Problematika Pembelajaran Menulis Karya sastra di Sekolah Menengah

Oleh Badaruddin Amir

 

Dimensi Kreativitas

Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, terutama yang berkaitan dengan aspek  menulis karya-karya sastra, pengembangan dimensi kreativitas siswa sangatlah penting. Hal itu disebabkan karena karya sastra (dalam hal ini prosa, puisi dan drama serta kombinasi di antaranya) adalah karya-karya imajinatif yang dalam “menggelutinya” (demikian istilah S.Effendi), membutuhkan kerja kreatif.

 

Salah satu kegiatan workshop pengajaran sastra

Kreativitas sendiri sering disalah tafsirkan. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa kreativitas itu adalah cerminan kemampuan intelektual. Ada keyakinan pada sebahagian orang bahwa hanya orang-orang yang dikaruniai bakat yang dapat dianggap “kreatif”. Atau dengan kata lain, orang-orang intelektuallah yang memiliki kreativitas. Padahal menurut riset yang dilakukan Dr.  Howard Gardner sebagaimana yang ditulis dalam bukunya Frames of Mind yang dipopulerkan oleh Thomas Amstrong melalui bukunya Seven Kinds of Smart, kreativitas itu milik semua orang. Amstrong membagi kreativitas (dengan menyebutnya kemampuan) menjadi tujuh jenis sebagai berikut :

  • Kreativitas verbal/linguistis, yaitu kemampuan memanipulasi kata secara lisan atau tertulis
  • Kreativitas matematis/logis, yaitu kemampuan memanipulasi system nomor dan konsep logis
  • Kreativitas special, yaitu kemampuan memanipulasi pola dan desain.
  • Kreativitas musical, yaitu kemampuan mengerti dan memanipulasi konsep music, seperti nada, irama dan keselarasan
  • Kreativitas kinestetis tubuh, yaitu kemampuan memanfaatkan tubuh dan gerakan, seperti dalam olahraga dan tari
  • Kreativitas intrapersonal, yaitu kemampuan memahami perasaan diri sendiri, merenung serta berfilsafat
  • Kreativitas interpersonal, yaitu kemampuan memahami orang lain, pikiran serta perasaan mereka.

(Amstrong dalam Jordan E. Ayan, 2002)

Melihat ke tujuh jenis kreativitas di atas maka jenis yang paling berkesesuaian dengan menulis karya sastra siswa adalah kreativitas verbal/linguistik. Karena kreativitas verbal/linguistiklah yang dapat menimbulkan potensi kreatif dalam menulis karya-karya sastra baik prosa, puisi, drama maupun kombinasi di antaranya.

Sering dikatakan bahwa kegagalan pengajaran astra di sekolah menengah selama ini karena tidak terbinanya potensi kreativitas verbal/linguistik ini. Pelajaran sastra di sekolah menengah terlalu banyak dijejali teori sastra, sejarah sastra, istilah-istilah sastra dan hapalan-hapalan tentang angkatan sastra, tanpa dibarengi upaya kreatif mengapresiasi karya-karya sastra yang bersangkutan. Atau istilah kerennya, masih dijejali pengetahuan “kognetif”. Salah satu penyebab terjadinya kondisi seperti itu,  sebagaimana yang dilansir sastrawan Sapardi Djoko Damono dalam majalah kebudayaan Basis (1998) adalah karena desakan ujian, sehingga sekolah beralih fungsi menjadi “mesin” yang mengajarkan pengetahuan teoritis demi dan untuk keperluan ujian Nasional. Jadinya, pengajaran apresiasi sastra pun cendrung menjadi pengajaran teori, dan kegiatan seni apresiasi sastra cendrung terabaikan. Padahal sastra, menurut Sapardi adalah jenis kesenian yang merupakan hasil kristalisasi nilai-nilai  yang disepakati untuk terus-menerus dibongkar dan dikembangkan dalam suatu masyarakat. Karena itu, kata Sapardi, sastra adalah seni bahasa. “Dibanding dengan seni lain, di dalamnya (sastra) terbayang lebih tegas nilai-nilai yang mengatur kehidupan kita dan selalu kita tinjau kembali” (Sapardi, 1998). Dengan begitu barangkali sudah saatnya ditinjau : seni sastra harus keluar dari pelajaran bahasa Indonesia dan berdiri sendiri sebagaimana pelajaran seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni-seni lainnya.

 

Momok Bagi guru

Bagi kebanyakan guru bahasa Indonesia di sekolah menengah, pengajaran apresiasi sastra utamanya yang berkaitan dengan pengembangan kreativitas verbal dan linguistik, memang sering menjadi momok atau menjadi beban yang menekan. Persoalannya adalah karena tidak semua guru bahasa Indonesia mampu dan mau mengembangkan wawasan kesastraanya, mengikuti perkembangan sastra modern yang berjalan begitu cepat di luar tembok-tembok sekolah (misalnya pada majalah sastra Horison, rubrik-rumbrik sastra Koran, atau yang berlangsung secara spektakuler di internet yang dikenal sebagai sastra cyber). Kebanyakan guru bahasa Indonesia memiliki wawasan sastra dalam bentuk teori dari apa yang dahulu pernah diterimanya ketika masih sekolah (SMA) sampai Perguruan Tinggi, dari mata kuliah Apresiasi Sastra dan matakuliah-matakuliah  yang serupa. Atau dengan kata lain, apresiasi sastra kebanyakan guru bahasa Indonesia sebenarnya adalah apresiasi teori sastra yang berasal dari buku-buku teks yang merujuk pada sejarah sastra yang statis. Bengkel sastra di perguruan tinggi cendrung tidak jalan karena tak adanya “montir” sastra yang baik. Padahal sejarah sastra (Indonesia) terus berkembang menuntut antisipasi. Dan  penulis  buku-buku sejarah sastra serta penulis buku-buku pengajaran sastra sekolah sangat sedikit yang memperhatikan perkembangan tersebut lalu melakukan updating (cetak ulang dengan perbaikan) terhadap bukunya. Beruntung masih ada kelompok Taufik Ismail yang masih setia dengan serangkaian program-program pengembangan sastra sekolah seperti  MMAS (kegiatan guru), SBSB (kegiatan siswa), penerbitan buku sastra pelajar seperti antologi sastra dari Fansuri ke Handayani, Kitab Horison sastra Indonesia 1, 2, 3, 4, antologi Kaki Langit sastra Pelajar, serta pembinaan yang terus menerus melalui rubrik kakilangit Majalah sastra Horison.

Mengenai buku-buku sastra yang merujuk pada sejarah sastra dan sering menjadi acuan penting pembelajaran sastra di sekolah, sangat penting diperhatikan apa yang dikemukakan oleh Yudiono KS, Lektor Kepala pada Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ketika membicarakan mengenai perlunya “Format Baru sejarah Sastra Indonesia” sebagai berikut :

“ Memang sudah saatnya dikembangkan pengkajian sejarah pertumbuhan dan perkembangan genre-genre sastra Indonesia sehingga diperoleh gambaran umum mengenai sejarah puisi, sejarah cerpen, sejarah teater, dan sejarah roman Indonesia. Namun, pengkajian sejarah sastra Indonesia secara garis besar (makro) seperti yang sudah dikerjakan Ajip Rosidi dan Teeuw tetap saja diperlukan untuk pengajaran sastra di sekolah menengah, fakultas sastra, dan apresiasi masyarakat. Untuk keperluan seperti itulah barangkali sudah saatnya dipertimbangkan tawaran format baru sejarah sastra Indonesia…

Simpulan sementara ini sudah tiba saatnya sejarah sastra Indonesia direkonstruksi dengan format baru untuk kepentingan pengajaran, penelitian, dan apresiasi. Rekonstruksinya dapat dilaksanakan secara menyeluruh dengan memperhitungkan alur perjalanan yang sudah mencapai sekitar 80 tahun atau terbatas pada masa-masa tertentu dalam konteks keseluruhan sejarah. Kemungkinan lain adalah rekonstruksi sejarah tiap-tiap genre yang tetap ditempatkan dalam wadah sejarah sastra Indonesia.” (Yudiono KS, 2002, kursif dari penulis–Bdr)

 

Dengan apresiasi sastra yang materinya merujuk pada buku-buku pelajaran sastra dan buku-buku pelajaran sastra yang juga hanya merujuk pada kurikulum, terasa bahwa apresisi sastra di sekolah tidak memberi ruang bagi lahirnya bentuk-bentuk kreativitas sastra yang bersumber pada diri dan potensi yang dimiliki seorang siswa.

Di sisi lain guru bahasa Indonesia kita juga sering melihat posisi pengajaran apresiasi sastra tidak terlalu penting. Karena itu pengajaran sastra, terutama yang berkaitan dengan menulis karya-karya sastra kreatif sering terabaikan. Perhatian sebagian besar guru lebih dicurahkan kepada bagaimana mengajar murid agar dapat menguasai bahasa Indonesia “yang baik dan benar”, dari pada mengajarkan bagaimana menguasai sastra secara kreatif, terutama bagaimana menulis karya-karya sastra sebagai salah satu bentuk kreativitas siswa yang perlu dikembangkan sejak dini.

Memang benar bahwa tidak semua guru berprinsip demikian. Beberapa guru bahasa Indonesia di sekolah menengah yang memiliki wawasan sastra telah mencoba memposisikan diri sebagai “pembimbing” bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas baik dalam membaca (verbal) maupun dalam menulis (linguistis) sastra. Hal seperti ini tentunya mejadi nilai tambah bagi guru yang bersangkutan, dan potensi yang dimilikinya menjadi aset sekolah yang sangat penting. Secara professional  menjadi pelengkap bagi keterbatasan jangkauan kurikulum dalam “mengayomi” keseluruhan kegiatan apresiasi sastra di sekolah. Guru-guru seperti itu biasanya akan memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wadah pengembangan kreativitas siswa.

Namun demikian kendala yang biasanya dihadapi adalah keterbatasan waktu. Untuk menangani dan membimbing siswa dalam menulis sastra kreatif –di luar apa yang diisyaratkan oleh Kurikulum–  tidaklah memungkinkan guru dapat menangani secara keseluruhan siswanya. Rata-rata guru bahasa Indonesia di sekolah menengah dalam sehari harus menangani 150 siswa. Sedang jam pelajaran bahasa Indonesia hanya 45 menit. Padahal untuk menilai lembar tulisan siswa dengan penuh pertimbangan dibutuhkan waktu rata-rata sepuluh atau lima belas menit tiap siswa.  Dalam seminggu akan menyita waktu guru sekitar tiga puluh jam. Hanya sedikit guru yang mempunyai waktu untuk menangani tugas seperti itu di luar jam dinasnya.

Lain halnya di Taman Kanak-Kanak. Pada pengajaran sastra di tingkat pendidikan prasekolah ini, sastra diajarkan dalam bentuk bercerita atau berpidato atau melisankan puisi. Di sini sastra dijadikan sebagai alat untuk mengekspresikan diri. Dalam hal ini sastra dianggap sederajat dengan seni-seni lainnya seperti menggambar dan menyanyi. Guru TK tidak pernah menyampaikan kepada siswa nama-nama pengarang lengkap dengan riwayat hidupnya serta daftar karya-karyanya untuk dihapal  demi ujian. Di sini sastra dianggap –dalam bentuknya yang paling asasi– sebagai “permainan” ekspresi untuk mengembangkan kreativitas siswa.

Karena itu penulis buku-buku kreativitas asal Amerika, Mary Leonhardt melihat betapa sedikitnya siswa sekolah menengah  yang memiliki kesempatan menulis, kemudian tumbuh menjadi penulis kreatif. Leonhardt mengatakan  hanya siswa yang terbiasa menulis mandiri di luar sekolah (karena itu di luar tuntutan kurikulum—Bdr) saja yang dapat belajar menulis dengan sangat baik—karena hanya merekalah yang betul-betul berlatih menulis. Analoginya, kata Leonhardt, bagaimana mungkin kita dapat memunculkan pemain tenis jempolan kalau mereka hanya dilatih satu atau dua jam setiap tiga atau empat minggu? (Leonhardt, 2002). Fenomena inilah yang terjadi sekoah menengah.

 

Majalah dinding sebagai Alternatif

Karena itu sangat penting untuk mengembangkan aspek lain yang mengacu pada potensi dan kreativitas siswa. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan guru sebagai upaya untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis karya sastra di luar tuntutan kurikulum adalah pengelolaan Majalah Dinding. Wadah ini jika dikelola dengan baik dan teratur akan mampu meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis karya-karya sastra seperti puisi, cerpen, naskah-naskah drama dan kombinasi di antaranya.

Majalah Dinding memang tidak termasuk perlengkapan wajib di sekolah, seperti halnya papan tulis, bangku dan meja. Namun majalah dinding menjadi wadah  ekstra kurikuler yang sangat penting dimiliki setiap sekolah karena fungsinya sebagai wadah untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam kegiatan tulis-menulis. Hal ini biasanya tidak disadari oleh penyelenggara sekolah, ditambah lagi anggapan bahwa pengelolaan majalah Dinding membutuhkan dana yang tidak sedikit sehingga tidak semua sekolah menyelenggarakan majalah dinding di sekolahnya. Padahal biaya operasional pengelolaan majalah dinding tidaklah terlalu besar bila dibanding dengan biaya operasional penerbitan suatu majalah sekolah atau bulletin sekolah yang dicetak secara offset sebagaimana yang diterbitkan oleh beberpa sekolah favorit di kota-kota besar.

Majalah Dinding adalah tempat menuangkan kreativitas siswa secara bebas dan kreatif. Pada majalah dinding siswa dapat menulis sebebasnya tanpa tekanan psikologis yang diciptakan oleh teori-teori menulis, terutama ketakutan  mendapat nilai buruk dari guru. Majalah Dinding yang konon bermula dari zaman bahari ketika manusia purba mulai mengekspresikan kreativitasnya melalui lukisan di dinding gua ini, tampaknya memang menjadi media yang sangat efektif bagi perkembangan kreativitas menulis siswa hingga saat ini. Berbagai genre sastra pun seperti puisi,  cerpen, novelet, naskah-naskah drama pendek,  esei-esei sastra, ulasan buku dan sebagainya kemudian menjadi bahan “permainan” ekspresi yang cukup menyenangkan ditulis siswa pada Majalah dinding.

Beberapa penelitian mengungkap bahwa majalah dinding  dapat menjadi awal kreativitas para penulis yang sukses.

Triyanto Triwikromo, salah seorang sastrawan muda mengatakan, majalah dinding merupakan sarana latihan menulis apa pun yang sangat tepat bagi siswa. Menurutnya, jejak kepengarangan yang dia kuasai juga berawal dari ketekunannya mengisi majalah dinding pada SMPN 1 Salatiga ketika duduk di bangku SMP dulu. Kini, Triyanto telah menerbitkan buku kumpulan cerpen “Rezim Seks”, “Ragaula”, “Sayap Anjing”, “Malam Sepasang Lampion”, dan “Children Sharpening the Knives”.

”Dulu, majalah dinding bagi saya tidak hanya untuk menulis puisi atau cerpen, tapi bisa juga untuk mengkritik sekolah. Bahkan mengutarakan cinta monyet kepada teman,” kata penyair terbaik nasional 1989 versi majalah Gadis itu ketika diwawancarai Harian Suara Merdeka.

Seperti halnya Triyanto, beberapa sastrawan besar mengaku belajar menulis dari “priode Majalah Dinding” ini ketika masih menjadi pelajar dan dalam tahap pengembangan kretivitas menulisnya sedang tumbuh. Goenawan Mohamad, Rendra, Budi Darma, mengaku menjadi penulis atau sastrawan  juga bermula dari ”keisengan” menulis di majalah dinding sekolah. Kumpulan tulisan di dinding ruang kelas atau sebagian dinding sekolah yang menempel ala kadarnya sebagai kamuflase dinding yang kotor tersebut ternyata mampu mencetak talenta besar sastrawan Indonesia. Karena itu tak ada alasan bagi sekolah yang ingin melihat siswanya berkembang untuk tak menyelenggarakan majalah dinding.

* Penulis  adalag guru SMP Negeri 1 Balusu dan wartawan Majalah “DP”. Bukunya yang sudah terbit “Antara Dua Kota” (Kumpulan Puisi), “Aku menjelma Adam (Kumpulan Puisi), “Latopajoko dan Anjing Kasmaran” (Kumpulan Puisi), dan “Karya Sastra sebagai Bola Ajaib” (Kumpulan esai). Tahun 2008 memenangi Lomba Menulis Slogan Prima Pendidikan (JICA) Sulsel, dan juara I Sayembara Menulis Naskah Buku Pengayaan kategori Buku Fiksi SMA Pusat Perbukuan Depdiknas Jakarta. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

 

Satu Tanggapan to “Problematika Pembelajaran Menulis Karya sastra di Sekolah Menengah”

  1. Assalamualaikum..saya ingin bertanya terkait blog anda, jika judul saya “Problematika pembelajaran menulis naskah drama SMP kelas VIII” maka ditinjau dari Aspek apa saja yg bisa menimbulkan masalah dalam Pembelajaran menulis naskah drama di SMP? mohon balasannya..terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: