Di Tepi Perjalanan Waktu Pak Beddu

Cerpen Tri Astoto Kodari

 

Sumber: telegraph-co-uk

“Pak Beddu, selamat pagi!”

Selalu demikian murid-murid mengucapkan salam kepada pak guru Beddu. Dan selalu sama pula jawaban yang mereka terima adalah senyum kebapakan, lembut namun penuh wibawa. Sambil memperbaiki letak kaca mata tebalnya, pak guru Beddu mengerutkan kening sejenak sambil terus menjawab, “Oh…oh…, selamat pagi!”

Panas matahari meneteskan peluh di kening pak guru Beddu. Kerut-merut ketuaan di wajahnya tampak lebih jelas kini. Kira-kira sudah dua puluh lima tahun lebih pak guru Beddu selalu melewati jalan yang sama ketika pagi, saat ia harus berangkat mengajar, dan siang sepulang mengajar. Barangkali sudah ribuan kilometer ia berjalan melewati jalan itu selama dua puluh lima tahun. Melintasi jalan setapak, terjal berbukit, sejauh delapan kilometer lebih setiap hari. Tetapi pak guru Beddu masih bersemangat juga.

Dalam usianya yang lebih dari setengah abad ini pun, tak juga jera kakinya menapaki jalan itu setiap hari. Orangnya sendiri tak begitu menarik, namun murid-muridnya demikian mencintai dan hormat padanya. Bukan karena ia guru mereka, melainkan sikap dan tingkah lakunya yang selalu menyenangkan setiap muridnya. Sayang, ia telah demikian menua. Apalagi kini orang mulai mengatakan bahwa pak guru Beddu sudah sangat pelupa.

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Ooh…, selamat pagi”, jawabnya seperti biasa. Dan barangkali ia tak ingat lagi siapa yang menyalaminya, sebab orang-orang desa yang ia lewati memberikan salam yang sama pada pak guru tua itu. Dan mereka tahu, siapa pak guru Beddu. Guru dari anak-anak mereka atau bahkan bekas guru mereka. Guru SD yang telah rapuh dengan rambut memutih, tetapi menyenangkan dan suka membantu.

“Pak guru, saya belum bisa membayar tunggakan iuran sekolah yang tiga bulan itu”.

“Mengapa?”

“Ee…pak, emak saya sakit”.

“Bapakmu kerja apa, Mad?”

“Bapak…….. dulu tani, tapi hampir dua tahun meninggal. Sedang sawah kami sudah dijual untuk biaya pengobatan emak dan untuk makan kami selama ini”.

“Ohh…. lalu kamu tidak bekerja apa-apa?”

“Kadang-kadang mencarikan rumput untuk ternak tetangga…”

Sembilan tahun lalu peristiwa itu terjadi. Achmad, muridnya di kelas lima sudah tiga bulan tidak membayar iuran sekolah. Pak guru Beddu itulah yang menolongnya, sekaligus memberikan pekerjaan layak kepada Achmad sampai ia tamat SD. Ya, sembilan tahun yang lalu. Pak guru Beddu sudah melupakannya, namun orang-orang di desa itu tetap mengingatnya.

Ia seka sekali lagi peluh yang menetes di keningnya. Kacamata yang sudah kusam ia betulkan letaknya. Tangannya yang membawa buku-buku pelajaran mulai gemetaran. Baru dirasakan perutnya kini mulai lapar. Tetapi pikirannya masih saja menerawang pada kejadian tadi di sekolah tempat ia mengajar.

“Pak guru, saya bukannya keberatan kalau anak saya sekolah. Tapi pak guru tahu bahwa anak saya perempuan. Usia dia sudah cukup untuk kawin!”

“Pak Hasan, saya tahu maksud bapak. Hanya saja harap bapak mengerti bahwa Rusni masih kelas lima. Usia dia pun baru dua belas tahun, pak”.

“Lha… dua belas tahun, pak. Itu kan sudah saatnya!”

“Sudah saatnya kawin maksud pak Hasan?”

“Iya pak. Saya malu kalau nanti dikatakan orang kalau Rusni tak laku kawin”.

Dan guru Beddu tersenyum sejenak, “Pak Hasan, zaman sekarang lain dengan zaman dulu, apalagi sekarang pemerintah punya aturan wajib belajar. Bahkan sekarang usia perkawinan ada ketentuannya, pak”

“Ah… pak guru jangan mengada-ada. Kawin kok ditentukan, itu kan lucu?”

“Ya, lucu. Bukan peraturannya yang lucu tapi pak Hasan”, seloroh pak guru Beddu tersenyum sekali lagi. Kali ini ia tersenyum sendiri.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Pak guru Beddu baru saja meletakan buku-bukunya di atas meja. Sejenak ia merenung, masih memikirkan kejadian tadi dengan pak Hasan. Apa yang harus diperbuat? Pak Zaid dan ibu Murni, teman gurunya, tak dapat berbuat banyak. Namun belum begitu lama ia berada di dekat meja buku, istrinya telah menyapa. “Pak, berasnya habis. Bapak nanti ambil singkong ya?!” Ya…ya…, pak Beddu baru ingat jatah berasnya bulan ini tak dapat dimakan semuanya karena sebagian lainnya rusak terkena air hujan. Dua minggu yang lalu, sepulang ia mengambil jatah beras di kota dan dalam perjalanan pulang terjadi hujan lebat di tengah jalan masuk ke arah desa, sebagian beras itu basah karena tak tertutup plastik. Setengah dipaksa, pak Beddu tersenyum. “Iya bu, sebentar kuambil di ladang”.

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Oh…selamat pagi!” jawabnya seperti biasa.

Sekolah yang hanya memiliki tiga orang guru itu lengang. Pagi itu ada perayaan di balai desa. Anak-anak didiknya hanya sebagian kecil saja yang masuk sekolah. Untuk urusan yang satu ini, pak Beddu tak pernah berhasil mengatasinya. Sama sekali ia tak dapat berbuat apa-apa. Dan kini ia duduk di kantor kecil dekat wc sekolah itu. Dua teman gurunya, ia beri tugas untuk mengajar seperti biasa. Sementara itu persiapan mengajar yang ia buat sampai larut malam, tak dapat dilaksanakan.

Tubuh tua itu tersandar di kursi. Kacamatanya diletakan di atas meja. Sedianya ia akan menyelesaikan tugas-tugas administrasi, namun ternyata ia lupa bahwa tak ada kertas lagi di kantor kecil itu. Tiba-tiba ia dengar ketukan di pintu. Pak guru Beddu cepat-cepat memakai kacamatanya dan kemudian beranjak dari kursinya.

“Selamat siang, pak guru!”

“Ohh…selamat siang. Mari-mari silakan duduk”, ucap pak guru Beddu ramah.

“Terima kasih pak, saya hanya sebentar. Ini ada surat panggilan dari Kecamatan untuk pak guru”.

“Panggilan apa?”

“Entahlah pak. Bapak baca sendiri suratnya. Kalau tidak salah, ditunggu siang ini juga”.

Pak guru Beddu memperbaiki letak kacamatanya. Ia memperhatikan surat itu dengan cermat, sampai tak mendengar saat pengantar surat itu berpamitan. Entah apa isi surat itu. Yang jelas pak guru Beddu tampak terkejut. Segera dibenahi buku-buku yang berserakan di atas meja, kemudian berpamitan kepada teman gurunya dan langsung pergi menuju Kecamatan.

Siang mengucurkan keringatnya. Pak guru Beddu pun makin berkeringat memikirkan surat panggilan itu. Banyak hal berkecamuk di dalam benaknya. Bagaimana tidak? Seorang guru tua dari daerah terpencil yang tidak pernah disapa oleh atasannya, tiba-tiba dipanggil ke Kecamatan untuk menghadap Kepala Dinas Pendidikan kabupaten.

“Selamat siang, pak guru!”

“Ohh…selamat siang, pak..”, jawab pak guru Beddu sambil membungkuk-bungkukan badannya untuk menghormati atasan yang memanggilnya.

“Silakan duduk pak Beddu”, ucap pak Camat yang duduk bersebelahan dengan beberapa orang yang berpakaian safari bagus dan rapi. Tiba-tiba hati kecil pak guru Beddu takut juga.

“Terima kasih, pak”, jawab pak guru Beddu hampir tak bersuara.

“Pak Beddu, bapak-bapak ini dari Kabupaten. Beliau akan meninjau kegiatan pendidikan di daerah kita. Kebetulan beliau ingin sekali berkenalan dengan pak Beddu”.

“Benar….benar…pak Beddu. Oh ya, pak Beddu sudah berapa tahun bertugas”, tanya yang rambutnya sedikit botak.

“Sudah kurang lebih dua puluh lima tahun, pak”.

“Wahhh…, lama juga. Sudah diangkat atau belum, pak?”, tanya yang bersafari abu-abu.

“Belum, pak. Hanya berkat kebijaksanaan pak Camat, saya menerima bantuan beras setiap bulan”, tutur pak guru Beddu.

“Ada berapa guru yang ada di sekolah bapak?”

“Hanya tiga orang pak, termasuk saya. Tetapi semua guru-gurunya hanya guru desa, pak. Maksud saya, sekolah kami hanya sekolah desa biasa. Guru-gurunya pun sebenarnya bukan guru yang layak dan pandai. Bekal kami hanya semangat dan keinginan untuk mengabdi, pak”.

“Kami sudah tahu itu, pak Beddu. Tadi kami pun sebenarnya ingin meninjau langsung ke sana. Hanya sayangnya, mobil kami tidak bisa masuk sampai ke desa bapak. Jadi ya… terpaksa hanya sampai di sini. Tapi saya percaya bahwa dari pertemuan kita ini, kami sudah bisa membuat laporan lengkap ke atasan”, ucap yang agak gemuk dan selalu merokok.

“Jangan khawatir, pak Beddu orangnya jujur dan memiliki pengabdian tinggi”, kata pak Camat sambil tersenyum.

“Pak Beddu, kedatangan kami kemari akan membantu bapak. Jelasnya, sekolah dimana pak Beddu mengajar, segera akan diperbaiki dengan dana APBD, yang akhirnya nanti SD itu akan menjadi SD Negeri. Begitu, pak Beddu”.

Mendadak pak guru Beddu merasa begitu gembira. Mata pak Beddu berkaca-kaca. Ia mengusap sedikit keringat melalui sela-sela kacamatanya. Senyumnya mengembang, muncul keharuan dalam hatinya. Terima kasih kepada bapak-bapak pejabat yang ada di depannya.

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Ohh…, selamat pagi!”

Satu bulan, dua bulan, empat bulan, enam bulan, berita itu ia tunggu-tunggu kelanjutannya, tapi belum juga tiba. Dan tepat pada awal bulan ketujuh, pak Beddu menerima surat panggilan lagi dari Kecamatan. Dan seperti enam bulan yang lalu, ia segera bergegas ke sana. Dengan penuh harap. pak Ramli mengahadap bapak-bapak dari Kabupaten. Namun yang hadir sekarang hanya dua orang saja.

“Seperti kami kemukakan beberapa bulan yang lalu, sekolah di mana bapak mengajar, ternyata berhasil kami perjuangkan. Akan tetapi pembiayaannya tak dapat sepenuhnya seperti yang kita harapkan. Oleh karena itu diharapkan adanya swadaya masyarakat juga”, kata bapak-bapak itu dari Kabupaten.

“Dan… oleh karena nanti menjadi SD Negeri, maka nantinya akan kami tempatkan guru-guru yang memiliki latar belakang ijazah keguruan di sana. Mereka nanti yang akan mengajar. Dan bagi guru-guru yang sudah ada tetapi tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan, sementara masih bisa membantu. Kira-kira demikian, pak Beddu”.

Ahh….dua puluh lima tahun pengabdiannya akan tidak ada artinya lagi. Tetapi pak Beddu rela dan ikhlas akan semuanya itu. Ia memahami apa yang diucapkan oleh para pejabat dari Kabupaten itu. Swadaya masyarakat, guru bantu sementara dan dirinya sendiri yang hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya dihadapan para pejabat itu, dan …….

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Ohh…., selamat pagi”.

Parepare, 1998

Sumber :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: