Ponirah

Cerpen Tri Astoto Kodarie

 

 

Sumber : fineartamerica.com

Sisa-sisa angin pagi masih terasa hembusannya. Baju kaos tipis yang kukenakan terasa tak mampu menghalang-halangi hembusan angin pagi yang berusaha meraba-raba sekujur tubuhku. Di jalanan nampak beberapa buruh perempuan dari pabrik pembuatan bulu mata yang tak jauh dari rumah, berjalan tergesa-gesa sambil sesekali bercanda.

 

Kota kecil ini sudah mengalami banyak perubahan. Beberapa pembangunan fisiknya nampak menonjol, seperti pelebaran jalan, perbaikan alun-alun, dan beberapa supermarket telah melengkapi kota tempatku sekolah dulu mulai taman kanak-kanak sampai SMA. Purbalingga cukup menarik dan berkembang, bahkan kota kabupaten di kaki gunung Slamet ini sungguh mengagumkan kemajuannya jika dibanding saat kutinggalkan dua puluh tahun yang lalu.

Dan dengan mengendarai mobil van milik kakakku yang masih tinggal di kota ini, aku berusaha bernostalgia sendiri menelusuri setiap jalanan yang sudah mulus dan lapang itu. Bahkan di sudut-sudut jalan, dimana tempat berkumpul-kumpul dulu bersama teman-teman, kusinggahi sejenak dan kutatap dalam-dalam sambil menikmati tarian-tarian nostalgia yang bermain di batinku.

Hampir satu setengah jam kutelusuri setiap lekuk jalanan. Dan saat melewati jalan protokol di kota itu, mobil kupinggirkan di depan sebuah supermarket yang cukup besar. Setelah kuparkir di ujung kanan toserba itu, kulangkahkan kaki perlahan sambil sebentar-sebentar memandangi di sekeliling pelataran toko itu. Pikiranku saat itu berharap dapat bertemu teman-teman lama yang tidak meninggalkan kota ini.

Tapi yang jelas aku masih bisa mengingat toserba yang sementara kumasuki. Ya, toserba ini dulu hanya sebuah toko kecil bernama “Harum” dan menjual tembakau serta perlengkapan kebutuhan merokok lainnya, seperti kertas rokok, cengkih, saus rokok lainnya, serta beberapa rokok produk lokal. Tapi sekarang semuanya sudah berubah, menjadi toko serba ada yang modern, menawarkan berbagai kebutuhan seperti layaknya yang dikonsumsi masyarakat di kota-kota besar.

Setelah lelah berkeliling tanpa tujuan di toserba itu, kuputuskan untuk pulang. Mesin mobil kubunyikan dan seorang tukang parkir mendekat. Kuambil uang recehan lima ratus yang ada di atas dashboard untuk kemudian kuberikan ke tukang parkir itu. Tapi tiba-tiba tanganku yang berisi uang lima ratus digenggam erat-erat oleh tukang parkir yang lusuh dan agak tua seraya matanya yang tajam memandangku.

“Tono apa ya …?!” si tukang parkir itu menyebut namaku setengah berteriak.

“Iya…” , jawabku pendek sambil coba mengingat siapa lelaki di sampingku itu.

“Bangsat bener kamu! Aku Yanto!” Ucapnya kembali sambil mengguncang-guncang tanganku begitu kuat. Aku tersenyum dan menjabat tangannya lebih erat lagi. Lelaki yang lusuh dan tua di hadapanku ini, Yanto. Dia teman akrab waktu di SD, seorang anak Wedana yang cukup kaya dan terpandang. Kurang lebih 30 tahun yang lalu aku sering datang dan bermain di rumahnya. Sebuah rumah dinas Wedana yang cukup luas dan asri di tengah kota. Setiap aku datang, seorang pembantu setengah baya dengan menunduk-nunduk membawakan dua gelas teh dan jajanan pasar kesukaan Yanto. Ia dulu juga sudah punya motor bebek yang bundar lampunya dan aku sangat senang diboncengnya keliling kota.

“Masih ingat aku kan?” Suaranya itu membuyarkan lamunanku. “Begini saja, aku mau kerja dulu dan nanti malam saja aku ke rumahmu”, katanya sambil menunjukan peluit yang tergantung di lehernya dan tangannya menunjuk ke area parkir dengan kendaraan yang berderet. Aku mengiyakan ajakannya itu dan segera kutinggalkan area parkir. Yanto kulihat begitu sibuk mengatur kendaraan dengan peluitnya yang ditiup nyaring. Prrii..tt! Priiitt! Sejenak kupandangi Yanto yang berjalan kiri-kanan di antara kendaraan dengan keringat bercucuran.

Malamnya ia betul-betul datang dengan pakaian yang cukup rapi. Ia tersenyum dan memelukku dengan begitu hangat. Kemudian kami berdua duduk-duduk di teras, menikmati teh panas dan mendoan – sejenis penganan khas yang terbuat dari tempe yang belum jadi dan digoreng dengan tepung – sambil bercerita dan sesekali tawa kami meledak bila mengingat masa lalu yang lucu-lucu.

Yanto bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya, kenangan waktu di SD dan SMA serta beberapa teman semasa mulai tumbuh jadi remaja. Tapi yang cukup menyentak adalah cerita tentang orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan saat dia mau ke Semarang, tepatnya di kota Bawean. Dan saat kecelakaan itu, kedua orang tuanya meninggal cukup mengenaskan. Sedangkan Yanto dan adiknya, Ina, selamat dan hanya luka-luka ringan saja.

Semenjak itu kehidupan Yanto pun berubah. Ia dan adiknya ikut dengan pamannya di desa tempat kelahiran Ibu Yanto yang jaraknya tak jauh dari kota ini. Kuliahnya di Semarang terputus dan akhirnya ia berusaha mencari kerja di Jakarta, sedangkan adiknya selang enam bulan setelah kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya, dilamar oleh guru SD di desa pamannya.

“Masih ingat Ponirah kan? Cewek yang pernah kaupacari itu”, ingat Yanto kepadaku. Sedikit terperanjat dan berdegup jantungku saat nama itu diucapkan. Ponirah? Ya, gadis berkulit kuning langsat dengan rambut sebahu dan siswa paling cerdas di kelasku. Ia lincah dan banyak berorganisasi. Matanya sayu dan bibirnya yang tipis membuat banyak teman laki-lakinya selalu ingin dekat dengannya. Dan aku ingat betul gadis itu, bahkan buku memoriku penuh dengan coretan-coretan namanya. Kekaguman yang begitu mendalam hingga membuatku rajin ke sekolah dengan tujuan utama ingin selalu bertemu dengan Ponirah dan sebisa mungkin duduk di dekatnya. Masa SMA dulu jadi begitu indah di memori pikiranku. Ingin rasanya kuputar kembali jarum waktu ke masa lalu.

Dan sampai akhirnya aku ditempatkan bekerja di Makassar, buku memori itu masih tetap kubawa dan kusimpan rapi. Ada satu tulisan menarik yang ditulis Ponirah di buku memoriku itu, “Ketika bibirmu menempel di bibirku”. Ah… ya, aku selalu membaca tulisan itu bahkan sangat sering kubaca setiap waktu. Sangat terasa indah dan meresap ke sanubari terdalam deretan kata-kata itu. Ibarat batu-batu koral yang indah di dasar laut, terlalu sulit rasanya untuk berulangkali disentuh bahkan dinikmati keajaibannya. Tulisan Ponirah yang sedikit miring dan bersambung, bagiku seperti keajaiban menara Pisa. Selalu membuatku penasaran untuk melihatnya berulang-ulang. Tulisan itu seperti magnet dan wajah Ponirah yang memiliki daya tarik dasyat.

Tapi dengan berat hati akhirnya buku memoriku itu kubakar ketika aku akan menikah. Apa boleh buat. Demi rumah tangga aku tak ingin diganggu dengan urusan-urusan masa lalu. Kukubur dalam-dalam prosesi masa laluku yang tak mungkin lagi kurengkuh. Entahlah, apa kata masa laluku itu? Mungkin terlalu sadis atau bahkan akulah orang yang tak mau menoleh pada sejarah. Tapi untuk apa sejarah kalau hanya membuatku menggigil gelisah?

“Dia sekarang menjadi pelacur dan aku salah satu langganannya”, kata Yanto bangga sambil tertawa. Dadaku semakin terguncang hebat dan seperti ada sebilah belati yang menusuk-nusuk langit-langit jantungku. “Gila!” batinku. Inilah perjalanan sejarah itu yang bagiku terkadang sangat menggelisahkan. Ia akan berubah seirama putaran waktu dan perubahan itu terkadang sangat dasyat serta membuat perjalanan batin terhuyung-huyung.

Ponirah yang cantik dan cerdas itu lalu mempunyai cita-cita menjadi arsitek, kenapa sekarang justru jadi pelacur? Ah, aku tak semudah itu percaya pada temanku yang urakan ini. Ninik jadi pelacur, jadi sampah, jadi penjaja seks, jadi penggoda lelaki, jadi pemuas nafsu, dan entah apa lagi namanya yang membuatku jadi meradang serta tak percaya pada ucapan temanku itu. Tapi Yanto tetap meyakinkan hal itu, bahkan dia mengajakku untuk menemui Ponirah dan sekaligus tidur dengannya. Bahkan menurut Yanto kalau Ponirah sering beroperasi di beberapa hotel di kota ini.

Malam semakin larut. Butir-butir embun mulai turun. Langit nampak semakin kelam. Sekelam cerita Yanto tentang Ponirah. Terdengar suara jam berdentang dua kali dari dalam rumah. Yanto pamit dan berjanji untuk bertemu lagi besok. Aku mengangguk setuju. Ia tentu akan bercerita lebih banyak tentang kota ini atau cerita menarik teman-teman semasa sekolah dulu, pikirku.

Empat hari kulalui dengan beragam kesan di kota kecilku ini. Janji Yanto kemarin malam untuk datang tak ditepati. Ia mungkin terlalu lelah dengan pekerjaannya sebagai tukang parkir. Tapi aku masih berharap untuk dapat bertemu dengannya kembali untuk bercerita sambil tertawa bersama. Ingin kugali cerita lebih banyak darinya dan pasti ia akan dengan senang hati menceritakan segalanya penuh percaya diri, lancar dan deras mengalir seperti sungai Serayu. Apalagi kalau disiapkan rokok kretek dan kopi. Temanku yang satu ini memang enak bila diajak bicara juga kuat begadang. Aku terkadang tak mampu untuk menemaninya bercerita sampai larut malam. Bila bercerita, ia seperti sedang berenang di lautan nasibnya.

Pagi hari seperti biasa kuambil surat kabar yang tergeletak di atas meja teras rumah. Kubuka halaman demi halaman, kulewati berita-berita politik negeri ini yang semakin ruwet dan menjengkelkan. Tapi tiba-tiba mataku terbeliak, tanganku gemetar melihat berita pada halaman dua puluh tujuh yang memuat berita-berita daerah. Kulihat dua manusia yang telah menjadi mayat pada foto yang ada di sudut kiri atas halaman. Keterangan di bawah foto itu tertulis, “Dua mayat ditemukan di sebuah rumah kontrakan di Jalan Isdiman. Jati diri mayat itu telah diketahui oleh pihak berwajib, yang lelaki berinisial Y seorang tukang parkir dan yang wanita berinisial Pnr seorang PSK. Dugaan sementara keduanya meninggal akibat over dosis”.

“Ponirah…..”, ucapku lirih sambil melipat surat kabar itu.

 

Parepare, 2003.

 

Sumber :  http://triastoto.wordpress.com/cerpen/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: