Tradisi

Cerpen Badaruddin Amir

 

 

Tokoh kita menatap gelas yang diletakkannya di atas meja kerjanya. Gelas itu baru saja dibubuhinya serbuk. Baru saja diaduknya sehingga air dalam gelas itu masih berputar perlahan-lahan, mengambangkan busa putih di pemiukaan.

 

Dia menatap gelas itu tak berkedip. Matanya nanar. Semalam dia tidak tidur. Sampai jam 00.00, setelah menyimpulkan hasil renungan panjangnya, dia menulis sebuah naskah drama yang berjudul “Lakon Terakhir” dan dua buah surat. Dua buah surat itu adalah surat wasiat. Satu ditujukan kepada penerbit siapa saja yang mau menerbitkan naskah dramanya “Lakon Terakhir”, dengan harapan, agar segala perjanjian dan honorarium, kalau ada, diserahkan saja kepada salah satu badan sosial yang membutuhkannya. Surat wasiat itu diselipkannya pada adegan terakhir, babak terakhir dari naskah “Lakon Terakhir”nya. persis menindih dialog antara “Sang Kritikus” dan “Sang Pengarang” yang kefilsafat-filsafatan. Sedangkan surat wasiatnya yang kedua ditujukan kepada temannya, seorang kritikus, agar semua bukunya diambilnya. Surat itu disampulnya baik-baik dan diletakkannya di atas meja, di depannya itu.

Dia menatap tak berkedip pada gelas itu. Matanya nanar. Semalam dia telah merenungkan perjalanan panjang karirnya sebagai pengarang. Dan sebagai kesimpulan, dia menganggap dirinya telah salah langkah. Tetapi tak ada alasan yang ditemukan dalam renungan panjangnya, yang bisa membuat dia menarik langkahnya lagi.

Dia mengambil catatan hariannya dan laci, kermudian menulis:

“Aku tidak menyadari betapa rakusnya kehidupan te!ah menelan jasmani dan rohaniku. Tapi sebenarnya inilah kisah yang sering melintas dalam mimpi-mimpiku di malam-malam tak ada inspirasi lagi. Bahwa aku gagal. Gagal sebagai pengarang. Gagal menciptakan tradisi kepengarangan yang seharusnya telah lama aku letakkan sebagai anutan pada pengarang generasi berikut.

Memang selama ini aku telah salah menilai diri. Para kritikus mengatakan aku pengarang berbakat dan aku telah terbuai oleh penilaian itu tanpa menyadari bahwa bakat hanyalah sebuah fondasi yang mesti dibangun lagi dengan hati-hati.

Tapi kini aku tidak menyadari betapa rakusnya kehidupan telah menelan jasmani dan rohaniku. Sebenarnya inilah kisah yang ingin kukagumi selama aku masih bernapas dan mencibirkan diriku sendiri. Banyak tindakan yang telah aku lakukan. Tapi tak satu pun yang dapat meyakinkan diriku sebagaimana yang akan kulakukan kali ini. Kini aku tak akan mengeluh. Kalau anggur Amarta* tak dapat kureguk, biarlah anggur hasil ramuanku sendiri yang akan menciptakan tradisi bagi kepengaranganku. Aku tak akan….”

Tokoh kita menarik napas panjang. Dia membaca catatannya. Seperti kemarin dia mencibirkan dirinya lagi. Dia melihat betapa jeleknya kalimat-kalimatnya. Tidak koheren. Apa yang mau dikatakannya dengan kalimat-kalimat cengeng seperti itu ? Keputusasaan ? Kalah melawan hidup ? Atau sebuah semangat untuk membangun kembali jiwanya yang runtuh ? Dia tertawa kecut. Teramat kecut. Dia sadari kegagalannya.

Dia sadari mengapa banyak pengarang dunia yang tenar, yang nama dan reputasinya telah menjamin kehidupannya, tiba-tiba malah pada akhirnya memilih burnuh diri sebagai penutup lakon kehidupannya.

Dan tokoh kita menatap tak berkedip gelas yang diletakkannya di atas meja kerjanya. Dalam renungnya semalam dia telah membuat perhitungan yang mantap dengan degup-degup jantungnya. Dia merasa langit-langit kamar kontrakannya telah mengurungnya dengan sempurna. Dalam kenanaran itu dia bertanya, apakah dia benar-benar termasuk juga dalam golongan orang yang telah gagal dan kemudian membunuh kreativitasnya pelan-pelan karena mengira bahwa dirinya tidak ditakdirkan jadi pengarang, tapi hanya kejangkit penyakit itu sehingga dia mencoba-coba mengarang? Ah, pembunuhan, keluhnya. Dia ngeri membayangkan huruf-huruf kapital yang terangkai berlumur darah menjadi kata “PEMBUNUHAN”. Dia benci setiap kebiadaban manusia melalui pembunuhan yang berdarah. Dia tak pernah sanggup melihat darah.

Tapi kini dia telah membuat perhitungan dengan degup-degup jantungnya. Dia telah siap dengan sebuah rencana pembunuhan. Pembunuhan yang tak perlu dimuat di koran-koran dengan judul sensasional karena tak ada unsur-unsur kriminalnya. Pembunuhan yang hanya dengan alasan “sudah bosan hidup”.

Dia tahu bahwa dia telah banyak menulis. Telah banyak karyanya yang diterbitkan. Tapi dia juga tahu bahwa karya-karyanya tak pernah benar-benar sempurna. Dan hanya karena ketololan saja yang membuat para penerbit itu menerbitkan buku-bukunya. Demikian pula publik sastra, hanya karena ketololan saja yang membuatnya mengangguk-angguk mengagumi karya-karyanya. Dia merasa kini telah terjadi penafsiran yang keliru terhadap karya-karyanya. Bahkan penafsiran yang jungkir-balik. Dan itu semua bermula dari ulasan-ulasan kritikus yang telah menempatkan karya-karyanya pada puncak menara gading dengan berbagai sebutan. Diperparah lagi oleh komentar-komentar luar garis yang ditulis oleh redaktur-redaktur budaya yang sok tahu sastra.

Menunut penilaiannya, karangan-karangannya sangat jelek. Novel-novel dan cerpen-cerpennya tak lebih dari novel-novel dan .cerpen-cerpen pengarang yang dikaguminya. Puisi-puisinya selalu membekaskan puisi-puisi penyair lain yang dikaguminya. Dan esei-eseinya tak lebih dari bayangan esei-esei penulis yang dikaguminya pula. Tapi kawannya yang jadi kritikus telah menobatkannya menjadi pengarang besar dengan embel-embel “serba bisa” pula.

Dia tahu bahwa karya-karyanya tak pernah berhasil menciptakan “tradisi” kepengarangan. Dan kegagalan besar baginya adalah ketakmampuannya menciptakan “tradisi” itu. Yang terjadi malah sebaliknya, dialah yang selalu mengikut pada tradisi pengarang lain, meskipun pengarang itu adalah pengarang asing, pengarang dunia yang sudah mapan. Dan di sinilah awal dari segala kemelutnya. Dia gagal menciptakan tradisi.

Dia meraih gelas berisi cairan hasil ramuannya itu di atas meja kerjanya. Dia menenggaknya. Dia kini gagal menciptakan tradisi. Tapi apakah tradisi ? Apakah yang harus dia lakukan untuk menciptakan tradisi ? Dan mampukah ramuannya itu menciptakan tradisi sebagaimana ramuan Ramaswami yang diberinya nama anggur Amarta Wine itu? Dalam berpikir begitu dia berteriak keras mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang dia yakin akan segera bertambah banyak dan bertambah rumit.

“Tradisi.. . tradisiiii. . tradisiiiiiii !“

Demikian dia berteriak petang itu. Suaranya melengking tinggi mengagetkan matahari sehingga jatuh ke dalam laut. Warna merah-jingga segera membingkai kota. Tak lama kemudian kelampun turun.

Sebagai couda sekelompok penjudi ikut kaget mendengarkan kata “tradisi” diteriakkan begitu pilu dari kerongkongan serak tokoh kita. Mereka saling berpandangan dengan curiga.

“Ada polisi. .. ?“ tanya salah seorang di antaranya.

“Polisi ?“ yang lain tercengang.

“Ya, saya juga mendengar ada yang berteriak polisi…”

Yang lain segera membereskan meja judi dan menyembunyikan setumpuk uang taruhan di balik tikar.

“Kau ke luar memeriksa ke sana, Dalle !“

Yang bernama Dalle ke luar mengendap-endap, memasuki rumah kontrakan tokoh kita. Dia mendengar tadi sumber suara teriakan itu dari situ. Tapi di pintu dia berdiri kaget sebagai kena hipnotis. Tokoh kita, pengarang yang masih setengah baya itu ditemukannya tergeletak di lantai tak bernyawa lagi. Di atas meja kerjanya dua buah surat, sebuah naskah drama, sebuah catatan harian yang tak selesai ditulis dan sebuah gelas kosong, bening, bercenta tentang tradisi.

 

Catatan:

 

*Amarta Wine adalah nama anggur ramuan Ramaswami yang dapat membuat orang yang meminumnya menjadi genius dan bisa mendatangkan inspirasi untuk menulis cerita. Anggur istimewa ini ditulis dalam cerpen “Pujangga Melayu” karangan Matu Mona. Tentu saja anggur ini hasil imajinasi Matu Mona belaka.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: