Meniti Waktu Di Tepi Hari

Cerpen Tri Astoto Kodarie

 

 

Sumber : lukisanmoses.com

Berulang kali di dorongnya air yang tergenang dengan sapu ijuk yang sudah patah gagangnya. Air itu selalu menggenang bila hujan datang, karena atap terasnya agak rusak, juga beberapa kayunya sudah lapuk. Suaminya belum ada kesempatan untuk memperbaiki, sedangkan ia sendiri mulai Senin sampai Sabtu disibukan di kampusnya sebagai dosen. Hari Minggu harusnya untuk istirahat, tapi pekerjaan yang menumpuk, mulai dari cucian sampai kebersihan rumah membuatnya tak bisa istirahat.

 

Belum tuntas membersihkan genangan air, ia duduk sambil meluruskan kaki yang terasa pegal-pegal. Tangannya coba digerak-gerakan, dilipat dan diregangkan kembali. Fisiknya terasa sudah menurun. Padahal umurnya baru empat puluh enam tahun. Mungkin karena beban kerja yang terlalu berat, membuat fisiknya menurun, keluhnya dalam hati.

Perjalanan hidup memang sepertinya sangat bergelombang, bahkan kadang-kadang sangat curam dan terjal. Ia sangat merasakan hal itu. Padahal dulu tak terpikirkan kalau hidupnya akan cukup susah dan melelahkan begini.

Saat itu hidupnya terasa tanpa beban. Hal itu ia rasakan semenjak ia lahir sampai duduk di perguruan tinggi semester dua. Segalanya serba ada dan siap. Ayahnya sebagai seorang direktur di sebuah usaha milik negara sangat berkecukupan. Ada enam pembantu yang siap melayani segala aktivitas rumah tangganya, belum lagi tiga sopir pribadi yang juga siap mengantar ke mana saja diperlukan. Mobil holden di tahun tujuh puluhan ada tiga di rumah dinas ayahnya, juga sebuah mobil vw combi selalu terparkir di halaman rumahnya yang luas.

Jika dibanding dengan segala fasilitas yang ada, ia dan dua adiknya, tentu sangatlah berlebihan. Ibunya pun hanya sibuk berorganisasi. Hingga terkadang ia memanggil teman-teman sekelasnya untuk belajar di rumah. Teman-temannya sangat antusias kalau disuruh belajar ke rumahnya. Maklum saja karena banyak kue dan buah-buahan dihidangkan sambil belajar, belum lagi es jeruk buatan bibi Umi yang menjadi kesenangan teman-temannya itu.

“Dina, putar dulu dong lagu-lagunya Bimbo”, pinta Dendi sedikit berteriak dari sudut ruangan saat belajar bersama.

“Oke. Bagaimana Wid? Setuju ya?”, tanya Dina kepada Widya yang asyik menyalin tugas. Widya hanya mengangguk. Dina lalu memutar piringan hitam yang ada di sisi kiri ruangan. Dendi pun mengangkat ibu jari tangannya tinggi-tinggi kepada Dina.

Dan menjelang senja, pak Man disuruh mengantar teman-temannya itu ke rumahnya masing-masing. Pak Man yang disuruh mengangguk-angguk hormat dan cepat-cepat menuju sedan holden untuk menghidupkan mesinnya. Pokoknya semua pembantu dan sopir yang ada selalu siap disuruh ke mana saja diperlukan. Tak ada yang berani menolak. Bahkan mereka sangat hormat, bukannya saja kepada ayahnya yang direktur itu, tetapi kepada semua keluarganya. Bukan itu saja. Pekerjaan lain pun biasa mereka kerjakan dengan patuh. Seperti pak Man, biasanya disuruh membuatkan anyam-anyaman dari kulit bambu untuk tugas kerajinan yang disuruhkan oleh Dita, adik Dina yang masih di SMP.

Saat itu pun banyak teman laki-laki Dina yang sering mengungkapkan simpatinya. Maklumlah, selain cantik, Dina juga salah satu anak orang terpandang dan kaya di kota itu. Ia juga memiliki segala fasilitas yang diperlukan berbagai kegiatan dengan teman-temannya. Dina ibarat magnet yang mampu menarik banyak teman laki-laki, baik di kelasnya maupun di kelas-kelas lainnya. Tetapi yang rupanya mendapat tempat di hatinya hanya Dendi. Mengetahui hal itu, Dendi pun memanfaatkannya dengan baik dan selalu menjaga Dina kemana pun pergi.

Tetapi roda-roda kehidupan sepertinya berputar. Saat Dina duduk di semseter dua sebuah perguruan tinggi, ayahnya meninggal karena terkena serangan jantung. Semua itu dikarenakan ayahnya terkena masalah yang secara tiba-tiba menjeratnya. Empat gudang yang ada di perusahaannya habis terbakar. Ayah Dina dituduh berkonspirasi dengan beberapa pihak untuk menghilangkan barang bukti kasus defisit keuangan di perusahaannya. Dan sebelum ayahnya disidik oleh pihak yang berwenang, ajal sudah menjemputnya. Ayahnya merasakan itu semua fitnah untuk menjatuhkan kariernya di perusahaan milik negara itu.

Kehidupan kemudian berbalik tiga puluh enam derajat. Ibu dan anak-anaknya diharuskan segera meninggalkan rumah dinas dan semua fasilitas yang disediakan. Beberapa tabungan ayah Dina di bank diblokir dan disita untuk mengganti kerugian perusahaan. Tetapi untung saja ada kebijakan perusahaan yang memberikan pesangon dan uang pensiun untuk ibu Dina.

Ibunya ditampung di rumah adiknya yang jadi perawat di sebuah rumah sakit. Dina pun tetap melanjutkan kuliah dengan uang pensiun yang ada. Hanya saja Dina dan adik-adiknya merasa belum siap dengan kehidupan yang berbalik drastis, jauh dari kecukupan. Karena terkadang tak ada lagi uang jajan di sakunya. Padahal dulu sakunya selalu penuh dengan lembaran uang yang siap untuk dihambur-hamburkan bersama teman-temanya.

Dengan terengah-engah Dina akhirnya dapat menyelesaikan sarjananya dan kemudian diterima menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi tempatnya kuliah. Kemudian menikah dengan seorang insinyur bangunan, yang saat itu belum memiliki pekerjaan. Hanya saja sampai kini suaminya terjun sebagai kontraktor dan memiliki usaha jasa konstruksi.

“Assalamu’alaikum”, salam suaminya yang tiba-tiba datang dan membuka pintu pagar. Dina terkejut. Semua lamunan tentang masa lalunya jadi pecah berkeping-keping. Lalu ia bangkit menjemput suaminya dan membalas salam. Sedangkan suaminya langsung masuk ke dalam rumah. Dina pun mengikutinya dari belakang.

“Gagal lagi tenderku kali ini, bu”, ucap suaminya seraya meremas-remas rambut di kepalanya. “Padahal penawaranku sudah cukup rendah dibanding dengan kontraktor yang lain”, lanjut suaminya dan melemparkan tubuhnya di atas sofa yang sudah pudar warnanya.

“Sabarlah, pak. Mungkin besok ada perubahan dari panitia”, jawab Dina membawa segelas kopi dan diletakan di meja dekat suaminya duduk.

“Tapi sepertinya ada permainan dalam tender tadi. Sepertinya ada kepentingan dari para pejabat yang akan dipaksakan dan memenangkan salah satu rekanan yang menjadi koleganya”.

“Jangan berprasangka buruk begitu. Mungkin masih ada kesempatan di tempat lain”, ucap Dina berusaha menenangkan hati suaminya. Dina sangat paham, kalau pekerjaan suaminya memang butuh kemampuan melobi kiri-kanan untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi terkadang dalam satu masa tahun anggaran tak satu pun pekerjaan yang ia dapatkan. Maka gaji Dinalah yang menjadi tumpuan untuk dapat memutar roda keluarganya. Belum lagi dua anaknya yang membutuhkan biaya. Anak yang sulung sementara semester tiga di fakultas kedokteran, sedangkan yang bungsu baru duduk di kelas dua SMA. Bagaimana tidak terasa berat beban di pundak Dina kalau memikirkan semuanya itu. Fisiknya sebagai wanita yang belum terlalu tua terasa semakin rapuh. Kadang ia malu jika bertemu teman satu sekolahnya dulu yang masih nampak segar dan cantik.

“Reza ke mana, bu”, tanya suaminya mencari anak bungsunya.

“Pergi les bahasa Inggris bersama teman-temannya. Kenapa, pak?”

“Saya mau suruh cuci motor”, jawab suaminya lalu beranjak menuju kamar mandi. “Jangan lupa belikan obat, sisa obatku tinggal satu kali minum”, lanjut suaminya mengingatkan. Dina hanya mengangguk. Diambilnya sisa-sisa uang belanja tadi pagi lalu dihitungnya. Tak cukup. Diambilnya uang di laci lemari yang merupakan uang untuk persiapan kebutuhan dalam satu bulan. Dina melirik kalender di sisi lemari. Baru tanggal dua puluh, keluhnya. Persiapan uangnya sudah semakin menipis. Kalau pun tidak beli obat, jangan sampai asma suaminya tambah parah. Bila itu terjadi, tentu saja yang repot dirinya. Ia pasti akan mengantar suaminya bolak-balik ke puskesmas untuk berobat dengan kartu kuningnya. Dina ibaratnya kepala rumah tangga yang harus mengatur segala-galanya.

“Bu, sedang apa”, sapa Firza, anak perempuannya yang baru pulang kuliah. Firza lalu mencium kedua pipi ibunya. Ada kekuatan yang tiba-tiba mendorong kuat pada Dina untuk terus berusaha tegar menghadapi hidupnya.

“Baru pulang, Fi”, tanya ibunya. “Tolong belikan obat dulu untuk bapakmu di apotik Sumber Waras, tempat biasa obatnya bapakmu dibeli”, kata ibunya sambil menyodorkan uang kepada anaknya.

“Baik, bu”, jawab Firza patuh. Dina mengelus lembut rambut anaknya. Perasaan di hatinya jadi begitu tentram kalau melihat anak-anaknya itu. Semua kelelahan hidup jadi hilang tak terasa. Dua anaknyalah yang selama ini menguatkan hatinya untuk terus berjuang menghadapi segala kesulitan-kesulitan hidup.

Dina kembali lagi menuju teras untuk melanjutkan pekerjaannya tadi. Dua tiga kali didorongnya pakai sapu genangan air itu, terlihat sedikit mengering. Ia kemudian membersihkan beberapa daun yang jatuh saat hujan tadi. Rumahnya yang hanya sedikit pekarangannya, memang cukup mudah untuk dibersihkan. Dina dan keluarganya sudah hampir empat tahun tinggal di kompleks perumahan itu. Ia mengkredit rumah tipe 36 itu selama sepuluh tahun. Sedang sebelumnya ia berpindah-pindah mengkontrak rumah. Sampai sekarang Dina belum mampu untuk mengembangkan rumahnya itu, sedangkan suaminya selalu berjanji bila sudah mendapatkan proyek akan segera merenovasi rumahnya. Tapi kenyataannya, sudah akan memasuki tahun keempat beberapa proyek yang ia kerjakan katanya selalu merugi. Aneh memang nampaknya karena setiap proyek sudah memiliki perencanaan yang matang, bahkan ada konsultannya.

Dina menyandarkan tubuhnya di kursi sudut teras. Tatapan matanya kosong memandang lurus ke depan. Seandainya ayahnya tidak meninggal, tentu hidupnya tidak akan sesulit ini, keluhnya dalam hati. Seandainya waktu bisa diputar kembali menuju titik awal keberangkatan hidupnya, keluhnya lagi. Namun hatinya yang paling dalam menyadari itu semunya. Manusia boleh berandai-andai, tetapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Harta dan kebahagiaan sangat mudah meninggalkan kehidupan ini, bahkan dalam sekejap. Dina sangat sadar bahwa kehidupan seperti roda yang berputar, kadang di atas, di samping kiri kanan, dan terkadang pula di bawah. Aku seharusnya tidak boleh menangis merasakan kondisi seperti sekarang ini, karena toh aku sudah pernah menikmati kebahagiaan itu, katanya dalam hati. Kenapa aku tidak rela ketika bergantian dengan orang lain untuk juga merasakan kebahagiaan dengan harta yang berlebih? Tanyanya dalam hati. Kenapa aku harus iri atau dengki ketika melihat sahabat-sahabatku dulu yang hidup susah dan sekarang sukses? Kenapa aku tak rela melihat semuanya itu? Lanjutnya menanyakan pada dirinya sendiri.

Dina memperbaiki letak duduknya. Seharusnya aku bersyukur karena sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang rutin kuterima tiap bulan. Tentu masih ada dan banyak orang-orang yang lebih sulit hidupnya dariku, katanya lagi dalam hatinya. Ataukah aku belum siap menghadapi kenyataan hidup ini? Suami, anak-anak dan ibuku yang sudah tua, semuanya menjadi bebanku. Ternyata berlimpah fasilitas tidak memberikan kemandirian pada seseorang, juga membuat aku tidak siap menghadapi kesulitan hidup. Aku tidak terbiasa dengan tempaan-tempaan derita. Atau aku saat itu telah melupakan isyarat alam, bahwa ada pagi tentu ada malam, kemarau selalu berpasangan dengan hujan, seperti bahagia selalu menanti datangnya derita. Kalau dulu aku berlimpah bahagia, wajar saatnya sekarang aku berteman dengan kesulitan-kesulitan dalam hidup. Di dunia ini semuanya berpasang-pasangan, ucapnya di dalam hatinya. Dina bangkit dari duduknya saat melihat Firza datang. Ia kemudian membukakan pintu pagar. Motor Firza menderu masuk.

“Obatnya bawakan bapakmu, Fi”, perintah Dina. Setelah memperbaiki letak motornya, Firza kemudian masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar orang tuanya.

“Buuu….!” Teriak Firza dari dalam kamar. Dina tersentak dan lari menuju kamar.

“Ada apa Fi?”

“Bapak, bu. Dada bapak sakit sekali”, kata Firza menjelaskan.

Dina mendekat ke tempat tidur. Dilihat suaminya mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya kuat-kuat. Dina sudah paham penyakit suaminya itu. Lalu Dina menyuruh anaknya ke rumah pak RT yang hanya berjarak tiga rumah untuk meminjam mobilnya. Karena kalau suaminya begitu harus segera ke rumah sakit dan segera mendapat pertolongan oksigen.

Firza pun bergegas pergi dan tak lama nampak pak RT dan mobilnya sudah siap di depan rumahnya. Dipapah perlahan-lahan suaminya.

“Mari pak Brata”, sambut pak RT sambil membukakan pintu bagian belakang. Dina duduk mendampingi suaminya yang masih mengerang kesakitan. Pak RT segera tancap gas menuju rumah sakit.

Di selasar rumah sakit, Dina duduk ditemani anaknya, Firza. Dokter tadi mengatakan kalau suaminya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari sampai pulih penyakitnya. Dina tertunduk lesu. Wajahnya nampak lelah.

Ia mendekap Firza yang ada di sampingnya. Cobaan hidupnya belum selesai, katanya dalam hati. Tapi ia mensyukuri karena suaminya bisa terselamatkan. Air mata Dina mengalir lembut di pipinya. Ia merasa harus selalu siap meniti waktu di tepi hari yang masih panjang. Ya Allah, berikan hambamu ini kekuatan dan kesabaran, doa Dina dalam hati. Ia berjanji akan selalu tegar menghadapi setiap cobaan.

“Bu…”. Firza memeluk erat-erat ibunya.

Senja pun menggugurkan butir-butir air gerimis. Lembut angin mendinginkan suasana di selasar rumah sakit. Dina mencoba tersenyum di depan wajah Firza. Ia ingin menyembunyikan galau di hatinya. Ia ingin gerimis yang menggelisahkan segera reda, seperti gelisah di hati Dina.

 

Parepare, 2007.

 

Sumber : http://triastoto.wordpress.com/cerpen/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: