Kami Syukuri Rahmat-Mu di Aceh

Puisi Mustam Arief

 

 

Allahu akbar

Allahu akbar

Allahu akbar

Engkau memang penentu

 

Tuhan!

Kalau kini kami menangis

Menyaksikai kiamat kecil-Mu di Aceh

Janganlah cepat Engkau ampuni

Karena air mata yang mengalir

Adalah bongkahan kehilafan

yang kami tumpuk  jadi sejarah

 

Janganlah cepat Engkau kasihani

Walau Engkau Maha Pengasih

B iarkanlah kami meg urai-ura i

Kesalahan beraneka warna

Yang menutupi nama-Mu jadi abu-abu

 

Tuhan!

Ternyata kami tak berdaya

Menyaksikan kritik-Mu di Tanah Rencong

Tanah yang Engkau karuniai jadi serambi

‘Mekkah’

Kami tak punya arti apa-apa

Menyaksikan bangunan kokoh berkeping-keping

M eny aksikan wajah-wajah tak berdosa

Yang dingin kaku terselip di reruntuhan beton

Tertutup lumpur dan batag pohon tumbang

Tergantung di kabel dan tiang listrik terjungkal

 

Tak ada daya kami

kecuali air mata terus mengalir

Dan tangan menengadah

 

Tetapi, sekali lagi, kami mohon

Janganlah Engkau cepat ampuni

Biarkanlah kami manangis

Karena dengan tangis

Mungkin bis a menemukan-Mu

Agar tidak melihat-Mu dalam warna samar

samar

 

Biarlah kami menyadari

Bahwa Engkau gulung ombak di Samudra India

Menyapu rata bumi-Mu di Aceh

Menyapu rata bumi-Mu di Sri Lanka

Meratakan sebagian bumi-Mu di India

Meratakan sebagian bumi-Mu di Thailand

Melantahkan sebagian bumi-Mu di Malaysia

 

Tepi sekali lagi, kami mohon

Janganlah Engkau cepat ampuni

Biarkanlah kami menemukan dosa-dosa

Biarkanlah kami menyadari

Gulungan Ombak raksasa dari Samudra India

Adalah kritik-Mu pada kami

Yang menggulung sajadah dalam lemari

Memajang kitab suci jadi hiasan

Menggantung ayat-Mu jadi penolak bala

 

Tuhan!

Kami tak kuasa melihat saudara kami

Umat-Mu ditelan tsunalmi di Aceh

Tak kuasa melihat mereka kehilangan segalanya

Tak tahan menyaksikan mereka dalam penderitaan

Tak mampu menelan makanan, memandikan

mereka

 

Tapi sekali lagi, kami mohon

Janganlah Engkau cepat ampuni

Karena ketidak b erday aan kami

Memandang bukti maha besar-Mu di Aceh

 

Adalah rahmat-Mu

agar kami menyadari

 

Bahwa, atas nama Agama

Kamli hancurkan halasuji tempat memuja-Mu

Kami mengangap itu sebagai berhala

Tapi, kami memuja berhala baru

bernama materialisme dan hedonisme

Kami terpesona iklan produk di media massa

Kami mengkiblati sinetron kemewehan di layar

teve

Kami anut perselingkuhan sebagai gaya hidup

Kami idolakan para  selebriti

Yang kawin cerai jadi pola hidup

Yang kerap berlindung dengan ucapan bijak

Kami singkirkan jembatan-Mu lewat zikir

Dengan mabuk narkoba di kamar-kamar hotel

 

Bahwa, atas nama agama

Kami berpolitik saling membunuh

Kami kelompok-kelompok dalam partai

Mulut kami berucap ayat-ayat-Mu

D alam kampanye-kanpanye politik

Demi kemerdekaan, demi rakyat

Demi pembangunan bangsa dan negara’

D emi kemakmuran, demi kemaslahatan rakyat

Demi demokrasi dan hak asasi manusia

Tetapi kami saling menggencet

Saling kudeta, saling mendemo

Saling menghujat, bahkan saling meracuni

 

Hanya karena nafsu

Untuk kekuasaan dan kedudukan

Utuk, uang dan harta benda

 

Kemudian merampok potensi negara

Mencuri harta dan uang rakyat

Yang kami kenal bernama korupsi

 

Kami disumpah atas nama agama

Memegang jabatan dan menegakkan hukum

Tupi kami menghukum orang yang benar

Membebas-murnikan orang yang salah

 

Bahwa, atas nama agama

Kami saling bunuh-membunuh

Kami membakar rumah-rumah ibadah

Kami Iedakkan bangunan -bangunan

Kami ciptakan dendam kesumat

Untuk anak-anak kami generasi penerus

 

Bahwa, atas nama agama

Kami menumbuhkan sengketa di Aceh

Di negeri pejuang untuk Indonesia

Bertahun-tahun tak pernah selesai

Kami bunuh saudara-saudara kami

Untuk ambisi mendirikan negara

Kami bunuh ribuan saudara kami

Yang kami bungkus rapi dengan DOM

Kami kutuk separatis GAM

Tak berperi kemanusiaan

karena tak mau menyerah

Kami kutuk tindakan pemerintah

Menyeret diplomasi jadi medan perang

Demi kemanusiaan atau proyek peperangan

 

Dari hari ke hari

Darah terus mengalir di Aceh

Kami saling membunuh

Dan terus mebunuh

Di tanah kerajaan termashur itu

 

Tuhan!

Kalau kini Engkau ledakkan Samudra India

Membinasakan sebagian yang Engkau ciptakan

Biarkan kami bersimpuh di depan-Mu

Berilah kesadaran

 

Berilah keinsafan

Berilah  ketabahan

Berilah kekuatan

 

Agar kami makin menyadari

Kesalahan kami atas

Kemarahan-Mu melihat Aceh

Kemarahan-Mu melihat Indonesia

Kemarahan-Mu melihat umat-Mu

 

Tuhan!

Dalam ketakberdayaan dan tangis kami

Melihat Aceh yang porak-poranda

Kami bersyukur atas rahmat-Mu

 

Meski tak mampu memandang

Mayat-mayat bergelimpanghan

Dalam kondisi tragis

Tapi dalam hati sesungguhnya

Kami bersyukur campur cemburu

MeIihat raut wajah mayat-mayat

Yang kaku dan tenang

Melukiskan isyarat

Bahwa Enghkau memanggil mereka

Memilih mereka

Menetapkan mereka

Menjadi syuhada

Untuk peringatan-Mu

Pada kami

 

Allahu akbar

Allahu akbar

Allahu akbar

Engkau memang penentu

 

 

Makassar 1 Januari 2005

 

Sumber : Harian PEDOMAN RAKYAT, Minggu 2 Januari 2005 halaman 17

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: