Inspirasi

Cerpen Badaruddin Amir

 

 

Aku tiba-tiba kehilangan inspirasi. Padahal deadline aku harus menyerahkan cerpen kepada sahabat yang bekerja sebagai redaktur budaya sebuah harian di kota ini adalah besok. Honorariumnya telah ia berikan padaku seminggu yang lalu dan telah habis buat membayar tambahan kontrak rumah. Mestinya aku sudah menyerahkannya hari ini karena ia akan menelitinya dulu sebelum naik cetak Tapi sampai sinar matahari terakhir membingkai kota, kertas yang kupasang di mesin ketik sejak pagi tadi masih kosong. Aku betul-betul kehilangan inspirasi untuk menulis.

Aku merokok lagi. Rokok terakhir. Bungkusnya aku remas dan melontarkannya ke luar melalui jendela. Lalu aku keluar meninggalkan mesin ketik tua itu. Skuter aku keluarkan dari samping rumah. Dan sebentar kemudian lajulah aku menuju ke utara kota tanpa tujuan.

Biasanya kalau aku sudah keluar jalan-jalan begini aku akan segera mendapatkan inspirasi kembali. Tapi entah mengapa kesumpekan ini masih mencekoki terus. Kemelut itu masih saja membayang-bayangi. Diam-diam aku berdoa semoga terjadi keajaiban di tengah jalan yang bisa membuatku segera lari pulang menggeluti tuts-tuts mesin ketik tuaku yang kutinggalkan tergeletak di atas meja dengan kertas yang masih kosong itu. Akan tetapi keajaiban itu tidak terjadi. Yang terjadi adalah, malam mulai menyergap, langit hitam, dan gerimis menyanyikan nocturne.

Baru saja aku hendak membanting stir pulang tiba-tiba aku melihat seorang perempuan berjalan sendirian di depan, agak tergesa karena terusik oleh malam dan gerimis. Seketika timbul keinginan untuk menolong. Sebuah kebetulan, pikirku. Mudah-mudahan juga bisa jadi batu loncatan untuk memulai sebuah cerpen.

Aku mendekat. Memperlambat laju skuterku sampai 0,5 km per jam, mengiringi langkah-langkahnya.

“Mau kemana, Dik ?” sapaku.

“Mau pulang !” dia menjawab singkat.

“Tidak takut jalan sendirian ?”

“Kenapa takut. Kan belum larut benar !”

“Mmm… bagaimana kalau aku antar ?” tawarku.

Dia berhenti. Aku juga. Dia menatapku sejurus. Barangkali menimbang kadar kejujuran dari tawaranku. Kemudian tersenyum. Tapi tak segera mengambil inisiatif.

“Boleh ?”

Dia mengangguk. Dan seterusnya, dia naik ke boncenganku.

Aku memasukkan verseneling, memutar gas dan laju kembali di atas aspal, meninggalkan lampu jalan yang muram.

Sebagai layaknya orang yang belum kenalan, pikiran kami masing-masing berkelana. Tapi mulut kami diam. Hanya suara mesin dan desau angin berkolaborasi menyanyikan lirik-lirik puisi malam. Ada juga abang becak yang gentayangan berpapasan dengan kami, melirik sebentar dengan pandangan curiga, kemudian melanjutkan mendayung pedal becaknya menabrak-nabrak gerimis malam. Setelah menempuh jarak kira-kira dua kilometer, barulah perempuan di boncenganku itu bersuara. Dia memintaku berhenti sebentar.

“Kenapa ?” tanyaku.

“Kakak bisa mengantarku sampai ke rumah ?”

“Kenapa tidak ? Sekali menolong aku akan mengantarmu sampai ke mana saja tujuanmu. Oh ya, rumahmu di mana ?”

“Teruslah, tak jauh lagi. Di depan sana, yang di halamannya ada pohon sawo.”

“Pohon sawo?”

“Ya.” Lalu katanya, “Kakak berani mengantarku sampai di rumah ?”

“Apa tampanku nampak seperti seorang pengecut ?”

“Tidak. Bukan begitu !” katanya cepat, “tapi. . . di rumah tidak ada orang. Papa dan Mama ke luar kota. Cuma saya saja yang menjaga rumah !”

“Kalau begitu, tadi kamu dari mana dan kenapa keluar malam-malam begini ?”

“Saya dari rumah teman. Belajar. Saya kemalaman. Mobil tak ada yang lewat. Untung ada kakak yang mau menolong,” katanya seperti menghafal naskah drama.

Aku tertawa. Menertawai kekikukannya sampai ngomong ‘tak ada mobil yang lewat’. Padahal mana mungkin mobil tak ada yang lewat di kota seperti ini. Sampai pagi pun rasanya mobil masih juga ada yang lewat. Tapi lucunya, perempuan ini juga tertawa Mungkin sekedar menggenapkan situasi.

Kami jalan lagi. Hati-hati. Di depan jalanan licin mengkilat seperti sepatu yang baru disemir. Gerimis terus menerus menyanyi.

Ketika kami memasuki wilayah pekuburan tua yang lengang dengan rimbun kamboja, perempuan itu melingkarkan tangannya ke pinggangku.

“Saya takut,” katanya.

“Tadi kamu bilang tidak takut.”

“Saya melihat ada bayangan orang mengacungkan pistol ke kita.” Saya tertawa. Kutahu bayangan yang dimaksudnya adalah bayangan kami sendiri yang disorot lampu mobil dari depan dan jatuh pada semak rimbun. Aku melihat tadi sebuah mobil menikung di depan sana.

Setelah sampai di muka sebuah rumah besar yang di sampingnya tumbuh sebuah pohon sawo besar, dia menyuruh aku berhenti. Di teras rumah itu ada lampu menyala remang-remang.

“Ini rumah saya. Mari masuk.”

Aku terperangah. Bukan karena kemegahan rumah itu. Tapi karena kekeliruanku membayangkan bahwa anak ini adalah anak liar yang suka keluyuran malam-malam. Habis apa lagi yang dapat aku bayangkan setelah perempuan ini tadi dengan beraninya memeluk pinggangku dan pura-pura takut pada bayangannya sendiri. Pastilah itu awal dari ajakan untuk macam-macam. Tapi rumah mewah itu dengan taman-tamannya yang asri telah membantahnya. Rumah mewah itu dengan taman-tamannya yang asri dapat menjelaskan pada strata sosial mana ayahnya berada. Jadinya, aku mencari-cari alasan untuk menolak ajakannya singgah.

“Ah, tak usah, Dik. Terima kasih. Saya buru-buru. Mau hujan,” kataku sambil menengok langit. Di langit ada sepasang bintang berpacaran.

“Ayolah, biar sebentar saja. Kan belum jauh malam. Cuma mau hujan saja dan mungkin tidak jadi. Tuh, masih ada bintang !” tunjuk dagunya ke langit. “Atau, ada janji sama pacar ?”

“Tidak, tidak.” Aku menjawab cepat, “Cuma. . . ada yang harus kuselesaikan malam ini juga.”

Lalu aku menjelaskan bahwa malam ini aku harus menyelesaikan sebuah cerpen karena honornya telah aku habiskan. Besok aku harus menyerahkannya pada sahabatku untuk dimuat di korannya edisi Minggu, Aku khawatir tak dapat menyelesaikannya.

“Oh, kakak pengarang ? tak nyangka. Kakak menulis cerpen ?”

“Ya, kadang-kadang kalau lagi ada inspirasi.”

“Inspirasi ? Apa itu ?”

“Ngh, anu. . . maksudku kalau ada yang bisa ditulis, begitu !”

“Tulis saja aku sebagai pelakunya. Ditanggung beres. Ayolah, mari masuk. Di dalam aku jamin Kakak akan mendapatkan inspirasi lebih banyak lagi.” Katanya tertawa.

“Tapi anu, apa betul Adik cuma sendirian ?”

“Ya. Memang kenapa kalau sendirian ?”

“Tidak apa-apa.”

“Kalau begitu, ayolah !” dia menarik paksa tanganku. AKU MENURUT. Aku turun dari skuter dan bemaksud hendak memarkir skuterku.Tapi dia berkata, “Jangan di situ. Bawa saja masuk di garasi di samping rumah. Nanti anak-anak nakal lewat dan mengapa-apakannya.”

Betul juga, pikirku. AKU MENURUT. Motor aku bimbing dan dia berjalan di sampingku. Tapi belum lagi kami mencapai pintu pagar halaman rumah itu, sorot lampu menyemprot tajam ke muka kami. Aku terkesigap karena pandanganku silau. Demikian silaunya sehingga tak melihat apa-apa kecuali sinar terang yang membuat nanar pandanganku. Terpaksa aku melewatinya dengan lindungan tangan seperti orang memberi hormat.

“Siapa yang main-main ini ?” tanyaku.

Dia tertawa. Dia membuka pintu pagar halaman itu cepat sehingga terkuak lebar.

“Ayolah, masuk cepat !”

AKU MENURUT. Aku mengikuti perintahnya. Terus membimbing motor ke garasi. Sementara itu terdengar ia menutup pintu halaman itu kembali dan lampu sorot itu mendadak mati. Gelap menyeringai sangsai. Tinggal lampu remang-remang di teras susah payah mempertahankan cahayanya.

“Ayolah !” katanya menarik lenganku seolah kawan yang sudah kenal lama. AKU MENURUT.

“Kita lewat di belakang saja masuk. Saya tadi mengunci pintu depan. Kuncinya saya tinggal di belakang.”

Kami menyusuri dinding menuju ke belakang. Beriringan. Keadaan yang gelap memaksa kami meraba-raba seperti orang buta yang membimbing orang buta.

“Beginilah kalau tidak ada pembantu. Semua serba tak beres,” keluhnya ketika kami telah berdiri di depan pintu di kamar belakang. “Salah Papa juga terlalu egois. Terlalu percaya pada teknologi yang katanya dapat direkayasa untuk membantu menyelesaikan segala persoalan manusia modern. Padahal lihatlah sendiri. Gelap. Meskipun telah terpasang lampu otomat yang mestinya sudah menyala sewaktu kita memencet tombol pintu pagar di luar tadi. Tapi macet. Oh, ya tolong carikan gagang pintu sebentar. Saya ambil dulu kuncinya di bawah pot !”

AKU MENURUT. Aku meraba-raba permukaan daun pintu mencari gagang yang dimaksud. Perempuan itu meneruskan lagi keluhnya.

“Seandainya ada pembantu, tentunya sudah dari tadi menyalakan lampu dari dalam sehingga kita tak perlu meraba-raba begini. Nih, kuncinya !”

Dia menyerahkan anak kunci itu kepadaku. Akan tetapi karena gelap menyelubung kami, tentu saja aku tak segera melihatnya. Aku meraba-raba ke arahnya. Dan tiba-tiba aku menyentuh buah dadanya.

“Oh, maaf!” kataku, “saya tidak sengaja.”

“Tak apa-apa. Ini kuncinya.”

Aku mengambil kunci itu dari tangannya. Kemudian masih dengan meraba-raba memasukkan anak kunci itu ke lubangnya. Dia membantu aku memutar anak kunci itu sehingga daun pintu terkuak sepenulmya.

Kami masuk. Dia membimbingku ke sebuah kursi. AKU MENURUT.

“Duduk sebentar. Saya menyalakan lampu.”

AKU MENURUT. Dan entah mengapa aku selalu MENURUT pada kehendaknya. Aku seperti tak punya tenaga untuk menolak. Padahal aku ingin sekali menolak ajakannya dan segera pulang menulis sebuah cerpen tentang pertemuanku dengan dirinya. Aku yakin pertemuanku dengan perempuan itu sudah dapat kujadikan sebagai batu loncatan untuk menulis sebuah cerpen. Meski tidak perlu kukejar terus sampai kepada kisah yang lebih laujut.

Biasanya kalau aku sudah menemukan awal peristiwa sebagai batu loncatan, peristiwa-peristiwa berikutnya akan mengatur sendiri dirinya secara kausalitas selama aku terbius dengan imaji yang terus mengalir seperti air. Yang kepayahan biasanya adalah jari-.jariku yang menari di atas tuts-tuts mesin ketik.

Aku meraba-raba meja di depanku seperti meraba-raba tuts mesin ketikku. Aku menyentuh sebuah gelas, piring yang tertelungkup dan sebuah asbak. Agaknya meja yang di depanku adalah sebuah meja makan.

“Dik, tunggu !“ panggilku gagap.

Aku mendengar seret langkahnya berbalik. Mendekat lagi ke arahku.

“Ada apa?”

“Apa benar di rumah ini tak ada orang ?”

Dia tertawa dalam gelap. Nada-nadanya tak mengejek, tapi karena memang merasa pertanyaanku lucu.

“Tentu saja ada. Kakak dan aku,” jawabnya.

“Maksudku tak ada orang lain yang mengintip dan mencurigai kita ?”

Dia tertawa dalam gelap. Kali ini mengejek. Tapi kebigungan yang sedari tadi menguasaiku membuatku tak sempat tersinggung.

“Tak perlu khawatir. Di sini tak ada yang berani macam-macam. Mereka takut sama penghuni kompleks ini. lni adalah sebuah kompleks perumahan masa depan. Sekeliling rumah telah dipasangi alarm. Kalau ada yang berani mengintip dia akan menanggung risiko. Mati konyol dan lebur jadi asap. Rohnya akan gentayangan. Soalnya segala sesuatu di sini telah diprogram otomatis. Rancangannya adalah hasil kolaborasi teknologi dan metateknologi, fisika dan metafisika, kimia dan metakimia. Insinyur yang membuatnya juga melibatkan sejumlah paranormal dari berbagai aliran.”

“Wah, bahaya rumah Adik kalau begitu !” kataku asal berkata. Sekedar mencukupkan ceritanya yang kukira sudah mengambang.

“Tidak juga. Mereka yang masuk dengan seizin penghuninya tidak akan apa-apa. Paling-paling akan mendapat pengalaman baru. Bahkan kalau dia pengarang yang bekerja mengandalkan inspirasi, akan mendapat ispirasi lebih banyak,” katanya tertawa. Lalu beranjak entah ke jurusan mana.

Aku kira dia telah menyinggungku. Aku mulai tak enak mendengar suara tawanya. Aku mengharapkan perempuan itu segera menyalakan lampu. Aku membutuhkan suasana terang untuk mengusir kebengongan di benakku. Diam-diam aku berdoa semoga tombol-tombol yang terpasang di dinding rumah ini tak ada yang macet.

Akhirnya terkabul juga doaku. Lampu menyala dengan kekuatan cahaya seperti yang aku inginkan. Terasa aku terlontar ke sebuah tempat asing. Tapi perempuan yang belum kutahu namanya itu tidak segera muncul. Entah ngumpet di mana dia. Mataku mencari-cari ke segenap ruangan itu. Tapi tak ada.

Aku bangkit dari kursi seperti orang yang baru bangun dari sebuah mimpi buruk. Keadaan ruangan itu membuatku penasaran. Apakah ini yang dimaksud oleh perempuan itu sebagai sebuah inspirasi, bahwa aku mendapat banyak inspirasi di suni ? Sial.

Aku kini sudah terjebak masuk ke dalam sebuah perangkap yang mewah dengan umpan seorang perempuan yang licik. Di sekeliling ruangan ini tampak perabot-perabot lux. Ada kulkas, lemari besi tinggi, meja lipat modern, kompor gas mutakhir dan berbagai meubel lainnya. Inventaris yang menjadi identitas orang-orang kaya modern. Tapi aneh, kamar ini beserta perabot-perabotnya seperti pernah aku mimpikan, seperti pernah melayap dalam hayalku. Bahkan seperti pernah merasuk ke dalam imajinasiku, terperangkap ke dalam sebuah cerpen yang pernah aku tulis. Ya, aku masih ingat, lemari besi itu, meja-meja itu, kulkas itu, kompor gas itu, pernah menjadi latar belakang sebuah ruangan dalam sebuah cerpenku. Mungkinkah benar-benar ini sebuah inspirasi?

Aku mendongak ke langit-langit. Sebuah kipas angin raksasa bergantung seperti baling-baling helikopter. Ya, juga baling-baling raksasa itu, yang selalu mengingatkanku pada Don Quizot de Lamacca, seperti pernah merasuk ke dalam imajinasiku. Aku tiba-tiba jadi takut. Aku kembali duduk menunggu munculnya “Godot” itu di depanku. Akan tetapi hampir satu jam aku menunggu, si “Godot” sial itu belum juga muncul batang hidungnya. Perasaan takut kembali mengusik tatkala aku mencoba menyadari di mana dan bagaimana aku bertemu dengan perempuan itu tadi. Lalu bagaimana ia memaksa-maksa aku masuk dan aku terus saja MENURUT.

Aku menyesal kenapa sebodoh itu terjebak masuk ke kamar ini. Aku tahu ini bukan kamar tamu. Dengan inipun aku telah melanggar etiket seorang tamu.

Aku ingin berteriak memanggil perempuan itu. Tapi sial, aku belum mengenal namanya. Mengapa bisa terjadi, aku lupa menanya namanya tadi?

Tapi persetan dengan namanya. Pokoknya aku ingin berteriak memanggil. Dan begitulah aku berteriak. Berteriak. BERTERIAK.

Aku tak tahu apa yang sudah kuteriakkan. Yang kurasakan adalah suaraku tersekat sendiri di tenggorokan. Kering dan sedikit mau basah. Tapi si “Godot” sial itu tak juga muncul.

Hujan mulai jatuh. Terdengar air mericik dari langit. Aku merasakan dingin menerpa seluruh tubuhku. Aku meraba bajuku, celanaku, dan rambutku. Semuanya basah. Aku mendongak ke atas. Air hujan jatuh begitu saja dari langit menerpa mukaku. Aneh, padahal tentulah atap rumah ini terbuat dari genteng istimewa. Paling tidak kualitasnya seperti genteng antibocor yang diiklankan di TV secara berlebihan itu. Tapi mengapa hujan bisa tembus begitu saja masuk ke ruangan ini?

Aku memperhatikan sekelilingku. Barulah aku tahu bahwa dinding-dinding rumah mewah ini seperti dibangun dari sebuah ilusi mimpi yang menakutkan. Ada ceceran darah dan bau dupa yang menyengat hidung. Juga terdengar suara orang-orang merintih kesakitan dari kejauhan. Apakah semuanya hanya sebuah hologram dan holofon yang sengaja dipasang oleh perempuan sial itu? Aku berteriak lagi. Berteriak lagi. Berteriak lagi.

Tapi seperti tadi suaraku tersekat di kerongkongan. Lalu di luar kesadaranku terjadilah perubahan konstruksi mekanik dari sebuah ilusi menjadi kenyataan. Lemari besi tinggi itu berubah menjadi bentuk aslinya. Menjadi sebuah batu nisan tua yang lumutan. Juga kulkas itu. Juga kompor gas mutkhir itu. Juga meubel-meubel lain itu. Semuanya berebut menjelma menjadi bentuk aslinya : nisan-nisan tua yang berserakan di sekelilingku ! Aku meriang. Apalagi ketika meja di depanku mendadak berobah menjadi tembok putih segi empat yang tengahnya bolong. Aku memejamkan mata. Berkonsentrasi sebisa mungkin, meleburkan diri dengan jagad, lalu mengabut membumbung ke angkasa raya diselimuti awan….

Pagi-pagi dua orang gelandangan membangunkan aku dengan menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Pak, Bapak bangun. Sudah siang. Kok tidur di sini. Ngambek ?”

“Kena marah sama bininya, kali.” Kata temannya.

“Ndak. Saya kenal Bapak ini seniman. Pengarang kalau tak salah !“

“Tapi kok tidur di sini ?”

“Lagi cari inspirasi, kali.”

“Apa? Insi…” temannya bengong.

“Anu, lagi semedi, gitu. Biar bisa dapat wangsit supaya bisa mengarang lancar.” Temannya menjelaskan.

Aku bangun. Pura-pura tak mendengar ocehan mereka.

Menggeliat.

Menguap lepas.

Mengocek-ngocek mata.

Kentut.

“Sekuter bapak kenapa ditaruh begitu saja di sini semalam. Untung kita menjaganya. Kalau tidak, sudah digondol maling…” kata gelandangan yang seorang. Yang seorang lagi membentangkan tikar rombengnya di tempatku tidur, di sisi tembok putih segi empat yang tengahnya lubang itu. Lalu membaringkan badannya dengan enaknya. Aku memperhatikan pengemis itu dengan curiga.

“Kawan saya capek. Semalam tidak tidur menjaga sekuter Bapak di sana !“ kata temanya lagi menjelaskan.

“Terima kasih !” kataku lalu mengeluarkan dompet, memberinya uang masing-masing lima ribu sebagai hadiah.

Yang tidur segera melompat menerima dan berterima kasih.

“Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Semoga Bapak panjang umur dan banyak rejeki !” katanya berulang-ulang. Aku mengambil skuter. Pulang ke rumah dengan kepala yang masih berat. Sebuah misteri kini kubawa pulang sebagai inspirasi untuk menulis cerpen yang hari ini harus kuserahkan kepada sahabatku yang bekerja sebagai redaktur budaya itu. Sial. Padahal dia tak suka cerita misteri. Dia pernah bilang begitu ketika kami sama-sama diundang sebagai dewan juri lomba baca puisi di sebuah kota. Aku tahu cerita misteri biasanya dikotakkan sebagai cerita picisan.

Di kuburan tua itu gelandangan itu berkata kepada temannya, “Nah, bagaimana menurutmu ? Makhluk yang namanya seniman itu sama juga dengan kita kaum gelandangan, kan ? Coba saja, dia suka aneh-aneh. Mereka orang punya rumah, bersekuter bagus dan mungkin juga punya bini cantik, tapi kesenangannya juga tetap keluyuran dan tidur di kijing seperti kita, terutama kalau sedang cari insi… apa tadi ?”

“Wangsit !”

“Ya, wangsit !”

Temannya tertawa sambil mencium uang di tangannya berkali-kali.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: