Pinrakati

Cerpen Badaruddin Amir

 

 

Sumber: paintingfoto.blogspot.com

Sebuah kebetulan yang tak pernah lintas dalam mimpiku sebelumnya. Aku bertemu dengan Pinrakati saat pulang dari Gedung Kesenian mengikuti peluncuran buku puisiku yang pertama berjudul “Aku Menjelma Adam”, yang dilaksanakan oleh Dewan Kesinian di kotaku. Padahal sudah sepuluh tahun lamanya keinginan untuk bertemu itu terpendam dalam hati. Aku ingin minta maaf kepadanya atas peristiwa ketika kami masih SMA dan yang membuat jalan hidupku lempang jadi penyair hingga saat ini.

 

Boleh jadi Pinrakati sendiri telah melupakan peristiwa itu. Seperti juga sebenarnya telah lama tertidur dalam diriku. Namun ketika kami berpapasan di simpan jalan kompleks perumahan guru tempat istriku pindah mengajar, keinginan untuk minta maaf itu bangun dari tidurnya. Menghentak-hentak dan mendesakku.

“Hei, kau !” pekiknya ketika melihatku. Ia rupanya masih belum melupakan wajahku. Aku tersenyum dan masih was-was menjaga keliarannya yang dulu. Tapi ekspresinya sudah jauh lebih dewasa.

Aku menepi. Membiarkan seseorang yang menabik lewat di sampingku.

“Kau tinggal di mana ?”

“Di situ !” Dia menunjuk sebuah perumahan guru di sudut tikungan, “Mari ke rumah !” ajaknya.

Aku yakin ajakannya sungguh-sungguh. Karena itu aku membalik haluan, mengikutinya.

“Dari pasar ?” tanyaku melirik pada keranjang belanjaan yang di bawanya. Di situ tergolek ikan, sayuran dan krupuk kesukaan anak kecil.

Sampai di halaman rumahnya, ia membuka pintu pagar, menyilakan aku lewat. Seorang anak kecil, kira-kira berumur tiga tahun berteriak dari dalam rumah memanggilnya.

“Mama, mama. Papa belum pulang !”

Pinrakati tersenyum malu-malu. Ia mengeluarkan krupuk dari keranjangnya, memberikan kepada anak kecil itu.

“Anakmu ?” tanyaku ketika sudah duduk di kursi dan anak itu dengan manja duduk di pelukan Pinrakati.

Seharusnya aku tidak bertanya begitu. Seharusnya aku diam saja sampai Pinrakati sendiri menerangkannya. Tetapi entah mengapa aku bertanya juga. Dan itu memang kedengaran tolol.

“Dia nakal. Kalau dia merajuk, sembarangan saja perabot dibantingnya !”

“Anak kecil pada umumnya begitu !” kataku. “Itu artinya, ia butuh perhatian orang tua. Butuh perhatian Papa dan Mamanya !”

Pinrakati membarut kepala anak itu. Dan sejumlah fragmen bermain di kepalaku. Aku membayangkan diriku menjelma jadi ayah anak itu. Ah, sebuah impian yang indah dan kandas ketika masih di awal perjalanannya yang terlalu dini.

“Ini Om. Penyair !” katanya memperkenalkanku kepada anaknya. Aku merentangkan tangan, bersikap ingin mengambilnya ke pangkuanku. Tapi anak itu menggeleng. Ia malah mengacak baju mamanya, mencari sesuatu di sana.

“Hush ! Ngak boleh netek. Kan Ay sudah besar. Nanti om marah !” kata Pinrakati kepada anak itu.

“Ya. Ngak boleh. Tapi penyair tidak pernah marah. Penyair selalu baik hati meski ia disakiti…!” Seruku.

“ Kau satiris sekali. Jadi kau masih jadi penyair seperti kata teman-teman ?”

“Ya. Selamanya. Dan itu berawal karena kau !”

“Jangan menyinggung masa lalu. Kita semua sudah dewasa dan jadi orang tua. Maafkan kalau dulu aku pernah salah padamu.” Katanya sendu.

“Justru sebaliknya, masalalulah yang membuat langkahku mengikutimu ke sini. Aku ingin minta maaf kepadamu karena peristiwa ketika kita masih SMA dulu. Sepuluh tahun lebih permohonan maaf itu terpendam. Maka maafkanlah dulu sebelum kamu menjamuku sebagai tamu atau teman lama” kataku mengulurkan tangan. Pinrakati menyambut tanganku, memegangnya erat-erat. Lama. Lama sekali. Sampai anaknya merengek rengek karena heran melihat kelakuan kami.

 

xxxx

 

Ketika masih SMA Pinrakati memang jadi gadis rebutan. Waktu itu ia murid baru pindahan dari sekolah lain. Banyak teman yang mencoba menggodanya. Namun tak seorangpun yang berhasil. Karena itu mereka mendorongku tampil sebagai peserta. Tapi tentu saja dengan menyiasatiku. Soalnya, mereka tahu aku seorang pendiam, sedikit idealis dan tak suka masalah-masalah vulgar.

Aku tahu dengan sikap yang kurang toleran pada masalah pacaran membuat teman-teman menjauhiku. Tapi meski begitu, mereka sebenarnya menghormati dan menyayangiku. Terutama karena aku berbakat jadi pengarang. Suka menulis pada koran dinding. Suka membantu membereskan tugas-tugas mengarang. Dan bila mereka memintaku menuliskan surat cinta, maka dengan senang hati juga aku suka membantu mereka.

Perkara membuatkan surat-surat cinta, memang mereka tak pernah meragukanku. Mereka percaya aku punya ‘gaya sastra’ yang baik dan terutama karena aku mereka anggap sebagai gudang rahasia yang tak gampang dibongkar. Banyak kawan-kawan yang telah aku tolong berhasil menjalin hubungan cinta sampai langgeng. Bahkan ada yang sekarang telah jadi suami istri. Tapi itu cerita lain.

Tapi meski begitu, hal yang mereka pertanyakan padaku adalah : kapan aku sendiri punya pacar ? Soalnya, mereka belum pernah melihat aku mendekati seorang gadis. Apalagi dengan terang-terangan memproklamasikannya sebagai pacarku, sebagaimana mereka.

Di kelas kami waktu itu hampir semua kawan-kawanku sudah punya pacar. Tentu saja sangat alamiah, karena kami semua sudah memasuki masa pubertas. Usia SMA seringkali diidentikkan dengan masa-masa pacaran. Apalagi saat itu Rano Karno dan Yessi Gusman yang sering memerankan kisah-kisah cinta berlatar sekolahan menjadi idola hampir semua siswa. Karena itu mereka ingin akupun punya pacar seperti mereka. Tapi sebagai  ketua kelas aku tentu harus menjaga gengsi, citra dan wibawa.

“Tak baik kalau ketua kelas tidak punya pacar, nanti tak ada yang jabat itu organisasi yang namanya ‘Ketua Dharma Wanita Kelas’ !” sindir seorang kawan. Mereka memang suka menggosok-gosok aku dengan cara kocak seperti itu. Mereka ingin aku memilih salah seorang kawan wanita sebagai pacarku. Dengan begitu mereka bisa mengajak aku diskusi soal ‘pacar-memacar’.

Dan entah siapa yang telah menyusun skenarionya, tiba-tiba saja pada kesempatan rekreasi menjelang liburan semester seorang teman wanita yang terkenal centil datang melabrakku begini :

“Kamu sudah gendeng ya, Din ? Memang aku ini siapa ? Masa mengutarakan perasaan cinta pakai surat-surat picisan segala. Aku kan temanmu, teman sekelas. Kalau mau pacaran tuh Pinrakati, anak murid baru di kelas dua !”

“Surat ? Suarat apa ?” tanyaku bengong.

Nih ! Benar kamu yang nulis ini ?” katanya menyerahkan surat yang dimaksud.

Aku meneliti surat itu. Membacanya dengan perasaan gamang.

Dan benar surat itu aku yang mengonsepnya. Aku kenal sekali beberapa ungkapan yang sering kugunakan berkali-kali  dalam berbagai konsep karanganku sehingga nyaris menjadi klise. Tapi tulisan itu bukan tulisanku. Aku yakin aku dikibuli teman. Karena itu aku mengatakan, “Kamu percaya bahwa surat ini aku yang nulis ?”

“Melihat susunan kalimatnya sih, ya ! Tapi saya tak percaya kamu yang nulis ini. Saya tahu kamu tak suka nulis-nulis picisan macam beginian. Ini kan bukan cerpen.”

“Jadi kamu percaya aku dikibuli, kan ?” kataku mengharapkan dia mengatakan ‘ya’. Tapi dia tidak mengatakan begitu. Dia tersenyum. Dan senyumnya membuatku merasa disindir.

“Maaf ya, Hal. Aku benar-benar dikibuli ini. Aku tak pernah nulis-nulis begini. Malu aku.”

“Sudahlah. Sobek saja surat itu dan lupakan. Untuk aku belum ge-er, ya !” katanya tersenyum.

“Bajingan ! Ini pasti pekerjaan si Yudi !” Kataku geram sambil meremas surat itu menjadi sampah. Beberapa waktu lalu si Yudi memang pernah minta dibuatkan surat cinta. Katanya akan dikirin kepada seorang cewek yang memikat hatinya. Untunglah si Yudi tak ikut rekreasi. Dia sakit. Aku tak tahu apa yang harus kuhadiahkan padanya andaikata dia ikut.

Pulang rekreasi kami –maksudku aku dan beberapa teman akrab—datang menjenguk Yudi di rumahnya. Dia kami temui terbaring di ranjang. Dia mengerang-erang. Panas badannya tinggi. Timbul juga rasa kasihanku melihat si bajingan itu terkapar. Karena itu aku batalkan niatku untuk menyinggung ‘leluconnya’.

Tapi menjelang kami pulang dia menarik tanganku dan minta maaf. Dia berterus terang bahwa dialah yang mengatur semuanya.

“Tapi itu karena desakan kawan-kawan juga” katanya, “mereka ingin melihat kau punya pacar, Din. Supaya kau tidak serius terus” lanjutnya.

Akhirnya seperti harapan kawan-kawan aku memang mulai melakoni persoalan yang selama ini kuanggap sebagai pengganggu pelajaran itu. Pinrakati, cewek murid baru adik kelas kami waktu itu mulai memikat perhatianku. Nama itu mulai menggodaku ketika aku menemukannya dalam cerita La Galigo. Diceritakan bahwa Pinrakati adalah seorang putri bangsawan Bugis yang baik hati. Image itu membuatku lebih tertarik pada Pinrakati. Apalagi bila aku meliriknya dia suka tersenyum. Tapi waktu itu aku masih ragu-ragu mendekatinya.

Andai kata aku menyampaikannya kepada kawan-kawan bahwa murid baru itu memikat perhatianku, mungkin segalanya akan segera berjalan lancar. Semua kawan-kawan pasti tak akan ada yang menolak untuk jadi PHB. Tapi masalahnya aku tak mau ada yang tahu bahwa aku sedang jatuh cinta. Pada rumput yang bergoyangpun rasanya aku malu mengatakannya. Apalagi kepada kawan-kawanku. Inilah kesulitan yang kuhadapi untuk mulai mendekatinya. Aku belum pernah pacaran dan aku tak tahu bagaimana memulainya.

Tapi kemudian kemelut itu tak terlalu lama aku derita. Kawan-kawan segera mencium –mereka punya hidung memang semuanya luar biasa—bahwa aku menaruh perhatian kepada Pianrakati, mjurid baru adik kelas kami itu. Maka ramailah mereka berganti-ganti menawarkan diri jadi ‘Mak Comblang’.

“Ayolah kejar terus. Berani sedikit, kenapa sih ?” gosok Usman.

“Entar ada elang yang nyambar baru rasa kau” Yudi ikut propaganda.

“Modal kita pacaran tak pake uang, Din. Beda sama itu babe-babe dan tante-tante ! Anak muda cuma butuh keberanian sedikit !” sindir Basri dengan parodinya.

Akhirnya aku menyerah. Aku percaya bahwa mereka adalah ‘punakawan’ yang baik dan berkata sejujurnya. Hanya saja mereka sering melebih-lebihkan dalam mengungkapkannya. Akupun mengaku terus terang kepada mereka bahwa aku belum pernah pacaran dan tidak tahu bagaimana memulainya. Mereka tertawa terpingkel-pingkel.

“Wah, rasanya seperti kena seterun PLN !” Yudi bilang.

“Tapi aku malu mengatakannya.”

“Ajari Yud cara mengatakannya !” kata Hamzah.

“Gampang. Katakan dengan bunga atau apa saja,” usul Usman.

“Klise. Sangat klise.” Bantah Iqbal.

“Kalau begitu dengan apa ?”

“Alah meck, gampang ! Kawan kita ini kan pengarang. Kenapa bengong. Bikin saja surat yang puitis plus romantis tapi tetap etis. Pokoknya yang ‘is-is’. Ntar biar saya yang jadi kuris, eh kurir !” tawar Iqbal.

“Ya, bikin saya surat, Din ! seterusnya tak ada masalah.” Punakawan yang lain menimpali.

“Coba, kalau dulu-dulu tak sok idealis dan mau mengaku sama si Halma bahwa kaulah yang menulis surat itu waktu dikerjain si Yudi, pasti si Halma tak digaet Amri. Kamu kan idola kita di kelas ini !” kata Basri. Aku meninju Basri tapi Basri malah tertawa.

Demikianlah aku memnuhi anjuran kocak kawan-kawan yang kupikir ada benarnya itu. Ya, mengapa aku tak berani. Tengah malam aku bangun. Konsentrasi. Lalu mulai menulis alinea pertama surat cinta kepada Pinrakati dengan sebait puisi. Selanjutnya aku nyatakan segala perasaanku dengan bahasa yang seindah mungkin. Dengan lancar aku menulis bait-bait perasaanku sebagaimana jika aku sedang menulis cerpen untuk dimuat pada koran dinding. Aku ungkapkan  mulai dari pandangan pertamanya yang membuat kubu pertahananku rontok, sampai pada desir darahku jika kebetulan aku berpapasan dengannya di jalan. Aku torehkan dalam suratku bahwa aku suka senyumnya. Dan bahwa aku belum pernah jatuh cinta kecuali kepadanya. Dan bahwa bulan, bintang-bintang yang bertabur di langit kelam, dan serangga-serangga malam yang menyanyikan nucturne ikut jadi saksi atas ketulusan cintaku padanya. Dan bahwa kalau dia juga serius menerima cintaku –cinta pertamaku—bukan tak mungkin aku akan mempersuntingnya jika orang tuanya dan orang tuaku di kampung setuju.

Esoknya setelah surat itu kukemas dalam amplop merah jambu, aku menitipkannya kepada seorang ‘punakawan’ yang baik hati dan sedia mengantar surat itu ke si alamat yang dituju. Seterusnya, tanpa menunggu kurir itu kembali melapor, aku minta izin pada wali kelas dua hari untuk pulang kampung karena perbekalan habis.

Kembali dari kampung suasana jadi berobah. Aku deg-degan memikirkan nasib surat yang aku kirim dua hari yang lalu itu. Aku baru memikirkan berbagai akibat yang dapat ditimbulkan andaikata surat itu bocor karena kecerobohan kawan. Namaku akan tercemar dan mungkin Pak Bakri, wali kelas dan guru bahasa Indonesia kami yang selalu memuji-muji prestasi mengarangku tak lagi mempercayaiku memimpin kelas. Malam itu aku tidur dengan mimpi-mimpi yang tidak karuan.

Esoknya, ketika aku menuju ke sekolah, aku kebetulan bertemu Pinrakati di jalanan. Dia bersama kawan-kawannya juga sedang menuju ke sekolah. Aku ingin menegurnya, tapi kerongkonganku keburu tersekat. Dia menatapku garang. Tapi kemudian membuang muka dan segera mengajak kawan-kawannya bergegas berjalan. Sikapnya menunjukkan bahwa dia marah padaku. Dan caranya menghindariku, seolah-olah menghindari pengemis yang berpenyakit lepra.*

Semula aku kira Pinrakati sedang berakting. Karena menurut ‘kursus’ yang aku peroleh dari kawan-kawan, ciri-ciri jatuh cinta memang begitu. Selalu dibungkus dengan kepura-puraan. Karena itu dibutuhkan keberanian untuk menerobos bungkusnya. Tak boleh keder apalagi mundur. Sebab mundur selangkahpun ceritanya akan tamat di situ. Orang lain yang lebih berani akan segera menyambarnya. Dengan keberanian yang dipompa oleh kawan-kawan itulah aku memburunya. Baik dalam arti sebenarnya maupun kiasan. Aku mempercepat langkahku. Aku harus berani mengetahui balasan suratku langsung dari mulutnya.

Tapi Pinrakati semakin mempercepat jalannya. Bahkan setelah sekolah sudah dekat dia bersama kawan-kawannya berlari masuk dan menghilang di balik pintu kelasnya.

Aku melongo di gerbang seperti monyet. Teman-teman sekelasnya keluar menontonku. Perhatian mereka tertuju ke satu arah : kepadaku ! Mereka mulai mengolok-olok. Ada yang tertawa, bersuit menyindir, ada pula yang bisik-bisik. Aku dibuatnya seperti pemain sandiwara yang baru pertama kali naik panggung. Tak tahu bertindak di luar naskan. Ketika aku lewat di depan kelasnya, aku dengar bisik-bisik mereka sengaja diperdengarkan kepadaku.

“Itu tuh orangnya !”

“Yang nulis surat itu ?”

“Ya.”

“Oh, ya pengarang kita.”

“Tampangnya boleh juga, ya !”

“Lumayan !”

(Tertawa)

“Mujur si Kati itu. Padahal dia murid baru !”

“Bisa juga dia memikatnya !”

“Pake dukun, kali !”

(Tertawa. Tertawa)

“Padahal setahu saya, dia itu pendiam dan tak suka pacaran.”

“Ingat pribahasa yang diajarkan Pak Bakri, air tenang menghanyutkan !”

(Tertawa. Tertawa. Terkekeh).

Merah padam mukaku mendengar lecehan mereka. Pasti ada yang tidak beres dengan surat itu, pikirku. Ini bisa runyam karena Pinrakati murid baru di sekolah kami. Aku harus bertindak hati-hati. Karena itu, yang pertama aku lakukan setelah tiba di kelas adalah menemui Iqbal, kawan yang aku titip surat dua hari yang lalu itu. Aku menghadapi Iqbal setelah aku merasa tenang.

“Kamu membocorkan rahasia saya, Bal ?”

“Ti…tidak,” sangkal Iqbal.

“Tapi kenapa anak-anak sekelas Kati itu meledekku !”

“Saya tidak membocorkan. Saya menyelipkan di bukunya. Tapi rupanya salah alamat. Buku itu bukan bukunya. Tapi buku teman sebangkunya. Dialah yang membocorkannya !” kilah Iqbal.

“Bajingan !” umpatku geram.

Dari Usman aku mendapat keterangan bahwa surat itu memang telah bocor. Kawan-kawan sekelas Pinrakati telah membacanya. Soalnya, surat itu dibuka oleh seorang kawan Kati dan dibacanya keras-keras seperti membaca pengumuman sehingga memancing perhatian kawan-kawannya yang lain. Setelah dibaca surat itu pindah ke tangan yang lain. Begitu seterusnya. Surat itu melompat dari tangan ke tangan seperti koran pagi yang memuat berita hangat. Menurut laporan Usman, Pinrakati sempat menangis hari Sabtu karena tak tahan diledek bertubi-tubi oleh kawan-kawannya.

Sejak perisatiwa ’surat terbuka’ itu aku kembali ke duniaku : pendiam dan berusaha membatasi diri sedapat mungkin dari kegiatan-kegiatan yang tak menguntungkan. Aku juga tak lagi mengelola majalah dinding. Tak lagi mau membantu kawan membereskan tugas mengarangnya, terlebih menuliskan mereka surat-surat cinta. Yang selalu kupikirkan bagaimana minta maaf kepada Pinrakati.

Tapi sampai Pinrakati pindah lagi ke sekolah lain pada pertengahan semester dengan sebab-sebab yang kurang jelas, aku belum pernah mendapat kesempatan minta maaf kepadanya. Aku tambah pendiam dan suka menyendiri. Diskusi dan belajar kelompok hanya aku hadiri bila memang kuanggap sangat penting.  Kepercayaanku kepada mereka sudah runtuh.

Satu-satunya yang tidak runtuh adalah semangatku untuk mengungguli mereka dalam pelajaran. Meski mereka mengira aku frustrasi aku cukup optimis, kreatif dan rajin belajar. Bahkan kekecewaan itu menjadi cambuk bagiku untuk memaksa diri belajar dengan sungguh-sungguh. Dan dalam kesendirian itu aku menemukan kreativitas baru. Aku tiba-tiba suka menulis puisi. Sangat produktif. Dan anehnya,  semua puisi yang kubuat dan segera kukirim ke media massa dimuat dengan indahnya pada rumbrik-rubrik budaya yang biasanya hanya diisi oleh penyair-penyair yang sudah punya nama. Bahkan puisi-puisikupun mulai mendapat perhatian publik sastra dan sering mendapat pujian dari penyair-penyair senior dan kritikus sastra di kotaku. Meski tak seorangpun kawanku yang mengetahui bahwa itu karya-karyaku. Karena waktu itu aku sudah mulai memakai nama samaran PINRAKATI !


* dari salah satu perumpamaan Budi Darma dalam Novelnya Olenka.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: