Kau Letakkan Kembali Segaris Awan Di Mataku

Cerpen Tri Astoto Kodarie

 

 

Sumber : mosleyart.blogspot.com

Bangunan rumah itu nampak tua dan kusam. Sebagian kapur dindingnya sudah mengelupas, cat kusen pintu yang berwarna biru muda nampak sudah memudar. Beberapa pot yang diletakan di samping teras sepertinya sudah tak lagi disentuh penghuninya. Sebagian tanaman bunganya layu dan patah-patah, beberapa pot yang terletak di sudut teras malah pecah-pecah dan berlumut. Rerumputan nampak tumbuh subur seperti tak pernah disentuh ujung-ujung sabit atau derit suara gunting rumput.

Dua waktu kulewati rumah itu tak juga ada penghuni yang nampak di teras rumah. Pagi yang mendung mengantarku ke rumah itu yang terletak di sudut jalan, tapi tak kujumpai seorang pun penghuninya yang nampak di luar. Kemudian kuniatkan lagi sore yang gerimis untuk menyambangi kembali rumah itu, tak juga sedikitpun pintu atau daun-daun jendela yang yang kusam itu terbuka. Hanya daun-daun mangga yang melambai diusik angin yang membawa gerimis sore itu.

Pintu kubuka perlahan, nampak wajah Lina terkesiap.

“Nampaknya kaugunakan waktu liburmu untuk mengelilingi kota ini?’ tanya Lina sambil mengangsurkan segelas teh kepadaku.

Aku hanya mengangguk. Kuminum sedikit teh untuk menghangatkan tubuhku. Kacamata yang basah kulap dan kuletakan di dekat gelas teh di atas meja.

“Kota ini masih seperti dulu, dua puluh satu tahun yang lalu. Tidak ada perubahan. Hanya beberapa toko berubah menjadi supermarket, tapi beberapa ruas jalan masih seperti dulu dengan bangunan-bangunan tua dan pohon-pohon besar di depannya”, ucapku sambil memandangi Lina yang juga sudah semakin tua dengan kerut-kerut garis di wajahnya.

“Memang betul, bahkan banyak orang bilang kalau kota ini seperti kota para pensiunan”.

“Bukan kota para pensiunan, tapi kota hantu”, selorohku.

“Bukan itu yang saya tangkap dari pembicaraanmu, Wan. Tapi kelihatannya ada sesuatu yang kaucari-cari di kota ini. Seperti ada obsesi. Atau ada kenangan masa lalumu yang masih tercecer hingga sekarang?” ucap Lina penuh selidik.

Hening. Di luar, gerimis masih setia menemani senja. Sebagian lampu di ruangan tengah sudah dinyalakan sejak tadi. Lina, kakakku, hanya sendiri di rumah warisan orang tua ini. Suaminya meninggal lima tahun lalu ketika berlayar dengan kapal perusahaan berbendera Panama dan dihantam badai di sekitar perairan Banda. Sedang dua anaknya sudah bekerja dan berkeluarga. Yang satu menjadi dokter di Jambi dan yang bungsu wiraswasta di Jakarta. Lina nampaknya sudah terbiasa dengan kesendirian. Ia mengisi hari-harinya dengan membuka warung kecil yang menjual berbagai masakan.

“Wan, melamun ya?”

Aku menggelengkan kepala.

“Makan malam dulu baru istirahat”, lanjut Lina sambil beranjak dari tempat duduknya menuju meja makan. Nampaknya ia menyiapkan makan malam untukku.

Di tempat tidur mataku sulit terpejam. Bayanganku tentang rumah di sudut jalan itu masih terus nampak. Ke mana penghuninya? Ke mana Wina dan keluarganya? Tidak mungkin ibu bapaknya pindah ke kota lain, karena ia sudah pensiun dari pegawai negeri. Entahlah juga cita-cita Wina menjadi pramugari tercapai atau tidak. Postur tubuh yang semampai dan kecerdasannya tentu sangat mendukung menjadi seorang pramugari. Kedua orang tuanya waktu itu juga merestui keinginan Wina.

“Kalau nak Iwan selesai SMA mau ke mana?” tanya ibu Wina di teras rumahnya. Wina saat itu tersenyum manis memandangiku.

“Mungkin melanjutkan kuliah, bu”, jawabku tertunduk.

“Ambil kedokteran ya ….”.

“Tidak, bu. Saya ingin masuk fakultas sastra”.

“Lho nanti kalau tamat apa ada lapangan pekerjaan? Kalau saran ibu sebaiknya masuk kedokteran atau teknik. Fakultas sastra kan nggak ada masa depannya. Begitu kan nak Iwan?”

Aku hanya tertunduk mengangguk-angguk. Dadaku bergemuruh. Ingin rasanya cepat-cepat aku meninggalkan tempat ini. Aneh, kenapa jadi begini? Apakah aku harus tunduk dengan keinginan ibu Wina? Tidak. Bagiku fakultas apapun kalau dijalani dengan tekun tentu akan membuahkan hasil.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan kata-kata ibuku. Maklumi saja pikiran dan perasaan orang tua”, ucap Wina setelah ibunya masuk ke dalam rumah. Aku memaksa tersenyum kepada Wina, sebelum pamit pulang.

Sepanjang jalan dari rumah Wina seluruh darah di tubuhku rasanya mengalir ke satu arah, jantung, sebagai muaranya. Gumpalan darah yang menyatu di jantung membulatkan tekad akan memperlihatkan keyakinannya bahwa masuk fakultas sastra tak salah. Selain itu, gumpalan darah berikrar bahwa akan memberikan jalan hidup yang terbaik dan bertanggung jawab kepada Wina. Percayalah Wina, desahku lirih.

Subuh tak terasa telah tiba. Suara muazzin dari masjid di depan rumah mengumandangkan asma Allah menyelinap lembut lewat bibir jendela kamar. Tidurku semalam cukup lelap meski bayang-bayang Wina hadir di sepanjang perjalanan hingga subuh menyentakku. Perlahan pintu kubuka, nampak Lina duduk di kursi sudut ruang tengah mengenakan mukena. Dan ia tahu kalau aku sudah bangun karena suara derit pintu mengusik keheningan.

“Semalam kau mengigau, Wan. Berteriak-teriak cukup keras”, kata Lina sambil bangkit dari tempat duduknya. “Lampu kamar mandi mati dan sebaiknya kamu wudhu di samping sumur saja”, lanjutnya.

Aku mengangguk dan bergegas ke sumur yang ditunjukan Lina.

Usai shalat kusampaikan niatku untuk jalan-jalan pagi. “Pasar burung belum pindah kan Lin”, tanyaku kepada Lina.

“Masih di tempat yang dulu, di belakang kantor kelurahan”. Aku mengangguk-angguk, tapi pikiranku berketetapan ingin melewati depan rumah Wina dulu. Biarlah berputar sebelum sampai ke pasar burung. Kalau aku tidak kuat jalan bisa naik becak.

Butir-butir embun tipis menemani langkah kakiku menembus heningnya pagi. Hanya ada satu dua motor dan angkutan kota melintas cepat seperti dikejar-kejar oleh waktu. Beberapa penghuni rumah yang kulewati nampak membersihkan halamannya. Tapi tak ada lagi yang kukenal. Entah siapa mereka. Apakah penghuni baru kota ini atau keluarga dari pemilik rumah. Padahal hampir sepanjang jalan yang kulewati banyak teman-temanku sesama di bangku sekolah dulu. Dua puluh satu tahun ternyata telah membuatku kehilangan kawan-kawan yang dulu sama-sama bercanda, diskusi, belajar, atau bahkan adu mulut. Waktu rupanya bisa menjadi seseorang merasa asing dan bahkan kehilangan kawan. Waktu telah melipat-lipat perjalanan hidup seseorang. Seperti sebuah buku, perjalananku telah meninggalkan halaman-halaman awal dan masuk pada halaman pertengahan buku.

“Winaa..!” jeritku agak tersekat begitu melewati depan rumah yang selalu tertutup dan tak berpenghuni itu. Sambil mengibaskan rambutnya yang sebahu, perempuan yang kupanggil itu menoleh hendak melangkah masuk pintu rumahnya. Ia tersenyum dan mengerjapkan matanya yang sayu dan dulu aku amat senang menatapnya. Alis matanya masih setebal dulu. Ia menatapku di antara dua daun pintu. Aku melangkah hendak membuka pintu pagar, tapi Wina langsung menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Aku mencoba memanggilnya kembali sedikit lantang. Lalu kucoba membuka pintu pagar, tapi kunci gembok yang berkarat dengan rantai yang cukup besar tak bisa kupaksa buka hanya dengan kedua tanganku. Kuamati kunci dan rantainya, nampak seperti lama tak pernah terbuka. Kupandangi pintu dan jendela di sampingnya yang telah kusam catnya itu, nampak tak terbuka sedikit pun.

Kubalikan badanku untuk meninggalkan tempat itu. Sebentar kupandangi lagi rumah Wina. Ah, ia juga sedang memandangiku dari balik jendela dan tersenyum.

“Win, bukalah pintu. Ini aku, Iwan!”, teriakku seraya melangkah kembali ke pintu pagar Wina, tapi ia nampak membalik dan meninggalkan balik jendela itu. Aku sedikit kesal dan kutinggalkan rumah itu. Sebuah motor hampir menyambar saat aku menyebrang jalan. “Sialan!”, makiku sambil bergegas naik di trotoar.

Malam semakin larut. Suara jarum jam dinding yang berdetak rasanya seperti irama yang menuntunku untuk mengingat kejadian tadi di depan pintu pagar rumah Wina. Dan banyak kemungkinan Wina tak mau membukakan pintu rumahnya lalu menemuiku. Salah satunya mungkin ia takut kalau suaminya tiba-tiba datang lalu menghardikku atau ibunya hampir pulang dari pasar dan menemukan aku sedang asyik cerita di teras rumahnya. Padahal sejak aku jadi kuliah di fakultas sastra, ibunya memang sangat mengharapkan Wina tak lagi menjalin hubungan denganku. Suara lonceng jam di dinding berdentang dua kali. Satu dua suara kokok ayam nyaring terdengar dari belakang rumah.

Bayang-bayang Wina terasa melintas di sampingku. Senyumnya masih seperti tadi pagi. Ia lalu duduk di sampingku, menggenggam hangat kedua telapak tanganku. Aku berusaha bangkit dari tidurku, tapi badanku terasa berat kuangkat. “Win ….”, kupanggil namanya lembut, tapi suaraku terasa tersekat. Ia kemudian membelai rambutku dan memperbaiki anak-anak rambut di keningku, seperti seorang ibu yang sedang membelai bayinya. Aku merasakan kasih sayangnya dan kurasakan juga ada segaris awan indah yang ia pindahkan dari matanya yang sayu itu ke bola mataku yang penuh harap. Kupandangi wajahnya, ada air mata seperti anak sungai mengalir di pipinya. Ataukah gumpalan awan di matanya telah cair menjadi hujan? Aku ingin menghapusnya, tapi tanganku masih digenggamnya erat-erat.

“Kak Iwan….”, ucapnya lembut masih tetap menggenggam tanganku.

“Ada apa Win?” jawabku penuh harap.

”Ayo kita terbang ke sebuah kota yang jauh…”

”Ke mana? Kota yang jauh? Di mana itu?”

”Ayolah ikut aku…..”, suaranya agak serak mencoba menarik tanganku.

”Aku harus minta izin di kantorku. Tunda dulu. Nanti kapan waktu saja dan sekalian aku mengambil cuti”. Aku coba bertahan dari tarikan tangan Wina. Tapi mata Wina nampak berubah. Sorot matanya begitu tajam.

Suara ketukan pintu membangunkanku dari tidur. Lina memanggilku berulang-ulang dan mengatakan kalau hari sudah siang. “Penerbangan jam berapa ke Makassar, Wan”, tanya Lina dari balik pintu. “Sore, Lin”, jawabku sekenanya karena mataku masih mengelilingi sudut-sudut kamar mencari Wina yang menggenggam erat tanganku. Dan baru kusadari kalau pertemuan itu hanya bunga-bunga mimpi tidurku yang tak nyenyak.

Di ruang tengah Lina telah menyiapkan segelas kopi dan beberapa iris roti untukku. Ia juga sudah duduk di situ dan sedang menikmati segelas teh. Kuhempaskan tubuhku di atas kursi lalu kuminum kehangatan kopi di pagi hari.

“Hati-hati karena cuaca kurang baik. Apalagi untuk penerbangan”, ucap Lina membuka kebekuan suasana. “Jangan sampai seperti kejadian temanmu itu yang pesawatnya jatuh dan sampai sekarang tak juga ditemukan”, sambungnya lagi.

“Temanku? Yang mana Lin?” balasku kebingungan. Karena aku tak merasa kehilangan teman, apalagi penyebabnya kecelakaan pesawat. Kuingat dan kuingat lagi, tapi rasanya tak ada.

“Yang jadi pramugari. Dulu biasa ke sini, waktu kamu masih sama-sama sekolah di SMA. Anaknya cantik, anggun dan sangat santun. Aku sangat menyukai temanmu itu, Wan”.

“Ah, dulu kan banyak teman-temanku yang cantik dan sering main ke rumah ini. Mereka teman-teman bermain teater di sekolah. Akting mereka dulu hebat-hebat bahkan kabarnya ada beberapa teman yang sekarang kerjanya di rumah produksi sinetron di Jakarta”, jawabku ketus sambil kuhabiskan segelas kopi hingga tandas.

“Kalau tak salah ingat namanya Wina”.

Dadaku tiba-tiba berdesir. Degup jantung bergerak cepat. Aku tak percaya karena kemarin kulihat di rumahnya. Atau Lina sengaja membawaku terbang berputar-putar di angkasa, meliuk di celah-celah awan dan mengingat masa lalu? Tidak. Bahkan semalam aku memimpikannya. Wina begitu anggun dan syahdu menemuiku dan memainkan lembar-lembar rambutnya yang harum dengan jari-jemarinya yang lentik. Memain-mainkan bola matanya di padang gersang pandanganku yang hanya ditumbuhi ilalang-ilalang mongering dan debu-debu yang berterbangan.

“Kenapa Wan, kok tiba-tiba pucat?” Tanya Lina menghampiriku.

Kemudian kuceritakan pertemuanku kemarin dengan Wina dan mimpiku semalam. Dalam mimpi itu Wina mengajakku terbang ke sebuah kota yang jauh. Dan kota itu entah di mana. Lina mengangguk-angguk dan tersenyum sambil menceritakan kalau rumah itu sudah lebih satu bulan tak berpenghuni. Ibunya meninggal terkena serangan jantung begitu mendengar kabar kalau pesawat yang membawa Wina dalam penerbangan tujuan Manado jatuh berantakan di laut. Wina pun sampai sekarang tak jelas kepastiannya. Entahlah. Yang jelas seluruh penumpang dan pesawatnya sampai sekarang masih terkubur di dasar laut. Hanya serpihan-serpihan badan pesawat yang mengapung dan ditemukan beberapa nelayan di pesisir pantai. “Untung saja kau tidak mau diajak pergi ke kota yang jauh itu, Wan. Seandainya kau mau ikut…. ahh…jadi firasat buruk”.

“Maksudmu kak, aku akan meninggal kalau mengikuti ajakan Wina?” Lina mendekatiku dan memelukku erat-erat. “Kehidupan dan kematian manusia itu Tuahn yang menentukan. Tapi ada namanya firasat manusia. Apalagi itu ajakan pergi orang yang sudah meninggal”, suara Lina tersekat, air matanya meleleh di pipi. “Hati-hati nanti di jalan, Wan”, lanjutnya menasihatiku. Kuanggukan kepala dan mencium punggung telapak tangan kak Lina.

Aku bergegas masuk kamar mengemasi pakaian. Setengah jam kemudian aku berpamitan kepada Lina dan berangkat menuju bandara. Ingin secepatnya kutinggalkan kota ini, juga bayang-bayang Wina, sang pramugari itu.

 

Parepare, 2007

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: