Ekspresi

Cerpen Badaruddin Amir

Dia bukan pelukis. Sejak kecilpun dia tidak pernah bercita-cita jadi pelukis. Kalau dia kini tiba-tiba melukis –melukis sebuah wajah yang selalu melayap pada mimpinya saban malam—itu semata karena obsesi yang tak kuasa dikendalikannya. Dia memelihara dendam, seperti memelihara bara dalam sekam.

Dan begitulah dia melukis sore itu. Bagai kesurupan dia menumpahkan obsesi dendamnya di atas kanvas yang telah kekuningan karena tuanya. Hampir satu jam dia larut dalam lukisan itu dengan sekucur tubuh yang berpeluh, barulah lukisan itu dapat diselesaikannya. Begitu menurutnya lukisan itu telah selesai, dia bangkit menghapus peluhnya dengan handuk kecil. Kemudian untuk meredakan sisa emosinya yang tak tandas seluruhnya di atas kanvas, dia meraih botol wiski yang telah disiapkan sebelumnya di atas meja.

Dia menenggak wiski itu langsung dari botolnya.

Dia terbahak. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia terbahak sendirian. Sekarang dia merasa kemenangan berada pada pihaknya. Begitu yakin dia akan kemenangan itu, sehingga dia merasa seluruh organ tubuhnya, terutama kedua belah tangannya yang selama ini selalu membangkang apabila diajaknya kerjasama mewujudkan impiannya, akan tunduk kepadanya. Dia menggerak-gerakkan tangannya seperti orang yang baru saja selesai aerobika.

Dia yakin tak ada lagi organ-organ tubuhnya yang membangkang. Semuanya seolah sudah diminyaki. Dengan semangat itu dia memperoleh kembali kepercayaan baru untuk mewujudkan impiannya. Kalau dia mau, dia tinggal memberi aba-aba dalam bentuk keinginan dan organ-organ tubuhnya yang menangkap sinyal itu akan segera berbuat sesuai dengan keinginannya.

Dia menatap lukisan yang baru saja diselesaikannya nanap-nanap. Timbul juga niatnya untuk memerintah tangannya meraih lukisan itu, menyuruhnya merobek-robek hingga menjadi sampah lalu mencampakkannya ke dalam tong sampah. Dia menengok keluar. Dia melihat tong itu tersenyum menggoda. Tapi dia segera membentak keinginan gilanya. Dia tak mau berbuat segila itu, sebab ada yang ingin dinikmatinya sejenak, sebelum segala kemelutnya yang tragis itu berlalu.

Dia meraih lukisan itu. Mengelusnya dengan perasaan aneh, lalu menggantungnya di dinding. Setelah itu, bagai pemilik galery yang tertipu dengan sebuah lukisan palsu, dia menatap lukisan itu dengan geram. Matanya melotot. Tak sedikitpun ekspresi yang terukir pada wajahnya menunjukkan bahwa dia kini sedang menikmati sebuah karya seni hasil ciptaannya sendiri. Apalagi sebuah kebanggaan yang layaknya membungai hati seorang pelukis yang baru saja selesai melepaskan demamnya di atas kanvas setelah dipendam begitu lama. Yang tampak adalah justru kegeraman yang maha hebat, yang andaikata ditumpahkannya saat itu juga akan dengan mudah dapat diduga bagaimana nasib lukisan itu selanjutnya. Tapi sekali lagi dia tidak akan melakukan perbuatan segila itu. Dia akan membiarkan lukisan itu tetap terpacak di situ dengan segala eksistensinya, sampai suatu hari nanti impiannya untuk membalas dendam kepada orang yang punya wajah dalam lukisan itu berhenti jadi impian.

Dia tahu andaikata pun lukisan itu dibuatnya sangat naturalistis, lukisan itu tetap sebuah lukisan. Sebuah benda mati dan bukan objek yang tepat untuk sebuah upacara ritual balas dendam bagi seorang anak yang diamuk benci seperti dia. Yang didengarnya melakukan praktik neurotis seperti itu hanyalah paranormal atau orang-orang lunatik. Dalam upacara balas dendam mereka menggunakan boneka, patung, lukisan, atau apa saja sebagai medium untuk melabrak lawannya. Melalui benda-benda personifikasi itu, mereka dapat mempermain-mainkan orang yang dibencinya. Misalnya menusuk-nusuk biji mata atau perutnya dari jarak jauh, men-dematerialisasi-kan benda-benda berbahaya masuk ke dalam tubuh lawannya. Tetapi dia tidak percaya pada cerita bahari seperti itu, meskipun para pakarnya telah mengilmiahkannya dan mendesak agar fenomena kejahatan supranatural segera dimasukkan ke dalam KUHP sebagai dasar untuk menuntut pelakunya.

Kalau dia kini melukis wajah seorang yang dibencinya, untuk kemudian memperlakukannya sebagaimana paranormal atau orang-orang lunatik dari zaman bahari dalam melabrak musuh-musuhnya, bukan karena ingin mengulang cerita bahari. Dia semata-mata ingin melihat imajinasinya menjelmakan sesuatu yang niskala menjadi sesuatu yang kongkret, dapat diraba, dapat dipecundangi, dilabrak, dimaki-maki, ataupun ditangisi.

Dia sadar bahwa lukisan itu tidak sama persis dengan wajah orang yang dibencinya. Tetapi itulah yang diimpikannya. Sebuah lukisan yang menggambarkan karakteristik yang keras, bejat dan kejam, sehingga kebringasan menjelma dengan sempurna pada wajah laki-laki Don Juan yang telah membunuh harapan dan masa depannya itu. Dan untuk kesempurnaan kebringasan itu, bukan dia tak sengaja kalau dia meminjam kumis Stalin dan menempelnya begitu saja di bawah hidung laki-laki yang dilukisnya itu. Dengan kumis melintang itu maka makin bengis pulalah dia mengutuk laki-laki itu.

“Demi harapan dan masa depanku, aku terpaksa mewujudkan impian balas dendamku padamu, apapun kau jadinya kini !” sumpahnya.

Dia menuding lukisan itu dengan keji. Setelah itu dia menenggak sisa wiski langsung dari botolnya hingga tandas.

Dia masih mengumpat tatkala dia meninggalkan ruangan itu terseok-seok karena sedikit mabuk. Tiba-tiba dia menyenggol sudut meja. Dia terjatuh. Entah mengapa dia tiba-tiba merasa diri jadi orang lunatik. Dan entah mengapa dia juga tiba-tiba merasa diri berubah jadi orang bahari. Dia menatap sekelilingnya dengan pandangan nanar. Dia melihat suasana masa silam menjelma dalam kamarnya. Dan tatkala dia memperhatikan dirinya sendiri, dia melihat dirinya dalam dandanan orang Yunani Kuno.

“Sangat jauh aku terlontar,” keluhnya sambil berusaha bangkit. “Tapi demi ibuku yang di rahimnya aku bersemayam sembilan bulan sepuluh hari, aku akan bersumpah untuk tetap menuntut balas atas perbuatanmu yang menyakitkan !”

Dia terseok menarik langkahnya ke luar kamar. Dan tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah belati yang tergenggam erat di tangannya. Dia berdiri tepat di hadapan lukisan itu, mengarahkan ujung belati dan ujung emosinya tepat pada buah kuldi Adam yang menonjol di tenggorokan lukisan laki-laki yang tiba-tiba membuatnya jadi orang bahari itu. Tetapi lukisan itu seperti menantangnya. Seperti mengajaknya berduel untuk menentukan di tenggorokan mana seharusnya belati itu tertancap. Tetapi dia sudah tak mandah. Dia berteriak lagi mengulang sumpah serapahnya.

“Demi ibuku yang kucintai dan demi kasih sayangnya padaku, maka pada tenggorokanmulah belati ini seharusnya kutancapkan bangsat. Yeeaaaaatt !”

Baru saja hendak mengayunkan belatinya ke tenggorokan lukisan itu dengan mata terpejam, tiba-tiba anak yang diamuk dendam itu mendengar suara :

“Anak jadah, tak tahu diri kau ! Apa roh Oediphus telah menjelma dalam tubuhmu sehingga kau berani menunjukkan belati itu padaku !”

Dia kaget. Dia membuka picingan matanya. Dia mundur dengan mata yang hampir melesat ke luar dari kelopaknya. Tapi di manakah suara itu ? Benarkah dia telah mendengar suara itu ? Ataukah mungkin telinganya barusan telah berkhianat dan bekerja sendiri di luar kontrol kesadarannya? Tetapi dia mendengar suara itu dengan jelas. Nada-nadanya sangat dikenalnya sejak dia masih kecil. Tak salah, sumpah serapah itu juga sering didengarnya, bahkan telah akrab dengan telinganya, juga sejak dia masih kecil. Tetapi itu tidak mungkin terjadi sekarang setelah bertahun-tahun berpisah dengan suara itu dan memendam kebencian kepada pemiliknya. Boleh jadi memang gaungnya masih bergelantungan di langit-langit kamar rumah tua itu seperti kelelawar yang bercicit kehausan darah. Akan tetapi sebagai anak yang memendam benci dia tak mau nmendengarnya lagi. Meski dengan wibawa yang masih sama dengan dulu.

Dia menggosok matanya sekali lagi mencoba mengembalikan kesadarannya. Dia mendongak ke langit-langit dengan sikap seorang “Penantang Tuhan”. Dia berusaha keras menolak persepsi ekstra sensoriknya, yang boleh jadi sedang mempengaruhinya saat itu.

Karena dalam dongaknya tak juga menemukan apa-apa pada langit-langit kamarnya, dia kembali memusatkan emosinya pada lukisan ayahnya. Matanya awas meneliti guratan kasar yang dibuatnya tidak proporsional di sekitar mulut lukisan itu. Akan tetapi lukisan itu tetap seperti semula. Tak ada tanda-tanda bahwa ia barusan saja bicara. Tetapi dia mendengar tadi lukisan itu bicara dengan nada-nada yang sempurna dan sangat dikenalnya. Dia pun mengorek-ngorek mulut lukisan itu dengan ujung belati. Setelah tak juga menemukan tanda-tanda bahwa sumber suara itu adalah lukisan itu, dia berteriak.

“Kau memang brengsek, bajingan !”

Lalu dia mengamuk. Menendang apa saja yang dapat ditendangnya. Membanting apa saja yang dapat dibantingnya. Meja, kursi, botol wiski, lemari plastik, dan buku-bukunya berantakan diamuknya, sehingga sejenak saja ruangan itu telah menjelma menjadi sebuah ajang pertempuran dengan ‘mayat-mayat’ yang bergelimpangan. Dia sendiri tegak di tengah-tengah suasana heroik itu seperti pahlawan yang berteriak menantang.

Dengan ngos-ngosan dan peluh yang membanjiri tubuhnya dia menghampiri kembali lukisan ayahnya seperti pahlawan yang menghampiri musuhnya yang paling terakhir. Belati itu masih digenggamnya kuat-kuat. Sejenak dia melihat Brutus menusuk Caesar dari belakang dengan belati, lalu Ken Arok yang mengangkat kerisnya tinggi-tinggi setelah Tunggul Ametung terkapar berlumuran darah dan menancapkannya kembali sebelum pergi diam-diam meninggalkan jasad rajasa di kamarnya.

“Kini giliranmu ! Aku tak akan mandah hanya karena kutukanmu. Kesengsaraan yang kau timpakan jauh lebih kuat memahat kebencian untuk membuat perhitungan denganmu. Banyak kisah bahari yang terulang. Yunani telah memulai kisah ini dengan Oediphus di Colonus. Dan di sini aku terpaksa mengulangnya lagi. Bertahun-tahun kita hidup dalam atap yang sama dan dalam siraman cinta kasih ibu yang tulus ikhlas, tapi kau menghianatinya. Pengecut. Kau tinggalkan tanggungjawab dan membiarkan kami hidup menderita dan menjadi gila dikoyak-koyak kesengsaraan. Tak bertanggungjawab. Kau lari dari kenyataan yang ada dan mencari kenyataan yang lain di balik mimpi Don Juan-mu. Kau cari daun muda hanya karena ibuku kau pandang tak layak lagi mendampingi kedudukanmu sebagai birokrat keparat. Bajingan.

Akupun berhak bermimpi seperti kau. Dengarlah mimpiku, demi ibuku yang akhirnya mati dalam tawanan penderitaan yang kau pasungkan padanya, dan demi masa depanku yang morat-marit, aku akan menikamkan belati ini tepat pada buah kuldi Adam yang bergantung di tenggorokanmu itu, cak !”

Belati itu tertancap tepat pada sasarannya. Dan anak laki-laki dengan dada yang terbongkar itu tiba-tiba merasa sangat letih. Dia duduk menelongsorkan diri di lantai begitu saja seperti seonggok kain basah. Tetapi matanya tetap awas dan tak pernah beranjak dari ujung belati yang tertancap tepat pada tenggorokan lukisan ayahnya.

Dia sangat lesu dan haus bagaikan baru saja menempuh perjalanan jauh. Jauh sekali. Dan dengan kelesuan lamat-lamat anak lelaki itu membatin, “Ayah, maafkan aku. Aku kini telah menjelma seperti mimpiku, menjadi Oediphus. Tapi aku melakukan semua ini tidak dengan dendam erotisme dan dewa-dewa Yunani tak pernah meramalkan sebelumnya….”

Dan seperti dalam mimpinya, anak laki-laki itu melihat darah mulai menetes dari ujung belati yang tertancap di tenggorokan lukisan ayahnya. Darah itu meleleh ke dada lukisan itu, membiaskan seberkas cahaya senja yang temaram di barat. Lalu sejenak menjelma menjadi puisi kongkret ‘Luka !’ *

Dan anak lelaki itu terkesima taktaka melihat mata lukisan itu mulai redup, semakin redup, dan akhirnya terkatup rapat seperti hari memasuki malam.

* ‘Luka !’, judul puisi kongkret Sutardji Calzoum Bachri yang pernah dipamerkan di TIM, terdiri dari sebuah kanvas kosong yang digantungi sekilo daging segar masih meneteskan darah dengan kata-kata “ha ha”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: