Sajak Tua

Puisi Hikmah Mukaddas

 

Sappo’

Senyum kita telah sekarat terbaring

Menelukung di riak-riak kehidupan desa ini

Terasa kita semakin renta saja

Seperti kembang kehilangan tangkai

Dan selalu tak dapat terjawab

Mengapa beribu hari tiba jua menjelma lelatu

Yang dengan riangnya menjilat tubuh ringkih kita

Padahal mimpi belum lagi berpamit

Tapi mungkinkah ini perjanjian dengan harga mati

Tanpa mampu tertawar lagi

 

Tapi Sappo’

Benarkah hanya itu yang bersama

Ketika dada kita kian kering

Dalam sisa senyum Yang tawar ini:

Ini surat lusuh dariku yang tlah lama menua

 

Barru, Juni 2002

Sappo’ = saudara, sebagai sapaan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: