Di Atas Sajadah Pengabdian

Puisi Sayyid Ruslan Abdullah

 

Kutumpah asa dalam secangkir air putih

Agar mampu menghapus dahaga menahun

Namun peluh tak jua mengering

Menambah duka dahaga baru

 

Langkah tertatih-tatih mengejar rindu

Nafas tersengal mengiringi waktu

Sementara kerikil-kerikil semakin tajam membentang

Di segala arah berdinding tirai kabut dalam bayang-bayang maut

 

Embun pagi tak berarti di padang tandus gersang

Mentari menambah panasnya kehidupan

Tempat berteduh memenjarakan hati

Pekat malam membuat getir dalam bathin

 

Kemana harus berlari

Agar berjatuhan segala duka yang mendera raga dan hati

Adakah pada lautan yang menjanjikan gelombang

Pada gunung yang penuh onak dan duri dengan tebing-tebing cadas

Ataukah pada daratan yang penuh srigala bertopeng manusia?

 

Kemana harus kuselamatkan cinta

Kemana…!?

Di gedung-gedung yang penuh dusta dan tipu muslihat

Di pasar-pasar yang semakin sempurna dengan kecurangan

Ataukah di jalan-jalan yang bising dengan kecepatan dan kemewahan yang terpamer!?

 

Tanpa berlari nafas-pun semakin tersengal

Terjangan kemaksiatan dan bongkahan batu menghimpit dada

Bagai Bilal bin Raba di padang pengabdian

Atau amr bin Ash di tiang pasungan

 

Tuhan!

Betapa melelahkan di atas sajadah pengabdian-Mu

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: