Di Depan Kuburan Kakek

Puisi Badaruddin Amir

 

di depan kuburan kakek

aku menjelma jadi matahari yang luka

“ampuni aku kek, karena cucumu lanang

tak mengindahkan segala petuah !”

 

kakek tertawa dan kuburnya gergetar

keakraban terasa masih seperti dulu

ketika beliau memberiku wejangan

menjelang dewasa

padahal sembilan belas tahun lamanya sudah

beliau di dalam tanah

 

:”cucuku lanang, cucuku pendosa

aku tahu kamu tergoda dunia

manis betul cinta birahi

tapi pahit rasanya di akhirat nanti”

 

“bila engkau terlanjur berdosa

tobatlah segera cucuku lanang

pahit menekuni cinta imani

tapi di akhirat madulah nanti”

 

“cucuku lanang, cucuku pendosa

jangan suntuk dalam kesedihan

karena itu akan membuatmu bimbang

tak ada manusia yang tak pernah berdosa

karena dunia itu memang tempatnya”

 

“masih ingatkah cerita kakek

tentang pelacur yang dirajam

dan juru selamat datang membelanya

siapa di antara kalian yang tak pernah berdosa

boleh melempar duluan, katanya”

 

“tapi tak seorangpun berani memulainya

karena semua merasa tidak bebas dari dosa

karena itu bila benar kamu berdosa

tiada jalan lain kecuali mohon ampun pada-Nya”

 

 

 

 

 

kakek tertawa dan kuburnya bergetar

keakraban terasa masih seperti biasa

ketika beliau menasihatiku menjelang dewasa

tapi petuahnya kini sungguh luar biasa

karena aku merenungkannya lagi di depan kuburnya

setelah dewasa dan tergoda dosa-dosa.

 

 

Barru 1999

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: