Lebaran Kali Ini Hujan Turun

Cerpen dul abdul rahman

1st-art-gallery.comHujan turun makin deras. Butiran air besar-besar seperti butir-butir salju tercurah membasahi kulit bumi. Gemericik air tertabrak bebatuan, seperti bait-bait elegi yang terpotong kegalauan. Selalu hujan turun seperti ini ketika lebaran tiba. Ya, dua tahun terakhir ini aku lebaran bersama hujan. Bersama kedua putriku.

“Ayah! Mama tidak pulang ya, ini kan menjelang lebaran, Salma dan Salwa mau dibelikan baju baru sama Mama.”

Selalu demikian pertanyaan kedua putriku setiap lebaran tiba. Seperti anak-anak sebayanya, mereka juga ingin dibelikan baju baru. Mereka ingin bergandengan tangan dengan kedua orang tuanya menuju tempat lebaran.

“Salma dan Salwa sayang! Mama lagi sibuk cari uang. Makanya Mama belum bisa pulang hari ini. Lagian kan Salma dan Salwa sudah punya baju baru.”

“Tapi Yah, bukan Mama yang belikan,” Salma terus merengek.

“Lha, kan Mama yang kirim uang untuk beli baju baru, artinya Mama yang belikan dong. Mama kan sangat sayang sama Salma dan Salwa.”

“Sayang sama Salwa, kok tidak pernah pulang. Salwa kangen sama Mama, Yah,” kali ini Salwa yang merengek.

Kalau sudah begini, aku hanya bisa memalingkan muka mencoba menghindar dari rengekan kedua putriku. Hanyalah butiran-butiran airmata meleleh dari sudut mataku seirama dengan gemericik air hujan tertabrak bebatuan, seperti nyanyian apik yang terpotong kegalauan.

Salma dan Salwa paham betul. Ketika aku mencoba memalingkan muka dan berdiam diri, mereka tidak merengek lagi, bahkan keduanya merangkulku.

“Salma dan Salwa sangat sayang sama Ayah dan Mama,” keduanya selalu berkata serempak seumpama dua bidadari kecil yang diutus malaikat untuk menyejukkan batinku.

Kedua putriku memang pengharapanku. Merekalah berdua semakin mempererat tali kasihku dengan isteriku, seumpama mereka adalah tali-tali rajutan dari surga.

Lima tahun silam memang terekam indah dalam memoriku. Saat-saat aku bersama dengan isteriku, Faizah. Perempuan kota, anak pejabat yang kaya plus cantik sudi berkenalan denganku. Aku yang orang desa yang hidupnya pas-pasan tentu saja senang sekaligus bangga tapi aku cukup tahu diri.

Tak mungkinlah aku yang anak petani kere bersanding dengan seorang gadis cantik nan jelita yang kaya raya. Meski memang aku juga mengaguminya tapi setiap perasaan itu menderaku maka langsung kukubur dalam-dalam. Rasa rendah diri selalu menggelayut di benakku.

“Kak Beddu! Aku bosan tinggal di kota, aku bosan dengan segala kemunafikan dan keangkuhan. Orang-orang kota selalu sibuk dengan urusannya masing-masing, tak ada keramah-tamahan, sikat sana sikut sini, tak perduli saudara, ayah, ataupun pertalian lainnya.

Ulangan kalimat Faizah yang selalu keluar dari bibirnya yang mungil entah sudah ratusan kali. Tapi aku suka mendengarnya. Aku yang anak desa tentu saja merasa ge-er mendengarnya.

Dan akhirnya memang aku mampu memenangkan hatinya. Hati yang teduh, tempat berlabuh segala hati yang resah. Faizah memang gadis idola. Gadis blasteran Bugis-Melayu. Sedikit saja kerlingan dari sudut bola matanya yang indah sudah cukup untuk meluluhlantakkan tanggul-tanggul pertahanan kaum lelaki.

“Jadi, Faizah tak keberatan kan tinggal di desa nanti. Disana tak ada resto fried chicken, pizza, steak. Pun tak ada bioskop,” aku menggodanya.

“Asal sama Kak Beddu….” Jawaban itu menyeretku ke puncak kebahagiaan.

“Kak Beddu! Aku punya impian tinggal di rumah mungil di kaki gunung. Ada sungai mengalir di dekatnya. Ada kolam ikan dan air mancur. Sawah-sawah yang menghijau. Kebun buah. Aku juga senang dengan kicauan burung-burung hutan.” Kubiarkan Faizah merangkum dan merancang sendiri angan-angannya. Impiannya juga adalah impianku.

“Tapi Faizah, apakah semua itu bisa terwujud? Bukankah ayahmu adalah pejabat? Mana mungkin ia sudi bermantukan lelaki sepertiku, rasanya tak mungkin.”

“Mungkin saja, asal sama Kak Beddu.” Selalu begitu jawabnya ketika penyakit rendah diriku mulai kumat.

“Kak Beddu! Di desa masih banyak kan anak-anak yang tidak sekolah. Nanti ya aku jadi guru anak-anak saja di desa. Sebenarnya anak-anak desa tak kalah cerdas dengan anak-anak kota cuma mereka tak tersentuh pendidikan.”

Sekali lagi kubiarkan Faizah terus merancang angan-angannya, ia memang gadis periang, ia suka dengan dunia anak-anak

“Kak Beddu! Satu lagi ya, nanti di desa kita bentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kita memajukan desa menjadi modern seperti di kota, tetapi kita harus melestarikan nilai-nilai yang mengakar pada masyarakat desa, sikap ramah tamah, sikap kegotong-royongan, dan sikap religius.”

Faizah memang berbeda dengan anak-anak pejabat lainnya. Biasanya kalau anak-anak pejabat sekaligus kaya hanya mau bergaul dengan yang mereka anggap selevel, Faizah adalah pengecualian. Ia aktif di organisasi kemahasiswaan, tidak milih-milih dalam bergaul. Ia menjadi panitia dan terlibat langsung kalau ada acara-acara kampus.

Perkawinanku dengan Faizah memang adalah tonggak bersejarah dalam hidupku. Meski aku sudah prediksi bahwa halangan akan datang dari orang tuanya benar-benar terjadi, namun Faizah tetap rela menentang badai demi menggapai segala angannya untuk tinggal di desa bersamaku.

Tentu saja segala pengorbanan Faizah untuk hidup bersamaku di desa kuanggap sebagai sebuah perjanjian sakral, seumpama perjanjian adat di ranah kelahirannku dimana nyawa adalah taruhannya.

Namun, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Manusia berusaha, Tuhan jualah yang menentukan. Suatu peristiwa tragis menimpaku, akibat kecelakaan lalu lintas, motorku ditabrak oleh pemuda-pemuda kampung yang balapan liar yang memang menjamur di bulan puasa. Untungnya istri dan kedua putriku selamat. Meski aku juga selamat dari bahaya maut namun kedua mataku tidak berfungsi lagi.

Aku dan istriku memang salah sangka. Orang-orang desa yang pada sangkaku ramah tamah dan religius seperti ketika aku masih kecil dulu, ternyata kini sudah berubah. Anak-anak muda yang dulunya lugu, kini menjadi anak-anak muda berandalan. Kalau dulu bertutur sapa dan berjabat tangan di jalan adalah pemandangan umum, kini sumpah serapah antara anak-anak muda di jalanan seolah menjadi trend baru. Jalanan yang dulu lengang, sekarang sangat bising, bunyi klakson bersahut-sahutan, tergesa-gesa, entah apa yang dikejar.

Sebagai suami, tentu saja aku berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi keluargaku. Namun keadaanku yang cacat membuat roda ekonomi-ku tidak semulus dahulu. Itulah sebabnya ketika isteriku merengek-rengek untuk mencari pekerjaan di kota terpaksa kukabulkan.

Aku sadar, sebagai guru TK swasta, tak mungkinlah isteriku mampu memenuhi kebutuhan kami. Kebutuhan hidup di desa dan di kota memang kini tidak jauh berbeda. Di desa juga sudah dibangun mall-mall. Perilaku orang-orang desa juga sudah mulai komsumtif.

Dua musim puasa terakhir isteriku pergi ke kota. Mencari rezeki buat keluarganya. Namun aku selalu gelisah, pastilah mertuaku tidak menerima lagi anaknya yang telah menodai kehormatan keluarga besar mereka dengan menikah dengan orang desa yang miskin sepertiku. Tapi yang menjadi pereda kegelisahanku karena isteriku selalu mengirim uang tiap bulan sebagai biaya hidup kami, suami dan kedua putrinya.

Aku tak tahu apa pekerjaan isteriku. Namun dibenakku, apapun pekerjaan isteriku, ia tetaplah wanita terindah buatku. Isteriku seumpama bidadari yang diutus dari surga untuk menolong kami.

Hujan turun makin deras. Butiran air besar-besar seumpama butir-butir salju tercurah membasahi kulit bumi. Gemericik air tertabrak bebatuan, seperti bait-bait elegi yang terpotong kegalauan. Salma dan Salwa terus merengek-rengek.

“Ayah! Katanya Mama pulang lebaran kali ini, tapi Mama mana dong, Yah?” Si bungsu Salwa terus mendesakku.

Isteriku memang telah mengabarkan, ia akan pulang lebaran kali ini. Ia sangat kangen pada suami dan kedua putrinya. Bahkan gajinya selama dua tahun sudah cukup untuk mengobati kedua mataku. Ia sangat berharap aku bisa sehat seperti semula. Isteriku memang tak pernah berubah. Ia perempuan berhati malaikat.

“Ayah juga janji ya, nanti kalau Mama pulang, kita semua diizinkan ke kota menemani Ayah berobat. Tapi Yah, ini kan sudah hari lebaran, kok Mama belum datang-datang ya.” Bergantian Si sulung Salma yang mendesak

Hujan turun semakin deras. Bunyi klakson kendaraan bermotor bersahut-sahutan di jalanan. Namun bunyi kali ini diiringi sirene mobil ambulance dari kejauhan.

Seorang utusan kepala desa datang mengabariku. “Pak Beddu harus tabah menerima cobaan ini, isteri Pak Beddu telah meninggal dunia, sebentar lagi jenazahnya datang. Bapak kepala desa beserta aparatnya mengurusi kepulangan jenazahnya. Bapak kepala desa minta maaf tidak memberitahukan sebelumnya. Menurut diagnosa dokter, isteri Pak Beddu meninggal karena penyakit AIDS.”

Seperti tersengat kalajengking aku mendengar berita itu, isteriku yang sangat kurindu yang kunanti kedatangannya ternyata pulang berbalut kain kafan. Airmataku seumpama air hujan tercurah dari langit. Namun aku mencoba untuk tegar, aku masih punya setitik harapan, aku masih punya Salma dan Salwa tetesan dari almarhum isteriku tercinta.

“Ayah! Kapan Mama pulang?”

Kali ini aku merangkul kedua putriku tercinta. Hanyalah airmata yang menjawabnya. Keduanya pun mengerti. Dan aku semakin tak tahu bagaimana mengatakan pada mereka bahwa Mamanya telah meninggal.

“Ayah! Emangnya Mama kerja apa ya?” Pertanyaan Salma semakin menyelidik.

“Mama bekerja membantu orang sakit seperti Ayah,” jawabku sekenanya.

“Horeee…! Mama pintar mengobati orang yang matanya buta seperti Ayah, kalau Mama datang pasti mata Ayah bisa disembuhkan, Ayah pasti nampak lebih cakep lagi,” Salwa melonjak kegirangan.

“Bukan Sayang. Mama hanya membantu lelaki yang mata hatinya buta dan tak punya iman.”

“Jadi Mama pahlawan dong, Yah.” Salwa terus menyelidik.

“Benar katamu Sayang. Mama adalah pahlawan buat Ayah, Salma, dan Salwa. Bahkan Mama rela bekerja apa saja demi orang-orang yang dicintainya.”

Mobil ambulance berhenti tepat di depan rumah. Seiring dengan hujan turun semakin deras. Membasahi bumi, membasahi hatiku, membasahi hati kedua putriku tercinta, membasahi tanah lapang tempatku sujud tadi pagi. Hujan turun semakin deras, menabrak bebatuan, menabrak hati kami yang melantunkan bait-bait elegi kerinduan.

 

Makassar-Penang, November 2005

Sumber:  Harian Fajar, Minggu 6 November 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: