Sanrang

Cerpen Akbar Faizal

Tak ada lagi orang yang lebih setia darinya. Hanya Uce, anjing kesayangan ayahku yang mungkin bisa menyamainya. Tapi Uce telah mati berkelahi dengan babi hutan yang menggasak kebun ketela kami. Perutnya robek ditaring babi hingga ususnya terburai. Sanrang, lelaki yang sejak dua puluh tahun lalu memilih tinggal di gubuk sawah kami sebagai buruh tak pernah meninggalkan keluarga kami sesulit apapun  keadaannya. Saat panen gagal dua tahun berturut-turut akibat serangan tikus, Sanrang segera membajak kembali sawah yang mulai mengering terkejar musim kemarau. Tidak pula ia datang ke rumah meminta makanan meskipun kami sadar betul tak ada lagi sepotong ikan kering yang tersisa di gubuknya. Sejujurnya, kami tak pernah siap untuk ditinggalkan Sanrang ketika warga setempat mulai mengungsi ke Timur, dataran yang lebih rendah dan terjangkau pengairan. Petak-petak sawah di kampung kami telah meranggas terbakar terik matahari. Ia terlalu penting bagi kami. Dari sekadar pemanjat kelapa kami, mengambil air di kampung sebelah hingga menjadi guru ngaji bagi kami anak-anak kampung. Aku sebagai anak tertua dalam keluarga bahkan kadang-kadang menganggapnya paman. Entah dari mana ayah menemukan dan mengajaknya tinggal bersama kami. Ayah hanya menjawab,”Dari jauh” jika kami menanyakan asal muasal Sanrang.

Tapi hari itu Sanrang membuat ayah terperanjat setengah mati. Ayah masih belum membuka baju kerjanya ketika Sanrang muncul dan langsung memeluk kaki ayah. Aku tahu ayah menyayangi Sanrang dari caranya memperlakukan buruh setianya itu. Kadang-kadang ayah yang membuatkan kopi kalau ibu sedang tidak dirumah jika Sanrang datang ke rumah.

“Saya mohon Bapak menikahkan saya,”Sanrang masih bersimpuh di kaki kursi. Jakun Ayah bergerak keras dan mulai gelisah.

“Kamu merusak kehormatan anak orang?” tanya ayah dengan muka selidik dan masam.

“Bukan Pak. Saya mau menikahi Ondeng,” suara Sanrang memelan. Wajahnya yang hitam terbakar matahari memerah yang membuatnya terlihat semakin aneh. Jari tangannya yang keras kasar memijit-mijit lantai rumah untuk mencoba mengurangi ketegangannya sendiri. Tak ia pedulikan permintaan ayah untuk duduk di kursi.

“Ondeng siapa?” suara ayah semakin menyelidik.

“Adik ipar Latekeng juragan kerbau itu Pak,” jawabnya.

“Tapi dia tidak kamu hamili khan?” ayah mencoba tenang. Terlihat wajah Sarang mengeras. Ia tersinggung namun tetap menunduk.

“Tidak Pak”

“Syukurlah. Aku takut kamu mempermalukan aku di kampung ini Sanrang. Semua tahunya kamu itu keluarga saya. Tapi apa Ondeng juga senang sama kamu? Sudah bicara dengannya?” ayah mengejar.

“Belum Pak. Tapi dia selalu melirik saya setiap melewati pematang sawah kita pak,” Sanrang mencoba menyelamatkan muka. Ayah mencoba tersenyum.

“Baik. Saya akan melamarkan dia untukmu. Tapi kamu mau kasih makan apa dia nanti kalau jadi istrimu?” tanya Ayah lagi. Sanrang terdiam. Ayah juga. Agak lama.

“Saya ingin punya anak sebelum mati. Setidaknya dia akan menggantikan saya membantu keluarga Bapak nanti kalau saya mati”. Ayah tercekik mendengarnya. Sanrang mulai menangis. Ayah menyandarkan diri dalam-dalam di kursi sambil menarik nafas panjang. Mata Ayah berkaca-kaca. Ibu yang sedari tadi menguping pembicaraan, sebenarnya siap menyajikan kopi. Namun segera menarik diri kembali ke belakang dan menangis di dapur. Aku jadi bingung.

Esok hari, Ayah menemui Latekeng sekaligus menyampaikan keinginan Sanrang. Pedagang tetap pedagang. Latekeng masih mencoba berbisnis. Tak peduli usia Ondeng adiknya telah mulai senja pula yang kemungkinan jadi perawan tua, ia malah meminta maskawin seekor kerbau, tiga lembar kain sarung, emas dan uang. Sia-sia Ayah menawar sebab Latekeng malah meminta tambahan dua karung beras. Semuanya menjadi tanggungan Ayah sebab Sanrang tak pernah punya uang lebih dari lima ribu di kantongnya. Ayah terpaksa setuju. Sejak hari itu, Sanrang menjadi si raja senyum.

Sebulan berikutnya, pesta sederhana digelar. Tetangga berdatangan. Sanrang terlihat lebih muda dalam balutan jas kedodoran. Namun empat giginya yang tanggal di bagian geraham tak bisa menyembunyikan usianya. Beberapa kali tangannya meraba dua buah pulpen merek Hero di kantong jasnya. Namun pulpen itu tak pernah dipakai.  Sanrang memilih cap jempol sebagai tanda tangan di surat nikahnya. Sanrang buta huruf.

Tak pernah kulihat Sanrang sebahagia hari itu. Senyumnya terus mengembang hingga dini hari saat tamu terakhir pulang. Kebiasaan kampung kami, bermain domino hingga larut malam pada hari pernikahan. Entah ini bentuk rasa suka cita atas kebahagiaan sang mempelai. Atau justru bentuk perpeloncoan bagi sang pengantin agar tidak segera menemui mempelai wanita di bilik kamar dalam. Tapi sebenarnya Sanrang juga tak siap masuk menemui pengantennya di kamar. Ia hanya bisa celingukan jika seseorang meledek sang manten perempuan telah menunggunya di dalam. Ibu meminjamkan kamar tidur kami kepada penganten ini hanya untuk semalam. Aku dan adikku telah tertidur lelap sebelum Sanrang masuk menemui wanita yang enam jam lalu menjadi istrinya.

Sanrang kembali menjadi buruh sawah kami yang paling setia keesokan harinya. Ia memboyong istrinya ke gubuk sawahnya esok paginya dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia selalu ada di dekat kami saat tenaganya dibutuhkan. Saat tahu istrinya hamil, Sanrang seakan menemukan hidup baru. Ia memohon Ayah untuk mendapatkan tambahan upah satu karung gabah pada panen dua bulan mendatang untuk membeli keperluan kelahiran bayinya yang hampir bersamaan dengan masa panen. Ayah tak pernah bisa menolak permintaan Sanrang. Toh Sanrang tak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Setiap malam, Sanrang berbaring di dekat perut buncit istrinya sambil menembangkan kidung. Betapa bahagia lelaki itu. Saat istrinya melahirkan seorang anak lelaki, Sanrang berlari-lari di sepanjang pematang sawah hingga ke ujung kampung berteriak ke langit. Ia berterima kasih kepada Tuhan dengan caranya sendiri. Beberapa kali kakinya terperosok ke sawah yang berair. Kembali ke gubuknya, ia memeluk dan mencium istrinya yang masih berlepotan darah dan bersimpuh di kaki dukun bayi sebagai rasa terima kasih. Tangisan bayi dari gubuk tengah sawah di lepas malam itu terdengar hingga ke ujung kampung.

Sanrang tak pernah jauh dari anaknya. Sampai-sampai sawah tidak tergarap sebelum Ayah menegurnya. Sanrang mengajak anaknya kemanapun ia pergi. Paling sering mengajak anaknya menatap sungai berharap ada ikan yang lewat. Maka ketika anaknya sakit, Sanrang sengsara. Ia berkeliling kampung mencari dedaunan yang dianggapnya bisa mengobati panas anaknya sesuai anjuran dukun. Tangisan bayi kecil dari tengah sawah yang kesakitan itu sangat berbeda dengan tangisan anak manusia yang baru lahir beberapa bulan lalu.

Malam berubah menjadi celaka. Suara pohon bambu peletokan saling menghantam terhempas angin. Dari mana angin yang marah ini? Malam dengan cepat menyembunyikan bulan dalam pelukan sebelum terhempas ke bumi tersapu angin. Dengan cepat ayah menyambar kerisnya yang terselip di pusar rumah. Tubuhnya kemudian menghilang diantara pohon pisang di belakang rumah. Ia menuju ke rumah sawah. Percuma. Sebuah suara melengking membuatnya bergidik memecah malam. Itu sebuah lolongan panjang. Ayah bergidik. Langkahnya terhenti. Suara lolongan itu menjauh. Sanrang berlari ke selatan menggendong anaknya yang telah mati. Hingga malam ini, suara lolongan kepedihan itu masih sering terdengar.

 

 

Depok, Mei 2006

 

(Sumber:  Harian Fajar, Minggu 04 Juni 2006)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: