Kepenyairan Sulsel 3 Tahun Terakhir

Oleh Aslan Abidin

 

” Berilah kami fakta. Kami sendirilah disebut dalam peta kepenyairan yang akan memberikan penilaian tentangnya! “

(Rousseuau)

TAHUN 1996 pada pertemuan sastrawan Sumatera-Bali di Bandarlampung, Korrie Layun Rampan dalam makalahnya: “Peta Kepenyairan Indonesia”. menyebut kepehyairan Sulsel sebagai jalan di tempat. Korrie dalam makalah tersebut masih menyebut Sinansari Ecip dkk. sebagai penyair yang belum mendapat penerus di Sulsel.

Kita tahu apa yang dikatakan Korrie ini salah, mengingat pada tahun tersebut banyak penyair muda Sulsel yang tengah aktif berkarya. Sepertinya yang jadi masalah adalah mengapa Korrie yang giat melakukan pendokumentasian karya sastra Indonesia pasca HB Jassin itu dapat meluputkan Sulsel dari pengamatannya? Kemungkinan pertama adalah: Korrie memang salah. Kemungkinan kedua: penyair Sulsel belum terlalu banyak membuat pendokumentasian karya dan prestasi yang dapat diiadikan catatan untuk dapat dijadikan Catatan untuk disebut dalam peta kepenyairan Indonesia.

Tulisan ini -sehubungan dengan jalan ditempatnya kepenyairan Sulsel di atas- bermaksud melihat bagaimana kepenyairan Sulsel sejak 1995. Semacam perspektif yang lain tentang perkembangan kepenyairan Sulsel 3 tahun terakhir. Kurang lebih mengenai apa dan bagaimana kepenyairan Sulsel, baik di Sulsel maupun di tingkat nasional. Mengapa memulai tahun 1995, tak lebih untuk tidak terlalujauh melihat hubungan dengan Korrie yang melihat kepenyairan Sulsel pada 1996. Selanjutnya, tulisan ini akan lebih banyak melihat kiprah penyair Sulsel di luar Sulsel sejak 1995.

 

Aktivitas Kepenyairan

Aktivitas kepenyairan Sulsel tahun 1995 “ditandai” dengan maraknya penerbitan swadaya beberapa buku antologi sajak; baik perorangan maupun bersama. Antara lain yang sempat penulis catat adalah:  1) “Dari Jendela Yang Terbuka” karya Muhary Wahyu Nurba (Kelompok Diskusi Rumah Kayu) 2) “Koridor” karya empat penyair Tamalanrea (Masyarakat Sastra Tamalanrea), 3) “Sukma Yang berlayar” karya Tri Astoto Kodarie,

Tahun 1996 terbit: 1) “Cinta Sepotong Bulan” karya Hikmah T.M. Zain (Saji Sastra lndonesia), 2) “Aku Di Sini Saja” karya Asia Ramli Prapanca (Teater Kita Makassar); 3) “Meditasi” karya Muhary Wahyu Nurba (Masyarakat Sastra Tamalanrea), 4) “Nyanyian Adam, Nyanyian Alam, Nyanyian Malam” karya Hendragunawan S. Thayf (Masyarakat Sastra Tamalanrea), 5) “Murka” karya S. Simmau (Yayasan Padaidi).

Tahun 1997 terbit: 1) “lninnawa: sajak-sajak dari Sulsel”  antglogi bersama (Masyarakat Sastra Tamalanrea), 2) “Berkas Percikan” karya Hikmah TM Zain (Saji Sastra Indonesia), 3) “JadilahAku Kabut Jadilah Aku Angin” karya Muhary Wahyu Nurba (Masyarakat Sastra Tamalanrea), 4) “Binrolle” karya Tomy Tamara (Masyarakat SastraTamalanrea), 5) “Antara Dua Kota” karya Badaruddin Amir dan Tri Astoto Kodarie (Komunitas Sastra Ajattappareng), 6) “Garis Tengah Malam” karya Ridwan Demmatadju (Yayasan Lingkar Budaya), 7) “Memoranda Perkabungan” (fotocopian) karya Aslan Abidin (Masyarakat Sastra Tamalanrea).

Tahun 1998 terbit: 1) “Ode” karya Ismad Sahupala (Yayasan Kesenian Sulsel), 2) “Reinkarnasi Aku Mencari Aku” karya Aliem Prasastie (Yayasan Studio One).

Aktivitas sastra yang lain; pembacaan sajak, diskusi dan pertemuan sastra, serta penerbitan sajak di media cetak Ujung Pandang. Bagaimanapun aktivitas di atas masih sebatas wilayah Ujung Pandang. Selain bahwa karya-karya yang dibukukan di atas ada pula yang terkirim ke luar Sulsel bahkan keluar negeri. Penyair Sulsel di Luar – Sulsel Hal yang paling penting dicatat dalam perkembangan sajak Sulsel adalah turutsertanya beberapa penyair Sulsel dalam . aktivitas sastra yang bersifat nasional, seperti terpilihnya Tri Astoto Kodarie dan Aslan Abidin sebagai pemenang LCP 1995 di Malang. Juga dimuatnya beberapa karya Tri Astoto di Media Indonesia Minggu Jakarta dan media cetak di Yogyakarta.

Tahun 1996, Aslan mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Malang. Karya Anil Hukma didiskusikan di PDS HB Jassin dan dimuat dalam tabloid Swadesi. Karya Tri Astoto dan Aslan dibukukan dalam “Batu Beramal II” yang terbit di Malang. Anil Hukma dan Aslan mengikuti “Mimbar Penyair Abad 21” atas undangan DKJ di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Tahun ini juga beberapa karya penyair dimuat di media cetak yang terbit di Jakarta seperti; Horison, Basis, Media Indonesia Minggu, Republika, Jurnal Puisi, Suara Pembaruan, Suara Karya, dan Bernas.

Tahun 1997, Ram Prapanca dan Aliem Prasastie mengikuti baca sajak dan dibukukan dalam “Zamrud Khatulistiwa” di Yogyakarta. Sajak Muhary Wahyu Nurba, Hendragunawan S.Thayf dan Sudirman HN dimuat dalam majalah Jurrnal Puisi Jakarta. Karya Jusmadi Dn Kaitta, Tri Astoto, Muhary, Anil, Aslan; dimuat dalam Antologi Puisi Indonesia” yang diterbitkan penerbit Angkasa Bandung. Pada pengantar atas Antologi Puisi Indonesia ini Eka Budianta menyebut 10 penyair lndonesia yang menjanjikan, 3 penyair diantaranya adalah penyair Sulsel.

Masih di tahun 1997, penyair Tomy Tamara memenangkan LCP Borobudur Award di Magelang, serta menyempatkan diri mengikuti acara penyerahan hadiahnya. Penyair Badaruddin Amir memenangkan LCP yang diadakan Taman Budaya Mojoketo. Karya Badaruddin juga dimuat antara lain di Harian Nusa Tenggaradi Bali.

Tahun 1998, Aslan Abidin kembali diundang DKJ untuk mengikuti “Pembacaan Sajak Penyair Delapan Kota” di TIM Jakarta. Juga mengikuti peirtemuan sastrawan di Bangkalan Madura, atas undangan lingkar Sastra Junok. Peta Kepenyairan Sulsel Di Sulsel sendiri terlihat pula perkembangan menarik ddalam peta kepenyairan. Peta kepenyairan mulai dari Fort Rotterdam di kota Makassar melebar ke pinggir kota Makassar hingga ke kabupaten di Sulsel. Bahkan penyair yang berada di “luar” ini memperlihatkan “kemampuan” yang lebih untuk berbicara di luar Sulsel. Tomy Tamara (Maros,), Tri Astoto (Pare-Pare), Badaruddin Amir (Barru), dan Yetty Mustika bukanlah penyair yang berada dalam poros kesenian Fort Rotterdam. Bahkan Yetty Mustika yang tidak dikenal banyak penyair di Sulsel, justru amat dikenal banyak penyair di luar Sulsel.

Bebeberapa penyair lain masih dapat dideret untuk memperlihatkan betapa melebarnya peta kepenyairan Sulsel. Hendragunawan, Muhary, Sudirman.HN, dan Aslan juga merupakan penyair yang berasal dari pinggiran kota Makassar. Pelebaran peta ini tentu saja menggembirakan, hal yang nampak akan lebih menggembirakan adalah bila institusi kesenian kita seperti Taman Budaya, Dewan Kesenian Sulsel, Dewan Kesenian Makassar, serta Badan Koordinasi Kesenian Nasional lndonesia Sulsel lebih banyak lagi ambil bagian dalam laju perkembangan kepenyairan dan persajakan Sulawesi Selatan.

Semoga apa yang telah penulis sampaikan adalah fakta. Fakta yang benar. Penulis yakin tak semua aktivitas kepenyairan Sulsel sejak 1995 dapat tercatat di kertas 6 halaman ini. Selanjutnya andalah yang memberi  penilaian.

 

Aslan Abidin, penyair dan Ketua Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) Makassar.

 

Sumber : Harian Fajar Minggu, 22 Nopember 1998

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: