Sajak Cinta Badaruddin Amir

Oleh H.M. Jurlan M. Saho’as

BAHASA cinta memang tidak selalu identik dengan kata-kata yang manis dan indah namun sangat hambar dan datar dalam makna. Itu, lantaran kata-kata terkadang kehilangan kekuatan dan “energi” saat diungkap atau ketika dituliskan. Beda dengan sang penyair, kekuatan makna yang dipilih dalam setiap kalimat puisinya justru menjadikan kata-kata memiliki keindahan, bahkan kata-kata atau “bunyi” yang tadinya dibiarkan terlewatkan begitu saja, ternyata begitu dipakaikan dalam Puisinya akhirnya menjadi sesuatu yang sangat puitis. “Aku ingin menciummu sekali saja”, ini hanya sebuah judul dari film terbaru Garin Nugroho, tapi siapa yang mampu menolak kalau kalimat itu yang sungguh-sungguh sangat puitis namun memiliki “kekuatan” makna yang dalam, terlebih jika herkesempatan menyaksikan filmnya yang sepertinya menyodorkan sebuah puisi kepada setiap penontonnya.

 

Cinta memang milik setiap anak manusia, begitu juga halnya dengan penyair kelahiran Barru (Sulawesi Selatan), Badaruddin Amir. Dalam kumpulan puisi terbarunya berjudul “Aku Menjelma Adam” memang terlihat Badaruddin Amir banyak mengungkapkan tentang cinta, baik terhadap lawan jenisnya maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Tema ini sebetulnya juga banyak diungkapkan oleh penyair di tanah air, termasuk penyair-penyalr yang berbasis relegius, eperti Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib dan K.H. Bisri Hasanuddin, yang mengungkapkan kecintaannya kepada Rasul dan Allah SWT  serta sesama manusia dengan bahasa cinta yang begitu relegius, halus dan indah, se hingga terkesan sangat “mensufi”.

 

Di dalam mengungkap tema cinta, Badaruddin Amir di dalam bukunya itu (Aku menjelma Adam) tidak,

sekedar memilih bahasa cinta di dalam mengungkapkan ketertarikannya terhadap perenungan-perenungan hakekat hidup dan kejadian-kejadian alam di sekitarnya, tapi juga ia mengambil peristiwa-

peristiwa yang dialami Para Nabi dan Rasul secara langsung, namun dengan kemampuannya memilih “kekuatan” kata dan pengungkapan sehingga hakekat dan makna dari peristiwa tadi hadir sebagai sesuatu yang mendorong setiap orang yang membacanya melakukan perenungan-perenungan. Coba kita simak dahulu salah satu sajaknya “Aku menjelma Adam” ( hal 8 ) yang sekaligus dijadikan sebagai judul kumpulan puisinya, seperti berik-ut ini;

 

 

Siapakah Adam yang selalu dilambangkan itu

siapakah Hawa yang selalu diagungkan itu

aku berdiri di tepi bumi kini menjelma adam

tidak di firdaus, tetapi di tengah-tengah gersang

antara kota sodom dan gomorra.

aku tak tahu kemana Siti Hawa tiba-tiba menghilang.

aku berteriak dan gaung suaraku

kuharap kini telah sampai di suatu tempat

dimana Siti Hawa yang kurindukan mungkin bersembunyi

karena malu, karena tak pernah meyakini dirinya

sendiri sebagai perempuan suci setelah terlontar

dari rongga sorga-Mu.

tapi siapakah yang paling berdosa kini

dan sorga manakah yang paling Firdausi

kalau kini aku, si Adam yang telah lama kesepian disini

berteriak seperti dulu:

“Tuhan, beri aku perempuan lagi !”.

 

 

Badaruddin Amir memang memuIai kalimatnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya sekedar ingin menyadarkan kita tentang hakekat penciptaan Adam dan Hawa, tentang hakekat penciptaan manusia yang sesungguhnya Tuhan menganugerahkannya dengan kedamaian, kesenangan dan kemakmuran disertai pasangan hidup yang menyernpurnakan manusia di dalam hidup degan kehidupannya, namun ternyata manusia (aku adam) lebih memilih pada kehidupan yang tandus dan gersang, sehingga Badaruddin menyadarkan kita melalui bait pertamanya di atas bahwa kenapa kita kini tiba-tiba sudah,berada dalam kegersangan.

 

Ada 33 judul sajak yang  terhimpun dalam “Aku Menjelma Adam”, keseluruhannya tentu cukup menarik untuk kita simak. Disana terbaca bahwa penyair ini cukup tertarik tentang fenomena alam dan tingkah manusia yang banyak memunculkan malapetaka, berupa kesepian dan kecemasan, sehingga jika kita cermati hampir semua Puisi dalam kumpulan ini didaPati kata sepi, kesendirian, sunYi, bunuh diri, pasrah, mimpi, rindu, yang kesemuanya mengungkapkan soal perasaan. Dan dalam kebingungan dan kecemasan yang tidak pasti, biasanya memang seseorang merindukan sebuah cahaya atau penuntun. Hal itu sangat terlihat pada sajak “Kurindukan sebuah Gua Tempat Aku Berdiam Diri Seperti Dirimu Muhammad”. Kita akhiri tulisan ini dengan menyimak bait pertama sebagai berikut;

 

kurindukan sebuah gua tempat aku berdiam diril

seperti dirimu Muhammad di gua hira dulu

aku tak ingin diganggu karena barangkali diriku

segera jadi gila diusik zaman dan gelombang pancaroba.

  • H.M. Jurlan M. Saho’as adalah redaktur budaya Harian Pedoman Rakyat

 

Sumber : Harian PEDOMAN RAKYAT, MJinggu, 16 Februari 2003

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: