Di Antara Anjing-Anjing yang Kasmaran

cerpen Badaruddin Amir

Sumber: ambersonart.blogspot.com

Sudah tiga malam kami tak dapat tidur nyenyak. Istriku sudah mulai jengkel. Terutama bila anak kami yang masih dua tahun ikut terbangun pula karena suara gaduh anjing-anjing yang kasmaran di kolong rumah mengagetkannya. Keterlaluan memang. Mereka –maksudku anjing-anjing itu—bercinta ala orang primitif. Tiap malam mereka harus berkelahi untuk memperebutkan si betina. Dan suara mereka alangkah gaduh. Ada yang melengking menjerit-jerit kesakitan, ada pula yang melolong panjang-panjang. Kuperkirakan jumlah mereka sedikitnya ada lima ekor. Bayangkan, lima ekor anjing yang saling gigit, siling piting, saling banting dalam sebuah pergulatan memperebutkan betina di bawah kolong rumah kami, pada saat kami membutuhkan istrirahat. Betul-betul merampas ketentraman hidup kami.

Penyebabnya sebenarnya adalah anjing tetangga. Anjing betina yang memakai giring-giring di lehernya itu. Anjing itu dipelihara tetangga sejak kecil. Dan sekarang sudah beranjak dewasa. Kalau diumpamakan manusia, dia sudah gadis dan sudah memasuki masa pubertas yang gatal dan menggelisahkan. “Kegatalan” anjing betina itulah yang mengundang anjing-anjing jantan dari segala penjuru. Laiknya sayembara memperebutkan jodoh seorang putri raja. Mereka berdatangan untuk mengadu otot, memperebutkan cinta sang “primadona”.

Bila anjing-anjing itu mulai berulah —biasanya jam sepuluh malam ke atas—kejengkelanku pun mulai memuncak pula. Ingin rasanya membetot kepala semua anjing-anjing sialan itu dengan pentungan hingga berkaparan. Pentungan sebesar lengan sudah kusediakan. Namun niatku tak pemah kesampaian. Sebab begitu anjing-anjing itu melihatku mengendap-endap dengan pentungan terselip di pinggang, mereka segera berhamburan bagai dikomando sambil menggonggongiku ramai-ramai.

Terpikir olehku untuk membeli racun tikus di pasar, lalu mencampurnya dengan nasi, kemudian menyimpannya diam-diam dalam beberapa batok kelapa di kolong rumah. Maksudnya, biar anjing-anjing sial itu melahapnya bersamaan. Aku sudah membayangkan, kalau racun itu kupasang besok malam, bisa dijamin lusa malamnya kami sudah dapat tidur nyenyak tanpa ada gangguan suara gaduh lagi. Tapi bagaimana dengan anjing betina bergiring-giring itu ? Anjing sial itu pasti akan terkapar duluan sebelum menyusul anjing-anjing lainya. Padahal kulihat anjing itu sangat disayang pemiliknya. Tiap pagi ia diberi makan dengan telaten sejak anjing itu masih kecil. Sudah pasti kalau anjing itu ikut mati keracunan akan menimbulkan masalah dengan tetangga. Dia akan menudingku lurus-lurus : pastilah kau yang meracunnya ! Lalu kami cekcok lagi. Padahal itulah yang selalu kuhindari sejak kami cekcok masalah pagar tempohari. Aku tak mau masalah kecil membengkak menjadi masalah besar, menjadi permusuhan. Padahal kami sudah baikan setelah tetanggaku itu menyadari kehilapannya.

Lalu aku berpikir lebih baik membeli senapan saja untuk membidik satu korban yang kuanggap sudah kelewat berdosa. Bila habis gajian aku membeli senapan angin, maka seekor saja yang kutembak pantatnya, yang lain akan lari terbirit-birit ketakutan dan tak akan pernah berani datang-datang lagi. Apalagi kalau yang aku tembak pantatnya, anjing betina yang ‘gatal’ itu. Sudah pasti tak akan ada ‘wakuncar’ lagi bagi anjng-aniing jantan yang berengsek itu. Timbul penyesalan mengapa dulu aku menentang kemauan istri untuk membangun rumah batu. Andaikata yang kami bangun dulu rumah batu, dan bukan rumah panggung seperti rumah kami sekarang ini, sudah tentu tak akan ada peluang bagi anjing-anjing sial itu ‘berindehoy’ di bawah kolong rumah kami.Tapi aku heran juga mengapa anjing-anjing itu lebih suka berkeliaran di bawah rumah kami dari pada di jalanan atau di bawah rumah tetangga lainnya yang jauh lebih luas. Katakanlah misalnya, di rumah Haji Kadirun yang seluas dan seindah istana itu. Atau di rumah Haji Ilyas yang sama luas dan megahnya dengan rumah Haji Kadirun. Di kedua rumah mewah yang tidak terlalu berjauhan itu tak ada anak kecil yang bisa terganggu. Lagi pula lantai dan dinding dua rumah itu terbuat dari kayu ulin, setidaknya dapat meredam suara gaduh yang datang dari luar. Pun bila anjing-anjing itu mebawa kotoran ke sana, bujang Haji Kadirun maupun Haji Ilyas banyak yang kekurangan kerja bisa menyingkirkannya tiap hari. Kalau mereka membuat gaduh di sana mungkin kejengkelanku tidak akan sampai ke ubun-ubun. Jarak rumah Haji Kadirun maupun Haji Ilyas cukup jauh dari rumah kami untuk membagi kebisingan.

Yang membuat gondok sebenarnya adalah najis yang mereka tinggalkan tiap malam. Pagi-pagi isiriku dongkol melihat berbagai jenis bangkai berserakan di kolong rumah. Ada bangkai ayam yang berulat, bangkai ikan yang tinggal kepala dan tulangnya, bangkai tikus, sampai usus dan kulit kambing yang entah dari mana saja mereka dapat. Barangkali saja anjing-anjing yang kasmaran itu selain mengadu otot juga mengadu oleh-oleh untuk dipersembahkan kepada sang ‘primadona’. Kendati sang primadona belum tentu menyukai oleh-oleh tersebut. Akhirnya jadinya, mereka meninggalkannya begitu saja berserakan di bawah rumah.Yang direpotkan tentunya isiriku, tiap pagi harus menyingkirkan oleh-oleh itu ke lubang belakang rumah.

Bukan itu saja. Yang menjengkelkan lagi, mereka bukan hanya menabur bangkai-bangkai busuk, tapi juga tinja anjing-anjing itu seperti sengaja mereka tinggalkan di bawah rumah kami. Sungguh-sungguh menjijikkan.
Suatu malam sekira jam sebelas, anjing-anjing itu mulai berdatangan lagi seperti biasanya. Rupanya belum ada yang berhasil merebut hati sang ‘primadona’. Artinya, mereka harus mengadu otot lagi untuk menentukan pemenang. Dan yang akan jadi korban adalah tidur malam kami lagi. Aku mendengar anjing bergiring-giring itu mulai pasang aksi. Mendengus-dengus. Sementara seekor anjing jantan mulai mencumbunya. Mereka berkejar-kejaran seputar halaman. Sesekali terdengar jeritan kecil penolakan si betina. Lalu dengus nafsu anjing jantan yang mulai memuncak. Tak lama kemudian terdengar pula dengusan asing yang menandakan kehadiran anjing lain. Anjing jantan pertama pun menyalaki rivalnya. Mengerang panjang. Lalu terdengar pergumulan seru. Seng bekas yang aku sandarkan pada tiang rumah terdengar berantakan dilabraknya. Lalu tumpukan kayu bakar di bawah teratak ayam roboh pula. Ayam-ayam kami dibuatnya beterbangan karena kaget.

Beberapa anjing lain terdengar berdatangan pula. Mereka saling menggonggongi. Ramai sekali. Lalu terdengar pergumulan seru. Ada yang mengerang. Menjerit. Melengking. Saling piting. Saling gigit. Saling banting, Tak ada lawan tak ada kawan lagi. Pokoknya, semua lawan semua.

Aku meraih senter dan pentungan di bawah ranjang. Tapi aku tertegun karena mendengar seekor anjing menjerit pilu. Aku membayangkan telinga anjing itu pastilah sudah patus digigit rivalnya. Lalu jeritan lain lagi yang lebih panjang dan lebih pilu. Tentunya anjing ke dua yang kalah dan segera meninggalkan gelanggang membawa duka dan luka lara. Aku membayangkan paling tidak ekornya putus kalau bukan biji matanya keluar. Lalu jeritan panjang lain lagi yang sama pilunya dengan jeritan anjing sebelumnya. Aku membayangkan tentunya sekarang tengah terjadi perkelahian sengit yang berdarah-darah. Barangkali sudah memasuki babak penyisihan atau babak final dan sebentar lagi akan keluar seekor pemenang sebagai sang juara yang berhak mendapatkan cinta sang ‘primadona’. Aku berharap ada di antara anjing-anjing yang kasmaran itu terkuat sehingga dapat menyikat habis lawan-lawanya. Aku sudah sangat tersiksa jika ajang adu otot itu masih harus berlangsung lama.

Kudengar suara runtuhan lagi yang diiringi jeritan panjang. Kali ini pasti balai-balai kecil yang kami biasa gunakan istirahat siang di bawah rumah bila hari kelewat panas runtuh pula. Lalu suara jeritan lagi. Sangat pilu. Sepilu jeritan terakhir seseorang yang terkepung dalam kebakaran. Karena suara gaduh yang tak ketulungan itu istriku terbangun dengan bintik keringat di jidat. Juga anakku yang langsung menangis ketakutan. Aku meraih senter dan pentungan lagi. Bermaksud akan turun menghajar mereka Tapi istriku mencegah. Cepat ia menangkap tanganku lalu berisyarat menyuruhku duduk kembali.

“Kenapa melarang ?”

“Jangan, Pak. Saya takut. Ingat, ini malam Jumat !” katanya mengingatkan.

“Memang kenapa kalau malam Jumat ? Anjing-anjing itu kan sudah keterlaluan, Mereka yang minta untuk dihajar ” kataku.

“Tapi saya tidak enak, Pak. Biarkan saja mereka berkelahi sampai berhenti sendiri.”

Lalu dengan muka pucat istriku berbisik bahwa barusan ia bermimpi jelek didatangi seekor anjing hitam raksasa sebesar kambing dengan mata merah menyala. Anjing itu hendak merampas anak kami dalam gendongannya. Untung, kata istriku, aku segera muncul dengan pentungan dan menghajar kepala anjing raksasa itu hingga terhuyung-huyung. Tapi anehnya, anjing itu tidak menjerit. Ia malah berdiri dengan dua kaki belakang seperti seekor beruang. Lalu pelan-pelan berubah wujud jadi manusia.

“Kali ini kau yang menang, tapi kita masih akan bertarung lagi dan aku akan membunuh semua yang menghalangi niatku ” ancam orang itu kepadaku dalam mimpi istriku.

Kulihat dahi istriku tambah berkeringat. Ia betul-betul ketakutan. Aku mengambilkan air segelas lalu menyuruhnya minum.

“Berdoalah, baca ayat Kursy dan tidurlah kembali” kataku.

Istriku berbaring lagi sambil meneteki anaknya. Namun matanya tak lagi mau terpejam. Sementara di bawah rumah kami tak terdengar suara gaduh lagi. Sunyi. Yang terdengar tinggal suara dengus-dengus kecil seperti orang pilek. Aku melihat jam tanganku. Sudah jam dua malam. Dingin sudah mulai menggigit kulit. Aku merebahkan diri di ranjang memeluk istriku dari belakang.

Pagi-pagi aku turun ke kolong rumah. Aku kaget. Bangkai dua ekor anjing dengan perut terburai tergeletak dekat balai—balai yang roboh. Seekor jantan dan seekor lagi betina milik tetangga yang memakai giring-giring di lehernya. Darah berceceran di rnana-mana.
Lalu di dekat tumpukan kayu bakar aku menemukan pula ekor anjing yang putus. Bulu—bulunya berhamburan di mana-mana. Dan ketika aku menegakkan kembali seng bekas yang juga roboh, aku menemukan di bawahnya cabikan telinga anjing dengan darah yang sudah membeku. Tak jauh dari situ saya menemukan lagi sebiji bola mata yang dikerumuni semut. Sudah pasti itu bola mata anjing. Fantastis. Aku tak menyangka bahwa perkelahian anjing-anjing itu semalam demikian dahsyat!

*****

MALAM-MALAM setelah itu keadaan kembali aman. Tak terdengar lagi ada anjing menggonggong di bawah rumah. Apalagi menjerit atau melolong. Istriku kembali menemukan tidurnya yang nyenyak. Demikian pula anakku. Namun hilangnya gonggongan anjing itu membuatku meresa ada yang tak beres. Aku mulai dihantui mimpi istriku. Bayangan anjing hitam raksasa itu tak mau enyah dari benakku.

Suatu hari anak kami sakit. Ia menceret. Istriku kelabakan. Segera membakar menyan di pintu. Katanya untuk menghalau roh jahat seperti yang sering dilakukan oleh ibunya. Sudah itu, baru mengobati anak kami dengan meminumkan perahan daun jambu klutuk, juga seperti yang sering dilakukan ibunya. Dan mencret anak kami memang berkurang. Kondisinya nampak mulai membaik. Tapi saya khawatir, jangan-jangan mencretnya datang lagi. Saya bermaksud membawanya ke dokter.

Karena belum gajian, aku ke rumah Haji Kadirun untuk meminjam uang. Hanya Haji Kadirun di kampung kami yang biasa ditempati pinjam uang bila kami kepepet. Aku tak pernah ke rumah Haji Ilyas, meski kata orang Haji Ilyas juga baik. Ia tak segan membantu orang yang kesulitan. Tapi Haji Kadirun lebih duluan akrab denganku. Soalnya, Haji Kadirun punya anak gadis bernama Solehah. Dan waktu masih bujangan Solehah cukup mengenalku. Ayahnya, Haji Kadirun juga mengenalku sebagai pemuda yang sopan. Ia sering memintaku mengantar anak gadisnya pergi terwih pada malam-malam bulan Ramadhan. Ia rupanya sangat percaya padaku. Dan kepercayaan itu tak pernah kukhianati. Namun setelah aku kawin dengan seorang gadis yang masih keluargaku dari kampung lain, keluarga Haji Kadirun seperti kecewa. Istri Haji Kadirun tak memanggilku lagi “anak’ seperti juga Haji Kadirun. Tapi kini memanggilku “Pak Guru”. Dan Solehah yang kini masih tetap gadis meski usianya sudah menanjak ke angka kepala tiga, juga sudah memasang jarak denganku. Tapi kebaikan Haji Kadirun padaku —juga pada semua orang di kampung kami—tetap tak berubah. Cuma saja ia tak pernah lagi memintaku mengantar Solehah pergi terwih.

Setelah menceramahiku tentang ‘politik praktis’ menjelang pemilihan kepala desa di kampung kami, Haji Kadirun menyinggung keperluanku.

“Sekedar mau pinjam uang, Pak Haji. Anakku sakit dan saya rencana mau membawanya ke dokter” kataku terus terang.

“Si Alim? Sakit apa ?” tanyanya.

“Mencret Pak Haji. Tapi kondisinya tidak terlalu parah. Kelihatan sudah baik. Istri saya sudah mengobatinya secara tradisional. Tapi saya merasa perlu membawanya ke dokter.”

“Itu harus. Orang kampung kalau sakit, berobat tradisional dulu baru ke dokter. Terbalik sama orang kota. Kalau orang kota ke dokter dulu baru cari obat tradisional, cari dukun !“ Haji Kadirun tertawa. Saya ikut tertawa. Tenyata selera humor Haji Kadirun tinggi juga.

“Berapa yang kau perlu, Pak Guru ?“ tanyanya.

“Kalau bisa, seratus Pak Haji.”

“Seratus ? Apa cukup buat dokter. Mereka kan sekolah dulu dengan biaya mahal baru jadi dokter. Mana mungkin taripnya cuma seratus ?“ Haji Kadirun tertawa lagi. Tapi aku tak menikmati lagi humornya.

“Kalau begitu, kau boleh suruh antar dengan si Mail pakai mobilku saja. Tunggulah si Mail pulang. Kebetulan dia ke kampungnya. Tapi sebentar dia pulang” kata Haji Kadirun sambil menguap. Matanya kulihat merah. Seperti kurang tidur.

Sementara itu, Solehah muncul membawa dua cangkir kopi susu lalu meletakkannya di meja. Aku tersenyum pada Solehah. Ia membalasnya sekilas dengan agak malu-malu. Lalu cepat-cepat lagi masuk ke dalam.
“Silakan diminum Pak Guru,” kata Haji Kadirun.

Aku minum. Kopi susu itu terasa kental di tenggorokanku. Sudah lama aku tak minum kopi susu.

Sambil menguap lagi Haji Kadirun mencabut dompetnya. Mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu rupiah.

“Nih, tiga ratus. Ambillah tiga ratus, siapa tahu tidak cukup. Kan harus beli obat di luar juga. Pengembaliannya kapan-kapan saja!”

“Wah, Pak Haji baik sekali !“ kataku.

Aku menerima uang itu. Sementara Haji Kadirun terus menerus menguap seperti menahan kantuk yang luar biasa.

“Saya permisi saja, Pak Haji. Saya lihat Pak Haji sangat mengantuk, Mungkin mau istrirahat.”

“Oh, tidak. Saya biasa menahan kantuk. Semalam saya dari Makassar. Jam tiga baru tiba. Mail belum pulang dari kampung jadi terpaksa nyopir sendiri,” katanya.

Aku minum lagi. Berusaha untuk menghabiskan isi cangkir secepatnya. Sementara kulihat Haji Kadirun belum menyentuh kopinya.
Ketika aku hendak permisi lagi Haji Kadirun membuka cerita. Aku terpaksa mengurungkan niat, melayaninya sebagai pendengar.
Minggu lalu, katanya, ketika ia pergi ke bukit Maraulli untuk membeli sapi (Haji Kadirum dikenal di kampung kami sebagai pedagang sapi) ia melihat Haji Ilyas mendaki ke puncak bukil itu. Ia, katanya, seperti menuju ke lembah yang ada di balik bukit itu.

“Ke lembah bukit itu ?“

“Ya, ke !embah bukit itu !“ kata Haji Kadirun dengan suara yang dikecilkan seolah-olah takut didengar orang lain.

“Tapi, lembah Maraulli kan kata orang-orang angker, Pak Haji. Ada penunggunya. Ada apa Haji Ilyas ke lembah itu ?“ tanyaku.

“ltulah yang ingin saya ceritakan. Tapi saya mohon Pak Guru jangan bilang sama orang lain. Kata orang-orang di Maraulli ia datang menemui gurunya di lembah bukit itu karena sudah menunggak dua tahun.”

“Menunggak ? Tapi Haji Ilyas kan orang kaya juga Pak Haji…. Dia kan baru beli mobil sedan seperti mobilnya Pak Haji. Bagaimana mungkin dia punya utang. Uangnya kan banyak.”

“Nah, itulah dia selalu tak mau dikalah. Saya bikin rumah dua tahun lalu, setahun kemudian dia juga bangun rumahnya yang lebih besar. Saya masuk calon Kepala Desa dia juga mendaftar. Saya beli mobil sedan, eh dia juga baru-baru beli mobil sedan. Kemarin saya dengar dia bagi-bagi uang sama masyarakat dan menyumbang ke mesjid satu juta. Tak tahunya, dia sebenarnya….”

Haji Kadirun menguap lagi. Matanya tambah merah. Aku pikir dia perlu istrirahat. Aku hendak permisi tapi dia masih menahanku.

“Saya harap Pak guru jangan bilang-bilang. Dia itu sebenarnya…Parakang ! Dia memperoleh kekayaannya dengan cara mencuri secara gaib. Dia bisa merobah dirinya menjadi anjing, kucing, babi, atau apa saja sehingga dia bisa mengambil uang orang lain meski disimpan dalam berangkas yang terkunci rapat. Dia berguru di lembah Maraulli pada seorang sakti di sana dengan persyaratan : tumbal seorang anak kecil ! Dia harus mempersembahkan roh-nya pada setan yang bersekutu dengannya dari lembah bukit itu. Guru itu sendiri hanyalah mediatornya. Dan sekarang sudah dua tahun belum membayar tumbalnya. Kalau tahun ini belum juga mempersembahkan korban itu maka kekayaannya ambruk dan dia sendiri akan jadi gila sebelum jadi tumbal..”

“Apa bukan hanya gosip Pak Haji ?“

“Gosip katamu? Saya lihat sendiri dia mendaki menuju ke bukit itu. Tujuannya pasti ke lembah itu. Saya meneropongnya dari bawah. Tapi meski teropongku bisa menipu, namun mobil sedanya yang diparkir di bawah bukit tak bisa menipu mataku.

Tadinya saya bermaksud memarkir mobilku di tempat itu juga karena di situ agak teduh, lalu berjalan masuk kampung mencari sapi. Tapi karena di situ sudah ada mobil Haji Ilyas saya pindah ke tempat lain. Takut nanti dibilang sengaja bikin gara-gara. Maklunlah, orang kaya baru !”

Aku mengangguk-angguk. Pada kondisi seperti itu tak enak mengeluarkan pendapat. Nanti bisa salah alamat. Yang kutahu kedua haji kaya raya ini dan kebetulan bertetangga pula sama baik dan dermawannya pada masyarakat. Keduanya memang boleh menjadi tokoh idola dan layak menempati posisi sebagai Kepala Desa menggantikan Kepala Desa lama yang sudah mengundurkan diri karena sudah tua. Entah kalau keduanya hanya pura-pura baik dan dermawan karena ada maksud tertentu di baliknya.

Soal persaingan antara mereka aku memang sudah mendengarnya pula, terutama di hari-hari menjelang pemilihan Kepala Desa di kampung kami. Aku sendiri berusaha netral. Tak mau jadi pendukung siapa-siapa. Hanya saja kalau benar cerita Haji Kadirun, aku berkesimpulan bahwa sifat dengki dan iri hati ternyata tidak pilih merek. Semua orang bisa dirasukinya. Termasuk orang- orang yang sudah haji dan kelihatan baik hati.

Sebagai humanis (jabatan guru kukira sangat humanis) aku membayangkan keniskalaan yang sering bembetot sifat fitri manusia. Betapa kejinya ! Manusia, dengan nafsu-nafsu angkaranya tak ada yang mau disaingi. Kalau ada yang maju mesti harus dihadang, dicarikan lobang untuk jatuh. Kalau dia pejabat harus dicurigai kekayaannya berasal dari hasil korupsi. Kalau dia masyarakat biasa sudah pasti gosipnya yang empuk adalah pemelihara tuyul, bersekutu dengan setan, punya jimat kora-kora, pattirokanja, parakang….

Aku bangkit hendak permisi. Aku takut kalau tinggal lama-lama Haji Kadirun mendoktrin pikiranku dengan hal-hal irasional yang sesungguhnya tidak aku percaya. Sisa kopi di cangkir segera aku tenggak habis, kemudian berterima kasih sekali lagi atas kebaikan hati Haji Kadirun meminjamkan uang lebih dari yang aku butuhhkan. Dalam hati saya janji akan mengembalikan uang itu sesegera mungkin setelah gajian.

“Ingat Pak Guru, jangan cerita pada orang lain. Saya ceritakan ini pada Pak Guru karena Pak Guru punya anak kecil. Hati-hatilah !” Kata Haji Kadirun sambil menguap lagi.

Aku mengangguk menyenangkannya.

Waktu keluar dari rumah Haji Kadirun aku ingat lagi mimpi istriku. Aneh, kini mimpi itu seolah-olah akulah yang mengalaminya. Sangat jelas kulihat anjing hitam raksasa itu mendatangi kami lalu hendak merampas anak kami dari pelukan istriku. Aku membetot kepalanya dengan pentungan sehingga ia terpelanting ke belakang. Sudah itu ia menjelma jadi manusia, mengancamku akan kembali lagi untuk membunuh siapa saja yang menghalanginya merampas anakku. Lalu…. tiba-tiba aku jadi bingung karena orang itu sebentar mirip Haji Ilyas sebentar mirip Haji Kadirun!

Setelah lewat di depan rumah Haji Ilyas yang tak kalah megahnya dengan rumah Haji Kadirun, aku berpapasan mata dengannya. Ia duduk di terasnya seperti sengaja menungguku lewat. Ia tersenyum. Aku pun tersenyum membalas.

“Singgah dulu, Pak Guru,” sapanya ramah.

“Terima kasih Pak Haji. Saya buru-buru. Mau ke sekolah mengajar,” kataku berbohong. Lalu aku mempercepat langkah melewati rumah itu.

*****

KENDATI kondisi anak kami setelah membawanya ke dokter sudah membaik sama sekali, namun malam-malam berikutnya aku tak pernah tidur sebelum jam tiga lewat. Siangnya, sepulang dari sekolah mengajar aku sudah mengambil tidur lama-lama dan malamnya aku begadang. Aku hanya pura-pura tidur untuk tidak menggelisahkan istriku. Aku juga tidak memberitahu istriku mengenai cerita Haji Kadirun, supaya ia tidak ketakutan. Tapi senter dan pentungan selalu kusiapkan di bawah ranjang. Bahkan golok Toraja milik paman yang aku pinjam tak pernah jauh dariku di malam hari.

Suatu malam ketika istriku menemukan kembali tidurnya yang nyenyak dan suara TV tetangga tak ada lagi yang kedengaran, aku mendengar ada suara dengusan di bawah kolong rumah. Dengusannya seperti malam-malam sebelumnya, namun kali ini aku memperhatikannya lebih seksama. Ternyata memang dengusan itu kedengaran agak lain. Ada suara seperti manusia mengeluarkan ingus, lalu seperti batuk-batuk kecil halus. Tak ada gonggongan anjing lain lagi. Apakah anjing-anjing di kampung ini sudah habis ? Entah mengapa, tiba-tiba sekali aku ingin ada suara gonggongan anjing.

Kuperhatikan arlojiku. Sudah jam satu malam. Di luar hitam pekat. Udara gerah seolah hujan mau turun. Pelan-pelan aku meraih pentungan, senter dan memasang golok di punggung seperti pendekar silat Mandarin. Kuperhatikan sebentar istri dan anakku yang sedang tidur nyenyak disiram cahaya pijar lima watt. Wajahnya bersih tanpa dosa. Setelah itu aku mengendap-endap turun melalui tangga belakang. Setelah sampai di tanah aku sembunyi di balik tumpukan kayu bakar yang kemarin runtuh dan telah kami perbaiki lagi. Dan astaga, aku melihat di bawah kamar tidur kami silhuet sesosok bayangan hitam besar sebesar kambing sedang mendongak ke atas dengan moncong mendengus-dengus hendak mencapai lantai bagian bawah rumah kami. Inilah rupanya sumber suara mendengus-dengus itu. Aku memperhatikanya lebih seksama. Aku mengocek mata. Namun cahaya yang lolos dari celah lantai hanya samar-samar menerangi sebagian tubuhnya. Aku sengaja tak menyalakan senter agar kehadiranku tak cepat diketahuinya.

Khawatir makhluk itu akan beraksi mendahuluiku, aku merayap mendekatinya. Untung ia kebetulan membelakangiku sehingga tak menyadari kalau aku sudah dekat sekali dengannya. Namun tiba-tiba ia mencium kehadiranku. Moncongnya mendengus-dengus lalu berbalik ke arahku. Aku sontak berdiri dan menyemprotkan senter ke matanya. Astaga ! Makhluk apakah ini ? Ia menyerupai anjing hitam raksasa. Menganga. Giginya runcing-runcing seperti gigi dinosaurus. Matanya merah saga. Aku mundur sedikit sambil siap-siap mengadakan perlawanan. Makhluk itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi seperti kuda binal sehingga hampir saja merangkulku kalau tak segera menghantam kakinya dengan pentungan. Belum sempat ia beraksi lagi aku sudah menghantam kepalanya dengan pentungan sehingga ia terpelanting ke belakang. Tapi aneh, pakulanku yang demikian keras dan menguras seluruh tenaga tak membuatnya menjerit seperti makhluk apapun yang kena hantaman. Bahkan aku seperti hanya menghantam batang pisang. Gedebuk dan terpelanting tapi tak menjerit sedikitpun. Ia mendengus dan berusaha bangkit lagi. Namun aku dengan cepat menghantamkan pentungan lagi ke punggungnya. Ketika ia tetap mencoba bangkit, aku cepat mencabut golok yang ada di punggungku. Sial, karena goloknya cukup panjaug maka mencabutnya tak bisa secepat kilat. Kesempatan sedetik itulah yang ia gunakan untuk melompat ke luar halaman lalu lari terbirit-birit menuju ke arah timur.
Aku tak mau kehilangan jejak. Aku mengejarnya. Senter yang sudah ku-knop otomatis terus kuarahkan ke pantatnya. Tahulah aku bahwa makhluk yang menyerupai anjing hitam raksasa itu tak punya ekor sama sekali. Dari belakang ia nampak lebih mirip monyet dengan kaki belakang yang tak terlalu tegak. Larinya terpincang pincang. Boleh jadi juga akibat hantaman pentunganku yang mengenai kaki depan dan punggungnya tadi. Aku mempercepat lari, mengejarnya. Aku ingin membacok pantatnya dengan golok. Atau paling tidak aku ingin menandainya. Bila ia memang makhluk jadi-jadian, besok pagi aku bisa mencari informasi siapa yang mendadak pergi ke rumah sakit karena pantatnya luka kena benda tajam.

Tiba-tiba anjing raksasa itu membelok ke lorong menuju ke rumah. . . . Haji Kadirun!

Kepalang basah, pikirku. Aku tidak takut lagi. Keberanianku bermunculan entah dan mana. Aku ikut membelok ke lorong itu. Cahaya senter yang kuarahkan ke depan membentur pagar tembok Haji Kadirun. Celaka, makhluk itu sudah menghilang. Aku benar-benar kehilangan jejak.

Aku kiri-kanankan cahaya senter di halaman Haji Kadirun tapi makhluk itu tak nampak lagi. Bahkan jejaknya yang coba kucari di tanah tak ada. Yang tampak di bawah rumah mewah itu hanya sebuah sedan yang diselimuti karfet abu-abu. Aku senteri mobil itu, lalu teras rumah Haji Kadirun yang penuh ukiran Jepara. Juga dindingnya yang berkaca raiban. Semuanya diam. Tak ada yang bergerak. Lalu kembali lagi ke mobilnya. Ke balik rodanya yang kelihatan setengah karena selimutnya tak sampai ke tanah. Tapi tak ada. Tiba-tiba aku melihat mobil itu bergerak dan pelan-pelan berobah wujud menjadi seekor anjing hitam raksasa. Juga rumah Haji Kadirun yang mewah itu menjadi seekor anjing hitam raksasa yang lebih besar lagi, sehingga tampak seperti anjing hitam raksasa memeluk anaknya. Mereka menganga ke arahku dengan mata yang merah menyala. Aku menggigil ketakutan. Aku lari pulang. Aku lupa bahwa tadi aku telah membiarkan pintu belakang terbuka sementara istri dan anakku kutinggalkan dalam tidur yang nyenyak.
Ketika aku sampai di depan rumah Haji Ilyas aku melihat rumah mewah itu juga menjelma menjadi seekor anjing hitam raksasa dengan mulut menganga sedang menghadang lariku. Aku berteriak dan berlari sekencang-kencangnya. Untunglah mereka tak mengejarku.

*******

PAGI-PAGI aku mendengar orang-orang yang pulang solat subuh di mesjid ribut di depan rumah. Dari percakapan mereka aku mendengar ada yang menyebut-nyebut nama Haji Kadirun bahwa Haji Kadirun meninggal dunia sebelum subuh, sekitar jam empat setelah mengerang-erang kepala, punggung, dan kakinya sakit.

“Mendadak sekali, padahal kemarin masih sehat-sehat. Bahkan masih sempat menyumbang ke mesjid lima ratus ribu,” kata seseorang bersuara parau.

“Waktu magrib saya masih lihat dia naik mobil lewat di sini senyum-senyum,” kata teman bicaranya.

“Ya, itulah ajal. Ia selalu datang diam-diam, tanpa ada yang menduganya.”

“Tapi ada yang bilang tadi, dia kena doti Mandar !”

“Huss ! Jangan bilang begitu.”

“Tapi Haji Kadirun kan banyak saingannya, terutama Haji Ilyas,” kata seseorang, memperkecil suaranya.

“Kubilang jangan ngomong begitu. Bisa berbahaya. Pokoknya dia meninggal. Aku kaget juga tiba-liba ada pengumuman di mesjid bahwa beliau meninggalkan kita jam lima tadi subuh.”

“Bukan jam lima, jam empat, sebelum solat subuh !” kata yang lain membenarkan.

“Kasihan ya, Pak Haji Kadirun. Padahal dia baik hati. Calon Kepala Desa lagi.”

“Orang baik memang selalu begitu. Mati mendadak,” kata teman bicaranya lagi.

“Solehah, oh Solehah. Padahal dia belum bersuami.”

“Kapan dikubunya ?“

“Kata pengumuman tadi, nanti lepas lohor karena menunggu anak dan istri keduanya dari Makassar.”

“Adiknya Solehah, maksudmu ?“

“Iya. Makanya rajin ke mesjid. Jangan hanya ke mesjid kalau ada Solehah,” sindirnya pada temannya yang banyak tanya itu.

“Kasihan ya, Haji Kadirun, orang sebaik itu mati mendadak !”

“Sudah kubilang tadi, orang baik itu matinya mendadak karena disayang Tuhan.”

“Betul, ya !”

“Di kampung ini tinggal satu orang baik, tinggal Haji Ilyas.”

“Apa mungkin akan mati mendadak juga?”

“Heh, jangan berlebihan. Semua atas kuasa Tuhan !”

Menjelang lohor orang-orang sudah ramai berkumpul di rumah Haji Kadirun. Hampir semua penduduk kampung berdatangan. Juga banyak orang-orang dari luar, terutama relasi-relasi dagangnya. Isak tangis kedengaran dari keluarga-keluarganya. Istrinya meraung-raung. Juga anak gadisnya, Solehah, melolong-lolong seperti kerasukan. Usai solat lohor ratusan atau mungkin ribuan orang sudah siap mengantar jenazahnya ke kuburan. Mereka memenuhi rumah, kolong rumah, bahkan halaman. Mereka mencangkung di bawah tenda darurat yang dibuat mendadak. Riuh rendah suara terdengar. Ada yang menangis, ada yang berbisik-bisik, tapi ada pula yang tertawa singkat entah apa yang diketawainya.

Aku menyelinap di antara mereka sambil mencoba mengingat ingat peristiwa yang terjadi semalam. Betulkah kematian Haji Kadirun ada kaitan dengan peristiwa itu? Aku seperti dihempaskan ke alam mimpi yang menakutkan. Lebih menakutkan dari apa yang kualami semalam di halaman rumah mewah ini.

Di depan rumah Haji Kadirun sebuah keranda mayat telah menunggu penumpangnya. Keranda itu terbalut kain batik. Di depan terpasang karangan bunga. Dan di ujungnya -muka-belakang– terpasang payung bambu, laiknya keranda mayat seorang raja.

Mayat masih dikemasi di atas rumah. Orang-orang masih lalu lalang mencari ini-itu. Semua kelihatan penting dan tak saling mengacuhkan. Aku mendekati keranda mayat itu dan mencoba melirik ke dalamnya. Tiba-tiba aku melihat seekor anjing hitam tergolek di dalam keranda itu.

Catatan :

-Parakang , jenis ilmu gaib di tanah Bugis yang konon dapat membuat pelakunya berobah wujud, semacam Leak (Bali), dan Palagan atau manusia harimau.
-Pattiro kanja, semacam ilmu hikmah untuk mengejar kekayaan dunia namun konon jika praktiknya salah akan menyebabkan pelakunya jadi Parakang.
-Doti Mandar, ilmu guna-guna suku Mandar, semacam santet di Jawa.

 

5 Tanggapan to “Di Antara Anjing-Anjing yang Kasmaran”

  1. Cerita yang bagus. Teringat masa kecil saya di Segeri, Pangkep. Baiknya, kirimkan ke majalah Misteri. Salam dari Bekasi.

  2. Rini Ganefa Says:

    bagus sekali pak, ada budaya lokalnya yang tajam.. yang jelas pesan dan nilai yang disampaikan terkemas dengan indah. salam kenal.

  3. rustecharope Says:

    tulisan yang sangat bagus!

  4. Teringat masa-masa saat mau pergi nonton Elekton.

    “Jangan lewat dekat kebun situ, ada Parakang”.

    Keren Kak, ditunggu cerita misteri lokal yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: