi ataupun protes kasar seperti pada sidang DPR, mereka juga tidak mengenal apa itu interpelasi.

Laiknya sebagai ketua perkumpulan, tentulah Daeng Sampara berusaha mengetahui tetek-bengek perkumpulannya. Perkumpulan tukang becak yang notabene kumpulan orang-orang miskin, tingkat pendidikan rendah. Ia juga berusaha menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para rekan-rekannya. Bahkan ia mencoba meyakinkan rekan-rekannya bahwa kemiskinan juga sebenarnya punya nilai tambah buat pemerintah.

“Rekan sekalian, meski kita ini orang miskin, tapi kita tetap pahlawan bagi bangsa dan negara,” Daeng Sampara mencoba meyakinkan rekan-rekannya.

“Masak iya Daeng Sampara,” rekan-rekannya serempak menjawab. Mereka nampak tidak mengerti pernyataan Daeng Sampara. Mana mungkin orang miskin punya jasa dan andil bagi negara, bahkan dibenak mereka orang-orang miskin adalah sampah pembangunan.

Pandangan Daeng Sampara menerawang. Ia menatap bangunan bertingkat  di hadapannya. Bank-bank pemerintah, perusahaan asing, dan lain-lainnya. “Lihatlah rekan sekalian, bangunan-bangunan tersebut ada karena jasa-jasa orang miskin.”

“Penjelasan Daeng Sampara semakin membingunkan kami,” Daeng Bollo penasaran.

“Coba Daeng Bollo tebak, siapa yang mengerjakan bangunan-bangunan tersebut? Siapa yang membersihkan got-got yang mampet pada bangunan tersebut?” Daeng Sampara balik bertanya.

Daeng Bollo melongo sambil mencoba menjawab, “Tidak mungkin-lah orang-orang kaya mau jadi kuli bangunan atau tukang sapu.”

“Jadi jawabnya pastilah orang miskin kan?” Kali ini ucapan Daeng Sampara agak tegas.

Semua yang hadir manggut-manggut mendengarkan penjelasan Daeng Sampara. Mereka baru sadar bahwa keberadaan mereka sebagai orang miskin ternyata dibutuhkan dalam pembangunan.

“Dengarkan-lah rekan sekalian! Fungsi kemiskinan adalah menyediakan tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan kotor, berat, berisiko tinggi, tidak terhormat, tetapi dibayar murah,” Daeng Sampara berbicara lantang. Gaya bicaranya sama sekali tidak ada kesan bahwa sebenarnya ia hanyalah seorang tukang becak yang miskin.

“Coba bayangkan apa yang terjadi bila orang miskin tidak ada, pastilah sampah bertumpuk dimana-mana, bangunan terbengkalai, dan sangat banyak kegiatan ekonomi yang melibatkan pekerjaan kotor dan berbahaya. Di pelabuhan, industri, atau pertanian. Itu semua membutuhkan kehadiran orang-orang miskin.”

“Betul juga apa yang dikatakan Daeng Sampara,” Daeng Bali mencoba memberikan pendapatnya.

“Iya, tak mungkinlah orang-orang seperti Puang Tore mau mengerjakan yang kotor-kotor,” Daeng Bollo tak mau kalah.

Daeng Sampara tersenyum. Ia sangat senang karena rekan-rekannya sudah mulai paham apa yang dijelaskannya. Sambil mengipas-ngipas pakaian-nya yang lusuh dibalut debu, ia melanjutkan penjelasannya.

“Daeng Bali! Kira-kira orang kaya sudi memakai pakaian lusuh seperti pakaian kita ini?” Daeng Sampara menatap Daeng Bali.

“Mana mungkin orang kaya mau memakai pakaian seperti pakaian kita ini Daeng sampara, pastilah mereka memakai pakaian yang bagus-bagus dan mahal.”

“Jadi disinilah fungsi kemiskinan. Kemiskinan menambah nilai-guna suatu barang. Baju bekas yang sudah tak terpakai lagi dapat dijual kepada orang-orang miskin,” Daeng Sampara menatap satu persatu rekan-rekannya.

“Rekan sekalian, satu lagi yang harus kita pahami, meskipun kita ini orang-orang miskin turut berjasa membangun negeri ini, tapi pemerintah tak pernah adil pada kita. Pemerintah melarang anak-anak kita sekolah,” Kali ini mata Daeng Sampara berkaca-kaca.

“Tapi Daeng sampara, bukankah pemerintah mewajibkan pendidikan dasar sembilan tahun? Bukankah itu berlaku bukan hanya pada orang kaya tapi juga orang miskin?” Kali ini Daeng Bali seolah-olah tak setuju dengan pernyataan Daeng Sampara.

“Coba pikirkan, biaya pendidikan semakin mahal, buku-buku pelajaran mahal. Tidak ada subsidi pendidikan pada orang miskin. Jadi mana mungkin anak-anak yang orang tuanya miskin bisa sekolah? Alih-alih biaya pendidikan anak, untuk biaya makan saja susah. Bukankah dengan mahalnya biaya pendidikan berarti pemerintah secara tidak langsung tidak memperbolehkan anak-anak kita untuk sekolah?”

Hening. Para tukang becak yang hadir hanya manggut-manggut pertanda setuju apa yang diungkapkan oleh Daeng Sampara. Kalau sudah begini, mereka hanya bisa meratapi status mereka sebagai orang miskin. Sebuah status sosial yang mereka harus ikhlas menyandang-nya. Dan beruntunglah mereka punya teman seperti Daeng Sampara yang bisa membuka wawasan berpikirnya. “Akh nasib orang miskin,” begitulah batin mereka.

Akhir-akhir ini badai kegelisahan laksana Tsunami melanda batin Daeng Sampara. Pemerintah akhirnya tetap menaikkan harga BBM, meski demonstrasi mahasiswa menentangnya terjadi dimana-mana.

Pemerintah seolah menutup mata, bahwa orang miskinlah yang akan terkena dampak langsung kenaikan harga BBM. Pemerintah seolah tak mau pusing bahwa dampak kenaikan BBM, banyak anak-anak dari keluarga miskin terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah karena pendidikan semakin mahal. Disamping itu, anak-anak orang miskin harus membantu orang tua mereka untuk mencari sesuap nasi untuk kelangsungan hidup mereka.

Daeng Sampara menarik nafas panjang. Ia kini semakin gelisah, niatnya untuk menyekolahkan anak satu-satunya sampai ke perguruan tinggi terus membuntuti jalan pikirannya.

Terbayang dalam benak Daeng Sampara, kelak anaknya menjadi mahasiswa yang selalu siap berdemontrasi menentang segala kebijakan pemerintah yang tak memihak pada rakyat kecil. Kemudian anaknya menjadi sarjana dan bekerja di salah satu BUMN dengan gaji yang tinggi.

“Pak, bagaimana dengan uang pembayaran sekolahku? Tadi kepala sekolah bilang kalau tidak dilunasi minggu ini terpaksa aku dikeluarkan dari sekolah.”

Tiba-tiba pertanyaan anaknya membuyarkan mimpi-mimpi Daeng Sampara. Entah bagaimana caranya ia menjelaskan kepada anaknya. Lidahnya kelu, pandangannya menerawang menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi yang mulai bersembunyi di balik malam.

Kali ini yang terbayang di benak Daeng Sampara, kelak anaknya menjadi tukang becak seperti dirinya. Dengan pakaian yang kumal dan lusuh menentang teriknya matahari, mengayuh becak, mengadu nasib. Pandangan Daeng Sampara semakin menerawang menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi yang sudah menghilang ditelan malam. Gelap-gulita.

Makassar, 2006

Sumber : Harian Fajar, Ahad, 30 Oktober 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: