Rembulan di Atas Pantai Losari

Cerpen Tri Astoto Kodarie

 

Sumber : island11.wordpress.comSudah satu minggu ini, selepas magrib aku selalu mendapat sapaan lembut dari seorang gadis yang menginjak dewasa. Anti, nama gadis itu, sudah paham benar selera makanku. Setiap aku mencari tempat duduk di belakang gerobak yang dijadikan tempat beberapa menu makanan, tidak lama ia akan mengangsurkan sepiring nasi dengan lauk sayur lodeh dan sepotong ikan goreng dengan ditambah sedikit sambal.

“Silakan makan, kak”, ucapnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang menambah manis dan santun gadis ini. Aku hanya mengangguk seraya meraih sendok dan piring yang ada di atas meja itu. Lalu kembali Anti sibuk membantu ibunya mencuci piring, sambil sesekali menyibakan rambutnya yang tergerai sebahu.

Sebagai pendatang di kota Makassar, aku agak kesulitan mencari tempat untuk makan yang pas dengan selera. Hanya saja saat aku jalan-jalan sore di pantai Losari, aku mampir di warung sederhana dengan menggunakan gerobak dorong dan bentangan plastik warna biru sebagai atap sekedarnya. Dan saat datang pertama kali di sore itu, Anti yang dengan sigap menawarkan beberapa menu yang tersedia. Bahkan dengan logat Makassar-nya yang masih terasa asing bagiku, ia juga menawarkan beberapa jenis minuman yang tersedia.

“Ada juga sarebba yang dicampur telur ayam”, katanya dengan senyum. Aku hanya menganguk-angguk saja dalam ketidakpahaman. Tetapi sejak itu aku merasa tertarik untuk selalu datang makan malam seusai magrib di pantai Losari sambil memandang matahari yang perlahan-lahan tenggelam di antara awan tipis bagai sapuan halus kuas seorang pelukis di atas kanvas.

Kadang sampai malam aku juga hanya duduk-duduk di atas deker sepanjang pantai Losari ini. Banyak hal juga menjadi tambahan pengetahuanku tentang kota Makassar dari beberapa pengunjung pantai Losari yang kebetulan duduk-duduk santai mengahabiskan malam. Juga beberapa kali, daeng becak menghampiriku yang duduk sendiri sambil basa-basi menawarkan teman kencan sambil menikmati malam dengan angin laut yang mengigit-gigit. Tapi semuanya itu kutolak secara halus, bahkan daeng becak itu hanya kuajak bercerita tentang kehidupan malam pantai Losari yang menggemuruh seperti suara ombak pecah di bibir pantai.

“Kakak belum pulang ke pondokan?” sapa Anti lembut dari samping kiri bahuku. Aku menoleh. Ia tersenyum. Wajahnya yang oval dengan mata yang sayu, segaris alis agak tebal di atas kedua kelopak matanya, menambah manis raut wajahnya yang disaput kulit sawo matang.

“Tidak membantu ibumu?” tanyaku sekenanya. Ia menggelengkan kepala. Satu dua helai rambut yang jatuh di keningnya, juga ikut bergoyang.

“Mungkin sudah habis dagangan ibu?”

“Sudah. Ibu sisa merapikan piring dan gelas”. Anti lalu duduk di sampingku sambil mengisap-isap air kemasan.

“Kapan pengumuman hasil ujianmu, Ti?”

“Minggu depan, Kak”

“Semoga bisa lulus dengan nilai yang baik”, ucapku bernada harapan. Tapi muka Anti sedikit berubah. Ia seperti marah pada dirinya sendiri. Ia menunduk dan sesekali memandangi wajahku. Aku juga jadi ikut gelisah dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah tadi ucapanku salah? Atau mungkin sudah ada bocoran kalau Anti tidak lulus di sekolahnya, sebuah SMP swasta yang tidak begitu jauh dari pantai ini? Mungkin juga oarang tuanya tak mampu kalau Anti mau melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi? Ya, biaya sekolah sekarang mahal dan kalaupun nanti lulus dari tingkat SMA, belum juga siap masuk lapangan kerja. Kalau mau melanjutkan ke perguruan tinggi tentunya akan membutuhkan biaya yang lebih banyak lagi, jutaan rupiah sampai puluhan juta rupiah. Apalagi kalau tidak lulus, kemungkinan ia hanya akan membantu ibunya, jualan makanan dengan gerobak sampai larut malam, digoda daeng becak yang singgah untuk melepaskan lelah.

“Kenapa, Ti?”, aku coba memecahkan keheningan. Ia hanya diam dan menggelengkan kepala. Kemudian ia menatap ke laut lepas yang semakin temaram. Tatapannya kosong. Sepertinya ia kehilangan cahaya di retina matanya. Sementara rembulan yang mulai sempurna, sinarnya tak juga banyak membantu memberikan pantulan keceriaan di wajahnya. Ia kemudian mengangsurkan diri ke belakang dan memohon diri untuk menemui ibunya dengan wajah yang masih sendu.

Hari minggu ini aku ingin istirahat penuh di kamar kos. Dan tadi malam sudah kusiapkan beberapa bungkus mie dan nasi goreng instan untuk persiapan seharian di rumah. Beberapa buku dan majalah juga sudah siap untuk menemaniku.

Sudah hampir sebulan di kota ini, tak juga ada keinginanku untuk mengelilingi kota atau jalan-jalan ke beberapa tempat wisata seperti Malino, ke tempat peninggalan sejarah benteng Fort Rotterdam, makam Syekh Yusuf, makam Pangeran Diponegoro, dan lainnya yang menurut cerita beberapa teman satu kos tempatnya tidak jauh serta mudah dijangkau. Bahkan samping kamar kosku, Kamaruddin, yang asal Buton siap mengantarku dengan memakai kendaraan roda duanya. Tapi rasanya aku belum begitu berminat untuk keluar ke beberapa tempat itu, rasanya hatiku belum pas saja untuk ke mana-mana.

“Siapa?” tanyaku saat ada yang mengetuk pelan pintu kamarku.

“Saya. Anti, kak”, jawaban lembut dari luar yang kukenal betul aksen suaranya. Lalu kubuka pintu perlahan. Nampak gadis manis yang berangkat remaja itu tepat berada di depanku menundukan kepalanya kemudian berucap lirih dengan suara sedikit bergetar, “Boleh aku masuk kak?”. Kubimbing lengannya dan kupersilakan duduk di kursi rotan di sudut kamar.

“Apa tidak membantu ibu mempersiapkan dagangannya? Sore-sore begini kan ibu sudah ada di Losari, kenapa Anti malah ke sini? Ibumu tahu kalau mau ke sini?”, kuberondong pertanyaan seperti senapan yang memuntahkan peluru berkali-kali. Terus terang aku terkejut dengan kedatangannya dan memang selama ini Anti tak pernah datang ke tempat kosku. Dia hanya tahu alamat yang pernah kuberikan kira-kira tiga minggu yang lalu. Apakah ini lanjutan dari persoalan ketersinggungan saat kusampaikan agar dia dapat lulus ujian SMP? Atau akan menagih bon makanku yang selama tiga hari belum kubayar?

“Ibu tahu kalau Anti ke sini, kak”, ucapnya sambil menatapku penuh kebimbangan. “Boleh Anti main ke tempat kos ini, kan?”

“Boleh. Kenapa tidak. Hanya yang mengherankan, kenapa Anti tiba-tiba datang tanpa memberi tahu kakak lebih dahulu. Kesannya jadi mendadak, gitu. Ini yang membuat kakak terheran-heran”, ucapku masih penuh keheranan. “Lalu apa sebenarnya keperluan Anti datang ke sini? Disuruh ibu atau ada hal yang penting”. Anti tertunduk mendengar pertanyaanku yang bertubi-tubi itu. Aku jadi merasa salah melihat wajah Anti yang berubah begitu cepat dan suasana menjadi tak cair. Ada ketegangan sepertinya merambat bersama angin yang masuk lewat jendela.

“Maafkan kakak, Ti. Maksudku tentu ada sesuatu Anti tiba-tiba datang ke sini. Mungkin aku bisa membantu? Katakanlah, Ti”, aku coba mencairkan suasana.

Sesaat Anti memandangiku. Wajahnya sedikit kaku dan memucat. Tak kulihat rona keceriaan seperti saat ia menawariku lauk ikan goreng untuk makan malam. “Tak ada gunanya aku ikut ujian, kak”, ucapnya lirih sambil menggeser duduknya agak ke depan. “Aku masih ingin melanjutkan sekolah. Kalau mungkin aku ingin memilih jurusan tata busana di sekolah menengah kejuruan seperti Vera teman sebangkuku”.

“Bukankah Anti sudah ikut ujian dan sebentar lagi pengumuman. Lalu kenapa tiba-tiba tak berguna ujian itu. Dan kukira kalau sudah lulus baru bisa mendaftar ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Atau ada firasat kalau Anti tidak lulus?”, sedikit suaraku agak keras biar Anti mau menyampaikan maksud yang sebenarnya. Tapi ia hanya menggelengkan kepalanya. Wajahnya menengadah ke langit-langit kamar. Kemudian kembali memandangku begitu lekat, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan namun terasa sulit untuk diucapkan.

“Terang bulan terang di kali, biduk berjalan dengan nyali. Kalau adik mengungkapkan rasa susah sekali, membuat abang pusing berkali-kali”, aku coba kelakar dengan berpantun. Anti memandangku dengan sedikit senyum. Matanya nampak berkejap-kejap.

“Selesai pengumuman hasil ujian nanti ….”, ucapannya tersendat dan berhenti. Jari-jemarinya ia genggamkan erat-erat di tangan kursi. “Kak, aku mau dikawinkan oleh ibu”.

“Setelah pengumuman nanti?”

“iya. Dan itu yang selalu menghantui setiap hari. Maaf kak, Anti hanya ingin menumpahkan keluh kesah ini. Aku rasa kakak lah orang yang paling tepat dan bisa membantu Anti. Walau pun belum lama kita berkenalan, tapi kulihat kakak selama ini sangat memperhatikan Anti. Kakak tidak marah kan?” ucapnya polos dan cukup lancar.

Aku hanya menggelengkan kepala. “Siapa calon suamimu?”

“Ibu akan menjodohkanku dengan pak Limpo, seorang pedagang yang kaya dan sering memberikan pinjaman kepada ibu. Padahal lelaki separuh baya itu sudah berkeluarga. Entah kenapa ibu mau menerima pinangannya”. Kepolosan Anti sebagai seorang wanita yang masih sangat belia sepertinya mengalir begitu saja. Ibarat debur ombak pantai Losari yang membuncah dan pecah begitu saja tanpa beban serta keharusan di daerah mana harus pecah. Tapi kalau kupikir-pikir, bukankah ini sebuah bentuk perdagangan anak-anak secara terselubung. Jelas sekali kalau kondisi ekonomi keluarga Anti yang menjadi pintu masuk untuk persoalan ini semuanya. Dan kukira umur Anti sekarang baru sekitar 15 tahun. Tak lebih. Padahal ia masih ingin sekolah di sebuah sekolah kejuruan, masih ingin bermain berkejar-kejaran dengan teman-temannya. Lalu disuruh kawin, kemudian hamil dan punya anak. Ah, betapa kelabu masa remajanya. Masa-masa manis dan indah di sekolah menengah, pasti akan hilang oleh suara tangis anak atau suara peralatan dapur yang saling beradu. Gelap benar nasib anak ini, tanyaku dalam hati.

Malamnya, seusai ibu Anti membersihkan tempat dagangannya, aku berusaha mendekati dan memohon agar dia mau berbicara sebentar di kursi plastik samping gerobak. Lalu kusampaikan keluhan-keluhan anaknya tentang rencana perkawinan seusai pengumuman hasil ujian nanti. Kucoba juga memberikan saran agar rencana itu dibatalkan karena umur dan kondisi Anti yang masih sangat belia, juga coba kusisipkan sedikit pengetahuanku tentang jiwa seorang remaja seumur Anti yang belum siap untuk berumah tangga.

“Saran nak Anto benar, tapi ibu tidak bisa banyak berbuat untuk masalah ini”.

“Maksudnya, bu?”

“Ibu sudah berusaha selama ini, tapi tak pernah mau cukup-cukup. Dua tahun yang lalu pinjaman dagangan ibu yang dua juta sama pak Limpo, sekarang sudah membengkak jadi lebih empat juta. Nah, ibu coba menabung sedikit demi sedikit setiap malam dan waktu kelihatannya lebih cepat dari pada tabungan yang tak seberapa ibu sisihkan. Ibu merasa berat saat pak Limpo datang ke rumah dan bermaksud melamar Anti”, jawabnya lirih ditingkahi debur ombak pantai Losari.

“Maaf, jadi kalau ibu menerima lamaran dari pak Limpo lalu pinjaman ibu lunas? Begitu kan, bu?” Ibu Anti hanya mengangguk, mungkin suaranya tersekat dihalangi batu maha besar di kerongkongannya. Ia tahu apa yang dilakukannya salah, namun ia sangat lemah untuk dapat menyelesaikan persoalan itu. Mungkin juga perasaan ibu setengah baya yang duduk di depanku ini sakit seperti teriris-iris sembilu. Lalu kubisikan sesuatu pada ibu Anti dan ia menganggukan kepalanya sambil menjabat tanganku.

Angin laut malam semakin menusuk-nusuk kulitku. Suara debur ombak terasa menyanyikan lagu kerinduan pada kampung halaman. Di jalanan masih ada beberapa kendaraan yang lewat. Aku mencoba menembus malam berjalan sepanjang trotoar. Kubekapkan tanganku di dada, kutekan tangis hatiku pada bayang-bayang wajah Anti.

Satu minggu kemudian aku akan berpamitan karena sesuai surat tugas aku harus segera melapor di tempat tugasku yang baru, sebuah kota yang berjarak 150 kilometer arah timur Makassar. Dan seperti biasa aku duduk di decker dekat jualan ibu Anti, memandangi laut yang nampak bersentuhan dengan langit bersaput awan.

“Ini kopinya, kak”, ucap Anti sambil menyodorkan segelas kopi. Kutatap wajahnya lama-lama. Senyumnya tambah mengembang. Aku jadi ingat adikku yang sebaya Anti. Lalu Anti mendekat dan duduk di sampingku.

“Kalau uang tabungan ibu sudah cukup, nanti Anti bawakan ke Parepare ya kak dan sekalian menjenguk kakak di sana”, kata Anti sambil masih tersenyum. Aku menggelengkan kepala. Kuraih gelas di sampingku dan kuminum seperempat isinya.

“Anti harus sekolah lagi ya, rajut masa depanmu dengan sungguh-sungguh. Lupakan masa lalu dan jangan lupa rajin membantu ibu”. Senyum Anti makin mengembang, siksaan harus berkeluarga di umur belia tak jadi ia rasakan. Kutatap wajah Anti yang semakin sumringah beradu dengan sinar rembulan yang nampak bergerak amat perlahan di antara saputan tipis awan. Sepertinya rembulan itu ingin terus menemani Anti yang bersuka cita karena juga telah lulus ujian.

 

Makassar, 2004

 

2 Tanggapan to “Rembulan di Atas Pantai Losari”

  1. aku rindu padamu kanda….begitu lama kita tak bercerita hingga sebungkus rokok habis ditengah malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: