Firasat

Cerpen Badaruddin Amir

 

 

Saya seorang guru. Istri saya juga seorang guru. Dulu, sebelum istri saya pindah mengajar di kampung halamannya, kami sama-sama mengajar pada aebuah SMP yang terpencil, jauh di sela gunung. Untuk hidup di sana kami menumpang pada sebuah perumahan SD yang lebih banyak diterlantarkan dari pada dipergunakan. Maklumlah, perumahan SD yang dibangun di sela gunung, siapa pula yang mau menghuninya kalau bukan orang pendatang. Lagi, konstruksi bangunannya harus dimaklumi. Seperti kata penyair Remy Silado, fondasinya terbuat dari adonan kue ongol-ongol. Tapi ah, sudahlah….

 

Waktu istri saya masih sama-sama di perumahan itu, keadaannya memang tidak terlalu memprihatinkan. Meski jelek-jelek, tampak selalu bersih, segar dengan aneka bunga di terasnya dan tampak selalu bercahaya. Kaca nako dan pintu bebas dari debu. Demikian pula langit-langit yang biasanya sulit disapu. Pokoknya bersih, titik. Tapi setelah istri saya pindah mengajar ke kampung halamannya sendiri terasa benarlah keadaannya. Bukan hanya soal kesepian yang menciptakan kondisi : betapa berartinya seorang istri setelah ia jauh dari rumah, tapi perumahan itu sendiri memang pelan-pelan menjelma jadi rumah hantu. Laba-laba yang dulu melihat istri saya sebagai musuh bebuyutnya kini telah mendapat kemerdekaan. Dengan leluasa mereka membangun sarangnya di sudut-sudut ruang, di bawah kolong ranjang, di langit-langit dan tempat-tempat strategis lainnya yang sulit dijangkau sapu. Tikus-tikus juga seperti tahu kalau penghuni rumah telah memberikan kemerdekaan penuh. Semacam otonomi untuk membangun kehidupannya. Maka dengan leluasa mereka meningkatkan populasi dan ruang geraknya. Sampai-sampai anak-anaknya yang nakal sudah berani memasuki kamar tidur saya siang-siang dan mencubiti ujung kaki saya di kala tisur siang sepulang menghajar. Padahal sebelumnya tak pernah terjadi yang begitu.

Di perunahan yang segalanya sudah merdeka inilah, suatu malam saya merasa gelisah. Saya tidak bisa tidur. Sementara alis mata saya yang kiri masih berkedut-kedut dari beberapa hari yang lalu. Dalam keadaan seperti itu bermacam-macam bayangan bisa muncul. Mulai dari yang enak-enak dan menyenangkan sampai kepada yang menyeramkan. Saya memejamkan mata. Tetapi gagal memutuskan imajinasi saya yang liar. Ada-ada saja yang muncul dan minta dipikirkan.

Saya mematikan lampu kamar dan mencoba menyatukan pikiran pada suatu titik di depan mata. Semedi begitu biasanya mampu mengatasi imajinasi saya yang liar. Namun sampai setengah jam, saya belum dapat menaklukkan ngelantur pikiran saya. Sebenarnya bukan tak dapat, tapi suara tikus yang telah mendapat kemerdekaan itu penyebabnya. Setiap semedi saya sudah hampir memasuki daerah “trance” yang biasanya akan mengantar saya ke alam mimpi, tikus sial itu berulah, cekikikan seperti Mak Lampir sehingga membangunkan saya dari semedi. Dan alangkah nyaring suara tikus meneriakkan nyel-yel kemerdekaannya dalam hening di malam sepi.

Yang menjengkelkan lagi, setiap bangun dari keheningan semedi imajinasi saya bekerja lagi dan asosiasi negatiflah yang paling cepat merebut ruang pikiran saya. Dalam hati timbul pertanyaan-pertanyaan spekulatif : barangkali ada pencuri yang masuk melalui pintu belakang, cekikikan tadi seperti suara orang kejepit pintu. Atau barangkali hantu ? Hantu yang menunggui pohon sawo besar di belakang. Ketawa hantu konon seperti orang yang menjerit.

Saya bangun menyalakan lampu kamar dan memeriksa sekeliling dengan sapuan mata. Tapi tak ada yang mencurigakan. Jerit tadi memang sungguh-sungguh suara tikus. Barangkali sedang bersenggama, menambah populasinya lagi. Ah, jorok. Pikiran negatif lagi. Tapi sudah jamak, di alam yang merdeka, populasi perlu dipompa.

Saya turun dari ranjang. Keliling-keliling dalam kamar macam orang sakit gigi. Sesekali menjenguk ke luar melalui kaca nako dengan menyingkap sarung yang saya pasang sebagai gorden. Malam di luar menyergap sempurna. Gedung SD samar-samar kelihatan putih bagai kemah raksasa di negeri Liliput. Bintang-bintang bertaburan di langit. Kerlap kerlip bagai seribu kunang-kunang.

Setelah yakin tak ada yang mencurigakan saya padamkan lampu dan tidur kembali. Tapi alangkah gelisahnya. Ditambah gerah dan kadang-kadang gatal pada selangkangan memaksa untuk menggaruk.

Tengah malam ketika temaram bintang mulai pudar dan silhuetnya tak tampak lagi di kaca nako, saya berspekulasi. Bangun. Menyalakan lampu lagi. Mengambil Al-Qur’an dan terjemahannya dari lemari buku. Membuka halaman ke sekian, mencari Ayat Kursy. Tapi karena tak mahir ayat Kursy tak kunjung ketemu. Dengan kesal saya membaca ayat apa saja yang kebetulan terbuka.

Terpatah-patah lidah saya mengeja karena tak mahir mengaji. Belum cukup sepuluh ayat saya tak memperhatikan lagi teks Arabnya. Saya menyumpahi masa kecil dan kemalasan saya. Berikut saya menyumpahi pendidikan umum yang terlalu mendominasi benak saya dan kurang diimbangi dengan pendidikan agama, terutama mengaji. Saya membaca. Tapi yang saya baca kini adalah terjemahan indonesianya. Saya telusuri terjemahan demi terjemahan. Meresapinya, sebagaimana saya meresapi sebuah roman sampai kepada aspek intrinsik dan ekstrinsiknya. Tidak, lebih dari itu. Saya meresapinya sampai pada kesan sakral yang ditimbulkannya di jiwa saya. Sebuah kesan yang tidak saya temukan dalam pembacaan roman, karya pengarang dunia sekalipun. Saking asyiknya membaca terjemahan puitis itu, saya seperti terbang ke udara kosong. Berenang-renang di angkasa seperti layang-layang tak bertali. Dan anehnya, di angkasa raya itu saya dapat bertemu dengan siapa saja yang ingin saya bertemu. Maka berturut-turut saya pun bertemu dengan istri saya yang duduk bersedih menunggu saya di teras rumah ibunya di kampung, tante saya yang tak pernah pulang dari rantau dan mertua laki-laki saya yang juga di rantau menggenggam rindu untuk bersua dengan kami di tanah leluhurnya. Ah, inikah mujizat itu ?

Setelah menyelesaikan membaca satu suarat saya berterima kasih pada penterjemahnya yang telah menterjemahkan Al-Qura’an itu dengan puitis. Karena bagaimanapun saya belum mahir mengaji, melalui terjemahannya saya dapat menikmati kandungan isinya dengan penalaran murni dan sederhana, termasuk pengalaman sakral yang telah melambungkan imajinasi saya ke titik nadir tadi.

Saya menyimpan Al-Qur’an dan terjemahannya itu kembali ke dalam lemari asambil mengingat kakek saya di kampung. Suatu kali saya pernah meminujamkan Al-Qur’an dan terjemahannya itu kepada kakek dengan harapan kakek tidak hanya mahir mengaji, tapi juga mengetahui arti yang dibacanya nyaring dan merdu di bulan Ramadhan itu. Saya lupa kalau beliau tidak dapat membaca huruf latin.

Dia mengatakan, “Kau sajalah yang mempelajarinya. Saya sudah tua dan tak perlu mengetahui artinya. Yang penting orang setua saya ini tinggal nilai ibadahnya semata.”

“Tapi mengetahui arti akan menambah ibadah kita kepada-Nya, Kek !” kilah saya.

Kakek rupanya tak mau disebut kurang ibadah. Dia menerima Al-Qur’an dan terjemahannya yang saya sodorkan kepadanya. Setelah membuka-buka sejenak dan komat-kamit berusaha membaca terjemahannya, beliau menyodorkan kembali kitab suci itu kepada saya.

“Tulisannya terlalu kecil. Ini memang untuk orang yang matanya masih terang. Kau sajalah yang membacanya,” katanya. Lalu tambahnya, “tapi utamakanlah membaca bahasa Arabnya, sebab Al-Qur’an itu juga doa-doa, Cu. Terutama di kala hati kita gelisah.”

Saya memang pernah mendengar seperti kata kakek itu. Bahwa apabila kita diserang kegelisahan yang tak menentu, maka pemusnahnya adalah membaca Al-Qur’an. Saya juga pernah mendengar bahwa Al-Qur’an mengandung banyak kisah yang langsung atau tidak langsung dapat memberi hikmah kepada yang membacanya. Saya juga pernah membaca riwayat pengarang yang sukses. Salah seorang di antaranya, kalau tak salah George Harper namanya, menasihatkan supaya rajin membaca kitab suci manakala sumur kreativitas seorang calon pengarang kering. Sebab dalam kitab suci banyak mengandung mata air kreativitas (ilham) dari kisah-kisah para nabi yang menarik. Kebetulan saya memang penggemar kisah-kisah. Sejak kecil saya suka membaca kisah-kisah. Banyak buku kisah yang telah saya mamah, baik kisah-kisah dari negeri Barat maupun kisah-kisah klasik dari negeri Timur. Dan awal dari kegemaran saya membaca terjemahan Al-Qur’an juga saya rasa berawal dari kegemaranm saya membaca kisah-kisah ini. Begitulah, saya menggandrungi terjemahan Al-Qura’an sambil belajar membaca teks arabnya sedikit demi sedikit dengan berspekulasi bahwa saya akan menerima hikmah yang multidimensional apabila saya rajin membaca kitab suci tersebut dengan sungguh-sungguh. Apalagi di samping jadi guru, saya juga memang bercita-cita menjadi pengarang. Maka sayapun rajin membacanya.

Seperti malam itu, karena kegelisahan tak kunjung enyah, saya membacanya. Terpatah-patah lidah saya membaca teks arabnya dan kemudian terjemahannya yang berdampingan. Hasilnya sebagai obat ‘pemusnah’ kegelisahan memang nyata. Setelah saya capek membaca dan mata saya berkunang-kunang karena penat, saya jatuh tertidur dengan damai. Barangkali saya tidak pernah bergerak-gerak sepanjang malam dan pagi hari baru saya bangun. Setelah bangun  saya beristigfar karena tidur saya terlalu nyenyak sehingga saya kesiangan dan waktu sholat subur sudah habis. Apa boleh buat, saya terpaksa sholat pagi.

Begitulah selesai sholat saya tergesa-gesa masuk ke dapur menyalakan kompor, memasak kopi. Hanya kopi yang dapat saya pakai sebagai pengganjal perut pagi itu sebelum saya berangkat mengajar.

Pagi itu saya memang agak sibuk dari biasanya. Saya telah merencanakan bahwa pulang mengajar saya akan kembali dulu ke kampung menjenguk nenek yang akhir-akhir ini sakit-sakitan, mumpung besok mulai libur. Nanti setelah dari rumah nenek yang tak jauh dari rumah ibu, barulah saya meneruskan perjalanan ke rumah mertua di mana istri saya tinggal. Bisa dibayangkan apabila seseorang akan meninggalkan ‘rumahnya’ beberapa hari, ia mesti membenahi segala sesuatu serapi-rapinya.

Ada dua kesibukan pokok yang saya lakukan pagi itu sebelum mandi. Pertama membenahi apa yang akan saya tinggalkan : merapikan gulungan kasur dan menyimpannya di tempat yang aman, sebab tak mustahil kawan serikat saya yang telah merasa diri merdeka akan berpesta memperingati hari kemerdekaannya sepeninggal saya ke kampung. Lantai saya bersihkan. Piring-piring dan alat dapur lainnya saya rapikan. Gorden dan jendela saya tutup rapat, sehingga dari luar napak seperti rumah-rimah orang Israel yang takut kemasukan radiasi senjata kimia yang akan diledakkan Irak sebelum Saddam terguling. Dan yang kedua membenahi apa yang akan saya bawa pulang.

Mengenai ini saya dapat bekerja praktis. Sebuah tas hitam besar yang memang selalu ikut sejak istri saya pindah, meringankan pekerjaan. Dengan tinggal mengangakan mulut tas tersebut selebar-lebarnya, dan apa yang akan saya bawa pulang saya selongsorkan begitu saja ke dalamnya bereslah pekerjaan. Seperti truk pengangkut sampah laiknya. Isinya tidak perlu diatur dengan rapi. Toh ‘sampah’ yang akan saya bawa nanti akan dicuci istri saya di rumah dan distrika lagi serapi-rapinya, untuk seterusnya, siap saya jadikan ‘sampah’ lagi.

Begitulah, setelah lonceng tanda pulang berdentang dan anak-anak berhamburan ke mulut pintu –saling berebut hendak mendahului yang lain—di ruangan guru, sayapun sudah siap-siap menyandang tas hitam besar yang saya bawa dari perumahan. Banyak juga kawan-kawan yang menggoda, melihat tas besar di pundak saya.

“Ada sarung sutra Bugis asli, Cappo ?” ejek seorang teman.

“Kain batik cap Krisbiantoro ada ?” ejek yang lain.

“Saya bukan penjual kain, nih !” kata saya. Saya membuka mulut tas itu sedikit dan mendorongkan ke muka lubang hidung kawan yang mengejek barusan, “coba cium, baunya semuanya apak !”

Kawan yang mencium bersin dibuat-buat. Yang lain tertawa.

Tiba di kampung, sesuai rencana saya semula saya akan ke rumah nenek. Saya teringat tadi malam dan beberapa hari yang lalu alis mata kiri saya  berkedut-kedut. Kata seorang teman di sekolah akan ada seseorang dari jauh yang ingin bertemu dengan saya. Saya pikir, kalau benar-benar orang dari jauh tentulah tante saya. Tentulah sekarang dia ada di rumah ibu atau nenek. Tentulah sekarang sudah saling berpeluk rindu sambil membiarkan beberapa tetes air mata meleleh. Terutama air mata nenek yang saya yakin tidak akan mampu dibendungnya karena rindu….

Tante saya, anak perempuan nenek satu-satunya itu memang sudah terlalu lama di rantau. Bersama keluarganya mereka tinggal di pedalaman Sulawesi Tenggara di sebuah perkampungan transmigran yang konon belum dijangkau kendaraan darat. Selama tinggal di sana –kurang lebih lima belas tahun saya kira—belum pernah sekalipun dia bersurat. Padahal saya sudah sering mengiriminya surat. Terutama akhir-akhir ini. Kalau tak salah sudah lima kali saya mengirimi berita tentang keadaan nenek saya, ibunya yang sakit tua. Padahal lagi, saya tahu betul dia, suami dan anak-anaknya tak ada yang buta aksara. Anaknya yang tertua dan hampir sebaya dengan saya malah tamat SMA sebelum menyusul ibunya ke sana. Tapi entah mengapa surat-surat dan telegram yang saya kirim ke alamatnya tak satupun yang terbalas. Saya seolah-olah mengirim berita kepada orang yang sudah mati. Sangat menjengkelkan.

Lain benar dengan keadaan mertua laki-laki saya yang kami panggil Etta* . Beliau juga di rantau. Di Berau Kalimantan Timur. Bekerja sebagai wiraswasta di sana. Dia sudah ada di sana jauh sebelum saya kawin dengan anak perempuannya, lebih kurang enam tahun yang lalu. Tapi meski demikian surat-surat mertua laki-laki saya ini selalu lancar. Lebih lagi akhir-akhir ini. Bahkan meski kami tidak menyuratinya kadang suratnya datang juga. Kiriman-kiriman biaya hidup kepada keluarga dan anak-anaknya tidak pernah putrus. Boleh dikatakan setiap bulan Pak POS tidak pernah absen datang mengantar wesel atau surat-suratnya ke Kantor Desa kami. Ya, di Kantor Desa. Memang di sana beliau selalu mengalamatkan. Sebab sudah menjadi kebiasaan bagi para warga di desa kami memakai alamat Kantor Desa bagi yang ada keluarganya di rantau. Dengan demikian bukan saja meringankan tugas Pak POS yang tidak perlu menjejaki alamat warga desa yang kadang tak punya nomor rumah yang dikirimi surat dari keluarganya, tapi juga mengakrabkan warga desa dengan Kepala Desanya. Kerahasiaannyapun terjamin karena Kepala Desalah yang menerima dan bertanggung jawab kepada Pak POS dan pemilik surat.

Apabila kami mendapat panggilan Bapak Kepala Desa, maka kami bergembira. Sebab itu berarti kami mendapat kiriman surat atau lain-lainnya dari keluarga yang jauh. Dan di desa kami keluarga sayalah yang tersering dipanggil ke Kantor Desa sehubungan dengan kiriman surat-surat ini dari ayah mertua saya di rantau.

Di samping surat-suratnya yang datang lancar, mertua saya sudah tiga kali pulang menjenguk keadaan kami. Sebelum saya seatap dengan mertua saya perempuan yang kami panggil juga dengan Etta, kata istri saya kirimannya sangat lancar. Terutama ketika dia dan adiknya masih kuliah. Kiriman-kirimannya tidak pernah berhenti.

Kadang-kadang juga hal ini membuat saya iri. Bahkan sering merasa kecil. Sebab sebagai pegawai negeri dengan gaji yang pas-pasan setiap bulan saya seolah-olah tak mampu membiayai kehidupan keluarga saya, sehingga terpaksa harus minta bantuan kepada mertua saya di rantau. Baru-baru ini misalnya, beliau mengirimkan hampir tiga juta sebagai respon surat yang kami tulis kepadanya untuk membeli sebidang tanah. Lagi-lagi kami minta bantuan. Apa boleh buat, karena uang sebanyak itu mustahil kami peroleh, kecuali dengan mengencangkan ikat pinggang, menghemat dan menabung.

Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang membuat kami selalu merasa dekat dengan beliau, meski dalam kenyataan ‘geografis’ kami berada dalam dua kutub yang berjauhan.

 

xxxxx

 

SAYA membanting stir masuk ke sebuah lorong. Anak-anak kecil banyak bermain di lorong. Anak laki-laki bermain sepak takraw dan mengambil pagar halaman sebagai pembatas net. Anak perempuan bermain petak umpet di tengah jalan. Klakson saya bunyikan. Mereka minggir. Dan setelah saya lewat mereka meneruskan permainan lagi. Di antara deru mesin saya mendengar di belakang mereka bertengkar. Mungkin ada yang curang memindahkan batu permainannya. Dan di spion saya melihat mereka saling tuding dengan kacau.

Belum jauh saya melaju, di depan saya melihat lagi seorang anak kecil menangis meraung-raung di tengah jalan. Kaki dihentak-hentakkan ke tanah seperti tentara yang jalan di tempat. Klakson saya bunyikan lagi. Dan handle gas saya putar bersamaan dengan menarik kopling sehingga mesih meraung tinggi. Seorang ibu dengan rambut tergerai dan daster yang kacau melompat ke tengah jalan menjemput anaknya dan tersenyum malu-malu dan seterusnya melompat lagi masuk ke halaman rumahnya seperti tupai yang lincah.

Di depan rumah ibu, saya mematikan mesin. Menuntun motor masuk ke kolong rumah. Kebiasaan ini saya lakukan sejak kepala saya terantuk pada palang tiang rumah ibu yang memang rendah. Waktu itu, saya tergesa-gesa dan saya tidak turun dari motor masuk sampai ke kolong rumah. Untung waktu itu ‘wajib helm’ bagi pengendara motor  telah diberlakukan sehingga kepala saya terhindar dari malapetaka. Meski begitu, tak urung helm saya pecah dan kepala saya sempat pening.

Maksud kedatangan saya di rumah ibu sebenarnya adalah ingin menguji ‘firasat’ yang dikatakan teman saya. Firasat berkedutnya alis mata kiri saya. Mungkin sekali firasat itu benar. Mungkin sekali tante saya yang memang kedatangannya telah lama dinanti kini sudah pulang dari rantau. Saya ingat surat yant terakhir saya kirim kepadanya, menggambarkan keadaan nenek saya –ibu tante saya itu, sakit keras dan tinggal menunggu kepulangannya. Saya katakan dalam surat tersebut bahwa nenek sangat tersiksa. Beliau sering mengigau menyebut-nyebut nama tante karena rindu dan ingin bertemu sebelum meninggal.

Saya memang tidak berbohong sebab waktu surat terakhir yang saya kirim kepada tante itu ditulis, nenek memang dalam keadaan kritis. Nafasnya tersegal-segal dan kalimat-kalimatnya terdengar sendu dan terbata-bata. Meski dalam surat tersebut saya sedikit mendramatisir keadaan (sebagaimana kegemaran saya apabila menulis surat), saya mengungkapkan kebenaran sesuai dengan pandangan mata saya. Kenyataan bahwa nenek saya rindu kepada tante, anak perempuannya satu-satunya, terbayang pada wajah dan nada-nada suara beliau. Dan wajah dan nada-nada rindu itulah yang saya tulis dalam surat waktu nitu. Meski orang lain yang membacanya mungkin akan mengira itu sebuah naskah cerpen. Karena saya menulisnya lengkap dengan teks ‘dialog’ dan naratifnya sebagaimana sebuah cerpen.

“Tante sudah pulang ?”

Itu pertanyaan saya kepada ibu ketika saya sudah naik ke rumah dan menemuinya di dapur sedang memasak.

“Tidak pernah saya dengar,” kata ibu sambil membuka tutup panci masaknya yang mengeluap karena mendidih kencang. Tangannya yang lain meraih saji** dari keranjangnya yang tersampir di sisi dapur. Api menari, melonjak-lonjak menjilati pantat panci yang hitam, lelatu beterbangan dari dalam api dan padam sendiri di udara.

Setelah ibu mengaduk masakannya dan mendorongkan kayu api masuk lebih rapi ke bawah periuknya, ibu berkata lagi, “tapi kalau sudah pulang tentu sepupumu Anti datang mengabarkan !”

“Saya heran kenapa tante tidak mau pulang barang beberapa hari saja melepaskan kerinduan nenek. Padahal tanah rantauannya tidak terlalu jauh. Naik feri sehari semalam sudah sampai.”

“Itulah tantemu. Bapakmu juga bilang begitu. Dia sudah kirimi surat, tapi balasannya tak ada. Duduk dulu. Istrimu ada kau bawa ?”

“Tidak, saya langsung dari tempat tugas ke mari. Saya mau menjenguk nenek sebentar.”

“Makanlah dulu, Nak. Kau lapar tentu !”

“Tidak. Tak usah. Saya sudah makan di jalan, Bu !”

“Di mana ?”

“Di warung. Di jalan !”

Saya keluar. Ibu mengikutiku dari belakang.

“Kau sudah gajian ?”

Saya menggeleng. Berhenti. Merogoh saku. Saya masih menemukan tiga lembar uang ribuan sisa makan di warung tadi tergolek di saku. Saya memberikan uang tersebut kepada ibu.

“Cuma ini. Ambil semualah, Bu !”

Ibu menerimanya dengan ragu-ragu. Kukira bukan karena jumlahnya yang sedikit. Tapi karena gelengan kepala saya tadi yang menandakan bahwa saya belum gajian. Karenanya saya mengulang menegaskan, “Ambillah, Bu. Buat beli ikan atau apa saja !”

“Tapi…”

“Ambillah. Motor sudah saya isi bensin penuh-penuh tadi.”

Ibu mengambil uang itu. Menyimpannya di balik kebaya.

“Kalau begitu duduklah dulu, ibu bikinkan kopi !”

“Tidak. Tak usah. Saya akan ke rumah nenek sekarang !” tolak saya.

Ketika hendak turun ibu berkata lagi : “Anti sepupumu sudah berhenti sekolah !”

“Berhenti ? Kenapa berhenti ?”

“Kata kakekmu dia sudah berpetingkah sekarang dan bandel bukan main, kakekmu menyuruhnya  berhenti. Mungkin juga karena kakekmu tidak bisa lagi membiayai sekolahnya. Dia kan sudah SMP. Sudah mau naik kelas tiga.”

Cerita bahwa Haryanti sepupu saya, anak perempuan tante yang sekarang di rantau itu sudah mulai bandel dan berpetingkah memang sudah lama saya dengar dari mulut kakek sendiri. Tapi bahwa Haryanti berhenti sekolah baru kali inilah saya mendengarnya. Itulah sebabnya saya tercengang.

Dulu sebelum istri saya pindah Haryanti pernah saya minta kepada kakek untuk saya sekolahkan. Biayanya sudah saya sepakati dengan istri. Tapi kakek tidak membiarkannya. Alasannya, kalau kami mengambilnya siapa lagi yang merawat nenek. Padahal nenek memerlukan perawatan ekstra. Dan dialah satu-satunya anak perempuan dari anak perempuan nenek. Jadi dialah yang paling berkewajiban mengganti posisi ibunya, merawat nenek.

Haryanti sendiri memang tidak pernah mau ikut bersama dengan ibunya ke rantau. Sejak kecil dia ikut nenek, bersekolah dari biaya kakek dan nenek, dan kini dia sudah menjadi seorang gadis. Sayang sekali kalau dia sampai putus sekolah.

Menurut cerita ibu yang didengarnya dari kakek, Haryanti disuruh berhenti sekolah terutama kartena tidak bisa dikendalikan lagi. Awalnya memang karena tidak naik kelas karena kabarnya malas dan sering bolos. Tapi kemudian dia memang disuruh kakek berhenti dengan pertimbangan : pertama, kata ibu, dia sudah pintar menipu dan menyekolahi kakek. Uang pembayaran sekolahnya yang diberikan kakek tidak pernah sampai kepada gurunya, tetapi diboikotnya menjadi pembeli berbagai macam alat-alat kosmetik dan perhiasan. Kedua, kakek sudah tua, sudah tak mampu membiayai sekolahnya sementara tante tidak pernah berkirim uang untuk membiayai sekolah anaknya. Ketiga, nenek perlu perawatan ekstra. Dan lebih dari semua itu, menurut ibu, Haryanti memang sudah berpetingkah. Suka keluar malam dengan alasan yang bermacam-macam. Dan konon, dia sudah pacaran ! Seorang pemuda dari kota naik vespa selalu datang mengantar-jemputnya entah ke mana.

Saya merenung mendengar laporan ibu. Begitu banyak perobahan pada diri anak itu, sehingga kakek tak sanggup lagi mengendalikannya. Saya tidak menyalahkan tindakan kakek menyuruhnya berhenti sekolah. Saya sendiri melihat betapa sulitnya anak-anak gadis sekarang dikendalikan. Alasannya memang sekolah. Tapi nyatanya mereka tak pernah sampai ke sekolah. Sekolah hanya dijadikan alasan untuk keluar bergaul bebas dan pergi ke mana-mana. Semakin tinggi sekolahnya semakin sulit dikendalikan dan menganggap orang tua kolot bila mencoba menasihatinya. Mereka bilang tak mengerti ‘emansipasi’. Dan jumlah mereka yang begini tidak sedikit. Yang jadi korban ‘emansipasi’ juga tidak sedikit. Dan tragisnya, usia mereka masih relatif muda. Bahkan masih SMP. Belum mengetahui pahit getirnya kehidupan. Dan karena itu juga mereka dengan mudahnya dikibuli, diseret ke jurang kenistaan melalui pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba.

Sekali lagi saya tidak menyalahkan kakek. Yang saya sesalkan adalah tindakan tante saya yang sibuk dengan kehidupannya dengan mengabaikan anak gadisnya. Tante saya tentu mengetahui, meskipun dia di rantau, bahwa anak perempuannya yang dulu masih ingusan setelah lima belas tahun sudah menjelma menjadi seorang gadis yang membutuhkan perhatian dan bimbingan langsung dari orang tua.

Saya masih ingat keluhan kakek ketika beliau menyampaikan kepadaku perihal tingkah laku Haryanti yang tiba-tiba tidak bisa dikendalikan itu. Kakek mengatakan, “lebih gampang menggembalakan seratus ekor kerbau dari pada mengawasi seorang sepupumu itu !” dan kakek mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya dalam pengertian ungkapan sebagai penekanan. Sebab waktu mudanya kakek memang pernah jadi pengantar kerbau dagangan. Dia sering menggembalakan kerbau di padang-padang terbuka sampai seratus ekor.

Di rumah nenek, yang tak terlalu jauh dari rumah ibu, saya masih merenung membayangkan tingkah laku sepupu saya Haryanti seperti yang diceritakan ibu. Saya mencari-cari Haryanti dan ingin menasihatinya sebagai seorang adik. Tapi saya tidak melihatnya. Yang saya temukan hanya nenek yang terbaring di ranjang tuanya sendirian dengan mata yang terpejam.

Mendengar ada langkah kaki mendekat, mata nenek terbuka seperti mata boneka. Seperti biasa saya melihat mata nenek buram tak bercahaya. Kelopaknya cekung. Mukanya pucat keriput. Nafasnya turun naik satu-satu. Itulah pertanda ‘kesehatan’ yang masih dimiliki nenek. Artinya, dia masih bergerak, masih bernafas !

“Kau siapa ?” sapa nenek, meraba-raba hendak bangkit dari tempat tidurnya.

“Tidak usah banyak bergerak, Nek !” cegah saya. Dan saya cepat-cepat menyebut nama saya.

“Oh, kau. Istrimu datang juga ?”

“Tidak, Nek. Saya tadi langsung dari tempat tugas dan hanya singgah sebentar di rumah ibu. Anti mana, Nek ?”

“Entah. Dia sudah biasa keluar begitu. Tak bilang-bilang.”

“Kakek ?”

“Ke sawah.”

Nenek batuk. Serak. Meraba-raba pinggir ranjang dan menjulurkan kepala dengan tetap berbaring. Meludah pada piala yang khusus diletakkan di depan ranjangnya.

“Jadi nenek sendirian ?”

“Ya.”

Nenek meraba-raba lagi hendak bangkit. Saya membantunya cepat. Mendudukkannya dengan bantal di punggung yang saya sandarkan pada terali ranjang.

“Kenapa nenek tidak melarang Anti keluar-keluar dengan bebas begitu. Dia kan anak perempuan. Tidak boleh terlalu bebas keluar. Lagi pula nenek setiap saat perlu bantuan !”

Nenek tidak menyahut. Bibirnya yang kurang darah bergerak-gerak kaku. Batuk.

“Katakan bahwa dia tidak boleh banyak meninggalkan nenek !”

“Sepupumu mungkin sudah bosan menjaga nenek. Seperti ibunya juga….”

Tiba-tiba nenek menangis. Air matanya mengalir lewat kerut-merut wajahnya yang pucat. Kemudian katanya lagi, “saya tidak tahu apa tantemu mau pulang apa tidak. Kau dan bapakmu sudah cukup berusaha menyuratinya. Kita seperti mengharap kepulangan seorang yang sudah mati saja !”

Mati ! Kata itu melompat dari hati, bersamaan dengan ungkapan nenek dan hampir saja meletup dimulut karena kesal.

Tapi keadaan yang dikesankan oleh kepergian tante berpuluh tahun lamanya dan belum pernah pulang sampai sekarang memang seperti ungkapan nenek itu. Saya merenung. Dan tiba-tiba saya mengagumi nenek sebagai seorang penyair. Seorang pengolah kata-kata yang puitis. Perumpamaan nenek barusan kena betul di perasaan saya. Kepergian tante benar-benar seperti orang mati yang sia-sia diharap kepulangannya kembali di tengah-tengah keluarga.

“Tawakkallah, Nek. Kalau Tuhan menghendaki, mungkin dalam keadaan yang tidak disangka-sangka tante bersama keluarganya akan muncul kembali di muka nenek. Dia kan anak nenek yang lahir dari darah daging nenek dan berasal dari rahim nenek. Tak mungkin dia tidak punya firasat manakala waktu yang ditentukan….”

Nenek menangis lagi. Sesegukan. Air matanya mengalir melalui sungai kecil di pipinya, terus bergantungan bagai manik-manik mutiara di dagunya. Jatuh. Diganti lagi dengan butiran mutiara lain. Jatuh lagi. Mutiara lain lagi. Jatuh lagi. Akhirnya dirusak oleh sapuan ujung kebaya nenek. Setelah melihat nenek mulai reda dan butiran mutiara tak lagi berhamburan dari matanya, saya berkata, “beberapa hari ini saya mendapat firasat, Nek. Alis mata kiri saya berkedut-kedut. Kata orang saya akan bertemu dengan seseorang keluarga yang datang dari jauh. Saya kira tante….”

“Mungkin itu firasat lain” potong nenek menghapus lagi sisa air matanya bersih-bersih dengan ujung kebaya. Suaranya terdengar kecewa.

“Mungkin juga !” kata saya, “tapi meskipun tante belum datang kan di sini masih ada Anti, penggantinya. Apalagi saya dan ibu juga sering-sering ke sini melihat Nenek !” hibur saya.

“Tapi sepupumu sudah sulit diperintah. Dia suka membantah. Kakekmu saja tidak lagi digubrisnya. Apalagi nenek….”

Saya tunggu nenek bicara dan mengatakan bahwa Harianti sudah putus sekolah, sering keluar malam bersama seseorang dan seterusnya. Tapi nenek berhenti sampai di situ saja dan minta dibaringkan lagi. Rupanya nenek sengaja merahasiakan hal itu kepada saya. Mungkin juga beliau takut saya memarahi Haryanti karena kelakuannya. Mungkin juga sebenarnya dia sayang kepada cucunya, anak perempuan dari anak perempuannya satu-satunya itu, sehingga kelakuan yang buruk-buruk dan merugikan beliau sekalipun tak diceritakannya kepada saya.

Saya jengkel. Saya tunggu kedatangan Haryanti dan ingin memarahinya. Tapi Haryanti tak muncul-muncul. Mungkin juga dia sudah muncul di pintu dan surut kembali karena mendengar suara saya bercakap-cakap dengan nenek. Haryanti memang sangat takut kepada saya. Lebih takut dari pada kepada ayah dan ibu saya.

Karena Haryanti tak muncul-muncul juga batang hidungnya saya permisi kepada nenek setelah menjanjikan akan datang menjenguknya lagi bersama istri setelah kami gajian. Nenek terharu dan menangis lagi. Saya meninggalkan nenek sendirian sebab saya percaya Haryanti akan muncul setelah saya pergi. Saya benar-benar kesal kepada kelakuan anak itu.

xxxxx

SORE hari baru saya tiba di rumah mertua. Teka-teki yang saya bawa dari tempat tugas tak terpecahkan. Firasat berkedutnya alis mata kiri saya sejak beberapa hari yang lalu tak terbukti.

Kenyataan ini menambah keyakinan saya bahwa firasat adalah sesuatu yang absurd. Tak selamanya jadi sebuah pratanda. Saya memang tidak berkesimpulan bahwa firasat adalah sebuah isapan jempol dan tidak bisa dipulangkan ke kandang logika, tidak punya konteks dengan dunia riil yang kasat mata. Tapi meski demikian tak urung saya merasa gelisah dan selalu membayangkan sebuah kenyataan. Memang sebelumnya alis mata saya, terutama yang kiri sering berkedut, tapi entah mengapa kali ini saya merasa kedutnya berbeda dengan biasanya. Saya seolah-olah dihantui bayangan akan ‘bertemu’ dengan sebuah kenyataan, entah kenyataan apa. Itulah sebabnya ketika di perumahan saya susah tidur, meski saya sudah melakukan ‘meditasi’, membunuh kegelisahan seperti yang sering saya lakukan.

Saya parkir motor di bawah kolong dan menyandang ‘sampah’ se-tas penuh di pundak naik ke rumah. Saya melihat istri saya duduk di teras, termenung seperti seorang gadis patah hati. Saya siap-siap menggodanya. Tapi tak jadi. Karena saya melihat matanya sembab seperti baru saja menangis. Sejumlah pertanyaan menyerbu di hati dan benak saya. Kenapa menangis ? Rindu ? Dapat fitnah…? Tapi rasanya saya tak pernah berbuat sesuatu yang dapat ditafsirkan sebagai perbuatan menyeleweng.

Saya suruh dia turun mengambil barang-barang lain di bagasi motor. Tapi aneh, dia tak beranjak dari tempatnya dan tak menunjukkan kegembiraan seperti biasa.

Saya lewati dia. Masuk meletakkan tas. Dia mengikutiku. Di kursi, ketika aku duduk melepas kaos kaki dia menghamburkan tangisnya….

“Kenapa menangis ?” tanya saya bingung.

Etta meninggal !” serunya di sela tangis.

Etta ?” ulang saya karena masih bingung. Sebab ketrika saya meninggalkan rumah menuju ke tempat tugas Etta kami, yaitu mertua perempuan saya, masih sehat segar bugar.

“Tadi seseorang mengantar telegramnya dari Kantor Desa !” kata istri saya, masih menangis. Kedua matanya bengkak.

Tahulah saya bahwa Etta kami yang meninggal adalah mertua laki-laki saya yang jauh di rantau. Sementara itu Etta kami yang perempuan sudah keluar karena mendengar kedatangan saya.

Tahulah saya bahwa pratanda berkedutnya alis mata kiri saya dari beberapa hari lalu adalah sebuah firasat yang diisyaratkan dari orang yang ‘sudah’ jauh, yaitu mertua laki-laki saya dan bukannya dari orang yang ‘masih’ jauh, yaitu tante saya di rantau.

 

Catatan :

 

Saji : Sendok besar yang terbuat dari kayu (Bahasa Bugis)

Etta :    Panggilan kepada orang yang dihormati.


* Panggilan kepada orang yang dihormati (Bugis)

** Sendok besar terbuat dari kayu untuk menanak nasi (Bugis).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: