Di Bawah Cahaya Rembulan

Cerpen Badaruddin Amir

 

Lelaki tua itu menyusuri sungai. Mengendap-endap mendekati

pusaran air dengan jala yang siap mengambang di sangkutan sikunya. Matanya awas memperhatikan percikan-percikan ikan dan kilauan-kilauan cahaya rembulan yang dipantulkan riak-riak kecil tak jauh lagi di hadapannya. Apakah riak-riak kecil yang selalu berpusar itu pertanda ikan-ikan sedang bermain di bawah sana ?

Dia terbungkuk-bungkuk mendekati pusaran air sedalam lutut itu. Pelan-pelan dia mengangkat kakinya supaya tidak menimbulkan suara yang dapat membuyarkan keasyikan ikan-ikan di bawah sana itu. Setelah kira-kira tinggal tiga meter dari pusaran air dia menancapkan kaki kirinya pada lumpur hingga membenam sampai ke betis. Dia yakin kuda-kudanya tak akan goyah. Ujung kakinya sudah menyentuh kerikil yang tajam di bawah sana. Tapi dia harus menahannya. Dia tidak boleh menyentakkan kakinya kalau tak ingin kehilangan kesempatan yang berharga untuk mengurung ikan-ikan yang sedang asyik bermain itu dengan jala.

Dia menahan nafas. Mulailah dia memperhitungkan lebar jangkauan kaki jalanya dengan ancang yang dimainkan oleh sikunya. Setelah perhitungannya mantap, dengan sebuah gerakan yang sudah terlatih berpuluh-puluh tahun lamanya, dia melemparkan jala itu ke depan diiringi desah nafas yang penuh pengharapan. Jala mengambang di udara, kemudian jatuh terbenam mengurung permukaan pusaran air kecil itu dengan sempurna. Dalam benak tuanya dia melihat ikan-ikan jadi panik dan menyundul kaki jala kesana-kemari. Gelombang-gelombang kecilpun tercipta di tepi sungai tak jauh dari situ.

“Kena !” seru orang tua itu. “Kali ini kalian pasti terkurung semua !”

Orang tua itu kemudian menceburkan seluruh badannya ke dalam air. Berjongkok meraba pinggiran jala hingga air menyentuh dagunya. Matanya merem-melek menahan tekanan arus yang mendesaknya dari atas. Berkeliling menekan-nekan pinggiran jala itu hingga yakin benar semua merapat ke tanah. Setelah merasa tak ada lagi yang terbongkar karena tersangkut reranting atau benda lain, barulah dia berdiri tegak mengais jaring yang mengapung sehingga menemukan tali pusat jalanya.

“Nah, kalian sudah terkepung. Percuma kalian melonjak-lonjak !” kata si tua itu sambil menghempas-hempaskan pucuk jala itu hingga terbebas dari ranting-ranting dan daun-daun yang tersangkut di jalanya. Dia menarik tali jala itu. Pelan-pelan sambil membayangkan puluhan ikan gurami, ikan gabus, mujair dan ikan-ikan lainnya, berkilat-kilat menggelepar dalam jala yang ditimpa cahaya rembulan. Tak ada yang paling bahagia baginya saat itu kecuali keinginan untuk segera melihat ikan-ikan tersebut menggelepar-gelepar di darat nanti. Dia yakin istrinya, Mak Midah, dan cucunya si Usman akan gembira jika malam ini dia pulang dengan keranjang yang tersangkut di pinggangnya itu penuh dengan berbagai jenis ikan yang didapatnya di sungai itu. Dia membayangkan betapa gembiranya si Usman, yang masih sekolah di SD kelas satu itu jika dia sudah pulang nanti dan menumpahkan semua isi keranjangnya di ember yang telah disediakan istrinya. Usman pasti belum tidur menunggunya pulang, meski kini sudah larut malam. Sebab dia tadi telah berjanji kepada anak kecil itu untuk membawa seekor ikan besar untuknya, asalkan cucunya yang bandel itu tidak merengek-rengek terus untuk ikut menjala di sungai dengan kakeknya malam itu. Dan apakah yang paling menyenangkan seorang kakek, kecuali menyenangkan cucunya.

Dia menarik tali itu pelan-pelan. Bayangan si Usman cucunya dan bayangan Mak Midah istrinya, yang melarangnya tadi ke sungai menjelma dalam benaknya : mengambang di atas permukaan air di hadapannya. Pusat jalanya semakin dekat. Seekor ikan meloncat berkilauan di sampingnya. Suaranya meletup ditelan malam.

“Sayang kau tak di dalam kurunganku !”

Seekor burung hantu menjerit parau di seberang sungai. Orang tua itu bergidik. Tapi tak sampai jadi takut. Baginya suara burung hantu memang bukanlah pertanda yang baik. Namun dia tidak mau percaya itu. Dia lebih meyakini suara burung perkutut yang tadi didengarnya sebelum berangkat menjala. Kata orang mendengar suara burung perkutut saat hendak memulai pekerjaan adalah pertanda keberuntungan. Dan dia tidak salah, dia tadi mendengarnya dengan jelas di lorong yang dilaluinya menuju sungai itu.

Semakin kuat dia menarik tali pusat jala itu terasa keberuntungan semakin memihak kepadanya. Dan dia yakin dalam kurungan jalanya kini telah menggelepar sejumlah ikan besar-kecil yang sebentar lagi akan tergolek dalam keranjangnya. Seekor ikan kecil menyusup naik sampai ke puncak jalanya, menggelepar-gelepar sebentar kemudian jatuh kembali ke kaki jala.

“Apa kataku,” gumam lelaki tua itu sambil lebih bersemangat terus menarik tali pusat jalanya dengan hati-hati. “Andaikata laranganmu tetap kupatuhi juga maka tak kudapatlah rezekiku malam ini.” Sambungnya sambil membayangkan wajah istrinya lebih jelas mengambang di atas permukaan air dengan muka yang masih cembrut karena masih marah-marah padanya.

“Tapi bukankah air masih keruh, Pak. Hujan di hulu juga nampaknya masih belum berhenti !” kata wajah istrinya cembrut dan masih marah-marah.

Alah, Mak ! Tidak usah khawatir. Saya bukan satu-dua kali ini saja mengarungi sungai ini malam-malam sendirian. Mak masih ingat tempohari ? Berapa ekor ikan sebesar betis yang saya serahkan pada Mak ? Sepuluh ! Eh, tidak, dua belas…atau tiga belas ? Saya sudah lupa. Dan masih ingat keadaan air waktu itu ? Setelah banjir seperti ini juga. Ya, sehari setelah banjir reda seperti yang kemarin. Saya ingat sebab waktu itu saya turut Pak Kades dan pemuda-pemuda kampung mengangkat mayat perempuan yang hanyut di sungai ini. Kasihan ya, perempuan itu, Mak. Wajahnya hampir-hampir tak dikenali lagi. Tangan dan sebelah kaki sudah hilang. Hm…mungkin juga dia tidak hanyut secara wajar. Mungkin juga dianiaya sebelumnya, …seperti…seperti yang dibaca bapaknya si Usman dari surat kabar itu !”

Orang tua itu telah meraba tampuk jalanya kini. Wajahnya berkeringat meski udara malam cukup dingin. Sebentar lagi jemari tuanya akan kepayahan melepaskan ikan-ikan yang tersangkut di jaring jalanya dan memasukkannya ekor per ekor ke dalam keranjang yang tergantung di pinggangnya. Dia kini tidak perlu jongkok seperti dulu memunguti pinggir jalanya sebelum berkelahi dengan ikan-ikan yang telah terjaring dalam jalanya itu. Dia telah memasangkan tali kuku pada setiap batu jala yang melengkungkan kaki jala itu ke dalam. Bila tampuk jala itu ditariknya hingga kaki jala menyatu, dengan sendirinya ikan-ikan yang terperangkap di dalamnya akan tersangkut pada kuku jala yang melengkung ke dalam itu. Dia tinggal melepaskannya ekor per ekor, melemparkannya ke keranjang yang selalu setia tergantung di pinggangnya.

Dulu memang dia tidak suka memakai jala yang sudah dikuku seperti yang dipakainya sekarang ini. Dia lebih suka jala yang berkaki lurus yang jangkauannya lebar. Dengan jala itu dia bebas berkelahi dengan ikan sebelum menaklukkannya. Dia seolah-olah merasakan kepuasan tersendiri manakala dia berhasil menaklukkan ikan-ikan itu dengan susah payah dalam sebuah ‘perkelahian’. Tapi itu dulu, ketika dia masih muda dan kuat. Sekarang dia sudah tua. Dia tidak kuat lagi berkelahi dengan ikan, terutama ikan-ikan gabus yang ada sebesar paha orang dewasa dan terkenal kuat merobek-robek jaring jala. Ikan gabus sebesar lenganpun rasanya kini tak dapat lagi dilawannya kalau dia memakai jala yang berkaki lurus. Itulah sebabnya dia memberi kuku pada kaki jalanya. Dan sejak itu dia tidak perlu lagi berkelahi untuk menaklukkan ikan-ikan yang terkurung jalanya. Sekarang dia dapat dengan tenang mengangkat jala tersebut ke darat tanpa khawatir ikan-ikan yang terjaring akan berjatuhan. Di darat dia tentu bebas menangkapi ikan-ikan yang tersangkut di kuku jala itu. Meski untuk itu dia harus kehilangan kesenangan ‘berkelahi’ dengan ikan-ikan.

Apabila malam tambah larut juga orang tua itu merasakan dingin menggigit kulit tuanya yang keriput. Bulan yang malam itu sudah sempurna bulatnya tak dapat memancar terang karena cahayanya tersangkut di balik sebongkah awan. Di jauhan samar-samar terdengar lolongan anjing panjang-panjang. Kata orang menggonggongi orang mati yang rohnya bergantungan di langit karena banyak dosa. Angin semilir mendirikan bulu roma. Menyapu-myapu permukaan air. Membikin ombak-ombak kecil di tepi sungai.

“Mengapa jala ini berat ?” tanya lelaki tua itu pada dirinya, sambil terus menarik tampuk jala itu pelan-pelan. Setelah kaki jala itu nanti menyatu, dia akan mengangkatnya ke darat, membiarkan ikan-ikan yang terperangkap itu menggelepar-gelepar dengan sinar mata yang sekarat. Tapi jala itu, dalam perasaannya kini tidak seperti biasanya. Jala itu kini tiba-tiba menjadi sepuluh kali lebih berat dari biasanya. Dan lelaki tua itu menjadi lebih hati-hati menarik tampuk jalanya.

Dalam benaknya terbayang kembali para penghuni sungai yang telah dibantainya beberapa puluh tahun yang lalu atas permintaan Dai Nippon. Mungkin waktu itu seekor di antaranya lolos dari tangkapannya dan pada malam ini akan merencanakan pembalasan setelah sama-sama tua ? Dia bergidik. Ngeri membayangkan gigi taring yang runcing-runcing itu menancap di tubuh tuanya. Tidak ! Bentaknya dalam pikiran. Mereka telah musnah semua.

Dia tahu berapa jumlah penghuni sungai ini dan dia telah membantainya semua. Beberapa ekor bangkainya memang ada dia lempar kembali ke dalam sungai ini dulu dengan perasaan gundah, sebab yang dibutuhkan Dai Nippon keparat itu hanyalah kulitnya yang keriput untuk dibuat sepatu atau tas. Tapi tak mungkin bangkai yang tanpa kulit itu bisa selamat meski dia tidak membunuhnya sekalipun.

Dalam benaknya dia berdoa semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya telah membantai sesama mahluk ciptaan-Nya yang tidak berdosa. Di kampunya dia memang dikenal sebagai pawang buaya, tapi dia tidak pernah menganiaya buaya-buaya itu kecuali satu-dua di antaranya yang telah berbuat jahat menelan penduduk. Itupun dilakukannya setelah hasil musyawarah penduduk desa atas buaya tertentu yang dianggap sudah keterlaluan dan berbahaya. Dan dia tidak pernah salah mengenali buaya yang harus dieksekusinya karena dia mengenal semua buaya yang menghuni sungai itu.

Keahliannya sebagai pawang buaya yang diturunkan oleh kakeknya itu dimanfaatkan oleh Dai Nippon ketika imperialis itu sampai pula ke kampungnya. Dia dipaksa untuk menangkap semua buaya yang ada di sungai itu, bahkan juga dikirim ke sungai-sungai lain. Dan sebagai imbalan dia hanya diberi roti, mentega dan rokok kowa serta bebas dari kerja paksa (rodi).

Dia mencoba mengingat kembali mantra itu.

Dia tersenyum sebab dalam kepikunannya mantra itu masih dihafalnya secara sempurna..

Sesungguhnya meski dia tidak lagi menghafalnya dia tidak perlu cemas sebab mantra itu sudah mendarah-daging padanya. Menurut kakeknya yang menurunkan mantra itu dulu kepadanya, apabila mantra itu telah dihayatinya dan telah mendarah-daging dia tidak perlu lagi merapalnya untuk menaklukkan penghuni-penghuni sungai yang bergigi runcing itu. Dia cukup mengingatnya saja dan penghuni-penghuni sungai yang bergigi runcing itu akan takluk semua kepadanya.

Dengan sisa tenaga yang disimpan usia tuanya dia berkeyakinan akan mampu menaklukkan apa saja yang terperangkap dalam jalanya kini. Dia tidak perlu khawatir. Dia menarik jala itu pelan-pelan ke pinggir. Di pinggir dia tentu lebih leluasa memeriksanya nanti. Siapa tahu memang membutuhkan lagi tenaga untuk berduel seperti dulu-dulu.

Tapi bulan di balik awan belum muncul juga. Cahayanya remang-remang, mempertajam ingatannya pada malam-malam waktu dia mengadakan pengejaran dan pembantaian di sepanjang sungai itu beberapa puluh tahun yang lalu. Ingatan itu kini memeberinya tenaga dan kelincahan masa mudanya kembali. Dia melonjak menarik jala itu ke tepi.

Tapi apa yang dilihatnya ? Apa benar seekor buaya sedang tengkurap dan menyamar sebagai sebatang kayu lapuk seperti dalam dongengan ? Ah, dia belum yakin betul. Dia duduk menunggu bulan beringsut dari balik awan sambil mencoba menghangatkan badan dengan sebatan rokok..

Tapi manakala cahaya bulan telah membias, lelaki tua itu segera tegak mencampakkan rokoknya kemudian mengangkat jalanya dan membiarkan ikan-ikan yang terkurung itu lepas begitu saja. Dia melihat dengan jelas kini buaya itu tak bergerak-gerak seperti telah kena ajian pamungkas-nya.

Dia mendekat. Dengan mulut yang masih komat-kamit merapal mantra dia membalikkan tubuh buaya itu sekuat tenaga dengan kakinya. Setelah buaya itu benar-benar terbalik tanpa bergerak-gerak, orang tua itu menggosok-gosok matanya, mengembalikan kesadarannya, lalu berteriak kaget, “Bukan. Buakan buaya…. Ini orang ! Perempuan… ! Kaki dan kepalanya telah dipotong !”

Dan orang tua itu menyadari betapa tidak bertenaganya dia setelah menjadi tua. Ia lunglai sejenak sebelum meninggalkan sungai itu dengan tergesa.

 

 

 

 

 

Satu Tanggapan to “Di Bawah Cahaya Rembulan”

  1. Menarik! Mengingatkan eksekusi yang marak terjadi.. Tapi, beda dengan kampungku yang sungainya berubah menjadi jalanan orang. Tak ada air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: