Ada Saat Kita Cuma Bisa Termangu

Puisi Nawir Sulthan :


bulan bergumul angin

di kota tak tahu bagaimana getir

seperti debu-debu beterbangan sepanjang

musim. Dan nyanyian anak pantai

mengibarkan isyarat rindu pada ketentraman

bahwa menetap di daerah pesisir

suatu saat akan tersingkir

atau mungkin hanya kebetulan

ada saat kita Cuma bias termangu

menyaksikan batu-batu jatuh tersungkur

tapi kakatua putih itu

semenjak lama berceloteh sendiri

lantas bagaimana mungkin akan diam

di mana-mana tumbuh bunga bakung

mencoba menyusuri jejak bulan

sekonyong-konyong menjadi anak kecil

timbul tenggelam dipermainkan ombak

tak ada gunanya menatap langit

setiap saat menguap lumut hijau

dari dasar tenggelam. Di sini kita bias

berharap sebuah perahu bakal muncul

Makassar, 1995

Sumber: Harian Pedoman Rakyat, Minggu 14 Januari 1996

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: