Ibu

Sumber : hubpages.com

Sumber : hubpages.com

Cerpen Tri Astoto Kodarie

Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Parto telah bangun. Ia menggeliat sebentar lalu ditatap wajah ibunya, nampak masih nyenyak benar tidurnya. Parto tidak segera beranjak dari situ. Ia duduk sambil melayangkan pikirannya.

Memang, pagi ini tidak seperti biasanya. Dan sudah menajdi kebiasaannya, ibu pasti bangun lebih pagi daripada Parto. Tapi pagi ini ibu nyenyak sekali tidurnya. Mungkin tadi malam ibu tidur sampai larut, pikir Parto. Sedangkan ia sendiri sudah tidur usai warta berita di radio jam tujuh.

Sekarang jam berapa ya? Parto bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa radio milik pak Dullah belum dibunyikan. Masih dingin dan lembab hawanya, sedangkan di luar masih nampak gelap. Mungkin baru jam empat, pikir Parto. Lalu ia berdiri. Disingkapnya pintu yang terbuat dari kardus bekas. Ia keluar.

Ditatapnya langit. Mendung. Di sebelah timur ada sedikit gumpalan awan memutih. Kedua tangannya masih rapat-rapat dilipat di atas dadanya. Udara kota Jogja memang cukup dingin pagi ini.

Parto berjalan menuju sungai yang tak jauh dari rumah kardusnya yang ia huni. Suasana masih sepi, belum ada penduduk sekitar tepian sungai itu yang bangun. Warga tepian sungai Code ini memang kebanyakan bekerja malam hari. Ada yang sebagai tukang becak, pelacur, pemungut putung rokok, pemungut barang-barang bekas dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan yang memungkinkan dapat menghasilkan sesuap nasi untuk penyambung hidupnya.

Dibasuhnya seluruh wajahnya dengan air Code yang dingin dan mengalir tenang. Air yang mengalir tak begitu deras, memang agak mengering. Ia memang berniat hanya cuci muka pagi ini, udara terlalu dingin. Kemudian ditinggalkannya tempat itu dan kembali menuju rumah kardusnya, yang mirip dengan gubug. Disingkap pintunya perlahan, nampak di atas tikar usang dan robek ibunya masih nyenyak tidur. Parto tak tega membangunkannya. Ah, mungkin ibu sedang bermimpi bertemu dengan bapak, pikirnya. Bapaknya yang meninggal pada zaman pemberontakan dulu. Bapaknya sebagai petani yang tak tahu apa-apa, tiba-tiba disiksa, dianiaya oleh gerombolan. Sayang waktu itu Parto masih kecil sehingga tak mampu membela bapaknya dari kekejaman gerombolan. Kata ibu, waktu bapaknya meninggal dulu, Parto baru berumur delapan bulan. Ia merupakan bayi mungil yang menawan. Begitu cerita ibu ketika itu sambil terisak-isak mengingat masa lalu. Sekarang, ibunya masih tidur nyenyak, diiringi dengkuran-dengkuran halus.

Parto membenahi peralatan kerjanya. Dua kaleng semir ditatanya dengan rapi di pojok kotak, juga lap dan sikatnya. Berulangkali kotak kotak kayu yang tak begitu besar itu ditatapnya. Kau penyambung hidupku, kata Parto dalam hatinya. Tanpamu mungkin aku dan ibuku akan mati kelaparan, katanya lagi dalam hatinya. Dielusnya kotak itu dengan perasaan sayang. Ditatapnya dengan sendu.

Ibunya masih tidur, Parto perlahan-lahan keluar. Ketika akan melangkah ia berbalik lagi, disingkap kembali pintu yang terbuat dari kardus itu. Ia pandangi kembali wajah ibunya yang masih lelap. Ia belum beranjak dari pintu. Dipandanginya kembali wajah ibunya, sebuah wajah yang tulus dan selalu memberinya kasih sayang. Ibunya adalah teman satu-satunya yang paling disayang. Ia teman bermain, bercerita, berbagi sedih, merangkai hidup sehari-hari, juga sebagai ibu yang sangat dicintainya.

Dengan hati yang kurang tenang, Parto melangkah meninggalkan rumahnya. Pikirannya masih mengingat ke rumah dan ibunya. Biasanya kalau akan berangkat, Parto pasti berpamitan dan mencium tangan ibunya. Lalu ibunya akan memberi sedikit nasihat. Tapi pagi ini tidak.

“Hai… tukang semir, pagi benar kamu berangkat!” teriak Sumi tetangganya yang tiap malam kerjanya menjadi tukang pijat itu. Parto menoleh. Sumi masih duduk dengan tenang sambil sesekali menyedot rokok kreteknya. Saat Parto lewat di depannya, Sumi tersenyum-senyum simpul.

“Mari mbak Sumi”, kata Parto santun sambil berlalu di depannya. Sumi hanya mengangguk-angguk dan tersenyum.

Jalan Malioboro telah ia lewati kemudian ia memasuki stasiun Tugu tempat biasa ia mangkal sebagai tukang semir sepatu. Suasana stasiun pagi itu sudah agak ramai. Pedagang makanan dan minuman sudah berderet rapi di pelataran ruang tunggu. Parto berusaha mencari-cari tempat kosong di dekat peron. Lalu ia duduk dekat penjual rokok, temannya yang telah lama saling kenal dan akrab.

“tumben To, pagi benar kamu datang”, tanya Kasmin.

“Iya..ya.., saya sendiri juga enggak tahu bisa rajin datang pagi-pagi begini. Mungkin ada rejeki yang memanggilku di stasiun ini”, jawab Parto sekenanya karena memang barusan Parto pergi ke stasiun agak pagi kali ini.

“Semoga saja rejeki banyak datang, To”, sambut Kasmin sambil melayani pembeli rokok eceran.

“Atau mungkin ada sejumlah gerbong kereta datang yang berisi uang semuanya. Lalu dari salah satu gerbong itu keluar seorang dermawan dan membagi-bagikan uang”, khayal Parto sambil matanya memandang langit-langit ruang tunggu stasiun itu.

“Kalau itu terjadi, aku akan makan di restoran sebelah sana dan memesan masakan yang istimewa”, sambut Kasmin. Lalu keduanya tertawa. Dua anak lelaki itu memang sering bercanda, juga angan-angannya yang nampaknya sangat sulit untuk ia jangkau.

Jam di stasiun menunjukan pukul dua lebih. Parto masih menghitung-hitung uang yang ia dapat sesiang itu. Lumayan juga, gumam Parto. Ia menyisihkan sedikit uangnya untuk makan siang, karena perutnya sudah tak mau lagi diajak kompromi. Parto segera bergegas menuju warung bu Menik. Di situ Parto makan dengan lahapnya. Perutnya betul-betul kosong dan bu Menik hanya tersenyum-senyum melihat Parto yang tak sabaran lagi menghabisi isi piring. Warung kecil di sudut stasiun memang sudah menajdi langganan Parto. Kalau Parto sedang tak punya uang, bu Menik memberinya keringanan dengan membayar keesokan harinya atau sampai Parto punya uang.

“Hari ini dapat banyak rejeki, To?” tanya bu Menik.

“Lumayan, bu”, jawabnya sambil masih asyik mengunyah potongan tempe. “Hari ini bayar kontan”, lanjutnya sambil tersenyum kepada bu Menik.

Lonceng di stasiun berbunyi. Sebentar lagi tentu akan ada kereta masuk stasiun, pikir Parto. Tak lama kemudian dari pengeras suara terdengar penyampaian dari petugas informasi, “Kereta jurusan Solo Balapan menuju Pasar Senen segera masuk di lintasan dua”. Selang beberapa waktu kemudian kereta berloko warna biru memasuki stasiun Tugu.

Parto masih duduk di warung bu Menik. Para penumpang dari stasiun Tugu yang akan ke Jakarta cukup banyak. Di pintu-pintu gerbong para penumpang berdesak-desakan. Parto hanya termenung melihat itu semuanya. Akan ke Jakarta mereka, kata Parto dalam hati. Jakarta mungkin ramai, batinnya lagi.

Sambil masih duduk, Parto membayangkan kota Jakarta yang banyak ia dengar dari mbak Sumi atau pun Kasmin. Mbak Sumi pernah tinggal di Jakarta selama dua bulan ikut pamannya di sana. Pamannya itu tinggal di daerah Karamat Tunggak. Kata mbak Sumi, Kramat Tunggak sangat ramai dan banyak hiburan.

Tiba-tiba ada pengumuman yang membuyarkan lamunan Parto, “Bagi para penumpang jurusan Pasar Senen harap bersabar sebentar dan menunggu berita dari stasiun Purwokerto. Sebab di daerah sekitar Purwokerto ada kereta yang keluar dari rel dan sementara dalam perbaikan”.

“Ini baru namanya rejeki”, kata Parto lirih sambil tersenyum-senyum. Setelah membayar kepada bu Menik, Parto beranjak dari warung itu kemudian pergi menuju gerbong kereta penumpang Solo Balapan – Pasar Senen. Lalu ia menawarkan jasanya di himpitan para penumpang, “Semir pak, semir om?!”

Hampir satu setengah jam, Parto melompat dari gerbong paling depan. Peluhnya mengalir deras. Hari ini memang rejekai sedang berada di tangan Parto. Ia mendapatkan uang lumayan banyak hanya dari rangkaian gerbong kereta yang menunggu jadwal pemberangkatannya itu. Lalu ia duduk sebentar menghilangkan lelah. Tak lama kemudian ia berjalan menuju warung bu Menik. Ia melihat jam dinding stasiun dari kejauhan, sudah menunjuk ke angka lima.

“Bu, minta nasi sayur pakai telor setengah”, pinta Parto sambil bersiul-siul kecil. “Oo iya, dibungkus lo bu”.

“Wah…tumben To, buat siapa nich?”

“Buat ibu”, jawab Parto singkat.

Parto keluar dari halaman stasiun sambil menenteng kantong plastik yang berisi sebungkus nasi. Wajahnya nampak lelah, tapi matanya berbinar-binar. Itu menandakan ada kegembiraan di hatinya. Ditatapnya langit, cerah sekali. Senja pun mulai menyungkup kota. Lampu-lampu sepanjang jalan sudah mulai menyala. Langkah Parto semakin dipercepat sambil menyenandungkan lirih lagu “cubit-cubitan”.

“Banjir! Banjir! Kali Code Banjir…!” teriak tukang becak ketika Parto sudah berada di ujung jalan Malioboro. Ia tak percaya, mana mungkin udara cerah begini sungai Code akan banjir. Tadi pagi saja sungainya agak mengering. Ketika sampai di dekat kerumunan orang, Parto berhenti sebentar mendengarkan orang-orang yang ramai membicarakan banjir sungai Code.

“Dari mana datangnya air ini ya?”, tanya orang yang memakai topi merah.

“Menurut kabar datangnya dari lereng gunung Merapi. Di sana hujan sangat lebat. Jadi air ini kiriman dari sana”, jawab lelaki yang berjaket biru dan berpenampilan seperti wartawan.

Mendengar itu, Parto segera berlari menuju rumahnya. Kira-kira dua ratus meter sebelum jembatan, air sudah menggenangi jalanan yang tingginya hampir selutut anak-anak. Bingung. Ia memikirkan nasib ibunya yang saat ditinggalkan masih tidur nyenyak. Ia melihat sungai Code telah meluap. Kardus-kardus, seng, bermacam-macam kayu, semuanya terbawa arus air.

Suara jeritan di mana-mana memanggil anaknya, ibunya, bapaknya, dan banyak lagi jeritan yang memilukan. Parto masih berdiri bingung. Kantong plastik yang berisi sebungkus nasi masih erat-erat dipegangnya. Dari jauh ia mencoba mencari lokasi rumahnya di bantaran sungai, tapi tak nampak lagi. Hanya air berwarna coklat kehitam-hitaman yang mengalir sangat deras.

“Ibu…! Ibu…..!” Parto menjerit sekuat tenaga. “Bu…ini kubelikan nasi, bu”. Parto berteriak keras seperti kehabisan akal. Air matanya mulai meleleh membasahi pipinya.

Tidak jauh dari tempat Parto berdiri, beberapa orang berbaju hijau mondar-mandir menolong orang-orang yang hanyut. Tentara-tentara itu nampak sibuk menuju tenda darurat yang nampak sudah berdiri. Parto mendekati posko, siapa tahu ibunya ada di situ. Ia melihat lelaki tua yang sudah kaku membiru diangkat dua orang menuju posko. Tapi dua tangan lelaki tua itu nampak mendekap erat radio transistor kecil. Bukankah itu pak Dullah, pikir Parto. Lalu didekatinya lelaki itu.

“Pak Dullah….., pak Dullah, dimana ibu Parto?” tanya Parto sambil menggoyang-goyang tubuh pak Dullah. Lelaki tua itu diam kaku dengan mata masih terpejam. Parto kembali menggoyang-goyang tubuh dingin pak Dullah, tapi nampak pak Dullah terbujur kaku.

“Minggir! Minggiiirrrr! Ayo bapak-bapak coba minggir dulu!” kata para relawan sambil menyibak kerumunan orang. Seorang wanita separuh baya yang sudah menjadi mayat diangkat masuk posko. Parto berusaha menyusupkan kepalanya di antara kerumunan orang untuk melihat korban yang ditemukan. Ibunyakah itu? Tanya Parto dalam hatinya. Tubuh wanita itu sudah lebam-lebam dan wajahnya sudah rusak. Wanita yang terbujur kaku itu masih memakai kain dan kebaya warna merah pudar yang sudah robek-robek. Kata beberapa penolong, wanita itu hanyut di antara kayu, seng dan kardus-kardus.

“Ibuu…! Ibuuuu…”, jerit Parto sambil mencoba mendekap wanita yang sudah menjadi mayat itu. Parto menangis sekuat-kuatnya. “Bu, ini Parto bu, anakmu. Jangan tinggalkan Parto sendiri, bu”, ucapnya sambil tetap menangis tersedu-sedu. Nasi bungkus yang berada di kantong plastik hitam masih digenggamnya erat-erat.

“To.., Parto..”, suara lembut tiba-tiba menyadarkan Parto. Ia menoleh ke belakang. Ia melihat wanita paruh baya tersenyum. Ibunya, pikir Parto reflek. Parto hampir tak percaya kalau ibunya tak cepat merangkul.

“Bu…, ibu selamat?” jerit Parto dalam dekapan ibunya.

“Betul to. Tadi waktu banjir tiba-tiba datang, ibu sedang ke pasar”, kata ibunya sambil menenangkan hati anaknya. Pipi yang mulai keriput mulai basah oleh air mata. Parto dan ibunya masih berangkulan. Sebungkus nasi yang tergenggam di tangan Parto terlepas tak dihiraukan lagi. Ia masih mendekap erat ibunya. Saat terdorong oleh kerumunan orang, Parto hampir jatuh. Ia melihat sebungkus nasi di kantong plastik hanyut terbawa air, entah ke mana.

 

Jogja, 1985

 

Sumber :  http://triastoto.wordpress.com/cerpen/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: