Dia Berenang Terus

Cerpen Badaruddin Amir

 

 

sumber: tegal-online.blogspot.com

Dia berenang terus. Kini sudah enam jam dia berenang dalam kegelapan malam. Tak tahu sudah berapa mil jauhnya dia berenang. Namun garis pantai belum juga kelihatan. Sesekali dia mendongak ke langit. Gelap menyelubung sempurna. Tak ada bintang. Apakah hujan juga akan turun? Ya Tuhan, neraka apakah yang Kau kirim pada hamba-Mu, si nelayan celaka ini? Gumamnya.

Dia merasakan kedua pergelangan tangan dan kakinya sudah mulai kaku dan dingin telah merasuk ke tulang sumsumnya. Tapi mau apa lagi. Dia harus berenang terus hingga ujung jarinya menyentuh pasir pertama di daratan. Pertanda bahwa dia sudah terdampar di sebuah pantai. Atau, dia harus berhenti berenang dan menyerahkan seluruh nasibnya pada kebuasan lautan. Dia akan megap-megap sebentar sampai paru-paru dan seluruh rongga tubuhnya terisi air asin. Lalu lemas tak berdaya. Setelah itu, innalillahi wainnailaihi rojiun. Nyawanya akan segera terbang meninggalkan tubuhnya terapung-apung di lautan, menjadi rebutan ikan-ikan buas yang mungkin telah mengincarnya sejak terjungkir dari perahunya yang meledak.

Dia menggigil. Dia tidak habis pikir kenapa musibah itu terjadi. Perahunya meledak di tengah lautan saat dia sedang mengangkat pukat untuk berkemas pulang. Padahal seingatnya dia tidak pernah menyimpan bahan peledak di perahunya. Apalagi menggunakanya sebagai alat untuk menangkap ikan. Dia takut pada bahan peledak, pada bom ! Karena dia tahu cara seperti itu tidak halal dan penuh risiko. Sudah banyak temannya, pelaut muda sekampung, telah jadi korban. Ada yang tertangkap polisi karena ketahuan menggunakan bahan peledak lalu meringkuk dalam penjara beberapa tahun lamanya. Ada pula yang mengalami nasib lebih tragis lagi; meledak bersama perahunya sampai tubuhnya berantakan jadi serpihan-serpihan daging yang tak utuh lagi. Namun yang aneh, mereka tak pernah jera. Penggunaan bahan peledak sebagai alat untuk menangkap ikan semakin merajalela di kampungnya.

Dia pernah jengkel pada juragannya Dul Hamid, yang saban datang ke rumahnya memaksa-maksanya agar dia menggunakan bom untuk menangkap ikan. Katanya itu cara yang paling cepat, praktis dan sangat mudah untuk mendapatkan banyak ikan tanpa mengeluarkan biaya terlalu besar. Modalnya cuma keberanian. Ya, keberanian membakar sumbu dengan puntung rokok yang masih menyala, lalu melemparkannya tepat pada sasaran. Maka beribu-ribu ikan yang asyik berenangan akan segera bergelimpangan. Pekerjaan selanjutnya tinggal melompat ke laut memungutnya. Atau kalau mau lebih aman, boleh juga menggunakan pemicu batere atau accu. Sumbunya tak perlu dibakar tapi akan meledak sendiri seperti bom waktu setelah terjadi hubungan pendek.

“Kamu tak mau keluargamu hidup layak sebagaimana nelayan lain ?” desak Dul Hamid setiap datang ke rumahnya.

“Mau Juragan, tapi saya takut menggunakan bom. Itu kan dilarang !”

“Ala, takut apa heh ? Lihat Naim, baru dua kali turun ke laut cicilan perahunya langsung dia lunasi. Itupun masih ada yang sisa untuk keluarganya. Sekarang semua penghasilannya sudah menjadi miliknya. Harga ikannya tidak perlu saya ganggu lagi untuk bayar cicilan perahunya !”

“Saya takut ketangkap polisi, atau….”

Ala, polisi itu kan punya perut juga. Bisa diatur asal ada ini !” Juragan Dul Hamid menggeser ibu jari dan telunjuknya. “Kamu kan sering lihat bagaimana saya menyelesaikan persoalan kecil seperti itu. Buat apa saya jadi juragan kalau tidak bisa melindungi kalian. Tidakkah kamu berpikir kalau kamu ditangkap polisi, padahal cicilan perahumu belum lunas, itu berarti saya yang pertama menanggung kerugian. Dan coba lihat keadaan keluargamu sekarang. Anakmu saja tidak bisa meneruskan sekolahnya seandainya istrimu tidak merengek-rengek minta bantuan kepadaku. Jadi cobalah berpikir seperti nelayan lain. Jangan sok alim, sok patuh pada hukum. Polisi-polisi itu saja sendiri sudah menjual hukum. Mengapa kita tidak menjadi pembeli dengan keuntungan yang sudah jelas berlipat ganda.”

“Tapi tidak semua polisi kita bermental begitu, Juragan. Yang tak mempan disogok masih banyak. Lagian, saya memang takut pada risikonya, Juragan. Kalau boleh, biarlah saya bekerja keras melaut siang-malam mencari ikan dengan pukat, agar saya dapat membayar cicilan perahu saya asalkan….”

Ala, dasar nelayan pengecut kau. Sampai mati kau tidak akan bisa kaya !” umpat juragan Dul Harnid.

Dan dia ingat betapa jengkelnya pada Surti istrinya, saban Dul Hamid yang sudah beristri dua itu datang ke rumahnya, lalu istrinya menyambutnya berlebihan. Dia seperti ingin menampar Surti, memakinya sebagai perempuan jalang. Apalagi bila Surti sudah bergenit-genit pula pada Dul Hamid.

Dalam perjuangannya melawan maut di tengah malam buta itu, dia seperti melihat istrinya sendiri menjelma menjadi “malaikalmaut”, mengancamnya dengan palu godam agar segera mempercepat kematiannya. Tapi dia bertahan terus. Berenang terus melebihi batas kemampuannya, menuju ke titik entah. Dia tidak peduli lagi apakah arah yang ditujunya adalah sebuah pantai atau justru semakin membawanya ke tengah laut yang lebih ganas.

Dia bersyukur karena masih merasakan tangannya bergerak. Demikian pula kakinya. Maka dia pun mengikuti nalurinya. Berenang terus sambil membayangkan garis pantai berada sepuluh meter lagi di depannya. Celakanya, malam yang tanpa bintang sedikitpun tak menampakkan silhuet bayangan daratan sehingga dia hanya memperkirakan arah yang ditujunya adalah pantai, berdasarkan pengalamannya sebagai pelaut yang telah akrab dengan gelombang. Dia yakin tidak salah arah. Tapi dia masih tak mengerti mengapa perahunya meledak malam-malam di tengah lautan saat dia sudah berkemas hendak pulang. Dia mencurigai mesin perahunya. Tapi apa mungkin mesin perahunya yang masih baru itu bisa meledak?

“Tidak, saya tidak mau mati konyol dalam keadaan yang mengerikan di malam buta seperti ini. Saya mesti rnencapai pantai. Saya harus mencapai pantai” batinnya sambil terus berenang.

Tapi sekuat-kuat dia berenang kemampuan tetap ada batasnya. Setelah sekian mil dia berenang, dia sudah mulai kehilangan tenaga. Bayangan-bayangan mautpun segera menyerbu benaknya. Dia melihat istrinya Surti melumatnya dengan palu godam. Dia membenci Surti seperti dia membenci juragan Dul Hamid. Dengan nalurinya sebagai suami, dia merasa kedua orang ini telah menjalin hubungan gelap di belakangnya saban dia pergi melaut. Namun dia tidak dapat membuktikannya. Soalnya, siapa pula yang dapat membuktikan sebuah borok yang dibungkus rapi. Tapi perlakuan Surti yang semakin aneh dan dingin pada malam-malamnya di ranjang, dan sambutan-sambutan Surti yang semakin berlebihan saban Dul Hamid ke rumahnya memperkuat kecurigaannya. Dan andai saja dia mengetahui bahwa juragan Dul Hamid sering menyantroni istrinya saat dia berada di laut, maka pilihannya memang tidak akan pulang-pulang lagi. Dia akan pergi! Pergi melabuhkan nasib pada ombak sebagai bentuk perlawanan dan kekalahan. Atau dia akan membiarkan dirinya sekarang tenggelam tanpa perlawanan. Membiarkan ikan-ikan buas memakan dirinya secuil demi secuil sampai yang sisa tinggal tulang belulang. Tapi Tini, oh Tini anaknya yang masih kelas empat SD dan sedang manja-manjanya itu selalu dirindukannya. Anak itu menjadi tumpuan harapan dan kasih sayangnya, yang selalu memanggil-manggilnya pulang ke darat saat matahari di barat sudah merah bagai tomat raksasa masak penuh-penuh*. Setiap dia teringat Tini anaknya, dia akan segera pulang mengikuti isyarat elang laut yang pulang ke sarangnya setelah senja turun. Dan kini, dalam kepungan maut, dia melihat Tini anaknya melambai-lambai di pantai belakang rumahnya, memanggil-manggil….

“Kalau ditakdirkan mati, mati di darat dan mati di laut bagiku sama saja, karena laut dan darat serta diriku se1uruhnya adalah milik-Mu jua. Tapi kalau boleh aku meminta, ya biarlah hamba-Mu mati dekat pantai agar mayatku menjadi urusan bagi orang-orang yang menemukannya. Aku masih berharap anakku Tini masih bisa melihat wajah kaku ayahnya sebelum orang-orang mengusungnya ke liang kubur” harapnya terus membatin.

Saat dia tak dapat lagi menggerakkan tangan dan kakinya karena telah kehabisan tenaga, badannya melemas. Pelan-pelan diapun terhisap gravitasi bumi. Tenggelam. Namun tiba-tiba kesadarannya pulih tatkala ujung kakinya menyentuh lumpur. Dia kaget. Gembira. Tak percaya. Dan entah dari mana dia memperoleh sisa-sisa tenaga, dia menyauk segenggam lumpur lalu muncul lagi ke permukaan dengan mulut menyemburkan air seperti ikan paus. Saya selamat, pikirnya megap-gegap. Dingin lumpur pada genggamannya menyadarkannya bahwa dia benar-benar tak berhayal, tak bermimpi di ujung nyawa yang sekarat. Daratan sudah dekat Barangkali tinggal beberapa meter di depannya. Dan andaikata ada cahaya kilat, atau fosfor laut yang memantul ke darat maka dia sudah dapat melihat hijau daun atau bayangan karang atau apa saja yang ada di pulau itu. Dia yakin betul, dia kini sudah terdampar di sebuah pulau. Diapun menggapai-gapai untuk mencapai pantai pulau itu. Setelah agak dangkal dia mencoba berdiri. Sempoyougan seperti orang kelewat mabuk. Namun belum sempat melangkahkan kakinya dia tersungkur tak sadarkan diri. Dia roboh persis di garis pantai pulau itu. Di pertemuan antara air dengan darat. Lidah ombak menjilati kakinya yang pucat.

Seekor ketam dan seekor umang-umang yang kehilangan rumah, segera berlomba membuat sarang di saku celananya yang koyak-moyak. Angin daratpun bertiup membawa aroma kemboja. Di timur, jingga langit pertama sudah mulai muncul.

Tak ada yang tahu bahwa di pantai sebuah pulau tak berpenghuni itu, seorang nelayan muda terdampar dan kini tengah meregang nyawa yang memaksa lepas dari jasadnya. Juga Tini anaknya yang sedang dikeloni sang nenek di desanya tak tahu. Juga Surti istrinya, yang pagi itu masih berbaring loyo di sebuah kamar mewah dalam pelukan juragan Dul Hamid, tak pernah membayangkan nasibnya.

“Kalau alat itu bekerja dengan baik, maka kini si tolol itu sudah terkubur di laut !” gumam Dul Hamid sambil melirik arloji rolexnya sebentar, lalu menjelajahkan lagi kumisnya di bawah telinga Surti pagi itu.

Benak Surti mengunyah-ngunyah kalimat itu.

“Apa maksudmu ?”

“Ya, si tolol itu, suamimu. Dia kini pasti sudah terkubur di laut. Benda yang kusuruh pasang di buritan perahunya kemarin itu adalah bom !”

Surti sontak kaget. Dia seperti melihat bom itu kini meledak di depannya. Dia memukul-mukul dada Dul Hamid. Tapi Dul Hamid segera menangkap kedua tangannya. Kemudian memeluknya erat-erat sehingga Surti tak berkutik.

“Sudahlah, sudahlah. Aku kan sudah janji akan segera mengawinimu. Dan kalo kau sudah kawin denganku nanti, kaulah yang akan tinggal di rumah ini !” bujuk Dul Hamid seperti membujuk anak kecil yang cengeng.

Surti terisak-isak. Ada penyesalan hinggap di hatinya telah berkhianat membantu Dul Hamid mencelakakan suaminya sendiri. Dialah yang meletakkan bom itu di buritan perahu suaminya atas perintah Dul Hamid.

 

 

 

 

* Salah satu ungkapan esai puitis Rahman Arge,  kalau tak salah judulnya “Elang Makassar”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: