Perempuan di Atas Bus

Cerpen Badaruddin Amir

 

 

Sumber: blog.thefitfoot.com

Saya memilih duduk sekelas dengan perempuan yang memangku anak kecil itu dekat pintu belakang. Bukan karena tak ada lagi tempat lain yang kosong di depan atau di tengah, melainkan semata-mata karena perhitungan yang sering mencemaskanku manakala saya terpaksa naik bus tertutup seperti sekarang ini.

 

Harus diceritrakan bahwa saya punya obsesi yang tragis dalam sebuah perjalanan menumpang bus tertutup antar daerah seperti ini. Kejadiannya malam hari. Ketika itu bus yang membawaku bersama puluhan penumpang lainnya sudah hampir memasuki kawasan daerah tujuan saya. Menurut dugaanku bus sudah berjalan lebih kurang tiga jam, sebab beberapa penumpang sudah mulai gelisah. Saya sendiri sudah berkali-kali merubah posisi duduk : duduk biasa, melonjorkan kaki ke depan di bawah kursi penumpang lain, melipat lutut di atas jok kursi atau setengah berbaring dan sebagainya. Ketika bus memasuki jembatan yang menjadi batas antara daerah sebelunmya dengan daerah tujuan saya, tiba-tiba ban depan bus yang kami tumpangi pecah. Bus jadi oleng seperti orang mabuk. Karena sopir tak lagi menguasai stir, bus meluncur dari jembatan dan jatuh persis di sungai Kenanga yang lebar dan dalam itu. Puluhan orang meninggal dunia dalam keadaan yang mengerikan. Mati lemas ! Yang sempat selamat cuma sopir, kondektur dan beberapa penumpang yang bernasib mujur, termasuk saya. Itupun cuma karena pertolongan Tuhan semata. Yakni di tengah kepanikan itu tiba-tiba saya diberi kesadaran bahwa lantai bus yang saya rayapi dengan panik terasa licin, sehingga membuat saya ingat bahwa tadi, walaupun sudah merubah posisi duduk berkali-kali sejak dari stasiun pertama, namun saya belum pernah pindah duduk ke kursi lain yang kosong. Berarti saya masih duduk di dekat pintu belakang yang kacanya tadi kuraba memang terasa licin. Dengan begitu, tentulah karena bus terbalik maka kaca pintu yang licin itu kini tinggal di bawah. Dengan kesimpulan seperti itu saya tendanglah dengan sekuat tenaga kaca pintu yang licin itu. Dan benar, kaca itu pecah. Air segera menyerbu ke dalam bagai bendungan yang bobol. Para penumpang tambah panik. Mereka berlomba menyerbu lubang penyelamat yang saya buat itu. Saya sendiri hanya sempat menarik tangan seorang perempuan yang kebetulan terpegang dan membantunya meloloskan diri melalui jalan itu. Bersama dengan perempuan itu saya berenang ke tepi malam-malam mencari pertolongan. Saya tidak tahu berapa jumlah penumpang lain yang sempat lolos di belakang kami melalui lobang itu sebelum tubuh bus menyentuh lumpur di dasar sungai itu. Saya juga tidak tahu berapa jumlah penumpang yang terkurung karena tidak bisa keluar lagi. Yang saya tahu besoknya barulah penyelam-penyelam tradisional yang digaji oleh keluarga si korban mengeluarkan mayat mereka satu persatu. Konon jumlahnya ada lebih sepuluh orang.

Sejak kejadian yang mengerikan sepuluh tahun lalu itu, saya selalu hati-hati naik bus tertutup. Setiap saya bepergian menumpang bus tertutup antar daerah seperti sekarang ini saya selalu memilih duduk yang dekat dengan pintu. Saya percaya kata orang-orang bijak bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Tapi baru saja saya hendak meletakkan pantat pada jok kursi yang kosong di dekat pintu belakang itu, penumpang yang memangku anak kecil itu mencegahku dengan agak kasar.

“Jangan seenaknya duduk, Mas !” katanya memanggil Mas kepadaku, sambil mengipas-ngipasi anaknya yang pulas di pangkuannya dengan ujung selendang.

Mulanya saya mengira sepatuku menginjak ujung kakinya, atau ujung selendangnya yang melorot sampai ke lantai bus itu. Tapi setelah melihat-lihat sepatuku tak bersalah apa-apa, saya mulai bingung.

“Apakah saya mengganggu anak ibu ?” Tanya saya.

“Tidak !” jawabnya membentak kasar.

“Apakah kursi ini ada yang punya ?”

Perempuan itu menggeleng tanpa sudi mengangkat mukanya.

“Kalau begitu mengapa saya tidak boleh menggunakan kursi ini kalau memang sekiranya tidak ada yang punya ?” kataku membela perbuatanku.

Perempuan itu mendongak menatapku. Sinar-sinar matanya memancarkan kebencian yang dalam. Bentuk mukanya tidak simetris. Dan bibirnya yang tebal bagai kue donat melengkapkan kejelekan wajahnya.

“Biarlah saya duduk di sini,” kataku sambil memeriksa kalau-kalau kursi itu memang tidak dapat digunakan. “Saya senang duduk di dekat pintu sambil melihat-lihat pemandangan di luar sementara mobil berlari kencang”.

“Tapi Mas jangan duduk di situ !” cegah perempuan itu lagi.

“Tempat ini kan masih kosong. Semua penumpang yang sudah membayar berhak duduk di sini selama tidak ada penumpang lain yang mendudukinya !”

“Mas ini tidak tahu aturan !“ kata perempuan itu.

“Aturan ? Aturan apa ?” kata saya jengkel. Saya pikir perempuan ini bukan saja jelek, tapi juga cerewet. Saya mulai curiga. Jangan-jangan perempuan ini membuat-buat alasan saja supaya saya tidak duduk di situ, sehingga dengan demikian tidak seorangpun yang memperhatikan keharmonisan hubungannya dengan anak kecil yang pulas di pangkuannya itu. Saya melihat anak kecil itu tidak ada kemiripan sedikitpun dengan wajahnya. Lagi pula saya tidak melihat seseorang laki-laki duduk di dekatnya yang inengaku suaminya. Jangan.-jangan anak kecil itu bukan anaknya. Tapi anak orang lain yang diculiknya di pinggir jalan, kemudian dibiusnya, kemudian dibawanya naik bus—bus tertutup.

Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling seolah-olah mencari seseorang, atau mungkin tempat lowong untuk lari. Matanya liar. Sudut-sudut bibirnya bergerak-gerak. Meski begitu anak yang di pangkuannya tetap saja pulas tak terpengaruh apa-apa. Ketika matanya mendarat pada seorang laki-laki gemuk, berkumis tebal dan duduk di belakang kami, perempuan itu tampak girang. Dia lalu mengadu.

“Coba Pak, orang ini tidak mau pindah !“ katanya menunjuk saya.

Orang yang gemuk itu tersenyum. Gigi masnya kelihatan. Tahulah saya bahwa orang itu bukan suaminya. Mungkin untuk menakut-nakuti saya dia melapor pada orang yang paling gemuk itu. Tapi si gemuk itu tidak menanggapi apa-apa.

Perempuan itu tak kelihatan kecewa. Dia malah tambah bernafsu memutar pandangannya ke segala sudut mencari-cari seseorang yang mungkin memberinya dukungan. Setelah matanya mendarat pada seseorang yang berambut panjang dan duduk di muka kami, dia mengadu lagi.

“Mas gonrong, orang ini tidak tahu aturan. Dia tidak mau pindah dari situ !“

Laki-laki yang berambut panjang itu berpaling ke belakang dan menatapku. Saya tersenyum. Laki-laki itu juga tersenyum. Saya pikir laki-laki yang berambut gonrong ini juga bukan suaminya atau kawannya. Saya memberi isyarat kepada orang itu dengan meletakkan telunjuk miring di jidat. Orang itu susah payah menahan tawanya.

“Lihat Pak, dia tetap di situ tak man pindah. Dia betul-betul tidak tahu aturan, Pak ! Dia tidak mau pindah dan situ. Dia mau mencelakakan semua penumpang. Dia tetap di situ tidak mau pindah. Tidak mau dia pindah. Tidak mau… .“ Omel perempuan itu berulang-ulang.

Perempuan itu terus bernafsu minta dukungan dari pihak lain untuk mengusirku dari tempat duduk dekat pintu itu. Dan saya tetap mempertahankan tempat duduk itu. Kepalang basah, pikirku. Biarlah perempuan itu terus ngomel sepanjang perjalanan karena bus tua ini memang tampaknya tidak punya tape recorder. Kalau ada tentu sopirnya sudah dari tadi memutarnya untuk menghalau kejenuhan. Biarlah dia ngomel terus, saya tetap akan diam seperti batu karang. Toh anjing menggonggong kafilah terus berlalu.

Dan benar, perempuan itu terus bagai anjiing yang menggoniggong. Dia tidak mau diam. Bus sudah jauh, menempuh perjalanan berkilo-kilo meter, melaju kencang. Tapi mulut perempuan itu terus saja mcngoceh.

Saya mulai bosan mendengar perempuan itu mengoceh. Saya menengok ke luar mencoba menikmati pemandangan.

Di luar pohon-pohon berlomba berkejaran menentang laju mobil. Angin mendesau-desau di jendela. Gunung-gunung bergerak. Hamparan sawah pertanian yang telah lama kering menguap. Udara menari-nari di atasnya. Seekor burung elang mengepak-ngepakkan sayapnya tanpa nafsu di angkasa. Letih sekali tampaknya. Ekornya melebar, memutar haluan menuju puncak sebuah bukit.

Seorang penumpang yang duduk di muka meludah sembarangan. Ludahnya yang kental bercampur dahak terlempar ke luar dihempas angin, dan menempel pada bagian luar kaca jendela, persis di muka hidung saya. Dalam hati saya mengutuk orang yang meludah sembarangan itu. Tak tahu aturan, pikir saya. Tapi saya tak berani ribut-ribut seperti perempuan yang memangku anak kecil itu

Mendekati jembatan obsesi lama saya kambuh. Saya membayangkan bus meluncur ke sungai seperti yang pernah saya alami dulu. Saya membayangkan semua penumpang panik. Keadaannya bagaikan sejumlah tikus dalam perangkap yang siap dicemplungkan masuk ke air. Tak ada yang selamat. Semua berusaha menyelamatkan diri tapi tak bisa. Saya tetap diam-diam saja. Pengalaman telah mengajari saya. Mata saya tak pernah beranjak dari dahak yang menempel di kaca jendela, persis di muka hidung saya. Diam-diam saya berterima kasih pada orang yang meludah tadi. Pada titik dari dahak itulah nanti saya akan menendang kaca jendela itu dengan tumit sepatu, persis seperti yang pernah saya lakukan dulu.

Tapi sampai bus terasa mendaki kemudian menurun cepat bagai dihempas, tak juga terdengar suara gedebuk yang keras sebagai tanda bahwa bus sudah terjungkir ke sungai. Jalan di muka kembali rata. Dan di belakang dinding jembatan tampak melengkung bagai pelangi yang sempuna bentuknya. Bus melaju kencang dengan tenangnya.

Tiba-tiba di tengah ketenangan itu perempuan itu berdiri tanpa melepaskan anaknya dari pangkuannya. Ke dua ujung selendangnya melorot sampai ke lutut

“Pak sopir !“ teriaknya parau, “coba lihat orang ini betul-betul tidak tahu aturan. Keterlaluan. Masa dia membayangkan bus ini jatuh dari jembatan. Pantas dia tidak mau pindah dari situ !“ katanya sambil menunjuk saya dengan dagunya.

Saya kaget setengah mati. Saya tidak tahu dari mana perempuan itu mengetahui kalau saya sedang menghayalkan bus jatuh dari jembatan. Saya menatapnya dengan penuh keheranan.

“Saudara tadi menghayalkan bus ini jatuh dari jembatari,” katanya kepada saya. “Jangan pura-pura bengong, saya lihat saudara selalu siap-siap hendak menyelamatkan diri waktu bus memasuki jembatan. Saya lihat saudara menggerak-gerakkan kaki hendak melompat. Saya lihat. Pasti saudara membayangkan bus jatuh dari jembatan,… pasti !”

Beberapa penumpang yang mendengar perempuan itu menuduh-nuduh saya tertawa menyembunyikan gigi di balik sapu tangan. Mereka mencuri-curi pandang melirik perempuan itu. Täkut kalau perempuan itu tersinggung atau mengamuk di dalam bus.

“Dia betul-betul tidak tahu aturan Pak, masa ya tidak mau pindah dari situ. Kan masih ada tempat lain yang kosong, Saudara !“

“Tapi saya tidak mau pindah,” kata saya akhinya. “Saya kan juga membayar dan tak ada aturan yang melarang penumpang duduk di kursi ini.”

“Coba Pak, orang ini bersikeras tidak mau pindah. Dia bilang tidak ada aturan yang melarang penumpang duduk di pintu !“ kata perempuan itu melebih-lebihkan.

Saya tertawa. Penumpang lain saya lihat senyum-senyum. Tapi pak sopir agaknya tidak mau ambil pusing dengan keadaan penumpangnya. Dia tampaknya sudah terbiasa mendengar penumpang bertengkar dengan penumpang lainnya soal tempat duduk. Dia tetap saja tenang-tenang di belakang stir sambil sesekali menyentikkan abu rokoknya ke luar rnelalui jendela kecil yang ada di sampingnya. Dia pura-pura tidak mendengar teriakari penumpang itu.

Perempuan itu memaki dalam bahasa yang tak kuketahui artinya. Dia menatapku dengan geram. Kemudian duduk dan terus mengipas-ngipasi anaknya dengan ujung selendang. Wajahnya bagaikan penjudi yang sial. Tapi mululnya terus mengoceh dalam bahasa ibunya yang sama sekali asing di telingaku.

Bus melaju terus dengan kencangnya. Sebagian penumpang sudah tidur dengan dengkur kecil. Kepala mereka lepas terkulai ke belakang di sandaran kursi masing-masing. Apabila bus oleng ke kiri maka kepala mereka ikut oleng ke kiri. Demikian pula sebaliknya, apabila bus oleng ke kanan maka kepala mereka pun ikut oleng ke kanan, seolah-olah tulang leher mereka patah. Agaknya mereka bosan mendengarkan suguhan maki-maki dan omelan dari mulut perempuan yang tidak mau diam itu.

Saya menengok ke luar. Perasaan lega setelah melewati jembatan membuat ketenangan sendiri di hati saya. Saya melihat di kedua pinggir jalan pohon-pohon asam yang rimbun menaungi jalan raya. Pada batangnya, kurang lebih satu meter dan tanah diberi cat putih, sejajar di kedua tepi. Dari jauh tampak bagaikan pajangan kain jemuran anak sekolah yang mondok di asrama. Berderet memananjang. Dan di ujung sana, jauh di depan nampak dindmg jembatan yang kesekian, melengkung bagai pelangi yang sempurna bentuknya.

Saya menegang lagi. Saya membayangkan bus akan loncat indah pada jembatan itu dan tercebur ke sungai. Saya bergidik. Saya memperbaiki duduk. Perempuann yang memangku anak kecil itu melirikku. Saya berusaha tenang. Kedua ujung kaki saya silangkan di bawah membentuk huruf X. Perempuan itu melirik ke kakiku dengan curiga. Saya terus menegang dan berusaha menahan gerakan-gerakan refleks yang ditimbulkan oleh bawahsadar di kakiku. Perempuan itu mengawasi ujung-ujung sepatuku. Ketika bus sudah memasuki jembatan saya menatap dahak yang menempel di kaca jendela. Sekali lagi saya berterima kasih kepada yang punya dahak. Dahak itu kini sudah mengering dan hampir-hampir tak bisa kukenali lagi.

Setelah bus melewati jembatan itu, barulah saya lega. Saya merasa bersyukur bus tidak loncat indah ke sungai. Saya melihat ke samping dan tersenyum kepada perempuan yang memangku anak kecil itu sambil menikmati kemenangan di hatiku. Perempuan itu menampakkan muka yang cemberut. Tapi baru saja saya mencoba tenang kembali dinding jembatan yang kesekian muncul lagi di depan, melengkung bagai pelangi yang sempuna bentuknya.

Saya menegang lagi. Membayangkan bus akan meluncur di jembatan ini. Perempuan itu memperhatikan kakiku yang menyilang membentuk huruf X.. Saya berusaha menahan gerakan-gerakan refleks yang ditimbulkan oleh bawahsadar di kakiku. Pandangan saya tak beranjak dari dahak yang kini sudah kering sama sekali di kaca jendela.

Tiba-tiba anak kecil dalam pangkuan perempuan itu terbangun dan melenguh. Dengan cekatan perempuan itu memungut ujung selendangnya dan mengipas-ngipasi muka anaknya. Tapi anak itu terus melenguh seperti kerbau yang kekenyangan. Dan pada akhirnya anak itu muntah. Cairan muntahnya berupa nasi kuning dengan potongan-potongan daging yang sudah lumat menyemprot ke paha saya, terus meleleh sampai ke kaki saya yang menyilang. Saya mau berang dan memaki-maki. Tapi perempuan itu lebih duluan marah.

“Coba, kalau saudara tadi mau pindah dari situ pasti tak kena muntah.” katanya. “Salah saudara sendiri, tidak mau pindah !“

Saya bergeser ke pinggir, menempiskan muntahan itu dari paha. Perempuan itu membantu saya dengan memberikan ujung selendangnya.

“Nih dilap !“

Saya melap muntahan anak perempuan itu di paha saya dengan dongkol. Dalam hati saya mengutuk anaknya yang tak tahu aturan itu. Tapi saya tidak mengeluarkannya. Saya kasihan juga melihat perempuan itu. Wajahnya yang jelek itu berobah menjadi memelas.

Anaknya menangis. Kemudian muntah lagi. Selendang dan kain panjang yang dipakai perempuan itu basah oleh cairan muntah anaknya. Ketika anaknya terus-menerus muntah dan tak ada yang keluar kecuali cairan kuning, sempurnalah kedunguan pada wajah perempuan itu.

Barulah perempuan itu kesusahan benar. Dia ingin mengganti kain anaknya. Tampaknya dia membutuhkan pertolongan. Sebelah tangannya mencari-cari kain baru dari dalam tas yang disimpannya di bawah kursi, sebelah lagi memegang kuat-kuat anaknya supaya jangan jatuh. Melihat betapa sulitnya dia mencapai tas yang ada di bawah kolong kursinya dalam keadaan seperti itu, saya turun tangan membantunya. Saya mengangkatkan anaknya dengan kedua tangan sehingga dia bebas berjongkok menarik ke luar tas yang disimpannya di bawah kolong kursi itu.

“Terima kasih, Dik.” katanya setelah dia memakaikan kain baru itu kepada anaknya. Begitu cepatnya hati perempuan itu luluh menjadi baik. Saya hampir tak percaya kalau perempuan itu ternyata bisa tersenyum dengan manis. Dan betul, perempuan itu tersenyum dengan manis kepadaku.

“Adik pindah saja ke sana, biar tidak tambah kotor.” katanya dengan nada yang bersahabat.

“Biar saja di sini, Mbak. Tak apa-apa. Sudah kepalang kotor.” kata saya memanggil Mbak kepadanya. “Tapi ngomong-ngomong, kenapa Mbak memaksaku pindah dari sini,” sambungku dengan hati-hati.

Perempuan itu termenung sejenak. Kemudian berkata pelan-pelan, “Saya pernah punya pengalaman yang tragis menumpang bus tertutup seperti ini. Bus yang saya tumpangi meluncur ke sungai. Untung aku duduk di dekat pintu belakang dan seseorang telah rnenolongku. Kalau tidak aku sudah ikut terkubur dengan bus itu di sungai seperti penumpang lainnya.”

Mendengar cerita perempuan itu saya melonjak kaget, Mungkinkah perempuan ini yang bersamaku sepuluh tahun yang lalu berenang menyelamatkan diri ke tepi sungai itu malam itu ? Waktu itu saya memang tidak sempat memperhatikan wajahnya. Saya rnenolongnya karena kebetulan dialah yang sempat saya renggut ke luar dari bus yang nahas itu waktu itu.

“Kapan peristiwa itu Mbak alami ?“ kejar saya.

“Sepuluh tahun yang lalu.”

“Sepuluh tahun yang lalu ?”

“Ya.”

“Di mana ?”

“Di sungai Kenanga.”

“Di sungai Kenanga ?”

“Ya. Kenapa ?“ tanyanya.

“Kalau begitu tak salah lagi. Mbaklah orang yang saya rengguk dari dalam bus di sungai itu kemudian berenang bersamaku ke tepi menyelamatkan diri.”

“Jadi kau….?”

Perempuan itu tak meneruskan perkataannya. Dia memperhatikanku baik-baik. Setelah itu, tanpa menghiraukan lagi anaknya yang sedang menangis dia memelukku.

Penumpang lain yang melihat adegan itu jadi tidak mengerti.

“Syukurlah kita bisa bertemu. Kalau tidak, saya tidak bisa mengucapkan terima kasih kepada orang yang pernah menolong jiwaku,” katanya melepaskan pelukannya.

Bus akhirnya sampai juga di terminal tanpa mengalami apa-apa. Semua penumpang turun. Aku dan perempuan itu ikut turun dan masih akan meneruskan perjalanan masing-masing dengan mobil lain. Di ruang tunggu terminal kejadian yang mengerikan itu kembali kami kenang.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: