Mengukir di Balik Pulau Lemo

Puisi Ridwan Demmatadju

 

Matahari perlahan merangkak dibalik bukit pulau kecil itu

Perempuan itu berpijak di atas batu kapur

Suara gemuruh gelombang menghempas di bibir pantai

Setiap kali kulihat kapal-kapal membawa tanah merah

Air laut keruh menggulung lumpur di atas karang

Siang itu,dibalik pulau kecil itu

Keulihat wajah-wajah nelayan kecil berlari

Dia membawa keranda dibalut kain hitam

Lalu memanjat cerobong asap pabrik

Dan berteriak menantang matahari

lalu terjatuh dan digilas sepuluh roda ban mobil

Yang membawa tanah milik moyangnya.

Siang di tengah terik matahari itu

Ribuan nelayan-nelayan tak lagi melaut

sambil membawa keranda

dia berjalan ke meja penguas yang sedang tertidur pulas

Sehabis makan di atas piring penderitaan nelayan-nelayan kecil itu.

Karena laut telah digadaikan dengan kepentingan

Karena tanah merah milik moyangnya telah dijadikan prasasti bisnis

Dan nelayan-nelayan kecil terus berlari mencari pusara kematian

Untuk mengubur harapan dan cinta yang lahir di tengah kemiskinan

Engkau datang menitipkan sebuah pisau belati

dibalik punggungmu,dan engkaupun berkata

“Perubahan harus dimulai dengan mengukir di balik pulau”

“Semuanya harus membuka mata dengan cinta yang tak terbalas”

Inilah harga yang tak pernah terbeli para nelayan kecil Tambea

Aku menulis sajak ini karena kulihat wajah anakku mulai bertanya tentang bumi yang tak pernah bicara dan menjanjikan masa depannya.

 

Watuliandu,24 Nopemeber 2008.

 

Sumber :  http://fiksi.kompasiana.com/group/prosa/2010/05/02/sajak-sajak-ridwan-demmatadju/

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: