Nyanyian dari Kampung Nelayan

Cerpen Tri Astoto Kodarie

 

Sumber: blog.admissions.illinois.edu

Aminah masih terduduk di samping rumahnya. Rambutnya yang panjang kadang digerai-geraikan angin pantai. Matanya yang bulat dan lebar itu menerawang lurus ke depan. Sesekali dipermainkannya sebutir kerikil lalu tak lama kemudian dilemparkannya ke jajaran pohon kelapa. Tapi dari sekian kali lemparan tak satu pun yang mengena. Lalu Aminah mencari beberapa butir kerikil dan dilemparkannya lagi ke jajaran pohon kelapa, lagi-lagi tak satu pun yang mengena. Ia tersenyum sendiri. Sesaat kemudian mengutuk dirinya sendiri karena lemparannya tak satu pun yang mampu mengena batang pohon kelapa, juga keluhan panjang sesekali keluar dari mulutnya.

 

Tak berapa lama, Aminah bangkit dari duduknya. Dari wajahnya nampak kekesalan atas kebodohannya itu. Ia melangkah menuju rumahnya.

Pintu belakang rumah berderak di buka Aminah.

“Kaukah itu, Aminah?” Suara serak dari dalam bilik mengejutkan langkah Aminah. Sejenak Aminah tertegun. Bola matanya yang bulat nanar memandangi sekeliling ruangan belakang, nampak mencari-cari sesuatu. Aminah masih terdiam dan tak segera menjawab pertanyaan dari dalam bilik tadi. Kemudia ia sedikit melompat ke sisi kanan. Dihampirinya meja kayuyang berbentuk bulat dan sudah agak rapuh itu, kemudian diambilnya sebilah pisau yang tergeletak di atas meja itu. Diusap berkali-kali bagian bibir pisau itu sambil tersenyum-senyum. Pisau yang sedikit berkarat itu ditimang-timangnya dengan tangan kanannya. Tak berapa lama diletakannya kembali pisau itu di atas meja. Aminah tersenyum memandangi pisau itu.

“Aminah! Aminah!” Suara dari dalam bilik kembali memanggil. Aminah terkejut dan pisau yang tergeletak di atas meja itu segera diraihnya lalu digenggamnya erat-erat, tangan yang menggenggam pisau disembunyikan di balik kain kebayanya. Matanya berbinar-binar memandangi arah bilik. Aminah kemudian mengendap-endap menuju bilik, arah suara yang memanggilnya tadi.

Dari celah-celah dinding bambu, Aminah berusaha mengintip ke dalam bilik. Pisaunya sekarang tak lagi disembunyikan di balik kain kebaya, tapi diselipkan di pinggangnya. Aminah kemudian menarik nafas dalam-dalam, wajahnya berubah tegang. Dan kemudian dari dalam bilik terdengar suara sandal yang diseret. Tak lama, dari pintu bilik muncul wajah wanita tua. Rambutnya yang hampir semuanya memutih serta badannya yang kurus terbungkuk-bungkuk, wanita tua itu berjalan perlahan sambil berpegangan dinding bambu.

Hanya beberapa langkah saja wanita tua itu berhenti. Ditatapnya Aminah yang berdiri di depannya tak seberapa jauh. Aminah tertunduk saat emaknya berusaha mendekatinya.

“Dari mana saja kau, nak?” Tanya emaknya dengan suara serak dan lemah. Aminah masih tertunduk tak menjawab. “Sudah makan, nak?” Tanya emaknya lagi. Aminah menggeleng pelan. Ditatapnya wajah anaknya itu dengan perasaan sedih. Tangannya yang kurus kering itu lalu mengelus rambut Aminah. Dan Aminah hanya diam tertunduk.

Emaknya sesaat kemudian berbalik kembali menuju bilik. Kepala Aminah bergerak perlahan menatap emaknya yang berjalan terseok-seok sambil senyum-senyum. Diambilnya pisau yang terselip di pinggangnya. Ditimang-timang, sesekali diusapnya pisau itu. Kelakuannya mirip seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya. Masih menimang-nimang pisau, Aminah berputar-putar sambil bersenandung dan sesekali tertawa sendiri.

“Ayo jangan main-main pisau, nak!” Suara emaknya yang tiba-tiba itu mengejutkan Aminah hingga pisaunya terjatuh dari tangannya. Ditatap emaknya dengan rasa benci. Bibirnya bergetar. Lalu tatapannya beralih ke pisau yang terjatuh di tanah. Aminah kemudian duduk bersimpuh di dekat pisau itu. Ia menangis terisak-isak. Pelan-pelan diambilnya pisau itu dengan rasa sayang. Diam-diam emaknya meneteskan air mata saat melihat tingkah anaknya itu. Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk memikul beban hidup ini, kata emaknya dalam hati. Dengan ujung bajunya, diusap perlahan air mata yang meleleh di pipinya yang keriput itu.

“Sudahlah nak. Ini emak bawakan makanan”, bujuk emaknya seraya menyodorkan sepiring nasi dan sepotong ikan asin.

“enggak mau. Aminah enggak mau makan, mak”, katanya sambil menangis terisak-isak. “Emak keterlaluan. Anakku telah emak jatuhkan. Emak telah menyakiti anakku!” Jerit Aminah berulang-ulang.

Emaknya diam saja. Ia tahu kelakuan anaknya itu. Emaknya juga harus banyak bersabar dan beristiqfar karena Aminah memang kurang waras. Semua itu disebabkan peristiwa secara bertubi-tubi menimpanya. Yang pertama karena kematian anaknya satu setengah bulan yang lalu, kemudian perceraian dengan suaminya, Sukri. Buruk benar nasibmu, nak, batin emaknya. Seluruh kampung nelayan sudah tahu kalau Aminah kurang waras semenjak ditinggal suaminya yang kawin lagi di Kalimantan. Padahal dulu Aminah salah satu kembang di kampung nelayan ini.

Lalu emaknya meletakan piring yang berisi nasi itu di dekat Aminah duduk. Wajah Aminah masih bersungut-sungut sambil sesekali terisak.

“Emak pergi dulu ya nak. Jaga rumah baik-baik, jangan pergi kemana-mana”, kata emaknya penuh kesabaran.

Aminah memandangi emaknya dengan perasaan kurang senang. Matanya melotot, pandangannya tajam mengikuti terus kepergian emaknya. Rambutnya yang panjang tergerai tak beraturan itu berulang kali digaruknya. Pisaunya masih dibelainya, sesekali dipermainkan dengan jemarinya yang kotor. Dipandanginya berulangkali pisau itu dengan senyum lalu diciumnya dengan penuh kasih.

Emaknya berjalan tertatih-tatih di atas pasir yang berkilat di bawah terik matahari. Diusap perlahan peluh yang mengalir kecil di dahinya.Ia terus berjalan mendekati kerumunan orang yang sedang menarik jala. Sesekali lidah ombak menyentuh mata kakinya. Dilihatnya beberapa anak kecil yang berada di dekat orang-orang yang sedang menarik jala itu berteriak kegirangan karena jala yang ditarik beberapa leleki itu sudah mendekati bibir pantai.

Emak Aminah berusaha mempercepat jalannya. Tak beberapa lama dua orang lelaki setengah umur mengangkat jala yang ditariknya tadi lalu melemparkannya ke atas pasir. Semua orang yang ada di situ segera berebutan membuka jala, memungiti ikan yang menggelepar tersangkut di rajutan jala. Suara ribut anak-anak kecil dan gemerencing jala membaur menajdi satu. sementara itu emaknya Aminah asyik mengkais-kais sampah yang terbawa jala itu. Beberapa ekor ikan kecil yang membaur dengan sampah dipungutinya satu persatu lalu dimasukan ke dalam baskom plastik kecil. Peluhnya yang meleleh di keningnya, diusap berkali-kali dengan lengan kirinya.

Dari kejauhan tiba-tiba terdengar orang berteriak-teriak dengan ocehan yang tidak jelas. Semua orang yang ada di sekitar itu berpaling ke arah suara. Emaknya Aminah tertegun melihat anaknya berlari-lari membawa membawa sebilah pisau menuju ke arah kerumunan orang yang sedang memunguti ikan dari jala.

“Mak, anak Aminah mati! Anak Aminah mati! Anak Aminah mati!” Teriak Aminah sambil mengacung-acungkan pisaunya. “Ini semua gara-gara emak. Emak telah menjatuhkan anak Aminah. Emak kejam …..kejam…!!” Teriaknya berulang kali setelah berada di dekat emaknya.

Orang-orang yang berada di situ hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Aminah. Mereka tahu kalau Aminah kurang waras. Sedangkan emaknya tidak mampu berkata-kata. Ia hanya tertegun memandangi anaknya.

“Mak, tolong bangunkan anakku”, rajuk Aminah sambil menyodorkan pisau kepada emaknya. Tapi emaknya malah menjerit dan mundur terhuyung beberapa langkah. Emaknya mengira Aminah hendak menusukan pisaunya. Empat lelaki yang ada di sekitar itu segera bergerak hendak menangkap Aminah. Saat melihat empat lelaki mendekat, Aminah segera lari. Keempat lelaki itu pun mengejarnya, tapi Aminah semakin cepat larinya menuju pantai, terus berlari agak ke tengah menerobos ombak dan akhirnya Aminah tergulung bersama ombak pantai selatan yang ganas itu.

Keempat lelaki yang mengejarnya terus berenang ke tengah lautan. Aminah tak nampak lagi. Ia terseret gelombang laut. Orang-orang yang berada di pinggir pantai berteriak-teriak minta tolong. Sementara emaknya tak mampu berbuat apa-apa. Menjerit pun tak bisa, seperti ada benda besar yang menyekat tenggorokannya.Air matanya mengucur deras. Hingga sesaat kemudian emaknya tersungkur di atas pasir tak sadarkan diri. Melihat hal itu, beberapa orang segera memberikan pertolongan. Orang-orang di sekitar perkampungan nelayan semakin lama semakin banyak yang berdatangan.

“Mungkin ratu pantai selatan sedang meminta korban”, kata laki-laki yang berbaju kotak-kotak biru.

“Bisa jadi begitu”, jawab lelaki lain yang hanya mengenakan sarung saja.

Dua hari telah lewat, Aminah belum juga ditemukan. Di samping rumah, di dekat jajaran pohon kelapa, emak Aminah duduk sendiri termenung. Terkadang menangis sesenggukan sendiri meratapi nasib anaknya. Rambutnya yang memutih dibiarkan tergerai dipermainkan angin pantai selatan. Debur ombak di kejauhan terdengar seperti rintihan Aminah yang memilukan.

Sementara itu orang-orang di perkampungan nelayan tak henti-hentinya membicarakan nasib Aminah. Aminah telah menjadi tumbal Nyi roro Kidul, ratunya pantai selatan, begitu kabar dari mulut ke mulut di kampung itu.

Dan di samping rumah, emaknya tak henti-hentinya menyebut asma Allah sambil terus menangis meratapi nasib anaknya, Aminah.

 

Parangtritis, 2000

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: