Lewat Kebun Kopi

Puisi Badaruddin Amir

 

mobil beriringan mendaki tanjakan

terengah seperti kakek tua encokan

para penumpang dalam getar berdoa

semoga selamat tak kurang suatu apa

 

ada yang lebih dikhawatirkan

dari gugur tanah runtuhan

ada yang lebih dicemaskan

dari kabut menghadang jalan

 

garis batas antara hidup dan mati

berada pada cemas dan keyakinan hati

 

tapi kecemasan adalah kecemasan

akan gugur dalam tiap tikungan

jalan meliuk bukit penuh tanjakan

di puncaknya ada warung menjual sayuran

 

tapi kecemasan adalah kecemasan

akan gugur digilas roda keyakinan

tanjakan dan tikungan terlewatkan

ninggalkan jurang yang menganga kelaparan

 

memasuki kota Palu yang penuh kenangan

bukit “Kebun Kopi” sering jadi alangan !

 

 

Palu, 1997

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: