Bapak

Cerpen Idwar Anwar

 

 

Sumber: Harian Fajar, Minggi 26 September 1999

USIANYA baru l0 tahun. Tapi tidak seperti anak-anak seusianya. Ia belum pernah merasakan bagaimana menjadi anak sekolahan. Namanya Dogel. Sehari-hari, ia bergelut dengan debu dipersimpangan jalan, di bawah trffic light, menjajakkan koran yang diambilnya dari agen setiap hari, Selepas salat shubuh. Ia berlarian kesana-kemari menawarkan Koran yang dibawanya ke setiap mobil yang berhenti di saat lampu merah menyala. Dari kaca-kaca mobil yang terbuka, ia mengais sedikit demi sedikit rejeki untuk menyambung hidupnya besok. Dipikirannnya yang berkecamuk mungkin hanyalah uang. Uang dan uang untuk penyambung hidup. Mengisi perutnya yang kadang hanya terisi sekali dalam sehari.

Dogel masih kecil, tapi ia telah dipaksa oleh keadaan untuk bergelut dan larut dengan segala macam penderitaan. Ia telah belajar mengerjakan sesuatu yang sepantasnya hanya dikerjakan orang-orang dewasa. Dunia kanak-kanaknya terbang begitu saja, dihempas angin bercampur debu dan panasnya matahari dipersimpangan jalan, di bawah sebuah traffic light dan di antara kendaraan yang melintas setiap saat, dengan karakter penumpang yang berbeda.

Sejak kecil, ia dipelihara oleh Nyai Imah, orang yang sama sekali tidak mengenalnya dan akhirnya diyakininya sebagai ibu kandungnnya. Ibu kandungnya membuangnya di dekat jembatan, di sekitar rel kereta api. Padahal usianya saat itu mungkin belum cukup sehari.

Saat Nyai Imah menemukannya, tubuhnya masih merah oleh darah dan penuh air ketuban yang sudah mengering. Tali pusarnya belum dipotong. Dengan suara tangisnya yang melengking memekakkan telinga, ia menggelitik telinga Nyai Imah yang saat itu sedang tertidur di bawah kolong jembatan, tak jauh dari tempatnya terbaring dengan selimut kumal.

Nasib akhirnya  membawanya hidup bersama Nyai  Imah, yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung. Ia belum bersuami. Nasibnya tidak jauh tragisnya dengan Dogel yang kini dipeliharanya.

Nyai Imah berasal dari sebuah desa yang jauh di pedalaman. Ia tak pernah mengenal dan tahu bagaimana hiruk pikuk dan kejamnya kota. Karena keinginannya yang sangat keras untuk mencari pekerjaan dan tergiur ingin merasakan bagaimana kehidupan kota. Ia pun langsung menyetujui , ketika seorang yang tidak dikenalnya berniat membawanya ke kota untuk bekerja pada sebuah perusahaan pabrik. Dengan pikiran yang masih lugu dan tanpa curiga sedikit pun, ia mempercayai semua kata-kata yang diucapkan Randy, orang yang belakangan baru diketahuinya sebagai seorang pencari wanita untuk dijadikan budak nafsu laki-laki hidung belang di kota.

Dengan perasaan yang sangat gembira dan penuh harapan, ia melangkah meninggalkan desanya. Desa yang selama ini mengasuhnya dengan keramahan alam dan wajah penduduk, desa yang penuh senyum ketulusan.

Sangat lain dengan senyum yang kini disaksikannya di kota. Ya, di tempat yang selama ini disangkanya sepereti sebuah sorga.

Dan nasib buruk yang menimpanya pun terjadi. Belum sempat ia bekerja, sepertri janji Randy ketika pertama kali Randy ingin membawanya ia malah diperkosa. Randy orang yang selama ini dipercayainya  telah merengguk mahkotanya, sesuatu yang begitu berharga bagi seorang wanita bila ingin dikatakan gadis, tanpa merasa berat untuk meyandangnya. Setelah beberapa hari menjadi pemuas nafsu laki-laki bejat, yang ia harus layani rata-rata lima kali setiap harinya, akhirnya ia pun taktahan dan berhasil melarikan diri dari  kamar yang selama ini dirasakannya sebagai neraka.

Sekian lama ia terkatung-katung, menyusuri gang-gang sempit, tidur di emper-emper toko, di rel-rel kereta api , dan di kolong-kolong jembatan, yang luasnya tak lebih dari dua kali dua meter dengan dinding yang terbuat dari karton dan atap yang tingginya juga tak lebih dari dua meter yang terbuat dari plastic dengan lantai yang berasas karton dan kain-kain sarung bekas yang didapatnya di tempat-tempat pembuangan sampah.

Di sekelilingnya, bangunan-bangunan megah berdiri kokoh dan begitu angkuh. Kendaraan-kendaraan mewah dan orang-orang yang berpakaian modis berkeliaran tak henti-hentinya. Sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan kehidupan yang sedang dialaminya. Setiap hari orang-orang yang lalu-lalang menatap dengan pandangan jijik dan terkadang tersenyum sinis.

Dan stelah sekian lama hidup sendiri, akhirnya nasib pula yang mempertemukannya dengan seorang bayi yang diberinya nama Dogel. Anak yang masih sangat hijau. Inilah yang selama ini membantunya mencari nafkah untuk menyambung hidup.

***

“Koran, Koran. Korannya, Pak.”

Perlahan kubuka kaca mobil. “Korannya satu.” Disodorkannya sebuah Koran harian.

“Namamu siapa ?” Entah, tiba-tiba tidak seperti biasanya saat membeli Koran di jalan, aku bertanya seperti itu.

“Dogel, Pak.” Jawabnya dengan mimic yang begitu lugu.

“Kamu tinggal di mana ?”

“Di bawah kolong jembatan sebelah sana, Pah. Dekat rel kereta api.”

“Nih, uangnya.” Kutarik uang lima puluh ribuan dari dompetku.

“Wah, nggak ada uang kembaliannya,Pak.”

“Ambil aja semuanya. Murigkin ini rejekimu,” ucapku sambil menutup kaca mobil.

“Terima kasih, Pak. Semoga Tuhan membalas kebaikan Bapak.”

Tiba-tiba aku terhenyak. Dia menyebut nama Tuhan. Sesuatu yang selama ini sangat jarang keluar dari mulutku.

Itulah saat pertama kali aku berjumpa dengan Dogel, seorang penjual koran yang, entah, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan penjual koran lainnya. Dari sorotan matanya yang bening, seperti ada sesuatuyang sedang berkecamuk dalam batinnya.

Entah, kekuatan apa yang membuatku setiap pagi, setiap berangkat kerja selalu ingin melewati jalan itu, jalan dimana Dogel selalu lalulalang dan berloncatan dari satu mobil ke mobil yang lain menawarkan koran yang selalu bertumpuk di dadanya.

Dan sejak pertemuan pertama itu, aku merasakan seperti ada sesuaru yang berkecamuk dalarr batinku. Aku pun ingin selalu mampir ke tempatnya, mendengar keluh kesah Nyai Imah yang selama inl mengasuh Dogel. Serta menyasikan betapa susahnya kehidupan mereka dan para enghuni kolong jembaun yang nasibnya tidak jauh berbeda.

Setiap aku melewati jalanitu, di dekat traffic light, tempat Dogel setiap hari menjajakan Koran, Aku selalu merasa rindu ingin melihat wajahnya. Waiah yang selalu melukiskan guratan-guratan kebahagiaan. Sementara hidupnya sebenarnya begitu menderita. Pemilik nwajah yang seakan tak merasakan pedihnya penderitaan yang sementara ia jalani.

Munskin benar kara orang bahwa kebahagiaan dan penderitaan itu hanyalah sebuah pengejawantahan dari sebuah ketabahan. Sebuah penderitaan, kalau kita jalani dan hayati sebagai sebuah kebahagiaan, maka itulah yang merupakan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula sebaliknya, sebuah kebahagiaan, kalau kita jalani dan yakini sebagai sebuah penderitaan, itulah penderitaan yang sesungguhnya.

Mungkin Dogel adalah salah satu dari orang yang menjalani dan menghayati sebuah penderitaan sebagai sebuah kebahagiaan. Atau hanya karena ia masih kecil, belum tahu apa itu penderitaan atau apa itu kebahagiaan, hingga apa yang ia kerjakan dijalaninya tanpa beban.

 

Sumber : Harian FAJAR Minggu, 26 September 1999, halaman 10.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: